Adat, Tradisi, Agama, Budaya Hindu Bali

Kamis, 26 Maret 2020

CARU DALAM AGAMA HINDU BALI

OLEH : I MADE NGASEP
NO MAHASISWA : 19.1.146
PRODI : AGAMA HINDU
JUDUL MAKALAH : CARU DALAM AGAMA HINDU BALI

MAKALAH CARU DALAM AGAMA HINDU


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Melakukan Upacara Yadnya merupakan langkah yang diyakini sebagai kegiatan beragama Hindu yang amat penting. Karena Yadnya adalah salah satu penyangga bumi. Demikian disebutkan dalam kitab Atharwa Weda. Pemeliharaan kehidupan di dunia ini dapat berlangsung terus sepanjang Yadnya terus menerus dapat dilakukan oleh umat manusia. Demikian Pula Yadnya adalah pusat terciptanya alam semesta atau Bhuwana Agung sebagai diuraikan dalam kitab Yajur Weda. Disamping sebagai pusat terciptanya alam semesta Yadnya juga merupakan sumber berlangsungnya perputaran kehidupan yang dalam kitab Bhagawadgita disebut Cakra Yadnya. Kalau Cakra Yadnya ini tidak berputar maka kehidupan ini akan mengalami kehancuran (Mas putra, dkk. 2015: 1).
Bhuta yadnya merupakan salah satu yadnya yang diyakini oleh umat Hindu sebaga jalan untuk menjaga keharmonisan alam atau bumi agar semua unsur alam semesta akan terjaga keharmonisannya. Salah satu unsur penting dalam Bhuta yadnya khususnya upakara caru atau disebut dengan mecaru (Sudarsana, 2001). Upacara Mecaru di Bali merupakan sebuah ritual suci yang kerap digelar untuk mengharmonisasi hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya untuk keberlangsungan kehidupan selanjutnya atau mengharmoniskan unsur-unsur Panca Maha Bhuta di Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Unsur-unsur Panca Maha Bhuta merupakan lima unsur yang menyusun alam semesta, seperti pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa/ether. Pertiwi adalah sesuatu di sekitar kita yang berwujud, berbentuk dan dapat dirasakan seperti besi, logam, kayu, dan lain sebagainya. Pada umumnya pertiwi lebih dikenal dengan tanah. Apah adalah segala sesuatu yang lentur, mengalir, fleksibel, luwes, mendinginkan dan tidak memiliki bentuk yang kokoh. Secara nyata wujud apah adalah elemen air. Teja merupakan elemen api, yang dapat menghasilkan panas dan cahaya. Bayu merupakan sesuatu yang menaungi atau melingkupi jagat raya. Bentuk dari elemen bayu adalah angin yang melingkupi bumi. Akasa/ether merupakan unsur ruang kosong, dengan kata lain alam tempat tinggal seluruh makhluk hidup.
Caru merupakan bagian dari upacara yadnya yang bertujuan untuk keseimbangan para bhuta sebagai kekuatan bhuwana alit maupun bhuwana agung sebagaimana disebutkan dalam kanda pat butha sehingga dengan adanya keseimbangan tersebut berguna bagi kehidupan ini. Caru yang dalam sejarahnya disebutkan diawali dari terjadinya kekacauan alam semesta yang mengganggu ketentraman hidup sebagai akibat dari godaan-godaan bhuta kala, sehingga Hyang Widhi Wasa menurunkan Hyang Tri Murti untuk membantu manusia agar bisa menetralisir dan selamat dari godaan-godaan para bhuta kala itu sehingga mulailah timbul banten “Caru” sebagaimana disebutkan dalam mitologi caru ini.
Dijelaskan pula bahwa, Caru (Mecaru; Pecaruan; Tawur) sebagai upacara yadnya yang bertujuan untuk keharmonisan bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit (diri kita sendiri/ manusia). Dengan demikian, upacara mecaru adalah aplikasi dari filosofi Tri Hita Karana, seperti yang disebutkan dalam Lontar Pakem Gama Tirta, agar terjadi keharmonisan. Upacara pecaruan ada yang dilakukan dalam bentuk kecil sehari-hari, disebut Nitya Karma, sedangkan upacara pecaruan disaat tertentu (biasanya lebih besar) disebut Naimitika Karma. Adapun jenis-jenis sebagai berikut, Caru Eka Sata, Caru Panca Sata, Caru Rsi Ghana, Caru Penolak Mrana/ Gering Tempur, Caru Panca Sanak Madurgha, Caru Bhuta Yadnya Medana-dana/ Gempong Asu, Caru Panca Sanak Agung, Caru Panca Wali Krama, Caru Panca Kelud, Caru Walik Sumpah, Caru Tawur Gentuh, Caru Tawur Agung, Tawur Eka Dasa Rudra

Mithologi yang mendasari pelaksanaan caru di Bali adalah kisah Mahabharata pada Sauptika Parwa, yakni saat Dhuryodana yang dalam keadaan sekarat masih penuh dendam dan amarah namun kematiannya belum kunjung datang. Saat itu Aswatama ingin membalaskan dendam sahabatnya itu untuk membunuh Pandawa. Dini hari ia melancarkan aksi memalukan sepanjang sejarah yakni membunuh Panca Kumara  yang masih tertidur lelap pasca perang Bharata Yudha. Panca Kumara ditebas dengan pedang Aswatama, dan pedang yang berlumuran darah para pangeran Pandawa itu dibawanya kepada Dhuryodana. Dioleskannya pedang itu disekujur tubuh Dhuryodana dan akhirnya ia bisa memperoleh kematiannya dengan tenang. Hal ini menunjukkan kekuatan negatif yang disimbolkan oleh Dhuryodana dapat menjadi tenang oleh penggunaan darah. Itulah sebabnya pada banten caru menggunakan daging dan darah lima ekor ayam sebagai simbol pengorbanan suci Panca Kumara untuk mendamaikan, menyucikan, menyomya kekuatan negatif alam semesta ini.
1.2    Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah hakikat caru dalam agama hindu?
2.    Bagaimanakah pembagian jenis-jenis caru dalam agama hindu?
3.    Bagaimanakah makna filosofi dari sarana caru?
 


BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Caru
Caru, dalam bahasa Jawa-Kuno (Kawi) artinya : korban (binatang), sedangkan ‘Car‘ dalam bahasa Sanskrit artinya ‘keseimbangan/keharmonisan’. Jika dirangkaikan, maka dapat diartikan : Caru adalah korban (binatang) untuk memohon keseimbangan dan keharmonisan. ‘Keseimbangan/ keharmonisan’ yang dimaksud adalah terwujudnya ‘Tri Hita Karana’ yakni keseimbangan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), sesama manusia (pawongan), dan dengan alam semesta (palemahan). Bila salah satu atau lebih unsur-unsur keseimbangan dan keharmonisan itu terganggu kegiatan/kejadian yang tidak baik seperti, pelanggaran dharma/dosa, atau merusak parahyangan (gamia-gamana, salah timpal, mitra ngalang), perkelahian, huru-hara yang merusak pawongan, atau bencana alam, kebakaran yang merusak palemahan, patut diadakan pecaruan. Latar belakang dalam pecaruan dikorbankan binatang karena pada mulanya, justru manusia yang dikorbankan. Jadi kemudian berkembang bahwa manusia digantikan binatang peliharaan. Caru (Mecaru; Pecaruan; Tawur) adalah suatu upacara yadnya yang bertujuan untuk keharmonisan bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit (mahluk Hidup) agar menjadi baik, indah, lestari. Upacara pecaruan ada yang dilakukan sehari-hari disebut Nitya Karma, sedangkan upacara pecaruan disaat tertentu (biasanya lebih besar) disebut Naimitika Karma. Pecaruan merupakan suatu cara agar terciptanya keseimbangan antara Alam dan mahluk Hidup karena jika keadaan alam tidak seimbang maka akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas mahluk yang hidup di dalam alam tersebut serta caru dapat menjadi lambang dari rasa bersyukur umat kepada alam semesta yang sudah memberikan tempat hidup yang layak.


2.2    Jenis – jenis Caru
2.2.1   Jenis-jenis Caru menurut alasan pelaksanaan
Jenis - jenis Caru dan Tawur sesuai Lontar Dewa Tattwa sebagai berikut :
a. Caru yang diadakan bila ada kejadian tertentu misalnya: bencana, bencana alam, hama penyakit, gerhana matahari, huru-hara, perang, dll.
b. Caru yang diadakan: sehari-hari, hari tertentu, sasih (bulan) tertentu, dan warsa (tahun) tertentu.
c. Caru yang diadakan disuatu tempat: pekarangan, rumah, pura, sanggah, Banjar, Desa, seluruh pulau (Bali), seluruh dunia, danau, laut, hutan, gunung, dll.
Baca juga :
nama nama caru
urip caru bebek
lontar caru
urip caru ayam klawu

2.2.2   Jenis-jenis caru menurut tingkatannya
a. Dalam Lontar Dewa Tattwa dibedakan pula antara Caru dan Tawur
Upacara yang dikelompokkan dalam katagori Caru :
• Eka Sata,
• Segehan Panca / Manca Warna,
• Panca Sata,
• Panca Sanak,
• Panca nak-madurga,
• Ngeresigana.
Upacara yang dikelompokkan dalam katagori Tawur :
• Manca Kelud,
• Balik Sumpah,
• Tawur Gentuh,
• Panca wali krama,
• Eka Bhuwana,
• Tri Bhuwana,
• Eka Dasa Rudra.
b. Jenis Caru menurut lontar Carcaning Caru
• Caru ayam berumbun ( dengan satu ekor ayam ),
• Caru panca sata (caru yang menggunakan lima ekor ayam yang di sesuaikan dengan arah atau kiblat mata angin ),
• Caru panca kelud adalah caru yang menggunakan lima ekor ayam di tambah dengan
seekor itik atau yang lain sesuai dengan kebutuhan upacara yang di lakukan, dan
• Caru Rsi Gana.
c. Jenis-jenis caru sesuai lontar Bhama Kertih
sebagai berikut :
• Kramaning Pasimpenan Dasar Wangunan
• Caru Umah Cacad
• Caru Mawug Umah dan Agingsir Ngarangin
• Caru Pangrapuh Cari
• Caru Pangasih Buta
• Caru Penganggihan
• Caru Karang Panes Kapasipati
• Caru Penganggihan Karang
• Caru Pamangguhan Pemali
• Caru Pamangguhan Alit
• Caru Karang Paumahan Gering Tetampur,
• Caru Karang Gering Tumpur Misi
• Caru Karang Kageringan
• Caru Karubuhan Taru Agung
• Caru Angkus
• Caru Rsi Ghana
• Caru Panulak Merana, Tutumpar
• Caru Panca Sanak Medunga
• Caru Pratingkahing Caruning Bhuta
• Caru Bhuta Bregala
• Caru Bhuta Yajña
• Caru Panca Sanak Agung
• Caru Panca Rupa Panca Kelud
• Caru Panca Kelud = Panca Rupa
• Caru Walik Sumpah
• Caru Panca Wali Krama
• Caru Tawur Gentuh
• Caru Tatumpur, Sasab Mrana ring Pesisi
• Tawur Eka Dasa Rudra
d. Jenis caru dilihat dari tingkat kebutuhannya
• Nista yaitu caru untuk keperluan kecil, dalam lingkup keluarga tanpa ada peristiwa yang sifatnya khusus (kematian dalam keluarga, melanggar adat)
• Madya yaitu caru yang selain dilakukan dalam lingkungan kekerabatan/banjar (biasanya dalam wujud tawur kesanga, dilakukan dalam keluarga dalam kondisi khusus, dan pembangunan merajan.
• Utama yaitu caru yang dilakukan secara menyeluruh oleh segenap umat Hindu (bangsa) Indonesia.


2.3    Penjelasan Jenis-jenis Caru
2.3.1. Caru panca sata
Secara etimologi Caru Panca Sata terdiri kata Caru, Panca, dan Sata. Caru dalam kitab “Swara Samhita” artinya harmonis atau cantik. Panca berarti lima dan Sataberarti ayam. Jadi Caru Panca Sata adalah suatu bentuk persembahan yang terbuat dari lima jenis ayam, disembelih dan diolah menjadi simbol-simbol berupa jenis-jenis makanan khas Bali untuk menjamu Bhuta Kala supaya harmonis (Wiana, 2007). Secara umum Caru Panca Sata terbuat dari bahan utama berupa lima jenis/warna ayam yang disembelih (putih, biying, putih syungan, hitam dan brumbun), bayang-bayang/layanglayang merupakan bagian dari kulit, bulu, kepala, kaki dan sayap tetap utuh melekat pada kulit. Darah dipisahkan berdasarkan jenis ayam, dipakai untuk melengkapi tetandingan (mentah dalam takir daun pisang) dan sebagai campuran urab barak. Masing-masing daging ayam diolah menjadi sate lembat (daging tumbukan dicampur dengan bumbu Bali dan kelapa parut), ususnya diolah menjadi sate asem dan serapah (usus atau daging yang direbus ditusuk dengan bambu kecil yang diraut (katikan), 3 irisan tiap katik. Begitu pula disertakan urab barak, urab putih, sayur, garam, balung/ tulang.
Baca juga :
gambar caru ayam brumbun
sebutkan contoh contoh caru
caru dan ricis
mengapa ayam dipakai dasar upacara caru coba jelaskan

2.3.2. Caru panca sanak
Tata cara melaksanakan upacara caru panca sanak agung, di timur mempergunakan angsa dagingnya diolah menurut urip yaitu dijadikan 50 tanding, di Selatan banteng, dagingnya dijadikan 90 tanding, di Barat anjing bang bungkem, dagingnya diolah menjadi 70 tanding, di utara kambing dagingnya diolah menjadi 40 tanding, di Tengah itik blang kalung, dagingnya diolah menjadi 80 tanding. Upacara caru yang kecil ataupun besar, demikian pula halnya dengan caru pancawali krama, yaitu dengan mempergunakan ayam berbulu lima macam, kulitnya dipergunakan layang-layang, dagingnya diolah menjadi urab merah dan putih, mengikuti arah jumlahnya. Demikian pula upacara yang ditujukan keatas, sesuai pula dengan urip arah, yaitu; di Timur itik putih yang jumlahnya sesuai dengan urip, dagingnya diolah menjadi 55 bayuh dalam satu karang, calon agung sesuai dengan urip arah. Di selatan anjing bang bungkem, sesuai dengan urip, dagingnya diolah menjadi 99 bayuh. Di Barat angsa sesuai dengan urip, dagingnya diolah menjadi 77 bayuh. Di Utara babi jantan sesuai dengan urip, dagingnya diolah menjadi 44 bayuh. Di tengah itik belangkalung dagingnya diolah menjadi 88 bayuh. Masing-masing disertai sate lambat asem, calon pebangkit di tengah sebuah yang lengkap dengan urutannya. Ditambah lagi dengan angsa yang diletakkan di arah Barat, olahan dagingnya sesuai dengan olahan angsa dalam upacara pancawali karama di tingkat madya. Dan pula dalam caru panca sanak agung/alit, patutlah disertai dengan sesayut durmanggala, prayascita luwih, sesayut panca kelud, pamiyak kala dan pamangguh pamali agung/alit. Tingkatan dan tata pelaksanaan caru ini sama dengan caru panca sanak agung.

2.3.3. Caru panca rupa dan panca kelud
Upakara Caru panca rupa dan panca kelud adalah Itik berbulu elang, di Tenggara letaknya, kulitnya dipergunakan sebagai layang-layang, dagingnya diolah menjadi 88 dalam satu karang, masing-masing disertai dengan suci dandanan. Anjing bang bungkem, di Tenggara tempatnya, kulitnya dipakai layang-layang, dagingnya diolah menjadi 33 dalam 1 karangan. Kambing di Barat daya, kulitnya dipergunakan layang-layang, dagingnya diolah menjadi 21 dalam 1 karangan. angsa di timur laut tempatnya, kulitnya dipakai layang-layang diolah menjadi 21 dalam 1 karangan. Itik blang kalung di tengah letaknya, kulitnya dipakai layang-layang, dagingnya diolah menjadi 88 dalam 1 karangan. Ayam putih letaknya di Timur, dagingnya diolah menjadi 5, ayam merah letaknya di selatan, dagingnya diolah menjadi 9, ayam putih siyungan/putih kekuning-kuningan letaknya di Barat, dagingnya diolah menjadi 7, ayam hitam di utara, dagingnya diolah menjadi 4, ayam brumbun/lima warna letaknya di tengah dagingnya diolah menjadi 8. Masing-masing dari bagian itu disertai dengan sate asem dan calon agung sesuai dengan urip warna.

2.3.4. Caru malik sumpah
Caru malik sumpah, yang tingkatannya adalah utama, sarananya adalah sebagai berikut; di Timur angsa sesuai dengan urip, dagingnya diolah menjadi 55. Di Selatan, banteng sesuai dengan urip, dagingnya diolah menjadi 99. Di Barat daya anjing bang bungkem, sesuai dengan urip, dagingnya diolah menjadi 33. Di Barat kambing sesuai dengan urip, dagingnya diolah menjadi 77. Utara babi jantan sesuai dengan urip, dagingnya diolah menjadi 44. Di tengah kerbau sesuai dengan urip, dagingnya diolah menjadi 88. Bebangkitnya satu soroh disertai perlengkapannya, sorohan, kawasan, karangan gelar sanga dan cawu pangrekan. Upacara malik sumpah di sawah, di desa, dan di tanah perumahan, yaitu ; babi 9 ekor dikali 5, itik 7 ekor dikali 5, ayam 5 ekor dikali 5, sudang taluh 3 buah dikali 5, garam areng 1 dikali 5, letakanlah semua itu pada sangkwi yang berjumlah 5 buah. Jenis kelapa muda yang diperlukan ; kelapa sudamala 9 butir, kelapa nyamblung 11 butir, kelapa gading 7 butir, kelapa be julit 5 butir kelapa tabah 3 butir.

2.3.5. Caru panca wali krama
Tata pelaksanaan upacara Caru panca wali krama, hewan yang dipergunakan adalah ; di Timur sapi, di Selatan menjangan, di Barat kidang, di Utara Garuda, di Tengah padma. Tata pelaksanaan caru tawurgentuh, membuat sanggah rong/berulang 3, suci 4 soroh, catur Widya Ghana, panca saraswati, -kanan –kiri citragotra, siwa bahu, pucuk bahu, papada, dewa-dewi, tegen-tegenan, itik-ayam, sesantun gede, saji 4 soroh, rantasan 2 unit, pras 2 buah, ayam 2 ekor, itik 16 ekor, sesantun sebagaimana mestinya, paling banyak 16000, menengah 8000. Dipanggungan dihaturkan bebangkit asoroh dengan perlengkapannya. Caru yang dibawah, di Timur mempergunakan banteng/sapi jantan, dagingnya diolah sesuai dengan urip menjadi 55. Di Selatan, anjing blang bungkem dagingnya diolah menjadi 99. Di Barat, kambing dagingnya diolah menjadi 77. Di utara babi jantan diolah dagingnya menjadi 44. Di bawah angsa dagingnya diolah menjadi 55. Kerbau dagingnya diolah 19 menjadi 88 di tengah letaknya. Angsa dagingnya diolah menjadi satu, letaknya diatas.

2.3.6. Caru Tawur Agung
Tata pelaksanaan caru tawur agung, sarananya adalah sebagai berikut : untuk caru di bagian bawah yaitu ; di Timur sapi yang dagingnya diolah menjadi 55, di Selatan manjangan dagingnya diolah menjadi 99, di Barat kidang/kijang dagingnya diolah menjadi 77. Bila tidak ada kaki kidang boleh mempergunakan gambarnya saja, tetapi binatangnya diganti dengan itik putih yang dagingnya diolah menjadi 77. Di Utara babi jantan dagingnya diolah menjadi 44. Semua bagian itu disertai dengan bebangkit dan pada bagian bawah tempatnya mecaru memakai angsa yang dagingnya diolah menjadi 55 disertai bebangkit, sedangkan bagian atas angsa yang dagingnya diolah menjadi satu, disertai bebangkit. Di Tengah kerbau yang dagingnya diolah menjadi 88 disertai bebangkit. Di Tenggara musang, dagingnya diolah menjadi 88, tanpa bebangkit, di Barat daya anjing blang bungkem dagingnya diolah menjadi 33 tanpa bebangkit. Di Barat laut kura-kura, dagingnya diolah menjadi 22 tanpa bebangkit. Di Timur laut kambing yang dagingnya diolah menjadi 66 tanpa bebangkit. Dan ayam manca warna dagingnya diolah sesuai dengan arah, disertai dengan, kawisa, karangan, gelar sanga dan bebakaran masing-masing sebuah.

2.3.7. Tawur Eka Dasa Rudra
Tata cara Tawur Ekadasa Rudra pelaksanaannya, sesuai dengan stana / tempatnya masing-masing, misalnya adalah caru yang menghadapi ke timur, Tenggara, Barat daya, Barat, Barat Laut, Timur Laut, tengah, bawah, dan atas. Demikianlah banyaknya, lengkap dengan penggunaannya masing-amsing, diatapi dengan memakai lamak, penjor dan pagar sekelilingnya supaya aman. Upacara caru ditanah dengan angsa hitam yang dagingnya diolah, ditempatkan pada sangkwi mikuh, olahannya itu sesuai dengan urip, sesate serba 50 biji, sebagian mateng, dan sebagian mentah, ditempatkan pada 5 sangkwi, seperti sate calon serba lima, ditempatkan pada ancak, ditengah diisi cau dandanan 5 buah, berisi nasi putih, ikannya hurab merah dan putih. Upacara caru di air, ditempatkan pada klakat 2 buah, ikannya sudang telur sebuah, ikannya hurab merah putih sebuah, takeptakepannya 5 buah, ikannya hurab merah putih. Jenis binatang untuk caru di bawah sanggar tawang, angsa di timur, kambing di tenggara, sapi jantan di selatan, anjing bang bungkem di barat daya, kerbau di barat, manjangan di barat laut, dan kidang di tengah. Semuanya itu disertai nasi yang ditempatkan pada klatkat. Di bagian tengah mempergunakan tepung lima warna lengkap dengan senjatanya. Ditambah pula dengan caru yang mempergunakan binatang buas, yang dagingnya diolah sesuai dengan urip, kulitnya masih utuh dengan kepalanya, adapun jenis binatang itu adalah; buaya, harimau, biawak, kucing hutan, rase, musang, landak, trenggiling, ular, tikus, deleg, bejulit, lele, hempas, elang, gagak, monyet hitam, monyet, katak besar, dan jenis-jenis ular. Semua binatang buas dapat dipergunakan. Upacara caru di tanah, adalah babi besar seekor, sebagai penerangan yang lengkap, darah sepiring, tulang gagending, semuanya mentah, pencok kacang, telur bekasem enam butir, cangingnya diolah menjadi sate dan calon, hurab merah putih, hendaklah mempergunakan daging babi.

2.3.8. Caru pengasuh bhuta
Upakara caru pengasuh buta : canang, tumpeng putih-kuning yang besar, dihiasi dengan bunga, buahnya berwarna putihkuning, canang genten, ikannya sate sudamala dari ayam setengah baya, dipanggang, dan itik putih diguling, ditempatkan pada dulang yang baru, yang merajah/bergambar matahari dan bulan. Setelah selesai dihaturkan kemudian ditanam di tengah halaman rumah.

2.3.9. Caru penudaan
Upacara pecaruan di pekarangan jika tanah pekarangan tidak baik seperti ditimpa penyakit tiada berkeputusan, dimasuki oleh bhuta-bhuti, selalu gelisah, sering bertengkar, tiada tahu akan kewajibannya sebagai manusia. Caru di bawah adalah sajen itik berbulu elang/Coklat kemerah-merahan diolah dan diwarnai merah putih, disate sebanyak 35 bagian/tanding, disesuaikan dengan urip arah mata angin yang disatukan dalam caru tersebut.

2.3.10. Caru hangkus
Caru hangkus merupakan upacara membuat tenang dan damainya tanah pekarangan, sarananya adalah ; bubur pirate, nasi angkeb, sorohan seperangkat, suci sepasang, tumpeng 9 buah, berwarna 9 macam yang ditempatkan pada tamas, buahnya seperti isi sodahan, seekor anjing bang bungkem, dagingnya diolah lengkap, dan kulitnya ditempatkan pada sangkwi yang berwujud anjing, kemudian ditutup pula dengan sangkwi yang sama pula. Dilengkapi dengan pohon tiyih/sejenis suwek yang masih lekat dengan umbinya sebanyak 4 pohon, daksina sebuah, uang 770, katipat sedahan.

2.3.11. Caru Rsi Ghana
Caru ini berfungsi sebagai penyucian tanah pekarangan yang angker dan panas. Bila ada orang mati di tanah pekarangan itu, karena salah pati, diamuk orang, disambar petir, yang menyebabkan orang yang punya rumah mendapatkan bahaya dalam hidupnya. Carunya di halaman rumah ayam berumbum/berbulu lima warna, kulitnya digantung dan dialasi kelabang berekor/sejenis anyaman dari daun kelapa, dagingnya diolah menurut urip dari lima warna, yang berwarna putih di Timur, urabnya berwarna
merah putih, sate lambat asem 5 biji, dijadikan 5 bayuh. Di Selatan ayam biying berbulu kemerah-merahan, urabnya merah putih, sate lambat asem 9 biji, calon 9 biji, dijadikan 9 bayuh. Di Barat ayam putih siyungan urabnya putih merah, sesate lambat asem 7 biji, calon 7 biji, menjadi 7 bayuh, di Utara ayam hitam, urabnya merah putih, sate lambat asem 4 biji, calon 4 biji, menjadi 4 bayuh. Yang di tengah ayam berumbun,
urabnya merah putih, sate lambat asem 8 biji, calon 8 biji menjadi 8 bayuh.

2.3.12. Upacara penolak merana /penyakit tumbuhan dan manusia
Upakara caru di halaman dengan memakai ayam lima warna, kulitnya untuk layang-layang ditempatkan pada sangkwi berekor, dagingnya diolah ngider buana; untuk ayam putih dagingnya diolah menjadi lima bayuh, masing-masing berisi urab merah putih, sesate lambat asem 5 biji, calon 5 biji, letaknya di arah Timur. Untuk ayam siyungan dagingnya diolah menjadi sembilan bayuh, masing-masing berisi urab merah putih, sate lambat asem 9 biji, calon 9 biji, diletakkan diarah Selatan. Untuk ayam putih siyungan/putih kekuningkuningan dagingnya diolah menjadi 7 bayuh, masing-masing
berisi urab merah putih, sesate lambat asem 7 biji, calon 7 biji diletakkan di arah Barat. Untuk ayam hitam dagingnya diolah menjadi 4 bayuh, masing-masing berisi urab merah putih, sesate lambat asem 4 biji, calon 4 biji dan diletakkan diarah utara. Ayam berumbun dagingnya diolah menjadi 8 bayuh masing-masing berisi 8 biji sesate lambat asem, calon 8 biji tempatkan diarah tengah. Semua dari upacara itu diletakkan atau dialas dengan sangkwi. Bahan carunya anjing bang bungkem yang belum berumur dewasa, kulitnya digantung dipakai layang-layang, dagingnya diolah ditempatkan pada sangkwi yang berekor, olahannya adalah urab merah putih, sesate lambat asem 33 biji, dijadikan 3 karangan/kelompok, calonnya sesuai dengan urip arah mata angin, disertai kekapuhan takep-takepan. Nasi punjungnya putih, merah, kuning, hitam dan berumbun, dilengkapi dengan pras pengambyan tulung sesayut, tumpeng sesuai dengan arah mata angin.

2.4  Filosofi Sarana Caru
2.4.1   Tetimpug
Tetimpug ada beberapa ada tiga atau lima buah. Sesuai dengan tingkatan. Upacara caru yang menggunakan tiga buah tetimpug digunakan dalam upacara caru yang biasa dan melambangkan Tri Kona, yaitu utpeti, stiti, dan pralina. Jika yang menggunakan lima buah tetimpug upacara caru tersebut sudah berada dalam tingkatan yang lebih besar, seperti karya agung. Hal tersebut melambangkan  Panca Maha Bhuta, yaitu pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa. Tetimpug merupakan sarana pengundang tenaga dan waktu agar harmonis. Jika tetimpug tidak bersuara maka kala itu tidak datang, begitu juga sebaliknya jika bersuara kala itu datang dan merasa terpanggil.

2.4.2   Kelabang Sengkui
Kelabang Sengkui, Kelabang Sengkui ini hampir mirip dengan Kelabang Dangap-dangap Biasanya Kelabang Sengkui ini digunakan dalam ritual upacara bhuta yadnya (caru), di mana jumlah ulatan Sengkui ini mengikuti jumlah urip pacaruan. Makna Sengkui ini adalah nyupat dan nyomia Bhuta kala. Di mana  Sengkui ini digunakan sebagai alas dari segala jenis hidangan atau ulam pacaruan

2.4.3   Sampat
Sampat dalam pacaruan sering digunakan saat berlangsungnya prosesi mapurwa daksina mengelilingi banten caru bersamaan dengan tulud dan kentongan. Adapun makna filosofi dari sampat yakni sebagai sarana pembersihan alam skala maupun niskala dari keberlangsungan caru tersebut. Diharapkan alam skala maupun niskala kembali seimbang (nyomia/menetralisir hal-hal negatif).

2.4.4   Tulud
Tulud merupakan bagian yang digunakan saat mapurwa daksina bersamaan dengan sampat serta pentongan. Tulud dalam pecaruan memiliki fungsi untuk meratakan banten-banten caru yang telah usai dihaturkan oleh sulinggih. Tulud memiliki makna sebagai sarana meratakan tanah atau ibu pertiwi serta manyomia agar keseimbangan skala maupun niskala tetap stabil.

2.4.5   Kentongan/Kulkul
Kulkul memiliki fungsi sebagai sarana komunikasi atau sebagai alat untuk memberi peringatan, pemberitahu, maupun sebagai pertanda. Dalam pelaksanaan caru kentongan digunakan saat mapurwa daksina bersamaan dengan tulud dan sampat. Kentongan memiliki makna filosofi sebagai alat pemberitahu kepada Bhuta Kala bahwa persembahan pacaruan telah dilaksanakan dan telah dihaturkan.

2.4.6   Lis
Lis dalam pacaruan merupakan simbolisasi dari bapa akasa dan ibu pertiwi. Lis terbuat dari daun kelapa yang dibentuk sedemikian rupa. Lis memiliki makna filosofi sebagai penetralisir mala atau hal-hal negatif. Lis juga merupakan simbolisasi dari keseimbangan alam semesta.
 
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Yadnya adalah pusat terciptanya alam semesta atau Bhuwana Agung sebagai diuraikan dalam kitab Yajur Weda. Caru, dalam bahasa Jawa-Kuno (Kawi) artinya : korban (binatang), sedangkan ‘Car‘ dalam bahasa Sanskrit artinya ‘keseimbangan/keharmonisan’.
Adapun jenis-jenis sebagai berikut, Caru Eka Sata, Caru Panca Sata, Caru Rsi Ghana, Caru Penolak Mrana/ Gering Tempur, Caru Panca Sanak Madurgha, Caru Bhuta Yadnya Medana-dana/ Gempong Asu, Caru Panca Sanak Agung, Caru Panca Wali Krama, Caru Panca Kelud, Caru Walik Sumpah, Caru Tawur Gentuh, Caru Tawur Agung, Tawur Eka Dasa Rudra
Adapun filosofi sarana dalam pacaruan yakni tetimpug yang memiliki makna sebagai sarana pengundang tenaga dan waktu agar harmonis. Sengkui sebagai alas ulam pacaruan memiliki makna untuk nyupat dan nyomia Bhuta Kala. Sampat memiliki makna filosofi sebagai sarana pembersihan alam skala maupun niskala. Tulud memiliki makna sebagai sarana meratakan tanah atau ibu pertiwi serta manyomia. Kentongan memiliki makna filosofi sebagai alat pemberitahu kepada Bhuta Kala bahwa persembahan pacaruan telah dilaksanakan dan telah dihaturkan. Lis memiliki makna filosofi sebagai penetralisir mala atau hal-hal negatif.
3.2 Saran
Saran kami sebagai penulis, semoga makalah yang kami berijudul Caru Dalam Agama Hindu ini bisa menjadi salah satu literasi yang membantu untuk penulis yang akan membahas kaitannya dengan filosofi ini. Kami memohon maaf bila hasil karya tulis ini masih banyak hal-hal yang kurang dalam pemaparannya.
Saran kami kepada pembaca ke penulis, teruntuk para pembaca agar memberikan suatu kritikan terhadap penulis dan bahasan yang ditulis, supaya menjadi acuan untuk dapat membuat suatu karya tulis yang lebih baik lagi kedepannya. Trimakasih
 
DAFTAR PUSTAKA


Mas Putra, I Gusti Agung. 2015. Panca Yadnya. Biro Kesra Setda Provinsi Bali :
Denpasar
Widnyana, I Ketut. Caru Kearifan Lokal Bali "Tinjauan Manfaat dalam Kesuburan
dan Biodiversitas Tanah". Universitas Mahasaraswati Press : Denpasar
http://bebantenan.blogspot.com/2011/05/caru.html
http://kpbtabanan.blogspot.com/2018/07/mengenal-dan-memahami-tetandingan_8.html
http://sejarahharirayahindu.blogspot.com/2012/02/caru-tawur.html

Reinkarnasi

OLEH :
NAMA :I KADEK SUARDIPA
NPM : 19.1.181
PRODI : PENDIDIKAN AGAMA HINDU

STKIP AGAMA HINDU AMLAPURA


PENDAHULUAN
Hakikat kehidupan merupakan suatu proses dan pemikiran manusia dalam mencapai kesempurnaan. Agama merupakan suatu keyakinan yang diperlukan manusia untuk memperoleh kedamaian dan kesenangan dalam mencapai kesempurnaan tersebut.Masyarakat Hindu Bali, dalam hidup beragama berpedoman pada ajaran Weda yang merupakan inti ajaran agama Hindu adalah Panca Sraddha atau lima kepercayaan pokok:
Percaya adanya ”Widhi Tatwa” berasal dari bahasa Sansekerta dari kata ”Widhi” dan ”Tatwa”. Kata ”Widhi” menakdirkan dan kata ”Tatwa” berarti filsafat. Jadi kata ”Widhi Tatwa” berarti filsafat yang menakdirkan atau filsafat tentang Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa). Tujuan agama Hindu, adalah mencapai kesejahteraan dunia dan kebahagiaan rohani. Untuk mencapai tujuan itu dapat ditempuh melalui empat jalan yang disebut Catur Marga. Diantara keempat jalan itu, Bhakti margaatau Bhakti Yogayaitu sujud kepada Tuhan, adalah jalan yang termudah. Dengan jalan Bhakti tidak memerlukan kebijaksanaan yang tinggi atau jnana. Oleh sebab itu sebagian besar umat manusia dapat melaksanakannya. Untuk menimbulkan rasa bhakti kepada Tuhan yang berwujud sukma maka perlu yakin dahulu dengan ada-Nya. Keyakinan dengan adanya Tuhan disebut ”Widhi Sraddha”.
Percaya adanya Atman Prabhawanyasebagai ”Brahma” (Dewa Pencipta). Tuhan Yang Maha Esa bersifat maha ada, maha kekal, tanpa awal dan tanpa akhir disebut Wiyapaka Ninvikara. Ini menunjukkan, bahwa Tuhan berada di mana-mana dan meresapi semua mahluk, termasuk manusia. Alam semesta ciptaan-Nya disebut dengan nama Bhuwana Agung (macrocosmos) dan jasmani manusia disebut Bhuwana Alit (microcosmos). Jasmani (microkosmos) dapat bergerak/hidup disebabkan oleh Tuhan. Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, yang berada dalam diri manusia disebut “Atma” atau Jiwatma.
Percaya adanya Karma Phalaberarti ”hasil perbuatan”. Menurut hukum perbuatan, maka karma phalaitu sejalan dengan hukum ”sebab akibat”. Bila kita memiliki tentang keyakinan hukum karma phalaitu, sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia, sebab di dalamnya terdapat aksioma, yaitu hukum yang tak terbatalkan.
Percaya adanya Punarbhawa. Punarbhawajuga disebut dengan reinkarnasi, penitisan, dan samsara yakni yang turun kembali, berulang kali menjelma di Cradha Mayapada.
Percaya adanya Moksa yaitu bersatunya atma dengan Brahmanakan mencapai keadaan Sat Cit Anandayaitu kebahagiaan yang abadi, hal itulah yang dinamakan dengan Moksa. Moksa adalah salah satu bagian dari Panca Cradhayang merupakanpokok keimanan dalam agama Hindu. Dalam agama Hindu istilah moksa artinya dengan Mukti atau Kelepasan. Moksa merupakan tujuan tertinggi dalam hidup setiap orang, yang pencapaiannya didasarkan pada cinta kasih dan ketidakterikatan. Hal yang mesti ditempuh, adalah melalui usaha dan niat yang sungguh-sungguh yang didasarkan kepada kitab suci.
Kepercayaan terhadap reinkarnasi disebut juga Punarbawa, yaitu kelahiran kembali kedunia berulang kali berdasarkan karma, dan dalam hubungan dengan tubuh manusia digambarkan mengalami rantai lingkaran lahir, hidup, mati sebagai suatu proses. Reinkarnasi merupakan suatu peristiwa kerohanian yang dialami oleh setiap manusia yang hidup di dunia ini sebelum mencapai moksa, kesempurnaan.

PEMBAHASAN
Hakekat Reinkarnasi
Prinsip-prinsip reinkarnasi untuk memandang kehidupan dengan perspektif yang lebih luas yaitu dari sudut keabadian bahwa sang roh bertanggung jawab atas karmanya sendiri. Hukum reinkarnasi berlaku kepada setiap mahluk hidup berupa nasib yang harus diterima akibat perbuatan sebelumnya.
Dinyatakan dalam kesusastraan Veda sifat Tuhan yang pemurah, pengampun. Tuhan dipuja berulang-ulang dan Tuhan bersemayam didalam hati setiap orang dan memberikan kesempatan kepada semua mahluk hidup mencapai cita-citanya. Karunia Tuhan tak terhingga dan tak habis-habisnya, karunia Tuhan tanpa pamrih. Tuhan mencintai setiap mahluk hidup, sehingga berulang kali Tuhan memberi kesempatan untuk melampaui lingkaran kelahiran dan kematian. Menurut ajaran reinkarnasi, Tuhan menerima dan memelihara bahkan sejumlah kecil perbuatan yang baik walau dilakukan oleh orang-orang yang jahat. Karena itu, jika mahluk hidup mencapai kemajuan spiritual secuil saja dalam kehidupan, diperkenankan untuk maju dari tingkat tersebut.
Demikian sang roh dapat mengembangkan sifat-sifat rohani melalui banyak penjelmaan, sampai akhirnya sang roh tidak lahir kembali dengan badan material, sampai sang roh kembali bertempat tinggalnya yang asli didunia rohani.
Bhagawad Gita, kitab suci Hindu, sumber abadi tentang reinkarnasi, yang disabdakan oleh Sri Krisna, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, kepada Arjuna, kawan dan muridnya di KuruSetra, ditengah medan perang yang merupakan tempat sempurna untuk mendiskusikan reinkarnasi sebab dalam perang orang akan berhadapan langsung dengan pertanyaan-pertanyaan penting menyangkut kehidupan, kematian dan kelanjutan sesudah meninggal dunia.
Krisna bersabda tentang kekekalan sang roh dan tak seorangpun dapat membinasakan sang roh yang bersifat kekal itu. Untuk mengerti tentang reinkarnasi harus tahu bahwa ada perbedaan antara sang roh dan badan. Sifat dasar sang roh sebagai entitas hidup menempati wadahnya dan menerangi seluruh bagian dengan kesadaran.
Buku-buku tersebut sebagai sumber reinkarnasi yang berupa suatu dogma atau ajaran yang menjelaskan tentang reinkarnasi secara normatif. Reinkarnasi itu memang ada dan terjadinya reinkarnasi merupakan suatu proses berdasarkan keyakinan rasional.Konsep reinkarnasi menurut Upadesa, tentang ajaran agama Hindu menyebut reinkarnasi, juga ”punarbhawa”.
”Punarbhawa” berasal dari dua kata Sansekerta ’Punar” dan ”bhawa”. Kata ”Punar” berarti kembali dan kata ”bhawa” berarti menjelma ”Punarbhawa” adalah kelahiran kembali (menjelma) secara berulang kali.Disebut juga ”samsara” (mengembara) yaitu pengembaraan jiwa dari tubuh yang satu ke tubuh yang lain, dari bentuk kehidupan yang satu ke bentuk kehidupan yang lain.
”Bhagawad-gita” menjelaskan reinkarnasi berdasarkan kesadaran. Kesadaran adanya sang roh didalam badan. Kesadaran mempunyai sifat kekekalan inti yang menyebabkan hidup sang roh sesudah terleburnya badan.Tidak ada kelahiran maupun kematian bagi sang roh. Sang roh tidak mati apabila badan terbunuh, tetapi sang roh masuk ke dalam badan baru yang lain.
Teori evolusi dari E. B. Tylor menyatakan evolusi merupakan perkembangan dari tingkat rendah ke tingkat tinggi, terdorong oleh suatu kekuatan dari dalam untuk berevolusi.
Dalam hubungan dengan proses reinkarnasi evolusi yang dimaksud adalah evolusi kesadaran. Menurut ”Bhagawad-gita”, evolusi kesadaran merupakan perkembangan kesadaran berdasarkan karma yaitu:
Kesadaran merupakan tanda utama adanya kehidupan, sehingga satu entitas hidup dapat bergerak dan menghasilkan sesuatu.
Kesadaran sebagai sebuah energi sifat istimewa kesadaran kemampuan yang tetap ada.
Kesadaran memang betul-betul ada karena hanya dimiliki oleh diri sendiri.
Kesadaran bagian dari alam atau bagian dari realita.
Evolusi kesadaran dalam hubungan dengan hukum reinkarnasi, mengatur perjalanan kesadaran sang roh dari satu badan fisik ke badan fisik lainnya. Reinkarnasi berdasarkan pada prinsip tentang adanya kesadaran sang roh yang terpisah dari badan fisik atau badan jasmani dan mengatur perpindahan kehidupan dari satu bentuk badaniah ke bentuk badaniah yang lain berdasarkan karma.
Berdasarkan kesadaran, sang roh dapat mengubah karmanya. Sang roh didalam badan manusia berada dititik pertengahan dalam evolusi. Dari tingkat ini sang roh akan memasuki bentuk kehidupan, merosot atau turun, meningkat atau naik sampai bebas dari reinkarnasi.
Proses Reinkarnasi
Reinkarnasi disebut juga ”punarbhawa” (menjelma kembali), samsara (mengembara) yaitu pengembaraan jiwa dari tubuh yang satu ke tubuh yang lain, dari bentuk kehidupan yang satu ke bentuk kehidupan yang lain. Karma, adalah buah atau hasil dari perbuatan manusia sebagai hukum sebab-akibat.
Reinkarnasi dan karma merupakan satu kesatuan dalam proses reinkarnasi. Dalam perputaran ini atman mengalami keberadaannya di dalam tiga tempat, yang disebut Tri Loka, yaitu (1) Bhur loka, atau alam bawah, yaitu bumi; (2) Bhuah loka, atau alam tengah, yaitu udara; dan (3) Swah loka, atau alam atas, yaitu ruang angkasa, tempat yang ada di luar bumi dan udara.
Lamanya roh berada disetiap alam ini tidak sama, tidak dapat ditentukan lamanya, tergantung dari banyaknya baik-buruk karma yang dibawa oleh Atman. Antara karma dan reinkarnasi merupakan suatu jalinan kesatuan, yang mana karma, adalah perbuatan yang meliputi pikiran, perkataan dan perbuatan jasmaniah, sedangkan reinkarnasi, adalah perwujudan dari keseluruhan tersebut.
Setelah manusia mati, atmanya berada di alam sana dan tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya menikmati buah karmanya. Apabila sewaktu hidupnya di dunia karma baiknya lebih banyak, maka setelah mati atmanya akan lebih lama tinggal di sorga untuk menikmati kebahagiaan hingga buah karma yang dibawa habis. Setelah itu karma jeleknya akan menarik atman untuk menjelma kembali ke dunia. Karma sebagai pengalaman hidup manusia pada masa lalu yang membekas pada atma disebut karmawasana, seperti: kesenangan tertentu, pengetahuan tertentu, maka sebelum atma itu menjelma ke dunia, terlebih dahulu mencari dan memilih calon orang tua (suami-istri) yang cocok dengan karma wasananya. Watak dan sifat calon orang tua inilah yang dapat menarik atma akan dilahirkan kembali.
Orang Hindu percaya, bahwa yang menumpuk pada kehidupan sebelumnya pindah ke masa kini dan sangat menentukan wujud kelahiran jiwa kembali. Setiap orang Hindu berusaha menghindarkan diri dari efek karma pada kelahiran kembali berikutnya dengan melakukan perbuatan baik atau dharma. ”Bhagawad Gita” mengajarkan berbuatlah dharma, bahwa itulah satu-satunya cara supaya dapat dilahirkan kembali dengan sedikit karma. Karma yang buruk memastikan, bahwa jiwa manusia akan kembali pada kehidupan yang akan datang dengan tingkat yang lebih rendah, karma yang baik ke tingkat yang lebih tinggi.
Manusia dalam menjalankan kehidupan berbuat atau berkarma sesuai dengan triguna yang terdapat dalam dirinya yang selalu bergerak aktif. Perbuatan yang dilakukan itu, kadang-kadang disadari, kadang-kadang tidak disadari dan perbuatan tersebut ada yang baik, ada yang tidak baik yang semua itu disebut karma yang bersumber pada Tri Kaya Parisudha, yaitu (1) manacikaatau pikiran; (2) wacika atau perkataan dan (3) kayika atau perbuatan.
Perbuatan atau karma yang bersumber pada pikiran, ucapan, perbuatan, akan mendapatkan hasil atau phala, sehingga hukum karma atau hukum alam yang menjelaskan bahwa segala perbuatan akan menimbulkan hasil. Perbuatan baik akan menimbulkan kebaikan dan perbuatan jahat akan menimbulkan penderitaan.
Karmaphala itu ada 3 macam, yaitu sebagai berikut.
Samcita Karmaphala, yaitu karma masa lampau yang baru dapat dinikmati hasilnya dalam kehidupan atau kelahiran sekarang mungkin masih utuh, mungkin pula merupakan sisanya.
Prarabda Karmaphala, yaitu karma yang dilakukan sekarang yang hasilnya dapat diterima sekarang dan biasanya habis dalam kehidupan sekarang juga.
Kriyamana Karmaphala, yaitu karma yang tidak sempat hasilnya dinikmati sekarang, tetapi akan dinikmati hasilnya dalam kelahiran yang akan datang.
Semua bentuk kehidupan yang diperbuat manusia pada masa lalu akan terhimpun dan menjadi dasar hidup dari kelahiran seseorang sekarang maupun kelahiran yang akan datang, sesuai dengan evolusi kesadaran sang roh dapat mengubah karmanya. Sang roh didalam badan manusia berada dititik pertengahan dalam evolusi, bisa merosot atau turun, meningkat atau naik sampai bebas dari reinkarnasi.
Apabila diperhatikan kelahiran manusia didnia ini semakin lama semakin bertambah banyak. Ini bukan berarti bahwa kelahiran itu ditentukan oleh reinkarnasi yang selalu mengalami proses perputaran, melainkan karena kridanya (kasasinya) Brahman yang melahirkan (energi) dan akasa (materi) yang jumlah satuannya tidak terhingga dan dapat berubah-ubah, namun jumlah dalam keseluruhannya itu tetap, dalam arti tidak bertambah maupun berkurang. Hanya bentuk, tempat dan susunannya yang selalu mengalami perubahan.
Atman yang suci adalah atman yang lepas, bebas, tidak terikat oleh karmawasana dan tidak mengalami inkarnasi, sehingga dapat mencapi moksa, yaitu Atman kembali bersatu dengan Brahman. Atman yang mengalami moksa dapat menguasari ruang dan waktu dapat keluar masuk disegala tempat dengan laluasa, dan dapat menjelma di dunia apabila diperlukan. Penjelmaan kembali didunia ini disebut ”awatara”.
Atman yang dapat menjalani ”awatara” telah berubah fungsi sebagai dewa, yaitu wakil Brahman yang dalam tugasnya untuk mengatasi kesulitan atau kesusahan umat manusia yang hidup di muka bumi ini yang tidak dapat diatasi oleh manusia sendiri, maka dewa akan ”awatara”.Makna reinkarnasi, suatu lingkaran kehidupan lahir, hidup, mati secara berulang kali sebagai suatu proses, karena kesadaran sang roh untuk masuk ke bentuk kehidupan baru berdasarkan karma.
Sebelumnya sang roh mengembara di angkasa menikmati karma baik yaitu ”Sorga” dan karma buruk yaitu ”Neraka”. Demikian seterusnya sampai sang roh suci berada pada titik kesempurnaan, kekal abadi yaitu ”Moksa”.
Sang roh sebagai sinar suci Tuhan, percikan Tuhan, diciptakan Tuhan kembali ke sang pencipta, Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan tujuan kehidupan.

Bukti – bukti Reinkarnasi
Terdapat banyak orang, baik yang sekarang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Mereka ingat akan hidupnya yang berkali-kali didunia pada kehidupan yang lalu, seolah-olah seperti mengingat kejadian-kejadian di dalam hidupnya yang sekarang ini. Dalam hal ini yang digunakan adalah ingatan jiwa, yang dapat mengingat masa-masa kehidupan yang lalu. Tuhan maha adil, kelebihan dan kekurangan seseorang adalah karena perjuangan dirinya sendiri yang melekat pada ingatan jiwa dalam reinkarnasi hidup berulang-ulang.
Tentang seseorang yang selalu berbuat jahat, tetapi hidup sekarang selalu beruntung dan sebaliknya seseorang yang selalu berbuat baik, tetapi dalam hidupnya ini ia selalu menderita. Dalam hal ini, mereka yang selalu berbuat jahat tetapi hidupnya beruntung/bahagia karena ia menerima karma baiknya pada masa kehidupan sebelumnya, dan mereka yang selalu berbuat kebaikan tetapi hidupnya menderita/sengsara karena ia menerima karma buruk dari perbuatan tidak baik dari kehidupan pada masa lampau. Inilah reinkarnasi dan hukum karma.
Hukum keturunan, terdapat sifat-sifat khusus yang terdapat pada seseorang dari orang tuanya baik dari pihak ibu maupun bapak atau bentuk kombinasi. Tetapi ada seseorang yang mempunyai kecakapan dan budi pekerti luhur, padahal dari sejarah nenek moyangnya tidak ada bakat-bakat seperti itu, yang bisa bersifat baik atau buruk. Inilah karena reinkarnasi dan hukum karma.
Kemampuan seseorang karena faktor bawaan yang merupakan kemampuan intuisi yaitu ingatan kembali pada suatu kenyataan yang telah diketahuinya pada waktu reinkarnasinya terdahulu.
Manusia sebenarnya tidak mati, yang mati adalah badan fisik sedangkan roh tetap hidup dan akan terua bereinkarnasi tetapi atmanya terus abadi karena merupakan bagian/percikan para Atman/Brahman. Atman-Brahman adalah satu.

Interpretasi Masyarakat Hindu Bali tentang Reinkarnasi
Kehidupan masyarakat Hindu Bali, bersumber pada ajaran kitab suci Veda yaitu ”Panca Sradha”. Masyarakat Hindu Bali percaya dan yakin bahwa reinkarnasi yang diajarkan dalam kitab suci Veda itu benar-bernar ada, selalu terjadi dan di alami oleh hampir semua manusia. Oleh karena itu, dalam pemikiran masyarakat Hindu Bali ajaran tersebut sebagai pedoman yang harus dihormati dan dipatuhi dalam menjalani kehidupan.
Pandangan masyarakat Hindu Bali, pada prinsipnya adalah segala sesuatu yang ada didunia ini berasal dari yang satu, dari keadaan kosong namun berisi, yang mengalirkan dan mengembangkan prana (energi) dan akasa (materi) sehingga terbentuklah alam semesta dengan segala isinya, dengan keadaan dan kejadian yang beraneka macam termasuk bentuk-bentuk kehidupan dan energi kehidupan. Itulah hakikat tertinggi, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Agung, yang dalam istilah keagamaan disebut ”Sang Pencipta” dengan proses ”Ciptaannya”. Pandangan tersebut dapat memperjelas pemikiran masyarakat Hindu Bali dalam mengetahui dan memahami reinkarnasi.
Ajaran reinkarnasi memiliki nilai positif sebagai pedoman yang mengandung suatu tuntunan dalam menjalani kehidupan untuk menyadarkan umat manusia agar selalu berpikir, berkata dan berbuat yang baik sesuai dengan ajaran ”Tri Kaya Parisudha”.
Ajaran reinkarnasi memiliki nilai positif sebagai pedoman untuk menuntun umat manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup karena manusia memiliki keinginan dan kenikmatan dunia (kama), yang untuk pemenuhannya membutuhkan materi (artha) dan manusia selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan itu. Tetapi manusia pada akhirnya akan mati dan setelah itu tidak ingin menderita (reinkarnasi), ingin lepas, bebas dan hidup damai selamanya (moksa). Oleh karena itu manusia dalam menjalani kehidupan harus melakukan kebaikan (dharma), sesuai dengan ajaran ”Catur Purusa” atau ”Catur Purusartha”.
Ajaran reinkarnasi memiliki nilai positif, yang mengandung suatu tuntunan agar manusia mampu untuk memahami keberadaan dirinya dalam menjalani kehidupan bersama unsur-unsur yang membentuk wataknya. Berdasarkan pemahaman tersebut dengan potensi yang dimiliki terjadi keseimbangan, keharmonisan hubungan antara dirinya dengan sesama, dengna lingkungan dan dengan penciptanya sesuai dengan konsep ”Tri Hita Karana”.

KESIMPULAN
Pemikiran masyarakat Hindu Bali tentang reinkarnasi, bersifat dogmatis yang bersumber pada ajaran agama Hindu yaitu ”Panca Sradha”, dan sudah merupakan suatu keyakinan yang harus ditaati dalam menjalani kehidupan.
Reinkarnasi memang ada dan selalu terjadi, merupakan suatu lingkaran lahir, hidup, mati,, secara berulang kali berdasarkan karma, roh tetap hidup dengan terleburnya badan. Sebelumnya sang roh mengembara diangkasa menikmati karma baik yaitu ”Sorga”, karma buruk ”Neraka” dan akhirnya masuk kebentuk badan baru.
Proses reinkarnasi terjadi karena kesadaran sang roh untuk masuk kebentuk kehidupan baru sesuai karma, dan sang roh dalam kehidupan dapat merubah karma, mau turun atau merosot, naik atau meningkat.
Demikian seterusnya sampai sang roh suci berada pada titik kesempurnaan, kekal abadi yaitu ”moksa”.Reinkarnasi memiliki nilai positif sebagai pedoman untuk menuntun umat manusia dalam menjalani kehidupan untuk melakukan kebaikan sampai tingkat kerohanian kesucian atau kesempurnaan yaitu ”Moksa”.

SUMBER – SUMBER
Sri Srimad.A.C. Bhaktiwedanta Swami Prabhupada. 2002. Kembali Lagi, Ilmu Pengetahuan Reinkarnasi. Bali: Hanuman Sakti. 2008. Kehidupan Berasal Dari Kehidupan. Bali: Hanuman Sakti.
Sudharta Tjok Rai. 2005. Upadesa Tentang Ajaran Agama Hindu. Surabaya:Paramita.
http://repository.uin-suska.ac.id/5817/3/BAB%20II.pdf
https://www.qureta.com/post/apakah-reinkarnasi-memang-ada
http://kb.alitmd.com/punarbhawa-atau-reinkarnasi-menurut-hindu/

Bhuta Yadnya

Oleh: Ni Luh Risma

KATA PENGANTAR
Om swastyastu,
            Pertama- tama patutlah kita menghaturkan angayubhagia ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas waranugrahaNya, penyusun mampu menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas Ilmu Kealaman Dasar. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun berkat bantuan dosen pembimbing, doa orang tua, serta dorongan dari teman-teman, sehingga kendala yang penulis hadapi bisa teratasi. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu dan pengetahuan tentang yadnya, khususnya Bhuta Yadnya, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi dan berita.
            Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran dan pengetahuan kepada pembaca, khususnya mahasiswa dan akademisi di Kampus STKIP Agama hindu Amlapura. Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, karena pengalaman yang kami miliki masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penulis berharap kepada dosen pembimbing dan para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini, baik dari bentuk maupun isinya, sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Om santi santi santi om,


PEMBAHASAN
Hakikat Yadnya
            Secara etimologi kata yadnya adalah kata dalam bahasa sanskerta yang berasal dari urat kata “Yaj” yang artinya memuja, mempersembahkan,  berkorban.   Jadi, yadnya adalah suatu bentuk pemujaan atau persembahan yang dilaksanakan secara tulus iklas untuk tujuan yang mulia dan  luhur yang ditujukan ke hadapan Ida sang Hyang Widhi wasa. Bentuk yadnya itu tidak hanya sebatas dalam bentuk upakara dan upacara agama saja, tetapi yang disebut yadnya adalah segala bentuk kegiatan yang dilakukan ikhlas tanpa pamrih. Jadi bentuk yadnya ada bermacam-macam, ada yang berbentuk persembahan dengan menggunakan sarana dan juga ada persembahan dalam bentuk pengendalian diri atau pengendalian indria serta pengorbanan kekayaan atau harta benda.
            Secara umum, tujuan melaksanakan yadnya adalah untuk mengamalkan ajaran Agama. Bahwa yadnya merupakan pengamalan ajaran weda dalam bentuk symbol-simbol. Symbol yang terdapat dalam pelaksanaan yadnya merupakan realisasi dari ajaran agama Hindu (Weda).  Selain itu tujuan yadnya adalah untuk  meningkatkan kualitas diri, yaitu manusia sebagai makhluk yang paling sempurna karena memiliki kemampuan untuk berpikir. Di dalam ajaran agama, ada ajaran pengendalian diri dimana manusia sangat perlu mengendalikan pikirannya agar dapat dengan baik mencapai harapan hidup yang di cita-citakan. Yadnya juga bertujuan untuk penyucian, yaitu untuk menyucikan atau pembersihan yang berhubungan dengan diri sendiri, sesame, alam lingkungan, dan juga kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Berbagai macam upacaranya seperti padudusan, jenis-jenis tawur dan caru,  prayascita, panglukatan dan yang lainnya disamping bermakna sebagai persembahan juga bermakna sebagai pembersihan atau penyucian. (Sudirga:2007)


Jenis / Tingkatan dalam Bhuta Yadnya
1. Tingkatan Upakara Bhuta Yadnya yang paling kecil (kanista) adalah Segehan

Upacara Bhuta Yadnya dalam tingkatan yang kecil disebut dengan “Segehan“, Sega berarti nasi (bahasa  Jawa: sego). Upacara ini di sebut dengan “ Segehan “, dengan lauk pauknya yang sangat sederhana seperti bawang merah, jahe, garam dan lain-lainnya.
Jenis-jenis segehan ini bermacam-macam sesuai dengan bentuk dan warna nasi yang di gunakannya. Adapun jenis- jenisnya adalah Segehan Kepel dan Segehan Cacahan, Segehan Agung, Gelar Sanga, Banten Byakala dan Banten Prayascita. Segehan ini adalah persembahan sehari- hari yang dihaturkan kepada Kala Buchara / Buchari (Bhuta Kala) supaya tidak mengganggu. Penyajiannya diletakkan di bawah / sudut- sudut natar Merajan / Pura atau di halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan.
Fungsi segehan ini sebagai aturan terkecil (dari caru) untuk memohon kehadapan Hyang Widhi agar terbina keharmonisan hidup, seluruh umat manusia terhindar dari segala godaan sekala niskala, terutama terhindar dari gangguan para bhuta-kala (Kala Bhucara-Bhucari).

2. Tingkatan Upakara Bhuta Yadnya Menengah (Madya) adalah caru

            Tingkatan upacara dalam tingkatan madya ini di sebut dengan “ Caru “. Pada tingkatan ini selain mempergunakan lauk pauk seperti pada segehan, maka di gunakan pula daging binatang. Banyak jenis binatang yang di gunakan tergantung tingkat dan jenis caru yang di laksanakan. Adapun jenis-jenis caru tersebut adalah Caru ayam berumbun ( dengan satu ekor ayam ), Caru panca sata ( caru yang menggunakan lima ekor ayam yang di sesuaikan dengan arah atau kiblat mata angin ), Caru panca kelud adalah caru yang menggunakan lima ekor ayam di tambah dengan seekor itik atau yang lain sesuai dengan kebutuhan upacara yang di lakukan, dan Caru Rsi Gana.
3. Tingkatan Upakara Bhuta Yadnya yang paling besar ( uttama ) adalah tawur

Tingkatan yang utama ini di sebut dengan Tawur misalnya Tawur Kesanga dan Nyepi yang jatuhnya setahun sekali, Panca Wali Krama adalah upacara Bhuta Yadnya yang jatuhnya setiap sepuluh tahun sekali, dan Eka Dasa Rudra yaitu upacara Bhuta Yadnya yang jatuhnya setiap seratus tahun sekali.
Tawur dimulai dari tingkatan balik sumpah sampai dengan marebu bumi—sesuai dengan yang tersurat dalam lontar Bhama Kertih digolongkan sebagai upacara besar (utama) yang diselenggarakan pada pura-pura besar. Tawur ini memiliki fungsi sebagai pengharmonis buwana agung (alam semesta) . Adapun tawur ini memiliki kekuatan mulai dari 30 tahun, 100 tahun (untuk eka dasa rudra), dan 1000 tahun untuk marebu bumi. Adapun tawur dilaksanakan pada tingkatan utama, baik sebagai pangenteg linggih maupun upacara-upacara rutin yang sudah ditentukan oleh aturan sastra atau rontal pada berbagai pura besar di Bali. Tawur ini memiliki makna sebagai pamarisuddha jagat pada tingkatan kabupaten/kota, provinsi, maupun negara.
  Upaya nyata dalam mewujudkan keseimbangan alam semesta dengan jalan Bhuta yadnya
            Ada lima macam ritual Hindu yang disebut Panca Yadnya yaitu Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusya Yadnya, dan Bhuta yadnya. Masing-masing ritual itu memiliki tujuan dan fungsinya sendiri-sendiri. Ritual yang ditujukan untuk mengungkapkan rasa syukur ke hadapan Tuhan adalah Dewa yadnya, ritual yang bertujuan memberikan penghormatan kepada leluhur adalah Pitra Yadnya, yang bertujuan memberikan penghormatan kepada orang suci adalah Rsi Yadnya, yang bertujuan untuk menyempurnakan manusia adalah Manusya Yadnya, dan ritual yang bertujuan untuk menciptakan keharmonisan lingkungan alam semesta dari pengaruh vibrasi gelombang energi -energi negatif adalah Bhuta yadnya.
            Bhuta yadnya bertujuan untuk menetralisasi energi-energi negatif. Energi negatif tersebut diyakini berasal dari disharmonisasi antara  berbagai macam makhluk, baik makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan, juga disharmonisasi dengan makhluk-makhluk gaib yang berbadan energi eterik. Makhluk-makhluk yang berbadan energi eterik ini sangat besar pengaruhnya terhadap badan eterik manusia. Karena manusia selain memiliki badan kasar, manusia juga dibungkus oleh badan eterik. Disharmonisasi antara badan eterik manusia dengan badan eterik makhluk lain baik yang tampak maupun yang tak tampak mempunyai pengaruh terhadap kesadaran dan emosi manusia. Itulah sebabnya bhuta yadnya dilaksanakan dengan tujuan untuk mewujudkan keharmonisan alam semesta. Berikut adalah beberapa upaya untuk mewujudkan keseimbangan alam sehingga dapat diharapkan mampu menciptakan keharmonisan seluruh makhluk di alam semesta ini;

Bhuta Yadnya sebagai komunikasi dan harmonisasi tingkat partikel elektron atom dalam alam semesta
            Sesungguhnya seluruh alam semesta ini, baik dalam bentuk padat, cair, dan gas, merupakan satu kesatuan sub atomik atau elektron. Upacara bhuta yadnya lah yang berpengaruh dalam resrtukturisasi dan reposisi struktur electrkn-elektron partikel atom materi yang membangun bumi ini. Sebab  dalam bahasa sanskerta yang dimaksud dengan kata bhuta adalah materi atau unsur. Dengan demikian, alam semesta ini merupakan himpunan tak terhingga dari elektron-elektron unsur  yang terdiri dari delapan unsur  atau yang disebut Asta Prakrti, yaitu tanah, air, api, udara, ether, pikiran, budhi, dan ego. Elektron-elektron Asta Prakrti tersebut seluruhnya bervibrasi atau bergetar dengan irama kosmik atau irama alam yang telah di stem oleh sang penciptanya.
            Frekuensi gelombang asta prekrti ini dapat dipengarugi dan saling mempengaruhi dengan frekuesi gelombang otak. Saat ini gelombang asta prakrti alam semesta telah banyak dikacaukan oleh emisi gelombang manusia yang egoistik. Perut bumi atau pertiwi yang mengandung unsure-unsur asta prakrti telah dieksploitasi secara besar-besaran dengan menggunakan energi ahamkara (ego), akhirnya bumi sesekali memberikan reaksi atau teguran melalui bencana alam. Sesuungguhnya bencana alam itu diciptakan oleh energi ahamkara pikiran manusia. (Donder:2007)
            Agar dapat membebaskan diri dari gelombang –gelombang informasi yang menyesatkan, setiap orang seharusnya rajin menyelaraskan gelombang pikirannya dengan sumber gelombang kesucian, sumber gelombang kebijaksanaan, sumber gelombang kebenaran, dan itulah Tuhan. Gelombang spiritual itu melimpah adanya dan tidak memerlukan modal untuk mendapatkannya. Sembahyang, berdoa, kirthanam(memuji nama-nama Tuhan), dan japa, merupakan wujud upaya membebaskan diri dari volusi gelombang negatif di alam semesta ini. jika upaya itu telah berhasilmembawa frekuensi pikiran manusia pada level frekuensi yang sama atau selaras dengan level frekuensi alam semesta, maka vibrasi tersebut akan menjadi sarana interferensi terhadap frekuensi vibrasi gelombang Tuhan, dan itu membuat manusia dekat denganTuhan (Suja:2000).
            Sebagaimana dikatakan bahwa dengan sembahyang, berdoa, kirthanam, dan japa dapat membebaskan diri dari volusi gelombanng-gelombang negatif. Ritual Bhuta Yadnya, memiliki faktor yang signifikan terhadap untuk merestrukturisasi gelombang-gelombang mikro. Karena dalam ritual bhuta yadnya tersebut terdapat banyak penggunaaan unsur-unsur ritual yang berfungsi untuk melakukan proses super posisi gelombang-gelombang mikro.  Unsur-unsur itu antara lain ; (1) penggunaan sarana hewan, yang tubuhnya masih mengandung kadar air sebagai bahan konduktor atau penghantar arus gelombang elektromagnetik. (2) penggunaan warna hitam dari hewan korban sebagai sarana ritual Bhuta Yadnya mengandung maksud menjadikan sarana warna hitam sebagai sarana absorvsi atau penyerapan gelombang –gelombang kosmik, (3) penggunaan berbagai unsur-unsur bunyi-bunyian(seperti Kulkul atau kentongan), bunyi letusan bamboo ynag dibakar, (4) penggunaan gamelan Balaganjur (gamelan yang dipukul dengan semangat, semarak,energik, dan keras), bertujuan untuk melakukan  manufer manufer (super posisi) terhadap gelombang negatif (buruk) yang berpengaruh terhadap pola gelombang otak manusia. (5) penggunaan kidung yang melankolis sebagai sarana untuk merestrukrurisasi gelombang-gelombang yang kacau baik karena perbedaan frekuensi maupun arah rambatan gelombang itu, (6) penggunaan mantram yang bertujuan memperbaiki secara keseluruhan vibrasi kosmik.
            Seorang suci bernama Svami Sivananda (1998) mengatakan bahwa mantra berarti  sesuatu yang membebaskan pikiran manusia dari pengaruh gelombang-gelombang materi atau keterikatannya terhadap dunia (Prakrti). Penggunaan unsur ritual tersebut mampu menciptakan suasana ritual manjadi sebuah aktivitas yang seolah-olah bagaikan nada ritmik yang menyelusup diantara gelombang-gelombang alam semesta. Itulah sebabnya ritual bhuta yadnya yang dilakukan dengan penuh kesadaran, atau kepercayaan, dan pemahaman yang benar patut dilaksanakan oleh setiap individu maupun secara bersama.
 Upacara Tumpek Kandang untuk Harmonisasi Dunia Hewan dalam suatu sistem di alam semesta
             Tumpek  Kandang adalah upacara selamatan untuk binatang-binatang seperti binatang yang disembelih dan binatang piaraan. Kenapa harus ada upacara untuk para binatang? Mungkin ada yang pernah bertanya dalam hati demikian. Sesungguhnya inilah Hindu yang mengajarkan cinta kasih yang besar kepada seluruh ciptaan Tuhan dan yang mengajarkan sifat untuk menghargai tak hanya kepada sesama manusia tapi juga kepada binatang ,tumbuhan dan seluruh ciptaannya. Karena dalam hindu terdapat amanat untuk menjaga keharmonisan hidup dengan semua mahluk dan alam semesta. Selain itu dalam ajaran Hindu, meyakini bahwa semua makhluk memiliki jiwa yang berasal dari Ida Sang Hyang Widhi.
Khusus pada perayaan Tumpek Kandang, umat memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa Pasupati agar hewan peliharaannya diberkati kerahayuan. Sebab, hewan sangat berguna bagi kehidupan manusia. Misalnya, sapi atau kerbau bagi para petani memiliki peran yang sangat besar dalam membantu aktivitas agrarisnya. Mengapa membuat upacara selamatan terhadap hal-hal tersebut ? Dalam ajaran agama Hindu, keharmonisan hidup dengan semua makhluk dan alam semesta senantiasa diamanatkan. Manusia hendaknya selaras dan hidup hamonis dengan alam semesta,khususnya bumi ini dan dengan ciptaan-Nya yang lain, termasuk tumbuh-tumbuhan dan binatang.
Keberadaan hewan dalam agama Hindu dipandang sebagai suatu keniscayaan, oleh sebab itu manusia sebagai makhluk yang paling cerdas, paling mulia, (mengaku) paling dekat dengan Tuhan , tidak dapat mengabaikan atau bahkan mengutuk keberadaan salah satu hewan tersebut. Mungkin dari sudut pandang agama non Hindu, menganggap bahwa orang Hindu mempersekutukan Tuhan dengan binatang, memberhalakan binatang dan sebagainya. Istilah-istilah tersebut dalam agama Hindu tidak popular, dan tidak dikenal karena dalam perspektif teologi agama Hindu saguna Brahman dan filosofi advaita, Tuhan itu “memang meresapi” masuk ke dalam tubuh makhluk hidup dan juga ke dalam benda-benda ata unsure alam semesta. Jadi, kata mempersekutukan itu tidak dipopulerkan dalam agama Hindu, yang lebih dipopulerkan adalah bahwa Tuhan Dan ciptaannya adalah satu.
            Ritual yang dilaksanakan pada hari tumpek kandang juga kerap disebut tumpek celeng, adalah ritual yang mengandung nilai-nilai luhur dan universal. Dikatakan demikian karena di dalam ritual tersebut terkandung proses edukasi yang bersifat natural evolisif, sehingga umat Hindu secara alamiah digiring pada proses pemahaman bahwa dunia hewan juga pantas menerima perlakuan atau perbuatan yang baik dari manusia.
            Ketika umat Hindu melaksanakan ritual tersebut, secara kasat mata terlihat bahwa para umat Hindu datang ke kandang atau ke tempat dimana hewan-hewannya ditambatkan seraya berbicara dan memberi penghormatan kepada hewan-hewan tersebut, seolah-olah ia berkomunikasi dengan hewan tersebut. Mungkin  paham antropologi menganggapnya sebagai manaisme atau dinamisme, namun dalam Kosmologi hindu tidak menganggapnya demikian. Manusia sebagai makhluk yang memperoleh predikat sebagai makhluk yang paling mulia, telah memperoleh suatu anugrah yang maha besar, yakni pikiran.  Demikian kata Svami Sivananda
            Dalam kaitannya dengan upacara atau ritual tumpek kandang yang selain bertujuan untuk mengucap syukur ka hadapan Tuhan, juga untuk memberi spirit kepada hewan-hewan agar keceriaan dan kesenangan yang dimiliki dapat tetap dipertahankan, sehingga para hewan lebih maksimal mengabdikan dirinya kepada manusia. Karena hewan-hewan itu diciptakan untuk melayani umat manusia, dan hewan-hewan itu akan berbahagia sekali jika dalam hidupnya dapat berguna bagi kehidupan manusia. Hewan hanya akan meningkat karmavasananya secara luar biasa, jika ia dalam hidupnya dapat mengabdi secara optimal kepada manusia. Manusialah yang akan meningkatkan derajat kelahiran hewan- hewan tersebut pada kelahiran berikutnya.
            Mantram, doa, atau ucapan syukur kepada Tuhan yang diucapkan ketika melakukan upacara tumpek kandang menyebabkan para hewan akan memiliki kesadaran yang lebih tinggi. Hewan yang diperhatikan atau dipelihara dengan baik, maka mereka dapat berkomunikasi timbal balik. Contoh; hewan seperti anjing, kucing, bebek, babi, burubg, dan sebagainya jika dipelihara atau dirawat dengan baik, hewan-hewan itu ketika melihat tuannya (pemeliharanya) langsung menundukkan kepalanya atau menggerakkan ekornya. Itu merupakan isyarat bahwa hewan-hewan mwningkat kesadarannya.
            Pikiran yang baik akan mempengaruhi makhluk dan lingkungan sekitarnya, oleh sebab itu ritual tumpek kandang tersebut sampai saat ini masih memiliki fungsi dan efek positif terhadap upaya mewujudkan dunia yang semakin baik. Dunia yang semakin baik dapat berwujud mana kala semua makhluk memiliki pikiran dan perasaan yang mendalam untuk melakukan tugas pengabdian. (Donder :2007)

  Upacara Tumpek Uduh untuk harmonisasi dengan dunia tumbuh-tumbuhan di alam semesta
            Tumpek Uduh adalah hari turunnya Sang Hyang Sangkara yang manjaga keselamatan hidup segala tumbuh-tumbuhan. Beliau menjaga agar tumbuh-tumbuhan itu subur tumbuhnya, hidup, dan terhindar dari hama penyakit, serta agar memberikan hasil yang melimpah, melebihi dari yang sebelumnya, dan bisa hemat atau tetap ada walaupun dipakai/dimakan.
            Pemujaan tumpek uduh dilaksanakan setiap 6 bulan sekali di hari sabtu kliwon tepat 25 hari sebelum hari raya galungan. Pemujaan tumpek uduh ini merupakan suatu persembahan kepada manifestasi Tuhan sebagai Dewa Sangkara penguasa tumbuh-tumbuhan. Momentum ini sangat baik bagi manusia, mengingat begitu pentingnya tanaman dan alam semesta dalam arti yang sangat luas, sehingga menjadi harmoni dalam kehhidupan ini.
            Manusia sangat tergantung dari alam semesta raya ini, sebagai bagian dari alam semesta ini, maka umat Hindu sangat menghormati alam semesta beserta isinya. Oleh karena itu kita memperingati tumpek uduh sebagai suatu penghormatan terhadap alam yang telah menyediakan makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Esensi terpenting dan makna dari perayaan tumpek uduh adalah sebagai ucapan rasa terima kasih yang mendalam terhadap kekayaan alam yang melimpah ruah.
            Keberadaan atau kehadiran tumbuhan di dunia ini memiliki misi/ tugas masing- masing dari Tuhan yang mesti harus dilaksanakan. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan paling mulia akan sangat baik sekali jika pikiran dan rasa bersyukurnya kepada Tuhan itu disampaikan di dekat pohon atau tumbuhan itu, agar vibrasi atau getaran rasa syukur itu juga dapat merambat dan dirasakan oleh tumbuh-tumbuhan itu. Tumbuh-tumbuhan tidak dapat dikatakan hanya sebagai makhluk yang tidak memiliki perasaan, bahkan sebaliknya, tumbuh-tumbuhan memiliki perasaan keceriaan, dan kemurungan seperti manusia (Bose dalam Jendra, 1999:102)
            Berbahagialah tumbuh-tumbuhan itu jika dalam hidupnya dijadikan sebagai persembahan. Secara spiritual, jiwa- jiwa atau roh yang ada pada setiap tumbuhan dipersembahkan kembali kepada Tuhan, dan fisiknya dipersembahkan kepada manusia.  Maka perasaan tumbuhan tersebut akan merasa bahagia manakala mereka dapat digunakan oleh manusia sebagai sarana ritual. Karena tumbuhan berfungsi sebagai sarana persembahan manusia kepada Tuhan, maka manusia harus berusaha memotivasi, mengajak agar para tumbuhan itu menyadari fungsinya sebagai persembahan, sehingga tumbuhan itu akan berdaun, atau berbuah yang lebat. Vibrasi ini sebagai gelombang pikiran dengan motif bakti dapat ditangkap oleh tumbuh-tumbuhan itu, sehingga mereka akan sangat bergembira dan antusias menerima permintaan manusia agar tumbuhan itu berbuah atau berdaun lebat. (Donder, 2007:392)


  Upacara Tumpek Landep untuk Harmonisasi Tingkat Elektron Atom dalam   Sistem Teknologi di Alam Semesta
            Hari raya Tumpek Landep adalah hari yang dikhususkan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dalam wujudnya sebagai Dewa Senjata ( Pasupati ). Tumpek Landep diperingati saat Saniscara Kliwon wuku Landep setiap 6 bulan sekali. Pelaksanaan upacara Tumpek Landep dilaksanakan karena mengandung hakekat dan makna yang tinggi dan sangat berhubungan dengan kehidupan manusia di dunia terutama mengenai intelegensi manusia, karena manusia itu sendiri adalah termasuk makhluk religious yang selalu berhubungan dengan kekuatan supra natural.
Dari kata Landep sendiri mengandung pengertian  Tajam atau ketajaman. Tumpek Landep adalah ungkapan rasa terima kasih umat Hindu khususnya terhadap Sang Hyang Widi Wasa yang turun  ke dunia  dan memberikan ketajaman pemikiran kepada manusia. Adapun ketajaman itu layaknya senjata yang berbentuk lancip/runcing seperti keris, tombak dan pedang.
Dalam pengertian lain bahan logam seperti besi,  perak, perunggu tersebut sudah banyak membantu dan mempermudah pekerjaan manusia dalam kehidupan sehari hari.  Hari raya Tumpek Landep sendiri adalah rangkaian dari  hari raya yang lain dan bila diurutkan akan seperti ini : hari raya Galungan, hari raya Kuningan, hari raya Saraswati dan hari raya Siwaratri dan hari raya Tumpek Landep itu sendiri. Dalam perayaan Tumpek Landep sendiri bisa dilakukan di rumah dan pura dengan cara mengumpulkan benda benda pusaka atau benda yang terbuat dari logam, upacara ini dilakukan dari pagi hingga sore hari.
Upacara ini terus dilakukan secara turun temurun sampai saat ini, dimana pada masa sekarang tidak hanya senjata yang terbuat dari besi namun barang/alat lain yang mengandung unsur besi atau benda dapat bergerak terbuat dari logam seperti  (sepeda motor, mobil) alat rumah tangga dan lain lain  yang ikut diupacarakan diberikan hiasan khusus dari janur yang di sebut tamian.Saat upacara berlansung benda benda yang terbuat atau mempunyai unsur logam ini diberikan sesajen agar dapat mempermudah dan memperlancar kegiatan manusia untuk menjalani kehidupan sehari hari.
            Sebagaimana dikatakan bahwa bukan hanya hewan, tumbuhan dan manusia saja yang memiliki kekuatan, roh, dan perasaan, tetapi benda mati sekalipun memiliki roh. Oleh sebab itu agar seluruh partikel materi di alam semesta dapat menikmati kebahagiaan bersama, maka manusia pantas juga untuk membagi dan mengelola perasaan bahagianya itu sehingga mampu dirasakan oleh sarva bhuta (seluruh materi). Hindu tidak memiliki paham bahwa memberi penghormatan atau berkomunikasi dengan benda-benda mati sebagai tindakan berhala. Sebab jika ditelusuri secara kronologis sesungguhnyalah bahwa partikel asta prakrti bersenyawa dengan pikiran, budhi, dan kehendak (ego) dari roh semesta.
            Dengan demikian ritual tumpek landep yang dilaksanakan oleh umat Hindu itu sebagai upaya komunikasi antar partikel alam semesta demi mewujudkan keharmonisan alam semesta. Dalam pelaksanaannya hari raya tumpek landep dihaturkan ritual persembahan terhadap para penguasa atau kekuatan-kekuatan yang ada pada tombak, keris, peralatan pande (tukang besi). Kemudian saat ini berkembang perayaan hari raya tumpek landep  seperti, sepeda motor, mobil, computer, semua benda bermesin. Sehingga ritual tumpek landep sesungguhnya identik dengan perayaan hari raya teknologi.
            Adapun adanya, sesungguhnya ritual tumpek landep bertujuan untuk menciptakan harmonisasi tingkat partikel atom yang ada di bumi khususnya dan di alam semesta pada umumnya. Sehingga ritual ini memiliki makna yang sangat luhur. Harmoni dengan alam dan menghindari konflik dengan alam merupakan etik universal Hindu. Bila pikiran agama ras smith ingin menaklukkan alam, namun dalam paham Hindu manusia mampunyai peran memanajemen alam bersama alam.

Agni Hotra sebagai Upaya Mewujudkan Harmonisasi Universal pada Seluruh Sistem di alam Semesta
            Agnihotra berasal dari kata sanskerta, dimana terdiri dari dua kata yaitu agni dan hotra. Agni adalah api, dan hotra adalah persembahyangan atau melakukuan persembahan. Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk upacara persembahan. Agnihotra adalah upacara persembahan kepada Dewa agni, suatu upacara yang sangat penting dalam Veda yang dilaksanakan sehari-hari oleh golongan grhastin. Tujuan Agnihotra adalah untuk menetralisir alam semesta dari pengaruh dan tendensi duniawi. Barangsiapa yang menghalangi pelaksanaan Homa suci ini maka dalam hidupnya tidak akan dapat menumbuhkan dan merasakan kedamaian.
            Pada semua pelaksanaan upacara yang menggunakan api, Agnihotra lah sebagai dasarnya yang diuraikan dalam veda. Agnihotra merupakan ritual yang berkaitan dengan bioenergi, psikologi, obat-obatan, pertanian, biogenetic, mikrobiologi, dan komunikasi interplanet. Oleh sebab itu agni hotra sesungguhnya merupakan ritual holistic, menyeluruh, dan multifungsi. Ia berfungsi sebagai; psikoterapi, rekayasa biogenetic, planologis, dan multi terapi.
            Ribuan orang, umumnya dari Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa Barat, Eropa Timur, telah mendapatkan kesembuhan dan manfaat lainnya dari agnihotra. Agnihotra membuat pelaksana yadnya inteligensinya meningkat, sel- sel otaknya berganti dengan yang baru, terjadi penyegaran kulitnya, terjadi pembersihan pada darahnya. Agnihotra dapat menetralkan serangan bakteri. Banyak energy positif dan energy kesehatan yang keluar dari pelaksanaan agnihotra. Power kehidupan lahir dari api agnihotra ini, hanya pada waktu itu dalam lingkaran tersebut terdapat banyak sekali kekuatan datang dari agnihotra ini yang dapat merubah struktur dan formasi dari semua atom, sehingga semua substansi, bahan-bahan menjadi universal.
Agnihotra juga dapat membantu memperbaiki lapisan ozon yang telah rusak.
            Masih banyak lagi manfaat agnihotra itu, antara lain bahan- bahan yang telah menjadi abu di dalam api persembahan itu dapat digunakan sebagai; kapsul, bubuk, krim, untuk terapi atau pengobatan; sakit telinga, hidung, tenggorokan (THT), dan lain-lainnya. Abu agnihotra inilah yang dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam berbagai kesulitan, keluhan, dan aneka penyakit.
            Apa yang terjadi ketika upacara agnihotra dilaksanakan, sehingga ritual agnihotra itu mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan manusia di dunia? Sesungguhnya apa yang terjadi itu dapat dijelaskan dengan teori ilmu mekanika gelombang atau fisika quantum, yakni dengan pelaksanaan ritual agnihotra tersebut telah terjadi suatu reaksi gelombang dengan tingkat partikel sub atomic atau reaksi gelombang pada tingkat partikel electron atom. Hal  tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut; ketika damaru/ kendang, genta/lonceng pandita, kirtan/ lagu pujian, japam/ pengulangan nama-nama dewa atau Tuhan diucapkan dalam pelaksanaan ritual agnihorta, juga meditasi atau pemusatan pikiran dilaksanakan, maka terjadi proses superposisi gelombang.
            Terbukti bahwa dengan tahapan-tahapan proses agnihotra secara benar, akan dapat membuat manusia terkondisikan agar memiliki pancaran gelombang otak yang selaras dengan gelombang alam semesta/ kosmik. Ketika vibrasi otak manusia setara dengan gelombang kosmik, maka manusia menjadi bagian dari kosmik dan sekaligus sebagai pengatur atau penguasa kosmik itu sendiri. Dengan kata lain bahwa manusia yang memiliki vibrasi gelombang pikirannya setara dengan gelombang kosmik, maka manusia seperti itu telah berubah statusnya menjadi dewa atau Tuhan itu sendiri. Manusia seperti itu akan dapat memerintahkan alam sesuai dengan keinginannya. Dari salah satu aspek ritual agnihotra itu dapat diketahui bahwa demikian besar fungsi agnihotra tersebut, yakni dapat mengharmoniskan antara dunia mikrokosmos dan dunia makrokosmos.               

Kesimpulan
Yadnya adalah suatu bentuk pemujaan atau persembahan yang dilaksanakan secara tulus iklas untuk tujuan yang mulia dan  luhur yang ditujukan ke hadapan Ida sang Hyang Widhi wasa. Yadnya juga bertujuan untuk penyucian, yaitu untuk menyucikan atau pembersihan yang berhubungan dengan diri sendiri, sesame, alam lingkungan, dan juga kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Upacara Bhuta Yadnya dalam tingkatan yang kecil disebut dengan “Segehan“, Sega berarti nasi (bahasa  Jawa: sego). Upacara ini di sebut dengan “ Segehan “, dengan lauk pauknya yang sangat sederhana seperti bawang merah, jahe, garam dan lain-lainnya. Tingkatan upacara dalam tingkatan madya ini di sebut dengan “ Caru “. Pada tingkatan ini selain mempergunakan lauk pauk seperti pada segehan, maka di gunakan pula daging binatang.  Tingkatan yang utama ini di sebut dengan Tawur misalnya Tawur Kesanga dan Nyepi yang jatuhnya setahun sekali, Panca Wali Krama adalah upacara Bhuta Yadnya yang jatuhnya setiap sepuluh tahun sekali, dan Eka Dasa Rudra yaitu upacara Bhuta Yadnya yang jatuhnya setiap seratus tahun sekali.
Upaya nyata dalam mewujudkan keseimbangan alam semesta dengan jalan Bhuta yadnya. Upacara Tumpek Kandang untuk Harmonisasi Dunia Hewan, ritual tumpek kandang tersebut sampai saat ini masih memiliki fungsi dan efek positif terhadap upaya mewujudkan dunia yang semakin baik.  Upacara Tumpek Uduh untuk harmonisasi dengan dunia tumbuh-tumbuhan, Karena tumbuhan berfungsi sebagai sarana persembahan manusia kepada Tuhan, maka manusia harus berusaha memotivasi, mengajak agar para tumbuhan itu menyadari fungsinya. Agni Hotra sebagai Upaya Mewujudkan Harmonisasi Universal pada Seluruh Sistem di alam Semesta, fungsi agnihotra tersebut, yakni dapat mengharmoniskan antara dunia mikrokosmos dan dunia makrokosmos.


Sumber
Donder, I Ketut. 2007. Kosmologi Hindu. Surabaya: Paramita
Suarjaya, I Wayan, dkk.2008.Panca Yadnya.Denpasar: Penerbit Widya Dharma

http://enikustirahayu.blogspot.com/2018/03/makalah-bhuta-yadnya-sebagai-wujud.html?m=1

Panca Sradha

Oleh:
I Ketut Mertayasa

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Agama Hindu disebut pula dengan Hindu Dharma, Vaidika Dharma ( Pengetahuan Kebenaran) atau Sanatana Dharma ( Kebenaran Abadi ). Untuk pertama kalinya Agama Hindu berkembang di sekitar Lembah Sungai Sindhu di India. Agama Hindu adalah agama yang diwahyukan oleh Sang Hyang Widhi Wasa, yang diturunkan ke dunia melalui Dewa Brahma sebagai Dewa Pencipta kepada para Maha Resi untuk diteruskan kepada seluruh umat manusia di dunia.
Di dalam ajaran Tattwa di dalamnya diajarkan tentang “ Sradha “ atau kepercayaan. Sradha dalam agama Hindu jumlahnya ada lima yang disebut“ Panca Sradha “.

1.2  Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Panca Sradha?
2. Apa bagian-bagian Panca Sradha?

1.3  Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Panca Sradha
2. Untuk mengetahui bagian-bagian Panca Sradha














BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Panca Sradha
Dalam pengertianya Panca Sradha terdiri dari dua kata yaitu Panca artinya lima dan Sradha artinya keyakinan, jadi Panca Sradha artinya lima keyakinan yang dimiliki oleh umat Hindu. Kelima keyakinan tersebut adalah percaya dengan adanya Tuhan, percaya dengan adanya Atman, percaya dengan adanya Karmaphala, percaya dengan adanya Punarbhawa dan percaya dengan adanya Moksa.
"Craddhaya satyam apnopi, cradham satye prajapatih" yang artinya dengan Sradha orang akan mencapai tuhan, Beliau menetapkan, dengan sradha menuju satya. (Yajur Weda XIX.30).
2.2  Bagian-Bagian Panca Sradha
1. Percaya dengan adanya Tuhan
Ini adalah hal yang paling utama, jika kamu tidak percaya Tuhan tentu kamu tidak akan bisa percaya dengan yang lain. Tuhan adalah sumber dari segala sumber kehidupan dan akhir dari segala yang tercipta. Tuhan itu dijelaskan dalam sloka yang berbunyi "Ekam eva advityam Brahman" artinya Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua. Atau dalam sloka "Eko narayana na dwityo'sti kascit" artinya hanya ada satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya. Jadi dengan melihat dua sloka tadi maka Tuhan itu hanya ada satu dengan beberapa sifatnya yang disebut Tri Purusa.
2. Percaya dengan adanya Atman
Artinya bahwa setiap mahkluk hidup di dunia ini adalah ciptaan Tuhan dan bagian dari Tuhan. Atman merupakan sinar suci atau bagian terkecil dari Brahman. Setiap yang bernafas di dunia ini memiliki Atman sehingga mereka bisa hidup. Atman adalah sumber hidupnya semua mahkluk baik manusia, hewan dan tumbuhan. Dalam kitab suci Bhagawadgita (X.20) disebutkan, "Aham Atma gudaseka, sarwabhutasaya-sthitah, aham adis ca madhyam ca, bhutanam anta eva ca" yang artinya Oh Arjuna, aku adalah atma, menetap dalam hati setiap makhluk, aku adalah permualaan, pertengahan dan akhir daripada semua makhluk. Atman memiliki sifat sebagai berikut, Acchedya artinya tidak terlukai senjata, Adahya artinya tidak terbakar api, Akledya artinya tidak terkeringkan oleh angin, Acesya artinya tidak terbasahkan oleh air, Nitya artinya abadi, Sarwagatah artinya berada dimana-mana, Sathanu artinya tidak berpindah-pindah, Acala artinya tidak bergerak, Awyakta artinya tidak dilahirkan, Achintya artinya tidak terpikirkan, Awikara artinya tidak berubah dan Sanatana artinya selalu sama.
3. Percaya dengan adanya Karmaphala
Artinya percaya dengan hasil perbuatan yang telab kita lakukan ataupun yang akan kita lakukan. Inilah hukum universal yang dipercaya oleh umat Hindu. Silakan baca tulisan saya dengan judul untuk penjelasan tentang Karma Phala lebih detail.
4. Percaya dengan adanya Punarbhawa
Artinya kelahiran kembali atau sering juga disebut dengan Reinkarnasi atau Samsara. Punarbhawa berkaitan erat dengan Karma Phala dimana karena buah perbuatan yang harus dibayar atau dinikmati belum habis maka mereka akan terlahir kembali. Jadi hubungan antara Punarbhawa dan Karmaphala sangat erat seperti linkaran
5. Percaya dengan adanya Moksa
 Artinya tujuan akhir dari hidup adalah mencapai Moksa artinya kebebasan yang abadi yang tidak terikat oleh Karmaphala dan ikatan duniawi sehingga terhindar dari Punarbhawa. Tingkatan Moksa ada empat yaitu:
Samipya artinya suatu kebebasan yang dapat dicapai oleh seseorang semasa hidupnya di dunia. Hal ini dapat dilakukan oleh para Yogi atau para Maha Rsi. Beliau dalam melakukan yoga semadhi dapat melepaskan unsur-unsur maya, sehingga beliau dapat mendengarkan wahyu Tuhan, dalam keadaan yang demikian itu, Atman sangat dekat dengan Tuhan atau Brahman.
Sarupya artinya suatu kebebasan yang dicapai oleh seseorang di dunia ini karena kelahirannya dimana kedudukan Atman merupakan pancaran dari kemahakuasaan Tuhan. Contohnya adalah Sri Rama dan Buddha serta Sri Khrisna (dalam wujud Awatara) walaupun Atman telah mengambil suatu perwujudan tertentu namun Dia tidak terikat oleh segala sesuatu yang ada di dunia ini.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Panca Sradha terdiri dari dua kata yaitu Panca artinya lima dan Sradha artinya keyakinan, jadi Panca Sradha artinya lima keyakinan yang dimiliki oleh umat Hindu. Kelima keyakinan tersebut adalah percaya dengan adanya Tuhan, percaya dengan adanya Atman, percaya dengan adanya Karmaphala, percaya dengan adanya Punarbhawa dan percaya dengan adanya Moksa.

3.2 Saran
Mari kita wujudkan bersama-sama tentang bagaimana cara kita sebagai pelajar dan umat Hindu untuk selalu menghayati dan mengamalkan serta melaksanakan  apa itu yang termuat dalam Panca Sradha. Dan saya menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran sangat saya harapkan dari teman-teman sekalian dan para pembaca lainnya demi makalah ini lebih sempurna dan bermanfaat bagi banyak orang.

3.3 Daftar Pustaka
Sutresna, I Made. Dkk. 2004. Buku Pelajaran Agama Hindu. Surabaya: Paramita
Kajeng, I Nyomna. 2010. Dkk. Sarasamuccaya. Surabaya: Paramita
Tangkas, I Made. 2010. Buku Ajar Agama Hindu. Palu: Hanuman sakti
Sura, I Gede. 1933. Pengendalian Diri dan Etika. Jakarta: Hanuman Sakti

Tri Hita Karana

Oleh :
NI KETUT KARYANI
NPM   : 19.1.035
Topik : Tri Hita Karana

BAB I
PENDAHULUAN
Peruabahan waktu telah membawa kita pada jaman yang semakin berbeda, pola pikir yang berkembang pesat , telah menjadikan ketidak mungkinan menjadi sangat mungkin, tentu dengan adanya teknologi-teknologi canggih yang kian semakin mempermudah pekerjaan manusia. Aktivitas manusia tak lagi berbicara kekuatan otot namun seberapa kecanggihan otak manusia menciptakan teknologi-teknologi canggih seperti bermain trik magik. Seiring dengan perkembangan teknologi yang makin pesat, banyak orang mulai lupa akan pengetahuan tentang agamanya.
Pengetahuan agama semakin lama semakin kurang, bahkan anak muda sekarang banyak yang acuh tak acuh terhadap pengetahuan agama. Mereka lebih mementingkan teknologi dibandingkan agama. Padahal itu merupakan perkataan yang salah. Karena perkembangan teknologi dengan agama saling berhubungan. Seperti pepatah mengatakan ”teknologi  tanpa agama buta sedangkan agama tanpa teknologi akan lumpuh”. Kita sebagai umat Hindu perlu mengetahui ajaran-ajaran agama kita. Salah satunya adalah mempelajari ajaran menjalin hubungan yang harmonis kepada semua yang berada pada alam semesta ini dan yang menciptakan alam semesta.
Umat Hindu percaya ketika kita memberi pelayanan kepada alam semesta, maka alam semesta akan memberi pelayanan terbaiknya kepada kita. Contoh nyata saja yang dapat kita lihat pada saat ini bencana-bencana alam yang terjadi akibat ulah manusia sendiri, penebangan hutan secara liar yang menyebabkan tanah longsor, banjir, menipisnya lapisan ozon sehingga kian hari udara panas terasa menyengat kulit, polusi udara kian menjadi ancaman persebaran virus. Namun begitu sebaliknya, ketika kita menjaga lingkungan alam seperti melakukan penghijauan terhadap lingkungan tentu pohon-pohon yang kita tanam akan memberikan oksigen yang kita butuhkan serta membantu kita menyaring polusi-polusi udara yang kita hirup.
Diperjelas lagi dalam konsep ajaran agama hindu tentang Tat Twam Asi, yang artinya aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Artinya baik kita, tumbuhan, hewan serta seluruh isi alam semesta ini adalah satu kesatuan yang tunggal yaitu Brahman. Dapat kita bayangkan ketika salah satu bagian organ tubuh kita  terluka tentu semua organ akan merasakan sakit luka tersebut, begitu juga kehidupan ini. Artinya sangat penting untuk kita menjaga keseimbangan agar terciptanya keharmonisan dan kesejahteraan.
Agar keseimbangan keharmonisan dan kesejahteraan di alam semesta ini senantiasa terjaga maka kita perlu suatu ajaran yang bisa kita amalkan untuk mencapai tujnuan tersebut. Umat Hindu sudah mempercayai suatu ajaran yang dapat menjaga keharmonisan dengan alam semesta berserta isinya yaitu Ajaran Tri Hita Karana. Kita harus menerapkan ajaran Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari hari agar terciptanya keseimbangan keharmonisan dan kesejahteraan di alam semesta.















BAB II
PEMBAHASAN
Istilah Tri Hita Karana berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu dari kata Tri Hita Karana. Tri berarti tiga; Hita berarti baik, senang, gembira, lestari; Karana berarti penyebab atau sumbernya sebab. Tri Hita Karana berarti tiga buah unsur  yang merupakan sumbernya sebab yang memungkinkan timbulnya kebaikan. Ketiga unsur yang dimaksudkan dalam Tri Hita Karana itu, yaitu unsur Unsur jiwa(Atman); unsur tenaga; kekuatan, Prana; unsur badan wadah (sarira).
Kalau kita  dilihat dari Veda yang berkaitan dengan Tri Hita Karana ini, Nampak jelas tertuang dalam Kekawin Ramayana Sargah 1.3, yaitu bagaimana sang Dasaratha berbuat kasih kepada sesama mahluk ciptaan Tuhan, berbuat pemujaan kepada leluhur, dan pemujaan kepada Deva-deva. Perilaku hubungan yang selaras serasi dan seimbang manusia terhadap sesamanya, terhadap Tuhannya, terhadap Alam semesta beserta isinya akan menjadikan manusia utama seperti halnya sang Dasaratha. Jadi Tri Hita Karana sebagai perwujudan kesejahteraan dan kebahagiaan dimana ketiga unsur Ida Sanghyang Widhi/Tuhan (super natural power), Manusia (mikrokosmos), dan Alam semesta/Bhuwana (Macrocosmos) harus saling menjaga.
Bagian-bagian Tri Hita Karana adalah sebagai berikut:
Parahyangan
Kata Parahyangan berasal dari bahasa sansekerta, dari kata ”Hyang”,yang berarti  Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Jadi, kata parahyangan berarti hubungan yang harmonis dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan demikian kita harus menjalin hubungan yang harmonis dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dengan cara menjalankan perintah-NYA dan menjauhi larangan-NYA.
Pawongan
Kata Pawongan berasal dari bahasa sansekerta, dari kata”Wong”,yang berarti orang atau manusia. Jadi, kata pawongan berarti hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia. Dengan demikian kita harus menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama manusia, dengan cara saling menghormati dan saling menghargai satu sama lain.


Palemahan
Kata palemahan berasal dari bahasa sansekerta, dari kata”Lemah”,yang berarti lingkungan sekitar/alam semesta. Jadi, kata palemahan berarti hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan sekitar/alam semesta. Dengan demikian selain menjalin hubungan yang harmonis denga Tuhan dan sesama manusia kita juga harus menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar/alam semesta dengan cara menjaga lingkungan sekitar dari kerusakan.
Untuk itu ketiga hal tersebut harus dijaga dan dilestarikan agar dapat mencapai hubungan yang harmonis. Sebagaimana dimuat dalam ajaran Agama Hindu bahwa ” kebahagiaan dan kesejahtraan ” adalah tujuan yang ingin dicapai dalam hidup manusia, baik kebahagiaan atau kesejahtraan pisik atau lahir yang disebut ” Jagadhita ” maupun kebahagiaan rohani dan batiniah yang disebut ”Moksa ”
Untuk bisa mencapai kebahagiaan yang dimaksud, kita sebagai umat manusia perlu mengusahakan hubungan yang harmonis ( saling menguntungkan ) dengan ketiga hal tersebut diatas. Karena melalui hubungan yang harmonis terhadap ketiga hal tersebut diatas, akan tercipta kebahagiaan dalam hidup setiap umat manussia. Oleh sebab itu dapat dikatakan hubungan harmonis dengan ketiga hal tersebut diatas adalah suatu yang harus dijalin dalamhidup setiap umat manusia. Jika tidak, manusia akan semakin jauh dari tujuan yang dicita-citakan atau sebaliknya ia akan menemukan kesengsaraan.
Ketika manusia satu dan yang lainnya dalam keadaan tidak menyatu atau berbeda beda seperti ada perbedaan ,dari kaya dan miskin, baik dan buruk ,dan hal-hal yang membuat kita tidak sependapat. Seperti adanya catur warna .  Didalam catur warna seolah –olah kita umat hindu memiliki perbedaan-perbedaan yang bisa memisahkan hubungan antara sesame. Menyadari hal demikian kita mesti selalu menjalin hubungan dengan sesama manusia, hubungan yang dimaksud dalam hal ini adalah hubungan yang baik atau saling menghormati dan saling membantu, simbiosis mutualisme, sebab hanya hubungan yang demikian dapat memberi arti kepada hidup manusia. Jadi untuk dapat memetik hikmah dari kehidupan bersama tersebut seseorang mesti tetap berpegangan kepada ajaran dharma, yang pada intinya mengharapkan agar dalam kehidupan di muka bumi ini seseorang mesti selalu mengukur dari diri sendiri. Setiap akan melangkah, seseorang diharapkan bertanya pada dirinya sendiri, apakah yang dia lakukan tersebut jika ditujukan kepada dirinya sendiri akan menyebabkan atau memberi akibat baik atau buruk. Itulah rahasia sederhana yang diajarkan dalam menempuh hidup bersama untuk memperoleh kesuksesan. Apabila semua itu direalisasika dalamkehidupan sehari-hari, maka tentunya tidak akan ada kesulitan dalam hidup manusia untuk mewujudkan tujuannya.
Perlu kita sadari umat manusia tidak bisa hidup tanpa alam semesta ( lingkungan ), dalam kitab suci Weda dijelaskan segala kebuthan hidup umat manusia hampir semuanya berasal dari alam semesta. Sekali lagi,manusia tidak bisa hidup tanpa alam semesta ( lingkungan ). umat manusia sangat erat sekali hubungannya dengan alam semesta, seperti yang kita ketahui semua kebutuhan hidup yang diperlukan oleh umat manusia bersumber dari alam semesta dan kita sama-sama merupakan ciptan Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ).  Seperti yang kita ketahui dari hasil hutan banyak sekali tumbuh-tumbuhan, baik yang bisa kita olah menjadi makanan, obat-obatan, bahan kecantikan, atau untuk bahan bangunan, peralatan mebel dan masih banyak lagi yang lainnya.
Tri hita karana juga memiliki kaitan yang sangat erat dengan karmapahala. Contohnya: seorang tukang kayu yang sembarangan mengambil kayu dihutan sehingga lama kelamaan hutan itu menjadi gundul pohon-pohon besar telah habis di tebang, ketika musim hujan otomatis  air hujan akan langsung turun ke rumah-rumah pemukiman warga karena tidak ada lagi yang menampung kadar air yang begitu tinggi. Sehingga menyebabkan  banjir dan bisa merusak aktifitas atau kegiatan- manusia itu sendiri. Dari contoh diatas tentu sudah sangat jelas bahwa hubungan tri hita karana dan kharma phala sangat erat. Ketika manusia tidak lagi menghiraukan lingkungannya maka lingkungan pula tidak akan pernah bersahabat dengan kita. begitu pula ketika manusia dan sesamanya tidak memiliki hubungan yang harmonis maka akan terjadilah gesekan-gesekan yang menyebabkan hal-hal yang tidak kita inginkan bersama apalagi ketika manusia dan ciptaannya tidak terjadi hubungan yang harmonis tentu akan berdampak sangan buruk bagi manusia.
Implementasi dari Tri Hita Karana bisa kita lihat dari pelaksanaan setiap bagian-bagian Tri Hita Karana yaitu Parahyangan, Pawongan dan Palemahan. Cara menjalin hubungan yang harmonis dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah sebagai berikut:
Sembahyang Tri Sandya 3 kali sehari
Bertirta yatra
Menyanyikan kidung suci
Membaca, memahami dan menjalankan isi kitab suci Veda
Mebanten setiap hari raya nityakarma maupun naimitika karma
Beryajna secara tulus ikhlas(nitya yajna maupun naimitika yajna)
Melakukan tapa/semadhi
Membersihkan tempat suci
Tidak meminum minuman keras
Tidak mencuri
Tidak membunuh
Dalam Bhagawadgita IX-14 dikatakan bahwa:
sataṁ kīrtayanto māṁ[7]
yatantaś ca dṛḍha-vratāh,
namastantaś ca maṁ bhaktyā
nitya-yuktā upāsate.

Terjemahan:
                   Berbuatlah selalu dengan hanya memuji-Ku
                   Dan lakukanlah tugas pengabdian itu dengan
                   Tiada putus-putusnya. Engkau yang memuja
                   Ku Dan tiada henti-hentinya itu serta
                   Kebhaktian yang kekal adalah dekat dengan-Ku
Kita sebagai umat  manusia yang beragama dan bersusila harus menjunjung dan memenuhi kewajiban antara lain, cinta pada kebenaran, kejujuran, keiklasan dan keadilan. Dengan demikian jelaslah hubungan manusia dengan tuhan. Hubungan ini harus dipupuk dan ditingkatkan terus kearah yang lebih suci lahir dan bhatin. Sesuai dengan swardharmaning  umat yang religious, yakni untuk dapat mencapai” moksartham jagadhita ya caitri dharma” yakni untuk  mencapai kebahagiaan hidup duniawi dan kesempurnaan kebahagiaan rohani yang langgeng(moksa).

Cara menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama manusia adalah sebagai berikut:
Saling menghormati satu sama lain
Saling menghargai satu sama lain
Sopan santun
Ramah tamah
Gotong royong(saling membantu)
Kasih sayang yang tulus
Berani berkorban demi teman
Tidak iri hati dengan orang lain
Tidak dengki dengan orang lain


Dalam manu smerti II,138 disebut :
“satyam bruyat priyam bruyam
Nabruyam satyam, priyam canartam,
Bruyat esa dharmah sanatanag”

Terjemahannya :
“Berkatalah yang sewajarnya jangan mengucapkan kata-kata yang kasar, walaupun itu benar. Jangan pula mengucapkan kata-kata leah lembut tetapi dusta, inilah hukum susila yang(Sanatana Dharma)”.
Perilaku yang baik adalah  dasar mutlak dalam kehidupan sebagai manusia, karena dengan berbuat susila manusia dapat meningkatkan taraf kehidupannya baik didalam sekala maupn niskala.

 Cara menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar/alam semesta adalah sebagai berikut:
Rajin membersihkan kamar tidur saat bangun tidur
Membersihkan kamar mandi
Membersihkan halaman rumah(depan,samping maupun belakang rumah)
Membuang sampah pada tempatnya
Menjaga kebersihan taman
Menjaga kebersiahan sekolah maupun kampus
Merawat tanaman(menyiram, memupuk,dan menjaga keindahan tanaman)
Melakukan penghijauan
Tidak menebang hutan sembarangan
Jika semua itu sudah dilakukan, astungkara akan tercipta hubungan yang harmonis dalam kehidupan  ini. Serta akan terwujudnya kehidupan yang damai, tentram, aman dan sejahtera. Dengan demikian sangatlah penting  menjalin hubungan yang harmonis kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kepada sesama manusia serta dengan alam semesta.






BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Jadi dapat disimpulkan Secara leksikal Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan. (Tri = tiga, Hita = sejahtera, Karana = penyebab). Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara: Manusia dengan Tuhannya, Manusia dengan alam lingkungannya, Manusia dengan sesamanya
Dari pembahasan diatas juga dapat saya simpulkan bahwa sangatlah penting untuk kita mempelajari konsep Hubungan yang harmonis (Tri Hita Karana) dalam kehidupan ini. Karena dengan menjalin hubungan yang harmonis dalam kehidupan ini merupakan dasar untuk mencapai kehidupan yang damai, tentram, aman dan sejahtera. Dengan mengetahui konsep Tri Hita Karana, kita jadi lebih paham dan mengerti tentang konsep ini. Sehingga kita akan berusaha untuk mengamalkan dan menjalankan konsep Tri Hita Karana sebagai mana mestinya untuk mencapai kebahagiaan lahir dan bhatin baik secara Sekala dan Niskala.

SARAN
Saya berharap kepada seluruh umat hindu yang ada khususnya maha siswa agar menjaga hubungan harmonis dengan Ida Sang Hyang Widhi karena dari situlah kita mampu mengimbangi kesadaran kita sebagai umat manusia sadar akan kepentingan kita, dengan sesama dan lingkungan kita. Beliau mengajarkan pada umatnya agar mengindahkan ciptaannya agar terjadi keselarasan hidup yang ingin dicapai
Demikianlah makalah yang saya susun, jika ada kesalahan-kesalahan dalam penyusunan makalah saya ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang sangat membangun demi kesempurnaan penyusunan makalah saya yang berikut-berikutnya.






DAFTAR PUSTAKA

Kardiasa,Didik.2012. Blog Tri Hita Karana. http://didik-kardiasa.blogspot.com/p/blog-page_8498.html?m=1 diakses pada : 26.03.20
Sandika,Made.2012. Makalah Agama Tri Hita Karana. http://imadesadikabagosgenjing.blogspot.com/2012/05/makalah-agama-tri-hita-karana.html?m=1 diakses pada : 26.03.20
Tarne,Wayan.2014. Implementasi Tri Hita Karana. http://wayantarne.blogspot.com/2014/10/implementasi-tri-hita-karana.html?m=1 diakses pada : 26.03.20











Ngaben

Oleh: 
Ni Komang Ayu Supartini

PENDAHULUAN
Penyucian Roh adalah suatu upaya untuk melepaskan Sang Hyang Atma dari ikatan jasmani yang terdiri dari Panca Maha Butha dan ikatan Suksma Sarira yang terdiri dari Citta, Tri Guna, Dasendriya dan Panca Tan Matra. Dengan lepasnya Sang Hyang Atma dari kedua ikatan tersebut Sang Hyang Atma hanya berbadan Antahkarana Sarira. Badan Antahkarana tersebut adalah Karma Vasana yang masih melekat pada Sang Hyang Atma. Karma Vasana adalah Bekas Perbuatan. Dengan “Karma Vasanaya” itulah Sang Hyang Widhi menentukan keadaan Sang Hyang Atma selanjutnya.Kalau “Karma Vasana”nya lebih cendrung dengan bekas-bekas duniawi, hal itulah akan menarik kedunia, kalau Karma Vasananya cendrung pada hal-hal yang bersifat surgawi, hal itulah yang akan menarik ia untuk tetap bersatu dengan alam kedewataan. Dalam upacara, atma baru dianggap suci apabila telah terlepas dari ikatan badan jasmani dan badan astral. Demikian pula dalam Bhagavadgita jiva atau atma yang suci adalah atma yang telah menguasai “buddhi” “manah” dan “indriya” Penyucian roh dapat dilakukan ketika masih hidup dengan berbagai jalan yang dibenarkan. Oleh dharma jiwa yang suci atau dominan, dalam diri akan menjadikan semua unsur diri seperti indriya, manah, buddhi dan lain-lainnya sebagai alat untuk menegakkan kesucian jiwa semasih hidup, sloka Silakrama itu adalah
Abdhir gatrani sudyanti
Manah satyena sudyanthi
Widyattapobhyam bhtatma
Budhir jnanena sudyati
Artinya
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, jiva(atma) dibersihkan dengan ilmu, dan tapa dan akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.
Upacara penyucian roh leluhur dalam Agama Hindu salah satunya adalah “NGABEN”
PEMBAHASAN
Ngaben adalah sebuah upacara pembakaran jasad yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. Upacara ini dimaksudkan untuk menyucikan roh anggota keluarga yang sudah meninggal yang akan menuju ke tempat peristirahatan terakhir.Kata “ngaben” mempunyai arti bekal atau abu yang semua tujuannya mengarah tentang adanya pelepasan terakhir kehidupan manusia. Dalam ajaran Hindu, selain dipercaya sebagai dewa pencipta, Dewa Brahma juga memiliki wujud sebagai Dewa Api. Jadi upacara ngaben adalah proses penyucian roh dengan cara dibakar menggunakan api agar bisa kembali ke sang pencipta. Api yang membakar dipercaya sebagai penjelmaan Dewa Brahma yang bisa membakar semua kekotoran yang melekat pada jasad dan roh orang yang telah meninggal. Upacara Ngaben terdiri dar 5 jenis:
Ngaben Sawa Wedana
Sawa Wedana adalah upacara ngaben dengan melibatkan jenazah yang masih utuh (tanpa dikubur terlebih dahulu) . Biasanya upacara ini dilaksanakan dalam kurun waktu 3-7 hari terhitung dari hari meninggalnya orang tersebut. Pengecualian biasa terjadi pada upacara dengan skala Utama, yang persiapannya bisa berlangsung hingga sebulan. Sementara pihak keluarga mempersiapkan segala sesuatu untuk upacara maka jenazah akan diletakkan di balai adat yang ada di masing-masing rumah dengan pemberian ramuan tertentu untuk memperlambat pembusukan jenazah. Dewasa ini pemberian ramuan sering digantikan dengan penggunaan formalin. Selama jenazah masih ditaruh di balai adat, pihak keluarga masih memperlakukan jenazahnya seperti selayaknya masih hidup, seperti membawakan kopi, memberi makan disamping jenazah, membawakan handuk dan pakaian, dll sebab sebelum diadakan upacara yang disebut Papegatan maka yang bersangkutan dianggap hanya tidur dan masih berada dilingkungan keluarganya.

Ngaben Asti Wedana
Asti Wedana adalah upacara ngaben yang melibatkan kerangka jenazah yang pernah dikubur. Upacara ini disertai dengan upacara ngagah, yaitu upacara menggali kembali kuburan dari orang yang bersangkutan untuk kemudian mengupacarai tulang belulang yang tersisa. Hal ini dilakukan sesuai tradisi dan aturan desa setempat, misalnya ada upacara tertentu di mana masyarakat desa tidak diperkenankan melaksanakan upacara kematian dan upacara pernikahan maka jenazah akan dikuburkan di kuburan setempat yang disebut dengan upacara Makingsan ring Pertiwi ( Menitipkan di Ibu Pertiwi).
Swasta
Swasta adalah upacara ngaben tanpa memperlibatkan jenazah maupun kerangka mayat, hal ini biasanya dilakukan karena beberapa hal, seperti: meninggal di luar negeri atau tempat jauh, jenazah tidak ditemukan, dll. Pada upacara ini jenazah biasanya disimbolkan dengan kayu cendana (pengawak) yang dilukis dan diisi aksara magis sebagai badan kasar dari atma orang yang bersangkutan.
Ngelungah
Ngelungah adalah upacara untuk anak yang belum tanggal gigi.
Warak Kruron
Warak Kruron adalah upacara untuk bayi yang keguguran.
Upacara ngaben secara konsepsional memiliki makna dan tujuan sebagai berikut: Dengan membakar jenazah maupun simbolisnya kemudian menghanyutkan abu ke sungai, atau laut memiliki makna untuk melepaskan Sang Atma (roh) dari belenggu keduniawian sehingga dapat dengan mudah bersatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam).Membakar jenazah juga merupakan suatu rangkaian upacara untuk mengembalikan segala unsur Panca Maha Bhuta (5 unsur pembangun badan kasar manusia) kepada asalnya masing-masing agar tidak menghalangi perjalan Atma ke Sunia Loka.Bagi pihak keluarga, upacara ini merupakan simbolisasi bahwa pihak keluarga telah ikhlas, dan merelakan kepergian yang bersangkutan.
Rangkaian Upacara Ngaben
Ngulapin
Upacara untuk memanggil Sang Atma. Upacara ini juga dilaksanakan apabila yang bersangkutan meninggal luar rumah yang bersangkutan (misalnya di Rumah Sakit, dll). Upacara ini dapat berbeda-beda tergantung tata cara dan tradisi setempat, ada yang melaksanakan di perempatan jalan, pertigaan jalan, dan kuburan setempat.
Nyiramin/Ngemandusin
Upacara memandikan dan membersihkan jenazah yang biasa dilakukan di halaman rumah keluarga yang bersangkutan (natah). Prosesi ini juga disertai dengan pemberian simbol-simbol seperti bunga melati di rongga hidung, belahan kaca di atas mata, daun intaran di alis, dan perlengkapan lainnya dengan tujuan mengembalikan kembali fungsi-fungsi dari bagian tubuh yang tidak digunakan ke asalnya, serta apabila roh mendiang mengalami reinkarnasi kembali agar dianugerahi badan yang lengkap (tidak cacat).
Ngajum Kajang
Kajang adalah selembar kertas putih yang ditulisi dengan aksara-aksara magis oleh pemangku, pendeta atau tetua adat setempat. Setelah selesai ditulis maka para kerabat dan keturunan dari yang bersangkutan akan melaksanakan upacara ngajum kajang dengan cara menekan kajang itu sebanyak 3x, sebagai simbol kemantapan hati para kerabat melepas kepergian mendiang dan menyatukan hati para kerabat sehingga mendiang dapat dengan cepat melakukan perjalanannya ke alam selanjutnya.
Ngaskara
Ngaskara bermakna penyucian roh mendiang. Penyucian ini dilakukan dengan tujuan agar roh yang bersangkutan dapat bersatu dengan Tuhan dan bisa menjadi pembimbing kerabatnya yang masih hidup di dunia.

Mameras
Mameras berasal dari kata peras yang artinya berhasil, sukses, atau selesai. Upacara ini dilaksanakan apabila mendiang sudah memiliki cucu, karena menurut keyakinan cucu tersebutlah yang akan menuntun jalannya mendiang melalui doa dan karma baik yang mereka lakukan.
Papegatan
Papegatan berasal dari kata pegat, yang artinya putus. Makna upacara ini adalah untuk memutuskan hubungan duniawi dan cinta dari kerabat mendiang, sebab kedua hal tersebut akan menghalangi perjalan sang roh menuju Tuhan. Dengan upacara ini pihak keluarga berarti telah secara ikhlas melepas kepergian mendiang ke tempat yang lebih baik. Sarana dari upacara ini adalah sesaji (banten) yang disusun pada sebuah lesung batu dan diatasnya diisi dua cabang pohon dadap yang dibentuk seperti gawang dan dibentangkan benang putih pada kedua cabang pohon tersebut. Nantinya benang ini akan diterebos oleh kerabat dan pengusung jenazah sebelum keluar rumah hingga putus.
Pakiriman Ngutang
Di laksanakan setelah upacara papegatan yang dilanjutkan dengan pakiriminan ke kuburan setempat, jenazah beserta kajangnya kemudian dinaikan ke atas Bade/Wadah, yaitu menara pengusung jenazah (hal ini tidak mutlak harus ada, dapat diganti dengan keranda biasa yang disebut Pepaga). Dari rumah yang bersangkutan anggota masyarakat akan mengusung semua perlengkapan upacara beserta jenazah diiringi oleh suara "Baleganjur" (gong khas Bali) yang bertalu-talu dan bersemangat, atau suara angklung yang terkesan sedih. Di perjalan menuju kuburan jenazah ini akan diarak berputar 3x berlawanan arah jarum jam yang bermakna sebagai simbol mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke tempatnya masing-masing. Selain itu perputaran ini juga bermakna: Berputar 3x di depan rumah mendiang sebagai simbol perpisahan dengan sanak keluarga. Berputar 3x di perempatan dan pertigaan desa sebagai simbol perpisahan dengan lingkungan masyarakat. Berputar 3x di muka kuburan sebagai simbol perpisahan dengan dunia ini.
Ngeseng
Ngeseng adalah upacara pembakaran jenazah tersebut, jenazah dibaringkan di tempat yang telah disediakan, disertai sesaji dan banten dengan makna filosofis sendiri, kemudian diperciki oleh pendeta yang memimpin upacara dengan Tirta Pangentas yang bertindak sebagai api abstrak diiringi dengan Puja Mantra dari pendeta, setelah selesai kemudian barulah jenazah dibakar hingga hangus, tulang-tulang hasil pembakaran kemudian digilas dan dirangkai lagi dalam buah kelapa gading yang telah dikeluarkan airnya.
Nganyud
Nganyud bermakna sebagai ritual untuk mengha=nyutkan segala kekotoran yang masih tertinggal dalam roh mendiang dengan simbolisasi berupa menghanyutkan abu jenazah. Upacara ini biasanya dilaksakan di laut, atau sungai.
Makelud
Makelud biasanya dilaksanakan 12 hari setelah upacara pembakaran jenazah. Makna upacara makelud ini adalah membersihkan dan menyucikan kembali lingkungan keluarga akibat kesedihan yang melanda keluarga yang ditinggalkan. Filosofis 12 hari kesedihan ini diambil dari Wiracarita Mahabharata, saat Sang Pandawa mengalami masa hukuman 12 tahun di tengah hutan.

KESIMPULAN
Upacara Ngaben sebagai salah satu dari bentuk Pitra Yadnya dalam wujud ritual Agama yang sakral. Perjalanan menuju Hyang Widhi Wasa atau disebut Acintya Bhuvana itu tidaklah harus berbekal harta benda yang mahal-mahal. Bekal yang paling penting adalah Subha Karma kita sendiri dan Subha Karma dari leluhur dan keturunan.Karena kita akan terus bereinkarnasi untuk memperbaiki Karma.


SUMBER
Buku berjudul Berbakti Pada Leluhur Upacara Pitra Yadnya dan Upacara Nuntun Dewa Hyang oleh Drs. I Ketut Wiana
https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/ngaben
id.wikipedia.org/wiki/Ngaben