Adat, Tradisi, Agama, Budaya Hindu Bali

Jumat, 26 Juni 2026

Hari Raya Kuningan: Momentum Kembalinya Leluhur dan Peneguhan Dharma dalam Kehidupan

 Hari Raya Kuningan: Momentum Kembalinya Leluhur dan Peneguhan Dharma dalam Kehidupan

Oleh: I Komang Badra

Hari Raya Kuningan merupakan salah satu hari suci yang sangat penting bagi umat Hindu, khususnya di Bali. Hari raya ini diperingati sepuluh hari setelah Hari Raya Galungan, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan. Apabila Galungan dimaknai sebagai kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (kejahatan), maka Kuningan merupakan momentum penyempurnaan kemenangan tersebut melalui ungkapan syukur, bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta penghormatan kepada para leluhur.

Menurut Lontar Sundarigama, Hari Raya Kuningan merupakan saat para Dewa dan roh suci leluhur (pitara) yang telah hadir sejak Hari Raya Galungan kembali ke alam kedewataan. Oleh sebab itu, umat Hindu dianjurkan mempersembahkan upacara dengan penuh ketulusan sebagai ungkapan terima kasih atas anugerah, perlindungan, dan tuntunan spiritual yang telah diberikan. Tradisi persembahyangan dilaksanakan sebelum tengah hari karena diyakini pada waktu itulah para leluhur kembali ke alamnya.

Secara etimologis, kata "kuningan" sering dikaitkan dengan warna kuning, yang melambangkan kemuliaan, kebijaksanaan, kemakmuran, dan cahaya pengetahuan. Warna kuning mengingatkan umat Hindu bahwa keberhasilan hidup sejati tidak hanya diukur dari kekayaan materi, tetapi terutama dari kekayaan rohani berupa kebajikan, kebijaksanaan, dan keteguhan dalam menjalankan dharma.

Dalam pelaksanaan Hari Raya Kuningan terdapat berbagai sarana upacara yang sarat makna simbolik, seperti tamiang yang melambangkan perlindungan Tuhan, endongan sebagai simbol bekal kehidupan, serta ketupat yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Seluruh simbol tersebut mengajarkan bahwa manusia memerlukan perlindungan ilahi, bekal kebajikan, dan keseimbangan antara kehidupan material dan spiritual.

Nilai-nilai Hari Raya Kuningan juga sejalan dengan ajaran Bhagavad Gītā. Dalam Bhagavad Gītā 3.30, Sri Kṛṣṇa mengajarkan agar setiap pekerjaan dipersembahkan kepada Tuhan dengan penuh ketulusan, tanpa keterikatan pada hasil. Pesan ini menegaskan bahwa seluruh rangkaian persembahan pada Hari Raya Kuningan bukan sekadar ritual, melainkan wujud karma yoga/pengabdian yang dilakukan dengan hati yang tulus demi mendekatkan diri kepada Tuhan.

Lebih lanjut, Bhagavad Gītā 16.1–3 mengajarkan sifat-sifat luhur (Daivi Sampad), seperti kejujuran, pengendalian diri, kasih sayang, kerendahan hati, dan kedamaian. Nilai-nilai tersebut merupakan implementasi nyata dari kemenangan dharma yang dirayakan pada Galungan dan disempurnakan pada Hari Raya Kuningan. Kemenangan yang sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas sifat-sifat negatif dalam diri sendiri.

Dari perspektif pendidikan agama Hindu, Hari Raya Kuningan menjadi media pembentukan karakter. Nilai religius, penghormatan kepada leluhur, gotong royong dalam menyiapkan upacara, rasa syukur, disiplin menjalankan ajaran agama, serta kepedulian terhadap sesama merupakan pendidikan moral yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, Kuningan tidak hanya bermakna sebagai tradisi ritual, tetapi juga sebagai proses transformasi spiritual menuju manusia yang berbudi luhur.

Dengan demikian, Hari Raya Kuningan mengajarkan bahwa kehidupan yang bahagia tidak hanya diperoleh melalui keberhasilan duniawi, tetapi melalui keselarasan hubungan dengan Tuhan (parhyangan), sesama manusia (pawongan), dan alam semesta (palemahan). 

Melalui semangat Kuningan, umat Hindu diharapkan senantiasa menegakkan dharma dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan sehingga kehidupan menjadi damai, harmonis, dan penuh berkah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar