Adat, Tradisi, Agama, Budaya Hindu Bali

Kamis, 10 September 2026

Mewinten sebagai Momentum Penyucian Diri, Penguatan Karakter, dan Transformasi Akademik Mahasiswa Hindu

Mewinten sebagai Momentum Penyucian Diri, Penguatan Karakter, dan Transformasi Akademik Mahasiswa Hindu


Oleh: Dr. I Komang Badra, S.Pd., M.Pd.H.

Pendahuluan

Upacara Mewinten atau Mahasiswa Upanayana bagi mahasiswa Program Sarjana (S1) dan Magister (S2) STKIP Agama Hindu Amlapura bukan sekadar sebuah aktivitas ritual keagamaan. Di balik rangkaian upacara yang sarat dengan simbol dan nilai kesucian, terdapat pesan filosofis dan edukatif yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa sebagai generasi intelektual Hindu.

Mewinten dapat dipandang sebagai sebuah momentum untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan kehidupan akademik dan spiritual mahasiswa. Mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga memiliki kesucian pikiran, kematangan emosional, integritas moral, tanggung jawab sosial, serta kesadaran spiritual.

Dalam konteks pendidikan tinggi Hindu, pelaksanaan Mewinten menjadi semakin penting karena pendidikan pada hakikatnya tidak hanya bertujuan mencerdaskan manusia, tetapi juga membentuk manusia yang mampu menggunakan kecerdasannya berdasarkan nilai-nilai Dharma.

Dengan demikian, Mewinten dapat dimaknai sebagai momentum transformasi: dari ketidaktahuan menuju pengetahuan, dari pengetahuan menuju kebijaksanaan, dan dari kebijaksanaan menuju pengabdian.

Mewinten sebagai Simbol Penyucian Diri

Dalam tradisi Hindu Bali, Mewinten memiliki hubungan erat dengan konsep penyucian diri. Kesucian tidak semata-mata dipahami dalam dimensi lahiriah, tetapi terutama menyangkut kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Hal ini sejalan dengan ajaran Tri Kaya Parisudha, yaitu tiga dasar perilaku manusia yang harus senantiasa disucikan: manacika atau berpikir yang baik, wacika atau berkata yang baik, dan kayika atau berbuat yang baik.

Tri Kaya Parisudha memiliki relevansi yang sangat kuat dalam kehidupan mahasiswa. Dunia akademik membutuhkan kebebasan berpikir, tetapi kebebasan tersebut harus disertai tanggung jawab. Mahasiswa dituntut kritis, tetapi kekritisan harus dibangun dengan etika. Mahasiswa memiliki kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi pendapat tersebut hendaknya disampaikan dengan bahasa yang santun dan bertanggung jawab.

Demikian pula dalam aktivitas akademik. Kejujuran harus menjadi fondasi utama. Plagiarisme, manipulasi data penelitian, pemalsuan sumber, maupun berbagai bentuk ketidakjujuran akademik bertentangan dengan semangat pendidikan yang berlandaskan Dharma.

Oleh karena itu, Mewinten seharusnya menjadi pengingat bahwa kesucian tidak berhenti pada saat upacara selesai. Kesucian tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam proses belajar, penelitian, organisasi, interaksi sosial, dan pengabdian kepada masyarakat.

Mahasiswa Upanayana dan Jalan Pengetahuan

Istilah Upanayana secara filosofis dapat dikaitkan dengan proses mendekatkan diri kepada pengetahuan dan tuntunan guru. Dalam tradisi Hindu, hubungan antara guru dan siswa memiliki kedudukan yang sangat penting karena proses pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan manusia.

Mahasiswa yang mengikuti Mewinten hendaknya memahami bahwa status sebagai mahasiswa membawa tanggung jawab moral. Menjadi mahasiswa bukan semata-mata tentang mendapatkan nilai, memperoleh ijazah, atau meraih gelar akademik. Lebih dari itu, mahasiswa sedang menjalani proses pembentukan diri sebagai manusia yang berpengetahuan dan berkarakter.

Dalam perspektif Hindu, pengetahuan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Bhagavadgita IV.38 menyatakan:

“Na hi jñānena sadṛśaṁ pavitram iha vidyate.”

Maknanya, tidak ada sesuatu yang menyucikan di dunia ini yang menyamai pengetahuan.

Ajaran tersebut memberikan pesan bahwa pengetahuan memiliki kekuatan transformatif. Pengetahuan yang benar dapat membebaskan manusia dari kebodohan dan membimbingnya menuju kehidupan yang lebih baik.

Namun demikian, pengetahuan tidak boleh berhenti pada kemampuan mengetahui. Pengetahuan harus melahirkan viveka, yaitu kemampuan membedakan antara yang benar dan yang tidak benar, antara yang patut dan tidak patut, serta antara tindakan yang membawa kebaikan dan tindakan yang merugikan.

Karena itu, pendidikan tinggi Hindu hendaknya menghasilkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana secara moral dan spiritual.

Guru, Mahasiswa, dan Etika Keilmuan

Hubungan antara guru dan mahasiswa merupakan bagian penting dalam proses pendidikan. Dalam tradisi Hindu, guru dipandang sebagai sosok yang membimbing peserta didik menuju pengetahuan dan kehidupan yang lebih luhur.

Bhagavadgita IV.34 mengajarkan:

“Tad viddhi praṇipātena paripraśnena sevayā.”

Ajaran tersebut mengandung tiga prinsip penting dalam memperoleh pengetahuan, yaitu pranipata, pariprasna, dan seva.

Pranipata dapat dipahami sebagai sikap rendah hati dan penghormatan terhadap sumber pengetahuan. Pariprasna menunjukkan pentingnya bertanya, berdialog, dan mengembangkan sikap kritis. Sementara seva mengandung semangat pengabdian.

Ketiga prinsip tersebut sangat relevan dengan kehidupan akademik modern.

Mahasiswa tidak boleh pasif dalam proses pembelajaran. Mahasiswa harus memiliki keberanian bertanya, berdiskusi, melakukan penelitian, menguji gagasan, dan mengembangkan pemikiran kritis.

Namun, kekritisan tidak boleh berubah menjadi kesombongan intelektual.

Sebaliknya, penghormatan terhadap guru juga tidak berarti mahasiswa harus kehilangan daya kritis.

Hubungan guru dan mahasiswa harus dibangun atas dasar saling menghormati, dialog akademik, keterbukaan, dan orientasi terhadap kebenaran.

Dalam konteks inilah Mewinten dapat menjadi momentum untuk meneguhkan kembali etika keilmuan mahasiswa Hindu.

Ilmu Pengetahuan Harus Berlandaskan Dharma

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Mahasiswa saat ini hidup dalam lingkungan akademik yang semakin terbuka, digital, cepat, dan kompetitif.

Kemudahan memperoleh informasi memberikan peluang besar bagi pengembangan ilmu. Namun, pada saat yang sama, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran informasi yang tidak benar, plagiarisme, manipulasi informasi, serta penggunaan teknologi yang tidak bertanggung jawab.

Dalam situasi seperti ini, ilmu pengetahuan membutuhkan landasan moral.

Bagi mahasiswa Hindu, landasan tersebut adalah Dharma.

Ilmu tanpa Dharma dapat kehilangan arah. Kecerdasan tanpa moralitas dapat digunakan untuk kepentingan yang merugikan. Teknologi tanpa etika dapat menjadi instrumen yang justru menimbulkan persoalan baru.

Karena itu, mahasiswa Hindu harus mampu mempertemukan jnana atau pengetahuan dengan Dharma.

Ilmu harus digunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan, menyelesaikan persoalan masyarakat, menjaga lingkungan, melestarikan kebudayaan, memperkuat toleransi, dan membangun peradaban yang lebih manusiawi.

Mewinten dalam Perspektif Tri Hita Karana

Nilai Mewinten juga dapat direfleksikan melalui konsep Tri Hita Karana, yaitu tiga sumber keharmonisan kehidupan yang meliputi Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan.

Dimensi Parahyangan mengajarkan hubungan harmonis manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam kehidupan akademik, hal ini dapat diwujudkan melalui kesadaran bahwa proses mencari ilmu merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas diri dan mendekatkan manusia pada kebenaran.

Dimensi Pawongan berkaitan dengan hubungan harmonis antarmanusia. Mahasiswa harus mampu membangun komunikasi, toleransi, solidaritas, dan kerja sama dengan orang lain. Perbedaan latar belakang sosial, budaya, maupun pemikiran hendaknya tidak menjadi alasan untuk membangun jarak, tetapi menjadi kekuatan dalam kehidupan akademik.

Sementara itu, Palemahan mengajarkan keharmonisan manusia dengan alam. Pendidikan tinggi hendaknya melahirkan generasi yang memiliki kesadaran ekologis. Mahasiswa Hindu perlu memahami bahwa menjaga alam bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.

Dengan demikian, nilai Mewinten dapat dikembangkan menjadi kesadaran yang lebih luas: harmonis secara spiritual, sosial, dan ekologis.

Tanggung Jawab Mahasiswa S1 dan S2

Mahasiswa Program S1 dan S2 memiliki tingkat tanggung jawab akademik yang berbeda, tetapi keduanya berada dalam satu perjalanan yang sama, yaitu perjalanan menjadi manusia pembelajar.

Mahasiswa S1 berada pada fase membangun fondasi keilmuan, karakter, keterampilan, dan pengalaman akademik. Pada tahap ini, mahasiswa perlu mengembangkan budaya membaca, berdiskusi, menulis, melakukan penelitian, berorganisasi, serta terlibat dalam kegiatan sosial.

Sementara itu, mahasiswa S2 memiliki tanggung jawab keilmuan yang lebih besar. Mahasiswa magister tidak cukup hanya memahami teori, tetapi dituntut mampu melakukan analisis, menghasilkan gagasan, melakukan penelitian, dan memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Oleh sebab itu, mahasiswa S2 hendaknya mulai membangun identitas sebagai intelektual dan peneliti.

Mereka harus mampu membaca persoalan keagamaan, pendidikan, sosial, budaya, dan lingkungan secara kritis serta menawarkan solusi berdasarkan pendekatan akademik dan nilai-nilai Hindu.

Dengan demikian, mahasiswa STKIP Agama Hindu Amlapura diharapkan tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan, tetapi secara bertahap mampu menjadi produsen pengetahuan.

Dari Konsumen Pengetahuan Menjadi Produsen Pengetahuan

Salah satu tantangan pendidikan tinggi Hindu dewasa ini adalah bagaimana meningkatkan produktivitas intelektual mahasiswa.

Mahasiswa perlu didorong untuk menulis artikel ilmiah, melakukan penelitian, mengikuti seminar, berdiskusi, melakukan pengabdian kepada masyarakat, dan mendokumentasikan kearifan lokal keagamaan Hindu.

Tradisi Hindu Bali memiliki kekayaan pengetahuan yang sangat luas. Berbagai upacara, tradisi, lontar, seni sakral, arsitektur pura, wariga, etika, ekologi, dan kearifan lokal mengandung sumber pengetahuan yang dapat dikaji secara akademik.

Karena itu, mahasiswa Hindu memiliki ruang yang sangat luas untuk mengembangkan penelitian dan publikasi.

Mewinten dapat menjadi titik awal untuk membangun kesadaran tersebut.

Mahasiswa hendaknya memiliki prinsip:

Belajar untuk memahami.
Memahami untuk mengembangkan.
Mengembangkan untuk mengabdikan.

Dengan prinsip tersebut, pendidikan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menghasilkan pemikiran, karya, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Mewinten sebagai Transformasi Karakter

Hakikat pendidikan pada akhirnya adalah perubahan.

Mahasiswa yang mengikuti Mewinten hendaknya mengalami perubahan bukan hanya secara simbolis, tetapi juga secara substantif.

Dari yang kurang disiplin menjadi lebih disiplin.

Dari yang mudah menyerah menjadi lebih tekun.

Dari yang pasif menjadi aktif.

Dari yang hanya mengejar nilai menjadi mengejar kompetensi.

Dari yang hanya mengejar gelar menjadi mengejar kebermaknaan.

Dan dari yang hanya berpikir tentang kepentingan pribadi menjadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

Inilah makna transformasi karakter yang sesungguhnya.

Upacara Mewinten menjadi bermakna apabila nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Menjadi Generasi Muda Hindu yang Berilmu dan Berkarakter

Hindu membutuhkan generasi muda yang mampu menjaga keseimbangan antara sraddha, jnana, dan susila.

Generasi muda Hindu tidak cukup hanya memiliki kemampuan melaksanakan ritual. Mereka juga harus memiliki kemampuan memahami makna filosofis dan teologis di balik ritual tersebut.

Generasi muda Hindu harus mampu membaca teks keagamaan secara kritis, memahami tradisi secara kontekstual, dan menjelaskan nilai-nilai Hindu dengan bahasa akademik yang dapat diterima oleh masyarakat luas.

Pada saat yang sama, mereka harus tetap memiliki akar budaya dan spiritual yang kuat.

Dengan demikian, generasi muda Hindu dapat mempertemukan tradisi dan modernitas, ritual dan pemaknaan, spiritualitas dan akademik, serta kearifan lokal dan tantangan global.

Inilah salah satu tugas strategis pendidikan tinggi Hindu.

Penutup

Upacara Mewinten atau Mahasiswa Upanayana bagi mahasiswa S1 dan S2 STKIP Agama Hindu Amlapura hendaknya tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan seremonial dan ritual semata.

Mewinten harus dipahami sebagai momentum penyucian diri, peneguhan etika, penguatan karakter, pendalaman spiritualitas, dan pembentukan kesadaran akademik mahasiswa Hindu.

Pengetahuan harus menjadi sarana penyucian diri. Karakter harus menjadi fondasi keilmuan. Dan ilmu pengetahuan harus dipersembahkan melalui pengabdian kepada masyarakat.

Mahasiswa yang telah mengikuti Mewinten hendaknya mampu membawa nilai kesucian dari tempat upacara ke ruang kelas, dari ruang kelas ke lingkungan masyarakat, dan dari lingkungan masyarakat ke kehidupan yang lebih luas.

Pada akhirnya, pendidikan yang sejati bukan hanya menjadikan manusia lebih tahu, tetapi menjadikan manusia lebih baik.

Karena itu, Mewinten dapat menjadi sebuah komitmen moral:

menyucikan pikiran,
menyucikan perkataan,
menyucikan perbuatan;
memperluas pengetahuan,
memperkuat karakter,
dan mengabdikan ilmu bagi kehidupan.

Jumat, 26 Juni 2026

Hari Raya Kuningan: Momentum Kembalinya Leluhur dan Peneguhan Dharma dalam Kehidupan

 Hari Raya Kuningan: Momentum Kembalinya Leluhur dan Peneguhan Dharma dalam Kehidupan

Oleh: I Komang Badra

Hari Raya Kuningan merupakan salah satu hari suci yang sangat penting bagi umat Hindu, khususnya di Bali. Hari raya ini diperingati sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan. Apabila Galungan dimaknai sebagai kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (kejahatan), maka Kuningan merupakan momentum penyempurnaan kemenangan tersebut melalui ungkapan syukur, bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta penghormatan kepada para leluhur.

Menurut Lontar Sundarigama, Hari Raya Kuningan merupakan saat para Dewa dan roh suci leluhur (pitara) yang telah hadir sejak Hari Raya Galungan kembali ke alam kedewataan. Oleh sebab itu, umat Hindu dianjurkan mempersembahkan upacara dengan penuh ketulusan sebagai ungkapan terima kasih atas anugerah, perlindungan, dan tuntunan spiritual yang telah diberikan. Tradisi persembahyangan dilaksanakan sebelum tengah hari karena diyakini pada waktu itulah para leluhur kembali ke alamnya.

Secara etimologis, kata "kuningan" sering dikaitkan dengan warna kuning, yang melambangkan kemuliaan, kebijaksanaan, kemakmuran, dan cahaya pengetahuan. Warna kuning mengingatkan umat Hindu bahwa keberhasilan hidup sejati tidak hanya diukur dari kekayaan materi, tetapi terutama dari kekayaan rohani berupa kebajikan, kebijaksanaan, dan keteguhan dalam menjalankan dharma.

Dalam pelaksanaan Hari Raya Kuningan terdapat berbagai sarana upacara yang sarat makna simbolik, seperti tamiang yang melambangkan perlindungan Tuhan, endongan sebagai simbol bekal kehidupan, serta ketupat yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Seluruh simbol tersebut mengajarkan bahwa manusia memerlukan perlindungan ilahi, bekal kebajikan, dan keseimbangan antara kehidupan material dan spiritual.

Nilai-nilai Hari Raya Kuningan juga sejalan dengan ajaran Bhagavad Gītā. Dalam Bhagavad Gītā 3.30, Sri Kṛṣṇa mengajarkan agar setiap pekerjaan dipersembahkan kepada Tuhan dengan penuh ketulusan, tanpa keterikatan pada hasil. Pesan ini menegaskan bahwa seluruh rangkaian persembahan pada Hari Raya Kuningan bukan sekadar ritual, melainkan wujud karma yoga/pengabdian yang dilakukan dengan hati yang tulus demi mendekatkan diri kepada Tuhan.

Lebih lanjut, Bhagavad Gītā 16.1–3 mengajarkan sifat-sifat luhur (Daivi Sampad), seperti kejujuran, pengendalian diri, kasih sayang, kerendahan hati, dan kedamaian. Nilai-nilai tersebut merupakan implementasi nyata dari kemenangan dharma yang dirayakan pada Galungan dan disempurnakan pada Hari Raya Kuningan. Kemenangan yang sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas sifat-sifat negatif dalam diri sendiri.

Dari perspektif pendidikan agama Hindu, Hari Raya Kuningan menjadi media pembentukan karakter. Nilai religius, penghormatan kepada leluhur, gotong royong dalam menyiapkan upacara, rasa syukur, disiplin menjalankan ajaran agama, serta kepedulian terhadap sesama merupakan pendidikan moral yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, Kuningan tidak hanya bermakna sebagai tradisi ritual, tetapi juga sebagai proses transformasi spiritual menuju manusia yang berbudi luhur.

Dengan demikian, Hari Raya Kuningan mengajarkan bahwa kehidupan yang bahagia tidak hanya diperoleh melalui keberhasilan duniawi, tetapi melalui keselarasan hubungan dengan Tuhan (parhyangan), sesama manusia (pawongan), dan alam semesta (palemahan). 

Melalui semangat Kuningan, umat Hindu diharapkan senantiasa menegakkan dharma dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan sehingga kehidupan menjadi damai, harmonis, dan penuh berkah.

Rabu, 17 Juni 2026

MAKNA HARI RAYA MANIS GALUNGAN DALAM KEHIDUPAN UMAT HINDU


MAKNA HARI RAYA MANIS GALUNGAN DALAM KEHIDUPAN UMAT HINDU

Oleh I Komang Badra

Hari Raya Manis Galungan merupakan rangkaian suci yang dirayakan sehari setelah Hari Raya Galungan oleh umat Hindu, khususnya di Bali. Jika Galungan dimaknai sebagai momentum kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (ketidakbenaran), maka Manis Galungan menjadi saat untuk menikmati, mensyukuri, dan merefleksikan kemenangan tersebut dalam kehidupan nyata.

Kata “manis” tidak hanya berarti rasa yang menyenangkan, tetapi juga mengandung makna filosofis tentang kebahagiaan, kedamaian, dan keharmonisan yang lahir setelah seseorang mampu mengendalikan sifat-sifat negatif dalam dirinya. Kemenangan Dharma bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari kehidupan yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih bermakna.

Dalam perspektif spiritual, Manis Galungan mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya diperoleh melalui pencapaian material, tetapi melalui keberhasilan menumbuhkan nilai-nilai kebajikan seperti kejujuran, kasih sayang, kesabaran, dan pengabdian. Kebahagiaan yang demikian akan menghadirkan rasa damai yang bersumber dari dalam diri.

Secara sosial, Manis Galungan menjadi momentum mempererat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan. Pada hari ini masyarakat saling mengunjungi sanak saudara, sahabat, dan kerabat sebagai wujud rasa syukur sekaligus memperkuat tali silaturahmi. Tradisi ini menunjukkan bahwa kemenangan Dharma harus diwujudkan dalam hubungan yang harmonis dengan sesama manusia.

Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, nilai-nilai Manis Galungan menjadi sangat relevan. Hari raya ini mengingatkan bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari prestasi pribadi, tetapi juga dari kemampuan menjaga hubungan yang baik dengan keluarga, masyarakat, alam, dan Tuhan. Kebahagiaan sejati lahir ketika keseimbangan tersebut dapat diwujudkan.

Selain itu, Manis Galungan juga menjadi sarana introspeksi. Umat diajak untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kemenangan Dharma yang dirayakan saat Galungan telah tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari? Apakah nilai-nilai kebenaran telah menjadi pedoman dalam bekerja, bermasyarakat, dan menjalankan kewajiban keagamaan? Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar perayaan tidak berhenti pada aspek seremonial semata.

Pada akhirnya, Hari Raya Manis Galungan mengandung pesan mendalam bahwa setiap kemenangan spiritual harus menghasilkan kehidupan yang lebih manis, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Dengan menjadikan Dharma sebagai landasan berpikir, berkata, dan bertindak, maka kebahagiaan yang dirasakan tidak bersifat sementara, melainkan menjadi sumber kesejahteraan lahir dan batin.

Selamat Hari Raya Manis Galungan. Semoga kemenangan Dharma senantiasa menghadirkan kemanisan hidup, kedamaian hati, serta keharmonisan dalam keluarga, masyarakat, bangsa, dan alam semesta. 🙏🏻 Om Santih, Santih, Santih Om.

Selasa, 21 November 2023

PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN USAHA SERTA LAPORAN HASIL PENJUALAN PRODUK

 PERANCANGANDANPENGEMBANGANUSAHASERTA LAPORAN HASIL PENJUALAN PRODUK

“TokoEcoGreen”


DiajukanSebagaiTugasTerstruktur Mata Kuliah Kewirausahaan

DosenPengampu:

Dr.IKomangBadra,S.Pd.,M.Pd.H.











DisusunOleh:


IPUTUANDREWIDIANAPUTRA NPM.214243






PROGRAMSTUDIPENDIDIKANGURUSEKOLAHDASAR SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN AGAMA HINDU AMLAPURA

2023


KATAPENGANTAR



OmSwastyastu,

OmAwighnamastuNamahSiddham

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas limpahan rahmat dan kasih‐Nya, atas anugerah hidup dan kesehatan yang telah kami terima, serta petunjuk‐Nya sehingga kami diberikan kemampuan dan kemudahan dalam penyusunan Perancangan Dan Pengembangan Usaha Serta Laporan Hasil Penjualan Produk.

Kamimengucapkanbanyakterimakasihkepadaseluruhpihakyangterlibat langsung atau secara tidak langsung dalam proses penyusunan laporan ini. Kami menyadari bahwa laporan ini masih belum cukup baik, kami menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam laporan ini. Kami juga menyadari bahwa kami masih banyak mempunyai keterbatasan pengetahuan dalam materi, sehingga menjadikan keterbatasan bagi kami pula untuk memberikan penjelasan yang lebih dalamtentangmasalahini,olehkarenaitusarandankritikyangmembangunselalu kami harapkan demi kesempurnaan karya tulis ini.

Akhir kata, kami mohon maaf sebesar-besarnya bila terdapat kekurangan dan kesalahan. semoga laporan ini membawa manfaat bagi kita dan juga dapat menambah pengetahuan kita agar dapat lebih luas lagi.

OmSantih SantihSantih Om



Amlapura,22November2023




Penulis












i


DAFTARISI


Cover 0

KATAPENGANTAR i

DAFTARISI ii

BABI 1

PENDAHULUAN 1

LatarBelakang 1

RumusanMasalah 2

Tujuan 3

Manfaat 3

BABII 5

PEMBAHASAN 5

JenisUsahaYangDibuat 5

JenisJenisBahan,Modaldan Sarana Penunjang 6

ProsesPenjualanyangharusdilaksanakan 7

CaradanStrategiuntukProsesPenjualan 9

HasildariLaporanPenjualanTokoEcoGreen 11

BABIII 13

PENUTUP 13

Kesimpulan 13

Saran 14

DAFTARPUSTAKA 15

















ii


BAB I PENDAHULUAN


LatarBelakang

Perkembangan teknologi yang cepatmembuat parapelakuusahajugaharus cepat untuk menyesuaikan dengan perubahan tersebut, salah satu bentuk teknologi yang banyak dimanfaatkan oleh orang adalah media sosial. Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat pengguna media sosial terbesardi dunia,berdasarkandatawearesocial.com (2018) menyebutkanbahwa jumlah pengguna media sosial aktif di Indonesia pada tahun Januari 2018 adalah sebanyak130jutaorangdengantingkatpenetrasisebesar 49%atautumbuh sebesar 23% apabila dibandingkan dengan Januari 2017, untuk jenis media sosial yang banyak diakses di Indonesia adalah Youtube (43%), Facebook (41%), Whatsapp (40%), dan Instagram (38%).Denganmelihatfenoma danpeluang tersebut, makasaatinibanyaksekaliUMKMyangtelahmemanfaatkanmediasosialdalam strategi pemasaran dan bauran pemasaran pada usaha yang mereka jalankan. Berdasarkan hasil penelitian UKM di Amerika Serikat dan Turki menunjukan bahwa media sosial saatinisudahbanyakdigunakansebagaialatdalam strategipemasaran untuk menciptakan value pada pelanggan (Oztamur dan Karakadilar,2014).

IndonesiaadalahsalahsatunegaradenganjumlahsektorUMKMyangbesar, terhitung jumlah pelaku UMKM yang tercatat dalam data Dinas Koperasi dan UsahaMikro, Kecil, dan Menengah adalah sebanyak 59,69 juta, UMKM juga merupakan salah satu penopang ekonomi Indonesia dimana sektor tersebut memiliki kontribusi sebesar 62.57% t e r h a d a pP D Bp a d a tahun2016 (industri.bisnis.com,2018). Selain itu, berdasarkan studi yang dilakukan oleh Davis, Hills, dan LaForge (1985) menyebutkan bahwa sektor UMKM memiliki tiga peran yang signifikan dalam kontribusiterhadapPendapatanNasional Bruto(PNB),penyerapan tenaga kerja,daninovasi.

Pemasaran adalah salah satu bagian penting dalam menjalankan suatu usaha.Perluadanyapengelolaanyangbaikagarusahatersebutdapat


tumbuh berkembang lebih baik dan mampu bersaing dengan para pesaingnya. Salah satuelemen yangpentingdalampemasaran adalahstrategi pemasaran dan bauranpemasaran (marketing mix). Strategi pemasaran diperlukan agar segmen pasar,penentuanpasarsasaran,danpenentuanposisipasardapatdengan tepatdipilih.Websitedanmediasosialtelahmemberikanbanyakpeluangbagipara pelakuUKM untuk dapat mengembangkan pasar mereka terutama dalam hal promosi untuk menarik sasaran pasar yang mereka tuju, hal lainnya yang membuat para pelaku UMKM memasarkan produk dan jasa mereka melalui websitedanmedia sosial adalah karena tingkat entry barriers yang rendah sehingga mereka dapat dengan mudah memasarkan produk dan jasa merekapada website dan media sosialtersebut(Oztamurdan Karakadilar, 2014). Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Davis, Hills, dan LaForge (1985) menunjukkan bahwa para pelaku UMKM memiliki kecenderungan meng- gunakan pilihan strategi yang lebih sedikit dibandingkan dengan perusahaan besar, pelaku UMKM juga cenderunguntuk memilih fokus strategi yang berbedadibandingkanperusahaanbesarmeskipunkeduanyamenghadapikondisi pasar yang sama. Penelitian lain yang dilakukan oleh Knight(2000) menunjukkanbahwaglobalisasi memiliki dampak dan tekanan yang signifikan bagi sektor UMKM sehingga para pelaku UMKM tersebut harus dapat menerapkan penggunaan teknologi yang tepat gunadansesuaibagiusaha yang mereka jalankan sehingga mereka mampu bersaing secara efektif atau mengeluarkanprodukbarumereka yang lebih memuaskan kebutuhan konsumen mereka dibandingkan dengan produk sejenisdipasar.



RumusanMasalah

Berdasarkanlatarbelakangtersebut,makadiperolehrumusanmasalah sebagai berikut.

Sebutkandanjelaskanusaha yangakandibuat?

Apasajabahansaranauntukmenunjangusahatersebut?

BagaimanaprosesPenjualandilaksanakan?

bagaimanastrategiuntukmenjalankanusahatersebut?


Tujuan

Berdasarkanlatarrumusanmasalahtersebut,makadiperolehtujuansebagai berikut.

Tujuan yang ingin dicapai dengan adanya penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dan menganalisis strategi pemasaran serta bauran pemasaran yang digunakan oleh para pelaku UMKM dalam era digital.

Mengetahuiprosesdancara melakukanstrategidalammenjalankanusaha.

Ketika lulusanperguruantinggikesulitanmendapatkan pekerjaanatauterkena PHK,Kewirausahaanbisamenjadilangkahalternatifuntukmencarnafkahdan bertahan hidup.

Agarsuksesdidunia kerjaatauusaha,tidakcukuporanghanya pandaibicara,

Memajukan perekonomian indonesia danmenjadi lokomotif peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa indonesia


Manfaat

Mamfaatuntukpenulis


Pemahaman Mendalam: Menulis makalah memaksa seseorang untuk melakukan riset mendalam dan pemahaman yang lebih baik tentang topik tersebut.

Keterampilan Penulisan: Proses penulisan akan meningkatkan keterampilan komunikasi tertulis, kemampuan analisis, dan penalaran logis.

Peningkatan Pengetahuan: Memaksa penulis untuk meneliti dan mempelajari informasi baru yang berkaitan dengan kewirausahaan, yang dapat meningkatkan pengetahuannya.


ManfaatbagiMasyarakat:


Penyebaran Pengetahuan: Makalah kewirausahaan yang baik dapat membagikan ide-ide baru, penemuan, atau informasi penting tentang kewirausahaan kepada masyarakat luas.

InspirasidanMotivasi:Makalahyangmenarikdapatmenginspirasiindividuuntuk memulai bisnis mereka sendiri atau untuk mengembangkan keterampilan kewirausahaan.


Pengembangan Ekonomi Lokal: Dengan adanya pengetahuan dan informasi yang disebarluaskan melalui makalah, masyarakat dapat mengembangkan inovasi dan bisnis baru yang pada gilirannya dapat meningkatkan ekonomi lokal.


BAB II PEMBAHASAN


JenisUsahaYangDibuat

Toko Eco Green adalah jenis usaha yang berfokus pada penjualan produk- produk ramah lingkungan atau yang memiliki dampak minimal terhadap lingkungan. Bisnis semacam ini bertujuan untuk mempromosikan gaya hidup yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.


Produk yang biasanya dijual di toko Eco Green mencakup berbagai macam barang, seperti:

Produk RamahLingkungan:

ProdukRamahPlastik:Alternatifdariplastiksekalipakai,seperti gelas, sedotan, atau kantongbelanja yang terbuat dari bahan ramah lingkungan.

Peralatan Daur Ulang: Barang-barang yang terbuat dari bahan daurulang,sepertikertasdaurulang,peralatandapur,atauperabotan rumah tangga.

ProdukTumbuh-tumbuhan:Tanamandalampot,bibit,ataubenih organik untuk kebun rumah.


KosmetikdanPerawatanPribadiRamah Lingkungan:

Kosmetik Organik: Produk kecantikan yang terbuat dari bahan- bahan alami, organik, dan tidak mengandung bahan kimia berbahaya.

Sabun Ramah Lingkungan: Sabun cuci ramah lingkungan, shampoo tanpa bahan kimia yang merusak lingkungan.


Produk-produkRamahLingkungan Lainnya:

Produk Rumah Tangga: Barang-barang rumah tangga seperti pembersih, deterjen, atau produk perawatan rumah tangga lainnya yang ramah lingkungan.


KarakteristikTokoEco Green:

Edukasi Lingkungan:Toko ini biasanya memberikan informasi kepada pelanggan mengenai pentingnya penggunaan produk-produk ramah lingkungan.

Komitmen Lingkungan: Mereka sering kali memiliki komitmen yang kuatterhadapprinsip-prinsiplingkungandanseringmendukungkampanye- kampanye keberlanjutan.

Inovasi dan Kreativitas: Banyak toko Eco Green yang terus berinovasi untuk menawarkan produk-produk yang lebih ramah lingkungan dan berkualitas.


JenisJenisBahan,Modaldan SaranaPenunjang

Untuk memulai toko Eco Green, diperlukan komitmen, pengetahuan tentang produk yang dijual, serta kesadaran akan isu lingkungan. Semakin besar komitmenuntukmengedukasidanmendorongperubahanmenujugayahidupyang lebih berkelanjutan, semakin besar potensi toko Eco Green untuk sukses. Untuk membentuk toko Eco Green, ada beberapa bahan, modal, dan sarana yang dapat membantu dalam memulai bisnis ini:


Bahanyang Diperlukan:


Produk Ramah Lingkungan: Stok produk-produk ramah lingkungan dari berbagai kategori yang akan dijual di toko, seperti barang-barang daur ulang, produk organik, kosmetik ramah lingkungan, dll.

Material Promosi: Bahan-bahan promosi seperti brosur, spanduk, atau media sosial untuk menyebarkan informasi tentang toko Eco Green.

Peralatan Toko: Rak display, kemasan ramah lingkungan, label harga, dan peralatan kasir.

ModalAwal:


Pembelian Produk: Memiliki modal awal untuk membeli stok barang dari pemasok produk ramah lingkungan.


BiayaSewaTempat:Untukmenyewaataumembeliruangtokoyangcocokuntuk menjalankan bisnis toko Eco Green.

BiayaPromosidanPemasaran:Mengalokasikandanauntukmempromosikan toko, baik secara online maupun offline.

Gaji Karyawan(jikaada): Jikaakanmempekerjakankaryawan,maka biaya gaji mereka juga perlu dipertimbangkan.

SaranaPendukung:


Sistem Penyimpanan dan Display: Rak display atau rak penyimpanan khusus untuk produk-produk ramah lingkungan agar terlihat menarik dan rapi.

Peralatan Kasir: Mesin kasir atau perangkat lunak kasir untuk melakukan transaksi dengan pelanggan.

Pendidikan dan Pelatihan: Memastikan karyawan atau pemilik toko memiliki pemahaman yang baik tentang produk-produk ramah lingkungan dan cara terbaik untuk mempromosikannya kepada pelanggan.

Koneksi dengan Pemasok: Membangun hubungan yang kuat dengan pemasok produk ramah lingkungan untuk memastikan pasokan yang konsisten dan berkualitas.


ProsesPenjualanyangharus dilaksanakan


Setiap tahap dalam proses pembuatan dan penjualan toko Eco Green membutuhkan perhatian khusus terhadap nilai-nilai lingkungan, pendekatan yang berkelanjutan,sertakomitmenuntukmemberikanlayananyangberkualitaskepada pelanggan.Integrasinilai-nilailingkungandankesadaranakankeberlanjutandalam setiap langkah akan membantu toko Eco Green untuk sukses dan berkelanjutan. Toko Eco Green melibatkan beberapa langkah dalam proses pembuatan dan penjualannya. Berikut adalah proses umum yang perlu dilakukan:


Riset dan Perencanaan:


Riset Pasar: Melakukan riset pasar untuk memahami tren dan permintaan produk ramah lingkungan yang sedang diminati di area atau komunitas tertentu.


Perencanaan Bisnis: Membuat rencana bisnis yangmencakup tujuan, target pasar, produk yang akan dijual, strategi pemasaran, dan proyeksi keuangan.

PemilihanProdukdanPemasok:


PilihProdukRamahLingkungan:Memilihproduk-produkyangramahlingkungan dari berbagai kategori seperti pakaian, peralatan rumah tangga, kosmetik, atau barang-barang daur ulang.

IdentifikasiPemasok:Mencaridanmemilihpemasokatauprodusenprodukramah lingkunganyangdapatmenyediakanprodukdengankualitas baikdanprinsipyang sejalan dengan visi toko Eco Green.


PembelianStokdanPersiapanToko:


Pembelian Produk: Memulai pembelian stok barang dari pemasok untuk dijual di toko.

Penataan Toko: Mendesain toko agar menarik dan ramah lingkungan dengan tata letak produk yang baik dan informatif bagi pelanggan.

Pemasaran danPromosi:


Pemasaran Online dan Offline: Menggunakan strategi pemasaran seperti media sosial, website toko, iklan lokal, atau kerjasama dengan komunitas untuk memperkenalkan toko dan produknya.

Edukasi Pelanggan: Mengedukasi pelanggan tentang pentingnya produk ramah lingkungan melalui acara-acara, materi promosi, atau informasi yang tersedia di toko.


PenjualandanLayananPelanggan:


Transaksi Jual Beli: Menjalankan operasi penjualan secara rutin dengan memberikan pelayanan pelanggan yang baik.

Evaluasi dan Umpan Balik: Mengumpulkan umpan balik dari pelanggan untuk terus meningkatkan layanan dan kualitas produk.


Pengelolaan StokdanKeuangan:


Pengelolaan Stok: Memantau persediaan barang, mengelola pembelian ulang, dan menyesuaikan stok berdasarkan permintaan pelanggan.

Manajemen Keuangan: Memastikan keuangan toko Eco Green terkelola dengan baik, termasuk pencatatan transaksi, pengeluaran, dan pemasukan.




CaradanStrategiuntukProsesPenjualan

Strategipenjualaninibertujuanuntukmeningkatkankesadaran,minat,dan kepercayaanpelangganterhadapprodukramahlingkunganyangdijualditokoEco Green. Dengan pendekatan yang tepat, toko ini dapat memainkan peran penting dalammendoronggayahidup yanglebihberkelanjutan.TokoEcoGreenmemiliki beberapastrategipenjualankhususyangdapatmembantumempromosikanproduk ramahlingkungandanmeningkatkanminatpembeli.Berikutbeberapastrategiyang bisa dilakukan:


PendidikandanKesadaranLingkungan:


Workshop atau Seminar: Menyelenggarakan acara untuk memberikan informasi kepada konsumen tentang manfaat produk ramah lingkungan dan cara hidup yang berkelanjutan.

Konten Pendidikan: Menggunakan platform online atau blog untuk membagikan artikel, tips, atau informasi tentang keberlanjutan dan kepentingan produk ramah lingkungan.


PromosiyangMenarik:


Kemitraan dengan Komunitas atau Organisasi Lingkungan: Bermitra dengan organisasi yang memiliki visi serupa untuk memperluas jangkauan dan mendapatkan dukungan dalam promosi.

Penawaran Spesial: Menawarkan diskon atau penawaran khusus untuk produk- produk tertentu dalam rangka merayakan hari lingkungan atau peristiwa penting lainnya.


PenekananpadaKualitasdanManfaatProduk:


Demonstrasi Produk: Menyelenggarakan demonstrasi produk atau percobaan langsung untuk menunjukkan keunggulan produk ramah lingkungan.

CeritaProduk:Mengedepankanceritadibalikproduk,misalnya,bagaimanaproduk tersebutdiproduksisecarabertanggungjawabataubagaimana penggunaanproduk tersebut membantu lingkungan.


PemasaranOnlineyangEfektif:


Media Sosial Berfokus Lingkungan: Menggunakan platform media sosial untuk membangun komunitas, berbagi informasi lingkungan, dan mempromosikan produk secara konsisten.

Kolaborasi dengan Influencer: Melibatkan influencer atau tokoh yang peduli lingkungan untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan kepercayaan konsumen.


PengalamanPelangganyangPositif:


Pelayanan Pelanggan yang Baik: Memastikan layanan pelanggan yang ramah, responsif, dan memberikan informasi yang lengkap tentang produk.

Kemasan dan Presentasi yang Menarik: Menciptakan kemasan yang menarik dan informatif tentang keberlanjutan produk.

SertifikasidanLabeling:


MendapatkanSertifikasi:Jikamemungkinkan,mendapatkansertifikasiresmiuntuk produkyangdijual,sepertilabelorganikatauramahlingkunganyangdiakuisecara global.

Penandaan Jelas: Memberikan informasi yang jelas tentang keberlanjutan produk melalui label atau penandaan yang mudah dipahami oleh konsumen.


HasildariLaporanPenjualanTokoEcoGreen


Hasil dari laporan penjualan ini akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang performa toko Eco Green secara keseluruhan. Dari sini, pemilik atau manajer toko dapat mengidentifikasi area-area yang perlu ditingkatkan, menyesuaikanstrategipemasaran,sertamembuatkeputusanbisnisyanglebihbaik untuk pertumbuhan dan keberlanjutan toko. Hasil dari laporan penjualan toko Eco Green bisa sangat bervariasi tergantung pada berbagai faktor, termasuk ukuran toko, produk yang dijual, lokasi, strategi pemasaran, dan lainnya. Beberapa hasil yang mungkin dicantumkan dalam laporan penjualan:


PenjualanBersih:


TotalPendapatan: Angkatotalpendapatanyangdiperolehdaripenjualanproduk ramah lingkungan selama periode waktu tertentu (bulan, kuartal, atau tahun).


DataVolumePenjualan:


Jumlah Produk Terjual: Jumlah unit atau jumlah produk yang berhasil terjualselama periode waktu tertentu.

Rata-rata Penjualan per Transaksi: Rata-rata pendapatan yang dihasilkan dari setiap transaksi penjualan.


AnalisisProduk:


ProdukTerlaris:Produk-produkyangpalinglarisataupalingdiminatioleh pelanggan.

Performa Produk: Evaluasi performa setiap produk dalam hal penjualan,margin keuntungan, dan popularitas.

InformasiPelanggan:


DataPelanggan:Informasitentangprofilpelanggan,sepertidemografi,preferensi produk, atau pola pembelian.


RetensiPelanggan:Persentasepelangganyangkembalidanmelakukanpembelian lebih dari satu kali.


EfektivitasPemasaran:


Analisis Kampanye Pemasaran: Evaluasi hasil kampanye pemasaran yang dilakukan,sepertitingkatkonversi,pengaruhterhadappenjualan,atauROI(Return on Investment).

Sumber Penjualan: Menentukan dari mana sebagian besar penjualan berasal, apakah dari promosi online, iklan lokal, atau referensi dari pelanggan.


KinerjaKeuangan:


MarginKeuntungan:Mengukurperbedaanantarapendapatandaripenjualandan biaya produk.

BiayaOperasional:Menghitungbiaya-biayaoperasionaltermasukgajikaryawan, biaya penyewaan toko, atau biaya pemasaran.


TrendanProyeksi:


Tren Penjualan: Menganalisis tren penjualan dari waktu ke waktu untuk menentukan apakah ada peningkatan atau penurunan dalam penjualan.

ProyeksiKeuangan: Proyeksipendapatandanstrategikedepanberdasarkandata penjualan yang ada.

TingkatKepuasanPelanggan:


UmpanBalikPelanggan:Menyertakantanggapanpelanggan,review,atauumpan balik untuk mengevaluasi tingkat kepuasan pelanggan terhadap produk dan layanan.


BAB III PENUTUP



Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan mengenai nama usaha jenis usaha , dan strategi yangdapatdilaksananansertahasildarilaporanpenjualantokomakadapatpenulis simpulkan sebagai berikut:


Kesimpulan dari keseluruhan makalah ini menekankan bahwa toko Eco Green merupakancontohnyatabisnisyang tidakhanyafokuspadakeuntungan,tetapijuga pada dampak positif terhadap lingkungan. Implementasi strategi yang tepat dalam penjualan dan pemasaran produk ramah lingkungan menjadi faktor kunci dalam keberhasilan toko ini.


PembuatanJenis UsahaTokoEcoGreen:


Kesadaran Lingkungan: Berdasarkan riset dan perencanaan, toko Eco Green didirikan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin sadar akan pentingnya produk ramah lingkungan.

Sumber Produk Ramah Lingkungan: Pemilihan produk yang berkualitas dan ramahlingkungandaripemasokyangterpercayamerupakanlangkahpentingdalam menciptakan identitas toko ini.


ProsesPenjualan:


Pendidikan dan Kesadaran Pelanggan: Strategi pemasaran dan promosi difokuskan pada mengedukasi dan meningkatkan kesadaran pelanggan tentang manfaat produk ramah lingkungan.

Pelayanan Pelanggan: Fokus pada memberikan pengalaman pelanggan yang positif dengan layanan yang responsif dan informasi yang jelas tentang produk.


Strategi Pemasaran:


Promosi Berkelanjutan: Melalui kemitraan dengan komunitas, penggunaan media sosial, dan kolaborasi dengan influencer, toko Eco Green mengimplementasikan strategi pemasaran yang menjangkau konsumen potensial.

Edukasi Melalui Konten: Menyediakan konten edukatif untuk mengajak pelanggan memahami nilai-nilai keberlanjutan.


LaporanHasilPenjualan:


Pencapaian Penjualan: Laporan menunjukkan tingkat penjualan bersih, volume produk terjual, serta produk yang paling diminati oleh pelanggan.

Efektivitas Strategi Pemasaran: Evaluasi terhadap efektivitas kampanye pemasaran, sumber penjualan, dan tingkat retensi pelanggan.

KesimpulanUmum:


KomitmenpadaLingkungan:Denganfokuspadaprodukramahlingkungan,toko Eco Green berhasil menarik minat pelanggan yang peduli akan isu lingkungan.

Kesuksesan dari Pendidikan dan Promosi: Pendidikan terhadap pelanggan tentangmanfaatprodukramahlingkungandanpromosiyangefektifmenjadifaktor kunci dalam mencapai hasil penjualan yang baik.






Saran

Berdasarkan hasil pembahasan nama usaha jenis usaha , dan strategi yang dapat dilaksananan serta hasil dari laporan penjualan toko beberapa saran yang dapat diberikan adalah:

Membangun toko Eco Green memerlukan komitmen, pengetahuan yang kuat, keterampilan bisnis, dan kesadaran akan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Serta, proses belajar yang berkelanjutan dan kesiapan untuk berkembang secara kontinu dalam memperluas bisnis yang berkelanjutan.


DAFTARPUSTAKA



Kasmir. (2018). Kewirausahaan (Edisi Revisi). PT Raja Grafindo Persada. Rachmawati, D. (2019). Strategi Membangun Usaha Baru. Penerbit Andi. Suhardi,D.(2017)."KunciSuksesMemulaiBisnisBaru:StudiKasuspadaUsaha

Kecil dan Menengah di Indonesia." JurnalKewirausahaan, 5(2), 78-92. Wibowo,A.(2016)."StrategiPemasaranbagiUsahaBaru:AnalisisTerhadap

ImplementasiDigitalMarketing."JurnalManajemenBisnis,3(1),45-58.


Hisrich,R.D.,Peters,M.P.,&Shepherd,D.A.(2015). Kewirausahaan(Edisi Kesepuluh). Salemba Empat.

Suharto, E. (2019). Panduan Lengkap Memulai Bisnis. Penerbit Andi. Sumaryanto.(2017).Kewirausahaan:Teori,Praktik,danKasus-Kasus.

PenerbitGavaMedia.