Adat, Tradisi, Agama, Budaya Hindu Bali

Jumat, 21 Mei 2021

Sistem Pendidikan Hindu

 Sistem Pendidikan Hindu di India

Perkembangan dan kemjuan dunia pendidikan di Indonesia, termasuk juga sistem pendidikan Hindu di masa kini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kemajuan pendidikan Agama Hindu antara di Indonesia dengan pendididkan Agama Hindu di India. Bebicara tentang pendidikan Agama Hindu antara di Indonesia dengan di India, juga memiliki keterkaitan atau kedekatan dengan perkembangan Agama Hindu yang berawal dari negara India, yang pada akhirnya juga berkembang di negara Indonesia di masa silam (atita) sampai pada saat ini berkembang di era modern (wartamana) secara perlahan dan meyakinkan bagi pemeluknya dan umat manusia yang semakin gigih menggembleng diri untuk mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sejarah telah membuktikan, betapa sangat idealnya pemikiran pendidikan Hindu dari masa lalu hingga masa kini telah memberikan kontribusi yang sangat luhur untuk membentuk dan mewujudkan kadar-kader muda masa depan yang gemilang, cerah, disiplin, bertanggung jawab, berwawsan luas, ramah lingkungan, ramah berprilaku, dan sehat secara lahir maupun bathin. Penerapan pendidikan Agama Hindu di masa lalu bila dibandingkan dengan penerapan pendidikan Agama Hindu dimasa kini, terutama yang terlaksana di Indonesia memiliki konsistensi dan kestabilan dalam aplikasinya. Tidak menampakan adanya stagnasi dalam inti sari ajarannya, namun dapat adaptif dan mengikuti perkembangan sistem pendidikan modern dan selalu nampak lebih dinamis, namun pendidikan Hindu secara perlahan dan sekali waktu juga prontal dalam mengadaptasikan penerapannya dalam pola pendidikan kekinian.


Sistem Pendidikan Hindu di India

Berbicara mengenai sistem pendidikan Hindu di India bahwa sistemnya telah mengalami kemajuan yang cukup pesat, jika dibandingkan dengan sistem pendidikan Hindu di beberapa negara lainnya di Asia ataupun pada tingkat dunia. Hal itu dirasakan cukup beralasan, mengingat gudangnya ahli di bidang Agama Hindu berasal dari negeri India. Dapat dipastikan bahwa para pemikir di bidang keagamaan Hindu memang Indialah sebagai asalnya. Banyak expert atau ahli di bidang Agama Hindu menyebar secara merata di berbagai wilayah India.

Bilamana diperhatikan sistem pendidikan Hindu di India sepertinya telah mengakar dan merata keberadaan-nya pada setiap lembaga pendidikan formal baik dalam naungan pemerintah maupun di asuh oleh yayasan atau lembaga pendidikan swasta. Begitu juga pada jenjang pendidikan tinggi, bahwa pada setiap perguruan tinggi telah memiliki tenaga expert yang memadai. Pada sebagian besar wilayah di India telah memiliki lembaga pendidikan tinggi yang berskala nasional maupun yang bersekala internasional hal tersebut ditandai dengan adanya bahwa para peserta didiknya tidak semata dari warga local atau berasal dari negeri India saja, bahkan sudah banyak perguruan tinggi yang mahasiswa dan mahasiswinya dari luar negeri.

Dalam amatan secara langsung di lapangan, terutama yang berada di wilayah negara bagian utara Pradesh India, bahwa ada satu perguruan tinggi Hindu yang sangat terkenal bernama Banares Hindu University (BHU) yang berada di sebuah kota suci Hindu bernama kota Kasi, yang juga populer disebut kota Varanasi, atau secara spiritual dinamai kota Sizua. Bagi pengunjung asing lebih suka dinamai kota light atau kota "Sinar". Persisnya bahwa kota Barnares berada di seputar lintasan sungai suci Gangga pada kota Benares inilah ada sebuah perguruan tinggi Hindu yang sangat besar di wilayah India utara, yang telah ditata dan diasuh oleh para pakar di bidang Agama Hindu termasuk para pakar dalam disiplin ilmu lainnya, oleh karena pada BHU tersebut merupakan perguruan tinggi Hindu yang mengasuh berbagai disiplin ilmu yang ditekuni dan ditimba oleh para generasai Hindu dari India maupun yang berasal dari luar negeri.


Pendidikan Hindu di Masa Lalu

Mengenai sistem pendidikan Hindu di India sangat kental dengan pola atau sistem pendidikan Hindu yang masih tergolong tradisonal yang dinamai asram atau asrama, kalau di Indonesia belakangan ini lebih banyak dikenal dengan pasraman, termasuk juga sistem asram tersebut juga sudah lama diterapkan di Indonesia, khususnya berada di wilayah Bali. Pola atau sistem pendidikan Hindu yang ada berkembang di India di masa lalu adalah berakar atau bermula dari penerapan sistem pendidikan tradisonal yang ada di India sejak dulu.

Salah satu asram yang ada di kota suci Prayaga (dinamai juga kota allahabad di masa moderen ini) bernama Asram Baradiuaja. Asrm Baradwaja ini terletak di seputar persimpangan atau campuhan (sanggaman atau sanggam) sungai Gangga dan sungai Yamuna. Lokasi ini juga sebagi area yang sangat disucikan atau disakralkan oleh umat Hindu India atau umat Hindu Dunia. Lokasi tersebut juga lasim dinamai Triveni atau Trinadhi. Mengingat darah ini adalah daerah keramat bagi umat Hindu yang secara spiritual di jadikan area untuk melaksanakan ritual besar umat Hindu bernama Kumbha Mela yang pelaksanaanya di laksanakan setiap tahun sekali. Selanjutnya yang dilaksanakan setiap enam tahun sekali dinamai Arda Kumba Mela, kalau pelaksanaannya dilaksanakan setiap dua belas tahun sekali di namai Maha Kumba Mela.

Selain Asram Barad Waja yang ada di seputar kota suci Prayaga tersebut, maka pada pinggiran sungai Gangga dan sungai Yamuna tersebut banyak terdapat Asram yang di kelola oleh umat Hindu secara mandiri atau secara swakelola. Pada Asram tersebut secara alami yang bercirikan karakter spiritual dikelola dan diasuh para peserta didik atau sisya yang belajar tentang agama Hindu, termasuk juga belajar bahasa Sansekerta (Vyakarana), lagu-lagu keagamaan Hindu (Bhajanam), seni tari yang bernafas Hindu (Natya atau sebagai kalackra), belajar ilmu perbintangan (Jyotisa), belajar ilmu seni (Gandharva), belajar ilmu politik (Dhandaniti atau nitisastra). belajar ilmu gaib atau kjnanan, termasuk belajar pengendalian diri lewat yoga, dan sebagainya.

Sistem pendidikan Hindu pada Asram tersebut di laksanakan dengan sistem yang sangat ketat atau disiplin tinggi. Peserta didik dilatih dan dibina untuk mengembangkan diri dengan pola disiplin yang baik, mantap, konsisten, dan bertanggungjawab. Peserta didik tidak diperkenankan bergaya hidup mewah, hura-hura, acak-acakan, dan liar keluar masuk secara bebas menurut kehendak masing-masing. Hal atau perilaku seperti itu tidak di ijinkan belajar pada pasraman atau asram. setiap peserta didik mendapatkan pengawasan yang sangat ketat dan di bina secara lembut, ramah, sopan, simpati, cinta kasih, penuh rasa sayang, dan suka menolong.



Pendidikan Hindu di Masa Kini

Dalam kekinian, bahwa sepanjang yang pernah dialami dan diamati mengenai sistem pendidikan Hindu di India dapat dikatakan baik dan memiliki kemajuan yang sangat signifikan, jika di bandingkan dengan negara-negara maju lainnya di Asia, seperti Singapura, Jepang, Cina, Malaysia, dan sebagainya. Negara India memiliki perhatian dan prestasi yang baik di mata dunia. Hal tersebet di buktikan bahwa di bidang teknologi telah berhasil diciptakan teknologi canggih oleh generasi India bernama Caulana yang telah mampu mengangkasa lewat ciptaannya. Beberapa hal yang patut ditiru dalam sistem pendidikan Hindu dari India berikut ini:


Catrawas

Dalam memberikan pelayanan yang maksimal terkait dengan pemondokan bagi para mahasiswa dari lokal dan dari negara asing, maka sistem pendidikan Hindu dikelola dengan penyediaan mess atau asrama yang memadai. Setiap mahasiswa dan mahasiswi yang hendak tinggal di asrama dapat dilayani dengan baik. Termasuk juga pelayanan konsumsi secara rutin oleh pembina asrama. Para mahasiswa dan mahasiswi tinggal membayar sesuai yang telah di tentukan. Dengan tersedianya mess atau catrawas maka upaya memacu prestasi bagi para peserta didik menjadi lebih menantang. Secara umum dalam amanat nyata di lapangan bahwa peserta didik yang tinggal di mess lebih awal menyelesaikan pendidikannya, karena secara rutin keseharian telah terlayani kebutuhan makanan dan minuman (bhojanam) dengan baik.


Catrawerti

Ada dorongan material bagi peserta didik yang studi dalam berbagai jenjang di India. Tidak saja peserta didik lokal, bahkan jutaan peserta didik dari negara asing juga mendapatkan perhatian stimulus berupa beasiswa (catrawerti) dari pemerintah India secara continou sesuai dengan jenjang pendidikannya yang ditempuh. Mulai dari jenjang strata satu (bachelor) sampai dengan strata dua (magister), dan strata tiga (doctoral) diberikan bantuan beasiswa oleh pemerintah India lewat lembaga pendidikan tinggi dimana peserta didik tersebut menempuh studi. Hal inilah yang nampak sebagai suatu kemajuan besar dalam pengelolaan pendidikan tinggi Hindia di India.


Catra Yatra

Secara rutin setiap semester atau dalam setahun ada dua kali perjalan studi yang diberikan kesempatan oleh pemerintah India, yakni pada musim panas dan pada musim dingin, yang biayanya sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah India. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan refreshing kepada peserta didik, untuk lebih bersemangat lagi dalam menempuh dan menyelesaikan studinya. Saat catra yatra (mahasiswa studi banding) dilakukan ke berbagai daerah di wilayah negara bagian India, seperti ke kampus-kampus yang telah maju, karena bersejarah, ke tempat suci ke museum, mengenal peraban dan budaya setempat, mengenal seni, adat, dan kekhasan pencaharian masyarakat setempat dan sebagainya. Saat catra yatra dibimbing dan didampingi oleh dosen pembina dan perwakilan dari pihak kementrian pendidikan sebagai leading sector untuk memberikan petunjuk, arahan, binaan, dan guiding.


Adhyapaka-Adhyapika

Para pengajar atau dosen (adhyapaka ca adhyapika) memiliki kompetensi yang memenuhi syarat (qualified) yakni rata-rata berpendidikan doctor dan bahkan banyak yang telah menyandang jabatan guru besar (professor). Hal tersebut dirasakan ada nilai plus dalam dunia pendidikan Hindu di India, karena pengajarnya rata-rata telah berpengalaman di bidangnya. Para dosen yang berkualifikasi magister bisa di hitung dengan jari, artinya bahwa sangat langka dijumpai pada dosennya yang bergelar magister, kecuali dosen yang tergolqng magang atau honor. Masih juga ada nilai plus dari para dosennya adalah sebagai bagian besar para dosen telah mengalami pertukaran dosen secara lokal, nasional dan internasional melalui program visiting professor atau pertukaran dosen-dosen antar negara dan antar daerah di India. Progaram tersebut memberikan kesempatan dan memperluas wawasan para dosen yang pada akhirnya juga dikembangkah dan ditransfer kepada para asuhannya.


Sanggrahalaya

Pasilitas bagi mahasiswa-mahasiswi berupa koleksi benda-benda bersejarah dan memiliki nilai keilmuan, teknologi, budaya, seni, tradisi, pengobatan, perbintangan, dan sejenisnya telah diupayakan dengan penyediaan museum kampus (sanggrahalaya) dan museum yang ada di wilayah kota daerah setempat. Hal tersebut dapat memberikan dorongan dan stimulus menuju kemantapan prestasi belajar peserta didik dalam belajar. Para mahasiswa dengan mudah dan teratur bisa belajar dengan datang ke museum yang sekaligus sebagai lab kampus bagi peserta didik.


Yuva Mahotsava

Dalam hal pengembangan minat dan bakat bagi segenap peserta didik yang berasal dari lokal, nasional, dan internasional, maka pihak kampus memprogramkan sebua festival yang berskala besar berupa lomba keterampilan dan prestasi mahasiswa dinamai Yupa Mahotsava. Kegiatan tersebut secara rutin dilakukan mulai dari jenjang di tingkat kampus, ditingkat antar kampus di provinsi, dan ditingkat kampus secara nasional. Berbagai ragam budaya, seni, pertunjukkan, lomba, adu keterampilan, keilmuan, peragaan teknologi, dan adu prestasi bisa dipertontonkan dan dipresentasikan oleh peserta didik. Haltersebut juga memancing semangat belajar dan semangat menunjukkan kebolehan di bidang ilmu yang ditejumi


Nokari

Sebagai pendukung dalam berbagai program pendidikan pada perguruan tinggi di India, salah satunya adalah tenaga staf atau para pegawai (nokari). Bila diperhatikan secara kwantitas bahwa ukuran perguruan tinggi di India memiliki pegawai yang sangat terbatas. Tidak ada pegawai yang tergolong nganggur atau keluyuran. Jumlah pegawai pun sangat terbatas dan jika secara jujur dikatakan jumlahnya sangat sedikit. Entah apa yang menjadi alasan? kenyataannya jumlahnya sangat sedikit.


Karyalaya

Fasilitas yang cukup memadai dipersiapkan dalam pengelolaan dunia pendidikan tinggi, termasuk dalam sistem pendidikan Agama Hindu di India adalah sarana prasarana kerja berupa ruangan kerja atau perkantoran, yang lazimnya di Indonesia sebagai rektorat, bila di India bahwa tempat kerja para pegawai dinamai karyalaya. Pada rungan kerja tersebut sudah tertata secara paten dengan skat yang cukup aman terbuat dari amterial besi atau sejenis terali, tetapi sekat ruangannya agak terbatas atau secukupnya untuk satu atau maksimal dua orang dalam ruangan tersebut. Hal itu menandakan bahwa pentingnya penghematan penggunaan ruangan bagi tenaga pegawai dan cara kerjanya juga sangat disiplin dan tepat waktu.


Ada sedikit keheranan jika dilihat dari cara melayani peserta didik, bahwa ditanamkan pola pelayanan yang disiplin yang begitu tinggi. Misalnya jika ada para mahasiswa-mahasiswi yang membayar biaya pendidikan pada suatu loket atau bagian keuangan maka sangat ketat diterapakan pola antri, dengan mengingat bahwa peserta didik yang dilayani sangat banyak, sedangkanyang melayani hanya seorang pegawai saja atau beberapa orang pegawai sesuai dengan kompetensinya. Begitu juga dalam hal yang lainnya, seperti pendaftaran awal semester (admission) bagi setiap mahasiswa-mahasiswi, juga diperlukan secara disiplin tetapi sangat efektif. Jadinya para mahasiswa-mahasiswi telah terbiasa untuk antre dan tidak ada yang saling srobot. Kalupun ada satu dua yang ingin mendahului, jika tidak mendapatkan ijin dari pegawai (nokari), maka keinginan untuk mendapatkan pelayanan lebih awal tidak bisa terwujud. Dengan demikian bahwa setiap pegawai sudah terbiasa mengkondisikan untuk melayani secara tenang, nyaman, teratur, tertib, dan tuntas-secara pola antri.


Bhojanalaya

Sebagai upaya memberikan perhatian dan pelayanan yang optimal di area kampus maka dibeberapa sudut kampus juga tersedia tempat penjualan makanan pokok untuk sarapan pagi (subhaha bhojan) atau pun makan siang (dopahar bhojan). Pada tempat yang secara khusus tersebut sudah tersedia berbagai makanan dan minuman (kana pakana) yang sesuai dengan selera kalagan peserta didik. Tempat khusus untuk membuat aneka ragam makanan keperluan rutin tersebut stara dengan istilah kantin atau bhojanalaya. Hal tersebut difasilitasi di area kampus dengan maksud untuk memberikan pelayanan di bidang komsumsi, selain yang telah dipersiapkan pada masing-masing mess kampus (catrawas).


Ksetralaya

Satu hal penting yang juga sebagai bagian dari pola pengelolaan pendidikan agama Hindu di Indiaf bahwa area kampus dipersiapkan satu area yang luas berupa tanah lapang yakni lapangan kampus yang di lengkapi dengan fasilitas sesuai keperluan untuk pelayanan peserta didik. Lapangan kampus (ksetralaya) difungsikan untuk aktivitas lomba (utsava), aktivitas olahraga (krida), aktivitas yang bersifat seremonial penting bagi kampus (subhacaram), dan aktivitas lainnya yang bersifat akademis dan untuk memacu akademis dan untuk memacu prestasi peserta didik. Setidaknya bahwa di area tanah lapang tersebut juga untuk kegiatan belajar secara relax bagi peserta didik sebelum memasuki ruang kuliah secara di kelas (classes).


Pada area tanah lapang (ksetralaya) tersebut telah ditata dengan berbagai tanaman perindang untuk menambah suasana kampus tidak kepanasan mengingat cuaca di India sangat dalam perubahan cuaca, suatu ketika musim panas (garami mosam), musim dingin (tandi mosam), musim huian (barsat mosam) dan musim gugur dilanjutkan dengan musim semi. Dengan upaya penanaman pohon pelindung untuk kampus, maka pada saat-saat musim panas menjadi lebih nyaman dan segar. Jadi area kampus nampak hijau dan tidak nampak area kampus gersang, karena banyak tanaman pelindung (parvat) yang besar fumbuh dengan suburnya.


Kaksa

Fasilitas penting yang mendukung aktivitas pembelajaran dan pengajaran adalah berupa ruangan kuliah (kaksa). Ruangan kuliah telah ditata sedemikian rupa dalam bentuk kelas mini untuk ukuran perkiliahan yang diikuti oleh beberapa mahasiswa-mahasiswi, terutama untuk kelas khusus. Begitu pula untuk perkuliahan yang tergolong standar untuk pembelajaran bagi mahasiwa strata satu (bachelor) dan mahasiswa strata dua (magister). Mengingat kalaii mahasiwa strata satu jumlah mahasiswanya sangat membludak jika dibandingkan dengan mahasiswa program magister, maka penggunaan ruangan kelas untuk belajar dibuatkan ruangan kelas tergolong standar. Beda lagi untuk mahasiswa program doctoral bahwa kegiatan untuk di kelas tergolong sangat terbatas mengingat program doctor adalah tergolong sebagai sarjana penelitian (scholar research). Jadinya kegiatan kelas untuk program doctor sangat terbatas, kecuali ada presentasi, seminar penelitian, kegiatan konsultasi, dan aktivitas exam atau ujian (pariksa).


Masing-masing kelas sudah disiapkan secara teratur sesuai dengan prodinya, misalnya kelas untuk prodi filsafat (darsanam kaksa), kelas untuk tata bahasa Sanskrit (vyakarana kaksa), kelas untuk pertemuan atau rapat (subha kaksa), dan sebagainya. Begitu juga untuk kelas-kelas yang dipergunakan untuk kegiatan kuliah umum atau kuliah dengan peserta mahasiswa-mahasiswi yang sangat banyak, maka dipersiapkan ruangan agak luas dan besar (bara kaksa).


Sarva Sabha

Bilamana ada kegiatan kampus yang memerlukan kapasitas ruangan yang tergolong besar dan menampung peserta yang sangat banyak, maka ruangan khusus telah dipersiapkan berupa aula atau auditorium (sarva sabha). Ruangan tersebut difungsikan untuk kegiatan seminar (tarka vitarka), rapat terbuka kampus (bahut uttama sabha), kegiatan penamatan peserta didik (wisuda), dan kegiatan lainnya untuk kepentingan kampus. Intinya bahwa semua kegiatan kampus yang berskala besar, peserta yang banyak, dan sifatnya seremonial dipilihlah tempatnya di ruangan aula tersebut.


Brahmacharya

Apa makna brahmacharya? Makna utamanya adalah hidup berguru secara spiritual untuk mempelajari ajaran agama Hindu. Cara teori untuk mempelajari ilmu dan sastra agama Plindu yang mencakup tattwa (filsafat), susila (etika), acara (ritual), dharma (kewajiban dan hakekat kebenaran), tatvamasi (toleransi), sraddha (kepercayaan dan keyakinan), bhakti (penghormatan atau pengabdian), siksa (pendidikan), sanskriti (budaya), rajaniti (ilmu politik), artha sastra (ekonomi), usadha (obat-obatan), dan sebagainya. Melalui sistem pendidikan agama Hindu dengan konsep bramacharya, maka tujuan untuk mewujudkan kader Hindu yang berkualitas dan bertanggung jawab dapat mencapai hasil maksimal.


Sistem pendidikan agama Hindu di India dari masa lalu sampai dengan masa kini ada dinamika pengelolaannya, baik yang menyangkut sumber daya manusianya (SDM), fasilitasnya, program pendidikannya, dan peserta didiknya. Pada masa lalu bahwa keberadaan asram masih sangat mendominasi bagi kalangan masyarakat India. Ini berarti bahwa sistem asram bukan berarti sudah ditinggalkan oleh penggemar ilmu dan teknologi. Pola asram lebih penekanan kepada pembinaan kehidupan beragam Hindu dan pembinaan ketahanan dan kemantapan spiritual. Namun dalam pola atau sistem pendidikan yang dimodifikasikan ala modern di masa kini adalah sistem yang dikonvergensikan dengan pola yang berkembang dari berbagai pengaruh keilmuan atau multi effect of knowledge.


Sistem asram lebih menekankan pemantapan pada pembinaan spiritual generasi penerus atau pelajar, sedangkan sistem yang termodifikasi dengan sistem pendidikan kekinian adalah dalam upaya antisipasi dinamika multi science (sva jnana) tersebut. Hal itu terbukti dapat dilihat di Banares Hindu University (BHU) di Banares, uttar Pradesh, India, bahwa berbagai ilmu atau disipilin bisa dipelajari di kampus tersebut. Tidak hanya bidang keilmuan agama Hindu, tetapi juga di bidang exact pun juga bisa ditempuh di BHU. Hal itu menandakan bahwa kemajuan di bidang keilmuan dan teknologi memang diajarkan dalam agama Hindu yang dikenal dengan konsep tri samaya yakni atita atau di masa lalu, di masa kini atau wartamana, dan dimasa yang akan datang adalah nagata.


Disadari bahwa keberadaan agama Hindu sangat adaptif dan pleksibel sesuai dengan pola ajarannya yang di namai drsta atau sima. Mau belajar di asram silakan dan mau study atau adhyayanam di university (maha vidyalaya) juga tidak dipersalahkan. Tergantung pada target yang ingin disasar oleh peserta didik. Tujuan utama dalam sistem pendidikan agama Hindu adalah terwujudnya insan Hindu yang suputra (putra utama) dan suputri (putri utama). Selain itu juga untuk mewujudkan insan yang zoidyan tarn atau beipengetahuan luas di bidang agama Hindu.


Selasa, 24 November 2020

KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN

 

ARTIKEL

 KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN




 

 

 

 


OLEH:

NAMA      : NI KOMANG SANDIASIH

             NPM          : 202004

             PRODI       : BAHASA BALI

             MAPEL     : KEWIRAUSAHAAN

STKIP

PENDIDIKAN BAHASA BALI

TAHUN AJARAN 2020/2021


BAB I

Pendahuluan

 

v Latar belakang faktor masalah

 

Belakangan ini banyak sekali permasalahan yang terjadi di berbagai bisnis atau usaha.

Adapun berbagai karakteristik dari seorang wirausahawan, yang sangat mempengaruhi usaha yang akan di jalankan oleh pengusaha.

 

v Rumusan masalah

 

Lantas bagaimanakah cara untuk menanggulangi keugian pada pengusaha ?

 

 

v Tujuan dari penulisan artikel

 

Mampu menjelaskan karakteristik dari seorang wirausahawan

 

BAB II

Pembahasan

v Karakteristik wirausahawan

Kewirausahaan adalah proses mengidentifikasi,mngembangkan,dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang , cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptakan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.

Wirausaha adalah seseorang yang membangun usaha baru ataupun seseorang yang menciptakan lahan pekerjaan baru yang disesuaikan dengan modal yang ada, dan wirausaha bisa digolongkan menjadi usaha besar, menengah ataupun usaha kecil.

Proses kewirausahaan biasanya diawali dengan adanya inovasi. Biasanya inovasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi,kebudayaan dan lingkungan.

Adapun beberapa golongan usaha yaitu yang pertama Golongan Pengusaha Besar biasanya seseorang yang memiliki modal yang besar untuk bisnis sampai ke mancanegara dan biasanya memiliki banyak karyawan. Contoh: seperti pabrik rokok RAW yang memiliki banyak karyawan.

Yang ke dua  Golongan pengusaha Menengah biasanya seseorang yang memiliki modal yang lumayan, target pengusaha biasanya pasar di dalam negeri atau yang berada di dalam daerahnya saja dan pengusaha menengah hanya memiliki beberapa karyawan saja. Contoh: seperti rumah makan kumendel dan toko rahayu.

Yang ke tiga  Golongan Pengusaha kecil pengusaha yang biasanya targetnya hanya dilingkungan sekitar rumahnya saja karna modal yang di miliki kecil atau minim dan tidak harus memiliki karyawan.Contoh: penjual gorengan yang ada dipinggir jalan dan juga penjual jagung bakar.

 

v Seorang Wirausahawan Harus Memiliki :

 

o   Jiwa yang kuat kenapa harus kuat karena, jika seorang wirausahawan memiliki jiwa yang lemah maka jika dia menemukan masalah dia akan cepat menyerah.

o   Memikirkan hal-hal yang baru kenapa harus selalu memikirkan hal yang baru kerana, jika seorang pengusaha tidak memikirkan hal yang baru untuk usahanya maka bisa akan cepat mengalami kebangkrutan.

o    Bisa melihat peluang yang ada seorang pengusaha harus bisa melihat peluang-peluang yang ada untuk memajukan usahanya dan juga bisa mengembangkan atau membuka cabang di tempat lain.

o   Inovasi produk yang terbaru yaitu inovasi produk dan inovasi pelayanan. Dengan adanya inovasi akan meningkatakan daya saing usaha dan daya tarik produk, sehingga peluang usaha untuk berkembang terbuka lebar.

o   Mengerti preferensi konsumen yaitu untuk mengetahui apa yang di inginkan oleh konsumen, dan tau produk-produk yang kekinian.

o   Berani tampil beda yaitu berani menampilkan hasil produk kita yang berbeda dengan yang lain.

o    Memiliki konsep dan strategis praktis yaitu tempat atau lokasi yang di pilih harus strategis dan konsep ruangannya harus berbeda dari yang lain.

o   Berani mengambil resiko setiap kegiatan memiliki resiko termasuk kegiatan usaha. Wirauahawan yang baik merupakan wirausahawan yang berani mengambil resiko, selama resiko tersebut dapat di perhitungkan,dicegah,dan ditanggulangi.

o   Tekun dan teliti tekun adalah perilaku yang menunjukan itensitas tinggi dalam mengerjakan sesuatu. Oleh karena kegiatan usaha merupakan kegiatan kompleks, dibutuhkan ketekunan untuk menjalankannya. Tanpa ketekunan, kinerja usaha menjadi tidak efektif, sehingga beresiko mengalami kegagalan dan disitu juga diperlukannya ketelitian.

o    Memiliki rasa tanggung jawab yaitu selalu bertanggungjawab dengan apa yang telah di buat dan dibangun selama ini.

o   Berani menerima kritikan dari orang lain yaitu seorang wirausahawan harus berani menerima kritikan dari orang lain, jika itu memang kurang memuaskan dari konsumen atau pembeli.

o   Berorientasi pada proses dan hasil yaitu wirausahawan merupakan profesi yang menekankan pada fokus dan itensitas tinggi dalam kinerja.Oleh karena berfokus pada proses dan hasil, wirausaha harus senantiasa mencurahkan pikiran,waktu,dan tenaganya agar proses dan hasil usahanya sesuai target.

o   Memiliki jiwa kepemimpinan yaitu kegiatan usaha merupakan kegiatan yang melibatkan orang lain, antara lain konsumen, karyawan, mitra usaha, pemerintah, dan sebagainya. Sehingga dibutuhkan jiwa kepemimpinan, hal ini penting dalam pengelolaan sumber daya manusia (karyawan) dan pengambilan keputusan dalam bekerja sama dengan pihak lain  (mitra usaha,pemerintah).

o   Orisinil yaitu Orisil artinya asli. Wirausahawan yang baik adalah yang memiliki orisinalitas,baik dalam bekerja maupun produk yang dihasilkannya. Tanpa orisinalitas, kinerja usaha dan produknya tidak memiliki karakter khas sehigga tidak menarik di mata konsumen dan mitra usaha.

o   Jujur yaitu kesesuaian antar pikiran,perkataan,dan perbuatan dengan kenyataan dan peraturan yang berlaku. Wirausahawan yang baik adalah yang memiliki kejujuran. Hal ini penting agar dalam menjalankan usahanya,tidak ada pihak yang dirugikan dan kegiatan usaha berjalan sesuai ketentuan. Wirausahawan harus jujur kepada diri sendiri, karyawan, konsumen, mitra usaha, dan pihak-pihak yang lainnya yang terkait.

 

v Seorang Wirausahawan Harus Bisa Menyikapi Kegagalan:

Kegagalan usaha merupakan salah satu risiko usaha yang banyak terjadi dalam dunia usaha. Setiap usaha memiliki potensi untuk gagal.Oleh karena itu, wirausahawan hendaknya memiliki sikap positif dalam menghadapi kegagalan usaha. Adapun 6 (enam) cara menyikapi kegagalan yaitu :

1.     Berfikir positf

Kegagalan usaha merupakan sebuah kenyataan, maka harus di terima dengan iklas, sabar, dan tabah. Tanpa menerima kenyataan, hanya akan membuat mental wirausahawan semakin memburuk. Selain menerima kenyataan, wirausahawan harus memaknai kegagalan yang dialaminya sebagai bahan pembelajaran untuk bangkit memulai usaha baru.

2.     Mencari penyebab kegagalan usaha

Kegagalan usaha tidak boleh dibiarkan begitu saja dan dimaknai sebagai takdir , namun harus dianalisis dan dicari penyebabnya sehingga menjadi masukan bagi wirausahawan untuk mengevaluasi dan meningkatkan kinerjanya.

3.     Mengatasi kegagalan usaha

Setelah kegagalan diketahui penyebabnya, langkah selanjutnya adalah mengatasi kegagalan usaha. Mengatasi kegagalan merupakan cara untuk Bangkit kembali dan memulai lagi apa yang sudah dikerjakan. Mengatasi kegagalan usaha dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya kursus, les, mengikuti pendidikan dan pelatihan, mengikuti lokakarya, mengikuti seminar dan lain sebagainya.

4.     Menningkatkan karakter dan kompetensi usaha

Untuk bangkit dari kegagalan diperlukan karakter dan kompetensi yang sesuai. Oleh karena itu wirausahawan perlu menigkatkan karakter dan potensinya melalui berbagai cara, misalnya kursus dan lainsebagainya.

5.     Mencari peluang usaha

Setelah kompetensi dan karakter wiausahawan meningkatkan dan siap untuk memulai kembali usaha, wirausahawan perlu mencari dan mengetahui peluang usaha yang ada. Hal ini penting agar usaha yang dibangun kembali mendapatkan peluang untuk berkembang.

6.     Melakukan inovasi usaha

Setelah peluang diketahui, langkah selanjutnya adalah melakukan inovasi, yaitu inovasi produk dan inovasi pelayanan. Dengan adanya inovasi dan meningkatkan daya saing usaha dan daya tarik produk, sehingga peluang usaha untuk berkembang terbuka lebar

 

v Menjadi Pengusaha Yang Baru

Menjadi pengusaha tidaklah semudah yang kita bayangkan, kita harus mengerti apa yang bisa di pasarkan di pasaran saat ini, selain itu kita harus mengerti dengan modal yang ada, kita bisa memulai dengan usaha yang kecil terlebih dahulu untuk mengetahui minat seseorang terhadap apa yang kita jual, selain itu kita harus memiliki niat atau tekat yang kuat untuk membangun sebuah usaha agar suatu saat usaha yang kita miliki tidak sia-sia pada suatu hari nanti.

 

v Permulaan Yang Baik

Biasanya setiap orang berfikir jika seorang remaja bukan lah seorang yang berwirausaha dengan baik, ternyata semua hal itu ialah salah, karena biasanya watak berwirausaha yang baik adalah sejak kita masih muda atau remaja, sejak masih remaja jika kita selalu berpikir untuk siap maju dan siap bersaing kita akan selalu siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang ada, di masa remaja pun kita masih bisa belajar melalui banyak hal dan pengalaman ynag baik untuk di kemudian hari.

 

v Motivasi Diri

Motivasi diri biasanya datang dari keluarga, teman dan sahabat, motivasi dari orang-orang seperti itulah yang membuat diri kita bisa menjadi melangkah untuk menjadi lebi berani, lebih baik lagi dan membuat seseorang menjadi tidak gampang menyerah, dan yang terpenting selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

Jika kalian mau memulai usaha yang baru, kalian harus memperhatikan: Modal,strategi, karyawan, tempat, dan usaha yang akan dibuat. Kalian juga jangan gampang menyerah, teruslah berusaha, belajar dengan baik dari pengalaman dan orang-orang yang sudah berpenglaman,ingat semua masalah dapat dipecahkan dengan kerja keras dan semangat.

 

 

BAB III

Penutup

v Kesimpulan

 

Jadi dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa banyak sekali karakteristik wirausahawan dan juga hal yang perlu di tanggulangi saat mengalami kebangkrutan.

Jika kalian salah satu dari seorang pengusaha, kalian harus benar-benar siap untuk menjalani semua yang harus dilakukan oleh seorang wirausahawan.


 

 

 

 

 

 

 

gyfu

Senin, 23 November 2020

SEJARAH AGAMA HINDU

 TUGAS


SEJARAH AGAMA HINDU









Oleh:

Nama Kelompok :

NI Luh Kandi Widnyani (201056)

Ni Luh Putu Novi Delia Wahyuni (201053)

I Ketut Suantara Putra (201035)











STKIP AGAMA HINDU AMLAPURA

TAHUN 20220

ARTIKEL SEJARAH AGAMA HINDU DI INDIA

Agama hindu merupakan agama tertua yang ada di dunia, the oldest religion in the word, yang masih hidup dan berkembang di saat ini. Meskipun agama hindu telah berkembang sejak tahun 5000 SM, ajaran pemikirannya masih relevan dengan perkembangan zaman.

Agama hindu merupakan ajaran agama yang bersifat universal dan memberikan kebebasan bagi pemeluknya untuk mendalami dan menjalankan ajaran agama ini. Agama Hindu muncul di lembah sungai Shindu, India sebelah barat daya, yang mana sekarang tempat ini dikenal sebagai daerah Punyab. Nama “Hindu” diambil dari nama Sungai “Shindu”. Bangsa Persia yang mengadakan kontak ke lembah sungai Shindu menyebutkan kata “Shindu” dengan kata “Hindu”, hal ini terjadi karna bangsa Persia tidak bisa menyebut lafal ”S” (https://arahfajar.com/).

Peradaban lembah Sungai Shindu  


(Gambar materi di GCR)


  Zaman Peradaban lembah sungai Sindhu dibangun oleh penduduk asli India yaitu bangsa Dravita yang sudah mempunyai peradaban yang tinggi, bahkan sebelum bangsa Arya memasuki India sekitar tahun 2.000 SM. Diketahui bahwa penduduk asli India itu adalah suku bangsa Dravida yang mempunyai ciri-ciri ; berkulit hitam, berhidung pesek, berambut kriting, dan berbadan pendek. Zaman Peradaban Lembah Sungai Sindhu berlangsung sekitar 3.000 SM – 2.000 SM. 

Peradaban Lembah Sungai Sindhu dilanjutkan oleh orang yang menyebutkan dirinya bangsa Arya. Secara fisik, orang Arya adalah orang berkulit putih, tinggi, berhidung mancung, dan sangat aktif. Bangsa Arya dianggap sebagai pembawa dan penyebar agama Weda (Vedic Religion) di india. Zaman Weda berlangsung sekitar 2.000 SM – 1.000 SM.

Kata “Weda” berasal dari urat kata “Wid” yang artinya “pengetahuan” atau “mengetahui”. Weda diyakini bersumber dari wahyu Tuhan yang di dengar langsung oleh para Maharsi. Pengajaran dan pewarisannya dilakukan secara lisan (guruparampara). Weda berjumlah empat yakni Rig Weda Samhita, Sama Weda Samhita, Yajur Weda Samhita, dan Atharwa Weda Samhita. Kelompok Weda pertama di sebut Weda Sruti, dan yang terakhir disebut Weda Smrti.

Sejarah agama Hindu di India terbagi menjadi tiga bagian yang besar sekalipun batas-batas bagiannya tidak dapat dipastikan dengan jelas, yaitu zaman Wedakuno, zaman Brahmana, zaman Upanisad.

Zaman Weda Kuno (2.500 SM – 1000 SM)

Pada zaman + 1000 SM Bangsa Arya datang ke India dengan menempati daerah Punjab (daerah lima aliran sungai), yaitu sungai Hindus atau Sindhus. Bangsa Arya ini serumpun dengan bangsa Jerman, Yunani, dan Romawi sehingga mereka disebut sebagai rumpun bangsa Indo- Jerman. Setelah datang ke India, mereka menetap di dataran sungai Sindhus yang pada waktu itu masih subur, di daerah itu mereka menemui peradaban tua. Di dataran sungai Sindhus Bangsa Arya mempunyai beberapa hal yang sangat berbeda dengan Bangsa Dravida, mereka berkulit putih dan berbadan tegap, mereka lebih jauh memasuki India sampai di tepi sungai Gangga.


Zaman Brahmana (1000 SM – 750 SM)

Zaman ini ditandai dengan adanya kitab-kitab Brahman yaitu bagian dari Weda yang berisi tentang peraturan dan kewajiban keberagamaan. Di zaman ini sajian-sajian atau kurban menjadi lebih penting. Sajian atau kurban bukan sekedar untuk memohon pada dewa, tetapi sebagai alat untuk memaksa dewa-dewa memberikan kekuasaan kepada siapa yang melakukan sesajen. Perkembangan agama Hindu pada zaman Brahmana ini merupakan peralihan dari zaman Weda Samhita ke zaman Brahmana.



Zaman Upanisad (750 SM – 500 SM)

Kata Upanisad berarti duduk di bawah kaki guru untuk

Pada zaman ini pemikiran secara falsafah sudah berkembang, kehidupannya bersumber pada ajaran-ajaran kitab Upanisad yang tergolong sruti, dijelaskan secara filosofis. Konsep terhadap keyakinan Panca Sradha dijadikan titik tolak pembahasan oleh para arif bijaksana dan para resi. Selain itu juga konsep terhadap tujuan hidup disebut Catur Purusa Artha yaitu Dharma, Artha, Kama, dan Moksa, difokuskan menjadi jelas. Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam agama Hindu periode Upanisad, manusia percaya pada Pantheisme. 

Asal-usul agama Hindu ditindaklanjuti dengan adanya perubahan corak kehidupan di India. Corak kehidupan masyarakat Hindu tersebut dibedakan atas 4 kasta, diantaranya :

Kasta Brahmana: Keagamaan.

Kasta Ksatria: Pemerintahan.

Kasta Wacyd (Waisya): Pertanian dan perdagangan.

Kasta Cudra (Sudra): Kaum pekerja kasar.


Umat Hindu berziarah ke tempat-tempat suci seperti Kota Benares, sebuah kota yang dianggap sebagai kota tempat bersemayamnya Dewa Pelabur (Dewa Siwa). Di samping itu, Sungai Gangga juga dianggap suci dan keramat oleh umat Hindu. Menurut kepercayaan merka, air dari Sungai Gangga akan dapat menyucikan segala dosa betapapun besarnya. Begitu pula tulang dan abu orang mati yang sudah dibakar dibuang ke dalam Sungai Gangga, agar orang yang meninggal masuk ke dalam surga. (http://bhayangkari.or.id/) 


Sabtu, 21 November 2020

ARTIKEL SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA

 ARTIKEL SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA







NAMA KELOMPOK :


NI NENGAH MIA SUTRISNA DEWI.           (201036) 

I GUSTI AYU OKTAVIANI.                           ( 201041)

NI GUSTI AYU RISKA CAHYANINGRUM (201042)








STKIP AGAMA HINDU AMLAPURA

TAHUN AJARAN 2020/2021







SEJARAH AGAMA HINDU DI INDIA

Agama Hindu adalah agama tertua didunia, yang masih hidup dan berkembang sangat baik sampai saat ini. Walaupun agama hindu sudah berkembang sejak tahun 5000 SM, namun ajaran dan pikirannya masih relevan dalam abad moderan ini. Agama Hindu pada awalnya muncul di lembah sungai Shindu, India sebelah barat daya, yang sekarang dikenal dengan nama PUNYAB. Nama Hindu sesungguhnya diambil dari kata Sindhu. Orang Persia yang mengadakan kontak ke lembah sungai Sindhu yang menyebut Sindhu dengan kata Hindu, karena mereka tidak bisa menyebut lafal ‘s’.

Ajaran agama Hindu bersifat universal dan memberikan kebebasan bagi penganut-penganutnya untuk mengayati dan merasakan sari-sari ajaranya. Dengan ajaran sifat universal, agama Hindu bukanlah agama dengan satu golongan saja, oleh karena ajaran agama Hindu mengajarkan ajaran yang universal, maka ajaran yang selalu segar dan benar serta dapat ditrima sepanjang masa.

Peredaran dan perubahan jaman tidak akan menyebabkan agama Hindu ketinggalan dan ditinggalkan, karena kebenaran abadi tidak luput oleh jaman. Namun agama Hindu selalu menerima perubahan-perubahan penggunaan sarana akibat perkembangan zaman.Mengenai sejarah perkembangan agama Hindu di India dapat di bagi menjadi beberapa fase/zaman yaitu: Zaman Weda, Zaman Brahmana, Zaman Upanisad.


PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA PADA ZAMAN WEDA

Zaman Weda adalah zaman diturunkannya ajaran Weda (Wahyu) oleh Ida Sang Hyang Widhi dan ditrima oleh para Maha Rsi. Penurunan Weda ini sesungguhnya dalam kurun waktu yang sangat panjang. Kata Weda berasal dari bahasa Sanskerta dari akar kata “vid” yang berarti mengetahui. Jadi kata Weda berarti Pengetahuan, yaitu pengetahuan suci dari Sang Hyang Widhi Wasa.

Zaman Weda di India dimulai dengan datangnya bangsa arya ke India urang lebih 1500 SM, bertempat di lembah sungai Sindhu. Bangsa Arya adalah bangsa yang berasal dari Austria, Hongaria, dan Babylonia. Mereka datang ke India melalui laut hitam menuju selat Bosporus. Di selat Bosporus bangsa Arya berpisah menuju dua arah yaitu ke utara menuju India dengan membawa kebudayaan Weda dan ke timur menuju iran dengan membawa kebudayaan Awesta. Masa perpindahan bangsa arya menuju India dan iran diselat Bosporus di sebut fase indo-iran.

Sebelum mengalami perpisahan, bangsa Arya pada mulanya mengalami hidup bersama. 


PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA PADA ZAMAN BRAHMANA

Zaman Brahmana ditandai dengan munculnya kitab suci Brahmana yaitu bagian Weda yang berisi tentang peraturan-peraturan dan kewajiban-kewajiban keagamaan. Kitab Brahmana juga disebut Karma Kanda yang disusun dalam bentuk Prosa. Kata Brahmana berasal dari kata “Brahman” yang berarti Doa yaitu ucapan-ucapan suci yang diucapkan oleh Brahmana pada waktu melaksanakan korban suci.

Pada zaman Brahmana, kehidupan beragama yang lebih ditonjolkan adalah pelaksanaan korban suci/yadnya. Dengan demikian segala sesuatunya diatur berdasarkan korban suci/pelaksanaan upacara yadnya, akibat dari penonjolan pelaksanaan yadnya, maka fungsi dari peranan para Brahmana semakin penting, dan masyarakat bergantung sepenuhnya pada para brahmana.

Dalam pelaksanaan upacara yadnya pada zaman brahmana selalu disertai dengan upacara mantra-mantra Weda yang dirapalkan oleh pendeta catur (sruti). Pendeta yang merapalkan/mengucapkan reg Weda disebut Hotr, untuk sama Weda disebut Udgatr, untuk yajur Weda disebut Adwaryu, dan untuk atarwa Weda disebut Brahman. Disamping semaraknya pelaksanaan upacara di India, pada zaman itu juga terjadi pengklasifikasian masyarakat sesuai dengan profesinya menjadi 4(empat) warna/golongan. Keempat warna/golongan tersebut disebut catur warna, yang terdiri dari: Warna/golongan Brahmana terdiri dari orang-orang suci

Warna/golongan Ksatrya yaitu meeka yang memegang pemerintahan

Warna/golongan Wesya yaitu yang memiliki keahlian berdagang

Warna/golongan Sudra yaitu yang menolong ketiga golongan diatas

pada zaman Brahmana Agama Hindu berkembang sampai ke India tengah, yaitu di dataran tinggi Dekan dan lembah Yamuna. Di tempat ini pula ditulis peraturan-peraturan mengenai tuntunan tentang kehidupan (tata susila). Peraturan dan tuntunan ini ditulis berdasarkan kitab Weda sruti, sehingga isinya tidak perlu di ragukan kebenarannya.Selama kurun waktu zaman Brahmana, kegiatan keagamaan ditekankan pada pembuatan persembahan sesaji, sehingga periode ini disebut dengan zaman Brahmana.


PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA PADA ZAMAN UPANISAD

Kehidupan beragama Hindu pada zaman Upanisad, bersumber pada ajaran-ajaran kitab Upanisad yang tergolong sruti dijelaskan secara pilisofis. Konsep keyakinan terhadap panca sradha dijadikan titik tolak pembahasan oleh para Rsi dan para arif bijaksana. Disamping itu, tujuan hidup yang disebut catur purusa artha (dharma, artha, kama, dan moksa) di formulasikan menjadi lebih jelas.

Zaman Upanisad berlangsung sejak tahun 800 SM. Agama Hindu yang berkembang di dataran tinggi dekan dan lembah Sungai Yamuna, terus meluas ke lembah sungai Gangga adalah daerah yang dihuni oleh penduduk dengan sumber kehidupan beraneka ragam, namun yang utama adalah berdagang. Dengan pola pikir perekonomian penduduk lembah sungai gangga tidak menginginkan praktek kehidupan beragama secara upacara yang berlebihan.

Kata upanisad berasal dari bahasa sanskerta dari akar kata upa yang berarti dekat, niberarti guru/pemimpin dan sad artinya duduk. Upanisad berarti duduk dekat guru untuk mendengarkan ajara-ajaran suci kerohanian. Upanisad mengajarkan tentang bagaimana caranya mengatasi kegelapan jiwa untuk akhirnya menemukan “sat cit ananda” (kesadaran dan kebahagiaan).

Penerapan ajaran tattwa/filsafat agama hindu dimulai sejak zaman Upanisad. Pandangan yang menonjol pada zaman ini yaitu suatu ajaran yang bersifat monistis dan absoluteisme, yang artinya ajara yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang bermacam-macan ini dari satu asal yang disebut “brahman”.

Melalui Upanisad yaitu duduk dekat dengan guru untuk menerima wejangan-wejangan suci yang bersifat rahasia. Ajaran-ajaran tersebut diberikan kepada murid-muridnya yang setia dan patuh secara terbatas di hutan. Ajaran Upanisad juga disebut Rhasiopadesa atau Aranyaka yang berarti ajaran rahasia yang ditulis di hutan. Mengenai isi pokok Upanisad adalah hakekat Panca Sradha Tattwa. Jumlah semua Upanisad ada 108 buah dan setiap weda samhita memiliki upanisad tersendiri yaitu:

Rg Weda memiliki : Aiteria Upanisad, Kausitaki Upanisad

Sama Weda memiliki : Candogya Upanisad, Kena Upanisad, Matreyi Upnisad

Yajur Weda memiliki : Taittiriya Upanisad, Suetaspatara Upanisad, Ksurika Upanisad, Brhadakanyaka Upanisad, Jabala Upanisad

Atharwa Weda memiliki: Prasna Upanisad, Mandukya Upanisad, Atharwasira Upanisad

Tuntunan keagamaan pada jaman Upanisad diarahkan untuk melepaskan diri dari ikatan-ikatan duniawi dan kembali keasal untuk bersatu dengan sang pencipta. Pada jaman Upanisad, berkembang 9 (sembilan) aliran filsafat yang dikelompokan menjadi dua kelompok besar yaitu:

Kelompok Astika adalah aliran pilsafat yang sepenuhnya mengikuti kebenaran weda sebagai sumber ajaran untuk percaya kepada Ida Sang Hyang Widhi. Yang termasuk kelompok astika adalah:Wedanta,Mimamsa,Nyaya,Samkhya,Waisesika,Yoga

Kelompok Nastika adalah aliran yang tidak mengikuti kebenaran weda sebagai sumber ajaran untuk percaya kepada Ida Sang Hyang Widhi. Yang termasuk kelompok Nastika adalah: Carwakas,Buddha,Jaina.