Adat, Tradisi, Agama, Budaya Hindu Bali

Kamis, 26 Maret 2020

LANDASAN AJARAN AHIMSA DALAM KITAB BHAGAWADGITA DAN SARASAMUSCAYA

Oleh : 
NI KADEK ARSANI
NPM : 19.1.179
PRODI : AGAMA HINDU
SEMESTER: II


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN AGAMA HINDU AMLAPURA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA HINDU



KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,
            Rasa syukur yang sangat mendalam kita panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas Asung Kerta Wara Nugraha-Nya lah, sehingga makalah yang berjudul “Landasan Cinta Kasih tanpa kekerasan (Ahimsa) dalam kitab Bagawad Gita dan Sarasamuscaya” ini bisa terselesaikan dengan baik. Makalah ini membahas mengenai ajaran Ahimsa yang terdapat di dalam pustaka suci agama Hindu yaitu Bagawad Gita dan Sarasamuscaya yang disertai dengan kutipan sloka-slokanya.
            Semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca serta menumbuhkan rasa sadar dari pembaca maupun penulis tentang perlunya cinta kasih kepada sesama dan semua makhluk tanpa adanya kekerasan (Ahimsa) yang telah tercantum dalam kitab Bagawad Gita dan Sarasamuscaya. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada dosen Studi Agama-agama, I Komang Badra, S. Pd., M. Pd. H, karena telah memberikan tugas ini kepada kami sehingga kami dapat menambah wawasan dan pengetahuan dengan menyusun makalah ini. Ucapan terima kasih juga untuk semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
            Mohon maaf apabila ada kekeliruan kata dan penulisan yang terdapat dalam tulisan ini. Klungkung semarapura, kirang langkung nunas ampura, Suksma.
Om Santhi, Santhi, Santhi Om
                                                                                                            Pesaban 26 Maret 2020
                                                                                                                     
                                                                                                         Penyusun

         


,




DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1
PENDAHULUAN
1.2      Rumusan Masalah
1.3      Tujuan
1.4      Manfaat
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ahimsa
2.2 Ajaran Ahimsa dalam kitab Bhagawadgita
2.3 Ajaran Ahimsa dalam Kitab Sarasamuscaya
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Seiring dengan bergantinya zaman dan sampailah pada zaman kaliyuga ini yang merupakan zaman terakhir dari keempat zaman lainnya. Pada zaman ini, kebenaran dan kebajikan sudah mulai memudar dan orang-orang mulai melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama. Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya pemahaman dalam ajaran agama atau bahkan sudah memahami tetapi tidak melaksanakannya.
Seperti yang terlihat di masa sekarang  ini, orang-orang bersaing dan berlomba untuk memperoleh kepuasan duniawi baik itu kekayaan, kekuasaan, ketenaran ataupun ikatan maya lainnya. Rasa individualisasi muncul dan rasa saling memiliki serta cinta kasih terhadap sesama mulai memudar. Terjadi kriminalisasi dimana-mana, seperti pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, perzinahan dan masih banyak lagi. Perbuatan-perbuatan tersebut jelas telah menyimpang dari ajaran susila yang tercantum dalam pustaka suci. Salah satu ajaran yang melarang adanya perbuatan sejenis kekerasan seperti itu adalah ajaran Ajaran Ahimsa terdapat diberbagai pustaka suci Hindu, seperti Sarasamuscaya, Bhagavadgita, Whraspati Tattwa, dan pustaka lainnya.
Oleh karena hal tersebut diatas, maka melalui makalah ini penulis ingin menguraikan mengenai salah satu bagian dari Panca Yama Brata yang merupakan pokok ajaran Subhakarma yaitu ajaran Ahimsa yang tercantum dalam pustaka suci Hindu khususnya kitab Sarasamuscaya dan Bhagawadgita yang merupakan pustaka suci yang paling dikenal oleh umat pada umumnya.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana landasan ajaran Ahimsa yang tercantum dalam kitab Bhagawadgita ?
2.      Bagaimana landasan ajaran Ahimsa yang terdapat dalam kitab Sarasamuscaya ?



1.3  Tujuan
1.       Untuk mengetahui dan memahami landasan ajaran Ahimsa dalam kitab Bhagawadgita.
2.       Untuk mengetahui dan memahami landasan ajaran Ahimsa dalam kitab Sarasamuscaya.
1.4  Manfaat
1.      Menambah wawasan dan pengetahuan pembaca dan penulis tentang landasan ajaran Ahimsa yang terdapat dalam pustaka suci Hindu.
2.      Menambah kajian dan sumber pengetahuan yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar agama Hindu.




















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ahimsa
            Kata Ahimsa berasal dari dua kata yaitu “A” yang berarti tidak, dan “Himsa” yang berarti membunuh. Terdapat salah satu sloka yang dalam Veda yang mengatakan “Ahimsaya paro dharmah” yang artinya “Dharma atau kebajikan tertinggi adalah Ahimsa”.
Ahimsa berarti tidak melakukan kekerasan atau tidak melukai. Ahimsa mengajarkan bahwa seseorang harus menganggap semua mahluk hidup adalah perlambangan dari Tuhan dan sehingga seseorang itu tidak boleh melukai pikiran,dengan kata-kata,atau perbuatan mahluk lainnya.
Doktrin ahimsa yang lain termasuk unsur penting berikut ini :
a). Dari sudut pandang tanpa kekerasan,ahimsa berarti cinta universal untuk semua mahluk. Karena Tuhan yang maha esa berada dalam semua mahluk.cinta antara mahluk adalah cinta pada Tuhan.
b). Sangatlah tidak mungkin untuk mempertahankan keberadaan dalam dunia fisik ini tanpa melukai atau membunuh beberapa mahluk. Dalam semua situasi dan keadaan harus dengan cermat diterapkan agar dapat mengarungi jalan ahimsa.
c). Ahimsa mengajarkan rasa sayang pada tanaman dan pohon. Kasih sayang pada tanaman dan pepohonan diajarkan oleh resi Hindu, yang meminta agar orang-orang mengikuti Vana Devata, makhluk svarga yang bersemayam dalam tumbuhan. Dengan menerapkan ahimsa pada hidup tanaman, Hindu adalah agama pertama yang menyadari pentingnya untuk melindungi lingkungan.
"Engkau tidak boleh menggunakan tubuh yang diberikan Tuhan untuk membunuh makhluk Tuhan, Apakah mereka manusia, binatang atau apapun."(yajur veda samhita 12.32)



2.2 Ajaran Ahimsa dalam kitab Bhagawadgita
Di dalam kitab Bhagawadgita terdapat ajaran Ahimsa yang diajarkan kepada Arjuna ketika berada di medan perang Kurukshetra. Sri Krishna menguraikan bahwa pembunuhan dalam peperangan bukanlah suatu perbuatan yang berdosa karena membunuh musuh dalam perang adalah salah satu pembunuhan yang dibenarkan. Seperti yang dijelaskan dalam sloka di bawah ini:
Vedavinasinam nityam ya enam ajam avyanam
Katham sa purusah partha kam ghatayati hanta kam
                                                                                Bhagavadgita (Sloka 2.21)
Artinya:       
Wahai Partha, bagaimana mungkin orang yang mengetahui bahwa sang roh musnahkan, bersifat kekal, tidak dilahirkan dan tidak pernah berubah dapat membunuh seseorang atau menyebabkan seseorang membunuh ?
            Dari sloka diatas dapat dipahami bahwa seseorang yang membunuh, tidaklah dapat memusnahkan roh atau atman seseorang, yang terbunuh tersebut hanyalah badan kasar atau Sthula Sariranya saja. Akan tetapi meskipun roh tidak dapat dimusnahkan, bukan berarti bahwa seseorang diberikan kebebasan untuk menyakiti atau membunuh orang lain.
Kekerasan dibenarkan untuk dilakukan apabila kekerasan tersebut demi memperoleh keadilan yang utama. Hanya orang-orang yang memiliki pengetahuanlah yang dapat memahami bahwa kekerasan tidak hanya merupakan suatu perbuatan yang tidak baik, tetapi kekerasan memiliki kegunaan tergantung pada bagaimana seseorang menggunakannya. Contoh kecilnya seperti operasi pembedahan terhadap seseorang yang menderita sakit yang tujuannya bukan untuk menyakiti penderita tersebut, tetapi tidak lain adalah untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya.
Kaitannya dengan kekerasan atau pembunuhan yang dilakukan oleh para ksatriya dalam pertempuran, diuraikan dalam sloka sebagai berikut:

Yadrcchaya copapanam svarga-dvaram apavrtam
Sukhinah ksatriyah partha labhanteyuddham idrsam
                                                                                             Bhagavadgita (Sloka 2.32)
Artinya:         
Wahai Partha, berbahagialah para ksatriya yang mendapatkan kesempatan untuk bertempur seperti itu tanpa mencarinya – kesempatan yang membuka pintu gerbang planet-planet surga mereka.
                                    Dalam percakapan Arjuna dan Sri Krishna di medan perang Kurukhsetra, Arjuna merasa bimbang dan bingung pada saat akan menghadapi pertempuran antara pihak Pandawa dan Kurawa dimana ia bertempur melawan sanak saudaranya. Krishna memberikan pencerahan dan pemahaman kepada Arjuna bahwa bertempur adalah sudah merupakan kewajiban seorang ksatriya. Apalagi pertempuran itu bukanlah keinginan dari pihak Arjuna, jadi meskipun ia membunuh musuh di medan perang bukanlah perbuatan yang berdosa dan apabila Arjuna terbunuh maka ia akan langsung mencapai surga, begitupula pihak musuh yang terbunuh dalam pertempuran.
                                    Dari beberapa kutipan sloka Bhagavadgita diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kekerasan atau membunuh (Ahimsa) tidak hanya merupakan perbuatan yang berdosa atau tidak dibenarkan, akan tetapi juga merupakan suatu perbuatan yang memiliki kegunaan seperti untuk memperoleh keadilan dan dapat dilakukan oleh para ksatriya pada saat pertempuran di medan perang.

2.3 Ajaran Ahimsa dalam Kitab Sarasamuscaya   
            Dalam kitab Sarasamuscaya terdapat ajaran tentang cara bertingkah laku untuk diri sendiri dan untuk hidup bersama dengan orang lain. Berbagai suruhan, larangan mengenai tingkah laku disajikan dalam pustaka Sarasamuscaya. Tentu saja semua ajaran tersebut berlandaskan pada ajaran agama Hindu. Ajaran yang disampaikan dengan tujuan mencapai kelepasan dari belenggu penderitaan, sesuai dengan tujuan agama Hindu.
Kitab Sarasamuccaya terdiri dari sebuah pengantar pendek dan 517 sloka yang diterangkan dalam bahasa Jawa Kuna. Kitab ini adalah kitab etika untuk pemeluk agama Hindu di Indonesia.
“ The Sarasamuccaya is the Gita of the Balinese Hindus,”
- Sarasamuccaya adalah Bhagavadgitanya orang-orang Bali pemeluk agama Hindu.
Demikian ucapan Raghu Vira M.A. PH.D. dalam bukunya Sarasamuccaya. Memang benar adanya bahwa isi dari Sarasamuccaya adalah buku pedoman bertingkah laku yang baik di dalam kehidupan ini.
Jiiwitam yah swayam hiicchetakatham so’nyaan praghaatayet,
Yadyadaatmani hiccheta tat parasyaapi cintayet
                                                                                  Sarasamuscaya (Sloka 136)
Apan ikang wwang kahat ri huripnya, apa nimittanikam panghilangaken praana ning ika taatan harimbawaa kta ya, ikang sanukhana ryawaknya, ya ta angenangenenya, ring len.
Artinya:         
Apabila orang sayang kepada nyawanya sendiri, mengapa ingin mencabut nyawa lain makhluk ? Hal ini tidak menghiraukan orang lain namanya. Apa saja yang rasanya menyenangkan untuk dirinya sendiri, itulah yang harus diperbuat terhadap orang lain.
            Terdapat salah satu istilah sloka dalam Hindu “Vasudaiva Kutumbakam” yang artinya kita semua bersaudara atau semua jenis kehidupan sebagai satu keluarga. Ini berarti bahwa BRAHMAN, Tuhan yang meresap pada semua mahluk, yang menyatu pada semua mahluk hidup, apakah manusia,binatang,atau serangga. Semua perbuatan, pemikiran kata-kata yang menyakiti mahluk hidup adalah sebuah dosa bagi semua mahluk ciptaan, termasuk pendosa itu sendiri. Kitab Hindu (seperti Rg Veda 10.37.11, Atharva Veda 19.48.5 dan 10.191.4, Devikalottara agama dan Sandilya Upanisad) menyatakan bahwa tidak boleh melukai mahluk hidup.

            Dauskulaa wyaadhibahulaa duraacaaraah prahaarinah,
            bhawantyalpaayusah paapaa roduka kasmalodayaat.
                                                                                            Sarasamuscaya (Sloka 148)
Kuneng tikang wwang mangke kramanya, mangjanma ring wwang kasmala, wyaadhi ta ya, duraacaaraa, hingsaaprawrrti, alpaayusa, dumeh ya mangkana, kruurakarma nguuni ring puurwajanmanya kalinganika.
Artinya:       
Adapun orang yang keadaannya pada kehidupan ini menjadi manusia penuh dosa, penyakitan, jahat, suka membunuh, pendek umur, maka semua itu menurut ajaran agama adalah pahala yang didapatnya dari perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan dalam penjelmaannya yang lampau.

           Yasyaante swaapi caranaukurute muurddhanya Sankitah,
           Sa kaayah parapiidanair dhaaryata iti ko nayah.
                                                                                                        Sarasamuscaya (Sloka 137)
           Lawan waneh, ikang sarira ngaranya, anitya pinaka swabhaawanya, tan lanaa, apan ri paatinya, tan pamuulya ya, mastakanya tuwi linangkahaning srgaala, an mangkana tattwanya, aparan ta rakwa ya, inguni makasaadhanang parapiida, ndya ta yogyanika.
Artinya:         
Bahwa sesungguhnya badan kasar ini tidak kekal keadaannya; kalau ia mati tidak berharga lagi karena sesungguhnya kepalanyapun dapat dilangkahi anjing demikianlah sebenarnya. Oleh sebab itu mengapa sampai mencelakakan orang lain untuk memelihara badan kasar ini. Apakah sepatutnyakah demikian ?
                       Sthula sarira atau badan kasar yang merupakan bagian Tri Sarira, memiliki sifat tidak kekal. Badan kasar ini selalu berganti dan mengambil wujud lain di setiap kelahiran selama siklus penjelmaan yang berulang-ulang (Punarbhawa/Samsara). Oleh karena itu, jika untuk memelihara dan memberi kepuasan pada badan kasar tersebut dengan melakukan cara atau jalan yang menimbulkan kesengsaraan atau menyiksa makhluk lain, tidaklah benar karena tujuan kita lahir kembali adalah untuk memperbaiki karma atau perbuatan kita dan agar pada kehidupan selanjutnya atma tidak lagi mengambil wujud badan kasar tetapi dapat menyatu dengan Brahman.

           Wadhabandhapariklesaan praanino na karoti yah,
           Sa sarwasya hitam prepsuh sukhamatyantamasnute
                                                                                                        Sarasamuscaya (Sloka 141)
           Hana mara wwang mangke kramanya; tapwan pagawe pariklesa ring praani, tan pangapusi tan pamati, kewala sanukhana ring prani tapwa ginawenya, ya ika sinanggih paramasukha ngaranya.
Artinya:         
Jika ada orang yang tidak pernah melakukan perbuatan yang mencelakakan makhluk lain, tidak menipu, tidak membunuh, dan hanya hal-hal yang menyenangkan yang diperbuatnya selalu terhadap semua makhluk, maka ialah yang mendapat kebahagiaan tertinggi.
Itulah pahala yang didapatkan apabila seseorang tidak melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan kesengsaraan dan menyakiti orang lain. Orang tersebut dapat mengantarkan atmanya untuk mencapai kebahagiaan tertinggi yaitu terlepasnya atman dari ikatan duniawi (Panca Maya Kosa) dan bersatunya atman dengan Brahman (Moksa).

           Ekam suute mrgaarinii bahuun suute wrkisutaan,
           Attaarah pralayam yaanti naadyamaanaah kathancana
                                                                                                        Sarasamuscaya (Sloka 140)
           Nihan paajara sakareng naang kidang, sakatunggal denika maanak, kunang ikang srgaala, maanak ika sakapitu nem, kalinganika, ring nem pitu, tan ahurip ika kabeh, apan ikang amangan, upalaksana ring makaarya ring hala, ya ika kagonganing wighna, kunang ikang pinangan, sdalwirning kinaarya ring hala, taha ika.

Artinya:         
Kini diumpamakan sebagai kidang yang menjadi makanan harimau, Kidang itu beranak seekor, harimau beranak enam atau tujuh sekali, tetapi walaupun enam atau tujuh tidak hidup, itu semuanya, sebab ia masuk golongan yang memakan makhluk hidup lain. Harimau yang melakukan perbuatan membencanai makhluk lain, menerima pahalanya yang celaka, sedang yang dimakan yaitu kidang yang dibencanai itu tidak menerima nasib yang celaka.
            Dari perumpaan hewan kidang dan harimau diatas, dapat dimaknakan bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan baik itu baik maupun buruk, pasti akan mendatangkan hasil sesuai dengan perbuatan tersebut yang biasa disebut dengan istilah Karmaphala. Jika dalam hidupnya seseorang selalu menimbulkan kesengsaraan dan menyakiti makhluk lain, maka phala atau hasil perbuatannya itu akan mengikutinya. Sebaliknya, orang yang selalu dikenai kesengsaraan oleh orang lain pasti suatu saat ia dapat terhindar dari nasib celaka.

                        Yaccintayati yadyaati ratin badhnaati yatra ca,
                        Tahtaa caapnotyayatnena praanino na hinasti yah
                                                                                                          Sarasamuscaya (Sloka 142)
                        Kuneng phalanya nihan, ikang wwang tan pamaatimaatin haneng raat, senangenangenya, sapinaranya, sakahyunya, yatika sulabha katemu denya, tanulihnya kasakitan.

Artinya:       
Pahalanya orang yang tidak membunuh-bunuh (menyakiti) di dunia ini ialah bahwa segala yang diingini, semua yang ditujunya, segala yang dipikirkannya, dengan mudah tanpa penderitaan pasti tercapai olehnya.
Seseorang yang tidak pernah melakukan perbuatan yang menyakiti dan menimbulkan kesengsaraan orang lain, maka orang tersebut pada kehidupan sekarang ataupun yang akan datang, kecil kemungkinan untuk ia disakiti oleh orang lain kecuali jika ia masih mempunyai bekas-bekas karmawasana di kehidupan terdahulu. Selain itu, pahala orang yang tidak suka menyakiti makhluk lain yaitu tujuan atau keinginan yang ingin dicapainya akan lebih mudah diperolehnya seperti yang disebutkan dalam sloka diatas.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
                Ahimsa adalah salah satu ajaran etika dalam Agama Hindu yang merupakan bagian dari Panca Yama Brata. Ahimsa berarti tidak membunuh atau tidak menyakiti. Di dalam kitab Bhagawadgita, Sarasamuscaya dan pustaka suci Hindu lainnya terdapat larangan atau ketidakutamaan orang yang melakukan Himsa Karma terhadap makhluk lain. Akan tetapi, terdapat pula beberapa macam pembunuhan yang dibenarkan, seperti membunuh dalam perang seperti Arjuna, membunuh untuk memperoleh keadilan seperti hakim, membunuh karena merupakan tugas atau kewajibannya seperti brahmana yang melakukan yadnya, membunuh karena ingin membela diri, serta membunuh untuk makan dan mempertahankan hidup. Konsep ajaran Ahimsa tidak hanya mengenai perbuatan yang tidak membunuh atau menerapkan vegetarianisme saja, akan tetapi Ahimsa harus terimplementasi dari konsep ajaran Tri Kaya Parisudha.

3.2 Saran
                Sebagai umat Hindu yang meyakini adanya ajaran Ahimsa, seharusnya kita memahami dan mencari kebenarannya ajaran dalam pustaka Suci yang kita miliki. Kemudian mengimplementasikannya sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan masing-masing tanpa adanya paksaan.













DAFTAR PUSTAKA

Sudharta, Tjok. Rai. 2009. Sarasamuccaya Smerti Nusantara. Surabaya: Paramita.
Prabhupada, Swami. 2006. Bhagavadgita Menurut Aslinya. Indonesia: Hanuman Sakti.
I Nyoman Kajeng , dkk. 1997. Sarasamuscaya dengan teks Bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno. Surabaya: Paramita.

Panca Maha Bhuta

Oleh:
I Made Yadnya
NPM:19.1.163
Hari/tgl:Kamis/26-03-2020

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Keberadaan alam semesta ini “ Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit “ tidak dapat terlepas dari keberadaan Brahmana. Kurun waktu Brahmana menciptakan semua semua yang ada dimulai pada masa srsti. Suatu saat bila beliau menghendaki maka yang semua ada ini kembali kepada asalnya. Periode ini disebut dengan istilah pralaya. Kapan semuanya itu terjadi, tidak seorang pun dapat mengetahui secara pasti. Brahmana yang tunggal dan mengetahui semuanya ini sering disebut Sang Hyang Widhi Wasa. Beliau juga disebut dengan panggilan Tuhan Yang Maha Esa.
Umat hindu menyakini sepenuhnya bahwa Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa bersifat maha pencipta, pengasih dan pemurah. Beliau telah menciptakan alam semesta berserta isinya termasuk manusia. Dengan sifatnya yang maha pengasih,beliau memeliharasemua yang ada ini.Dan dengan sifatnya yang pemurah,beliau selalu mengampuni ciptaan-Nya yang selalu sujud dan bhakti.Pada alam semesta” Bhuwana Agung” semua jenis mahluk hidup termasuk manusia”bhuwana alit”hidup dan berkehidupan secara alami.

1.2    Rumus Masalah
1.   Jelaskan apa yang dimaksud dengan Bhuwana Agung?
2.   Jelaskan apa yang dimaksud dengan Buwana Alit ?

1.3    Tujuan
1.   Untuk mengetahui tentang Bhuwana Agung
2.   Untuk mengetahui tentang Buwana Alit





BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Bhuwana Agung
a.  Pengertian Bhuwana Agung
Kata bhuana agung adalah istilah yang dipergunakan dalam agama hindhu untuk menyebutkan alam semesta atau alam raya. Bhuana agung juga disebut dengan istilah Makrokosmos,jagat raya, alam besar, dan Brahmanda. Semua gugusan: matahari, planet, bintang, bumi, bulan dan yang menjadi isi alam semesta ini disebut Bhuana Agung. Kitab Brhad aranyaka upanisad, menjelaskan bahwa bhuana agung diciptakan oleh Tuhan. Ida Sang Hyang widhi Wasa yang abstrak/ niskala dilukiskan dalam wujud personifikasi sebagai alam semesta ini.
            Bhuana Agung artinya alam raya ( besar ). Jadi semua yang ada di alam semesta ini termasuk gugusan bintang, matahari, planet, bumi dengan segalaisinya ini yang disebut bhuana agung. Istilah lainnya adalah jagat raya,makrokosmos, atau brahmanda.Penggambaran jagat raya termasuk proses penciptaannya banyak diuraikandalam beberapa kitab suci Hindu Seperti Brhad Aranyaka Upanisad, BrahmandaPurana, Agastya Parwa dan sebagainya.Kapan sesungguhnya alam semesta ini tercipta, sangat sulit dipastikan,mengingat keterbatasan kemampuan dan umur manusia. Bebrapa peneliti danilmuwan mencoba untuk membuat teori tentang penciptaan alam semestatetapi tidak satupun dapat memastikan kapan alam ini tercipta.Menurut Ktab-kitab suci Hindu teori penciptaan jagat raya banyak diuraikanyang jika dicermati dan dipelajari dengan penuh keyakinan maka alam semestaini mengalami keadaan dimana jagat raya ini pernah tidak ada, lalu ada,kemudian tidak ada lagi, demikian seterusnya berulang-ulang.Pada saat alam semesta ini meng”ada” disebut masa “ Srsti “ atau “ Brahmadiwa “ ( siang hari Brahma ).Sedangkan pada waktu alam ini meniada disebut “ Pralaya ” atau “ Brahmanakta ” ( malam hari Bharma ).Masa Srsti digabungkan dengan masa Pralaya disebut satu Kalpa atau satuhari Brahman.
            Proses dari tidak ada menjadi ada alam semesta ini berlangsung secaraberjenjang, dari jenjang yang amat halus dan tidak berwujud ( gaib / niskala )sampai pada jenjang yang berwujud dan sangat kasar ( nyata / sekala )

b.  Proses Terjadinya Bhuwana Agung
            Menurut ajaran Agama Hindu dinyatakan bahwa alam semesta ini berasal dari Bhatara Siwa, yang disebut juga Rudra. Proses terjadinya alam semesta ini dimulai dari tahapan yang sangat halus dan gaib (niskala), berevolusi ke tahap yang semakin kasar atau nyata (sekala). Disebutkan ada duabelas tahapan yang disebut “Tattwa rwawelas”.Rudra merupakan asal mula alam semesta ini, beliau berkeadaan sunya (sepi). Dari Rudra muncullah Sang Purusa “Brahma” yang merupakan benih kehidupan bersifat nitya (abadi). Selain sifat Purusa muncul juga Awyakta (Pradhana atau Prakerti) yang bersifat material. Dari Awyakta (Wisnu) muncul Budhi yang bersifat sattwa sebagai asa kesadaran. Dari Budhi muncullah Ahamkara yang bersifat rajas sebagai asas individualis. Dari Ahamkara muncullah yang bersifat tamas yaitu Panca Tan Matra yang kemudian memunculkan Manah yang merupakan asas akal dan pikiran. Dari Manah muncullah Akasa yang bersifat sabda (suara). Dari Akasa muncullah Bayu yang bersifat sabda, sparsa (suara dan rabaan). Dari Bayu muncullah Agni yang bersifat sabda, rupa, rasa (suara, rupa dan rasa). Dari Agni muncullah Apah yang bersifat sabda, sparsa, rupa, rasa (suara, rabaan, rupa dan rasa). Dari Apah muncullah Perthiwi bersifat sabda, sparsa, rupa, rasa, dan gandha (suara, rabaan, rupa, rasa, dan bau) yang merupakan bagian dari Panca Tan Matra. Sedangkan Akasa, Bayu, Teja, Apah dan Perthiwi adalah bagian dari Panca Maha Butha.kedua unsure inilah yang membangun alam semesta.
Tuhan menciptakan alam semesta berdasarkan Tapa yang memunculkan dua kekuatan yang saling melengkapi yaitu Purusa bersifat kejiwaan dan Prakerti bersifat kebendaan yang memunculkan zat yang sangat halus yaitu Citta yang berpengaruh pada Tri Guna yaitu Satwam bersifat bijaksana Rajas bersifat aktif dan Tamas bersifat gelap. Melalui Prakerti dan Tri Guna maka bergeraklah unsur-unsur yang menjadikan alam semesta seperti Pramanu, Akasa, Kola, dan Dik. Pramanu dan Akasa disebut juga Panca Maha Bhuta. Panca Maha Bhuta kemudian berevolusi terciptalah Brahmanda-Brahmanda dalam jagat raya, salah satu wujud Brahmanda adalah bumi.

2.2  Bhuwana Alit
a. Pengertian Bhuwana Alit
Bhuwana Alit adalah dunia kecil yang unsur-unsurnya sama dengan Bhuwana Agung. Bhuwana Alit sama dengan Diri manusia. Bhuwana Alit disebut juga dengan Mikrokosmos. Unsur-unsur Bhuwana Alit pada diri manusia terdiri atas unsur Purusa menjadi Jiwatman, sedangkan unsur Prakerti menjadi bahan manusia, baik itu badan halus atau suksma sarira maupun badan kasar atau stula sarira.

b.  Unsur-Unsur Bhuana Alit
-              purusa
-               prakerti
-               tri antah karana (buddhi, manas, ahamkara)
-              panca buddhindria
-               panca karmendria
-               panca tan matra
-              panca maha butha


                                                                   



BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Bhuwana Agung adalah merupakan salah satu dari berbagai istilah yang dipergunakan dalam Agama Hindu untuk menyebutkan alam semesta atau alam raya ini. Bhuwana agung juga disebut dengan istilah “ Makro- kosmos,jagat raya, alam besar, Brahmanda”. Semua gugusan ,matahari, bintang, planet,bumi,bulan, dan yang menjadi isi alam semesta ini disebut Bhuwana Agung.
Kitab Brhad Aranyaka Upanisad, menjelaskan bahwa Bhuwana Agung diciptakan oleh Tuhan. Ida Sang Hyang Widhi Wasa  yang bersifat abstrak atau niskala dilukiskan kan dalam wujud personifikasi sebagai alam semesta ini. Hidup dan berkehidupan diantara yang tercipta ternaksud manusia di alam semesta ini,satu dengan yang lainya sangat sulit untuk dapat dipisahkan. Karna sesungguh semua yang ada ini berasal dari sumber pencipta.unsur-unsur penciptanya pun diyakini berasal dari sumber bahan yang sama.keberadaa manusia (bhuwana alit) tidak dapt dipisaghkan dengan bhuwana agung.

3.2    Saran
Adapun saran dari makalah ini adalah dalam makalah ini masih banyak kesalahan dalam penyusunan.Dalam makalah ini untuk itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat diharapkan.







DAFTAR PUSTAKA
Www.wordepress.com/2010/10/11/proses-terjadinya-bhuwana agung -atau alam semesta.
Www.jalanallah.com /statis -18-ajaran hindu 14html
Id.wikipedia.org./wiki/agama hindu.

Kanda Pat

Oleh:
Ni Nyoman Ranis Sutiawati


Pendahuluan
Masyarakat Bali adalah masyarakat yang terkenal dengan kebudayaan yang unik. Terdapat beberapa kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat Bali, salah satunya kepercayaan akan adanya 4 saudara yang menyertai saat setiap kelahiran manusia, yang disebut sebagai Kanda Pat (Nantra, 2011). Menurut kitab suci Lontar Tutur Panus Karma, nama-nama Kanda Pat berubah-ubah menurut keadaan/ usia manusia itu sendiri (Sandhi, 2016). Kanda Pat diyakini oleh umat Hindu di Bali akan mempengaruhi perkembangan fisik maupun psikis manusia untuk menjadi sehat atau sakit, sukses atau tidak sukses, menderita atau bahagia. Kanda Pat akan terus menyertai manusia di setiap perkembangan manusia dari umur keumur. Dalam lontar "Aji Maya Sandhi" disebutkan ketika manusia sedang tidur, maka Kanda Pat dapat keluar dari tubuh manusia dan bergentayangan, ada yang duduk di dada, di perut, di tangan dan sebagianya, sehingga mengganggu tidur manusia, oleh karena itu perlu dibuatkan pelangkiran untuk stananya agar mereka dapat melaksanakan tugas sebagai "penunggu urip". Jika itu dilaksanakan maka manusia akan tidur dengan tenang dan nyenyak karena sudah ada yang menjaga dari segala bentuk gangguan roh jahat (Yendra & Pekandelan, 2016).

Penjelasan
Pengertian Kanda Pat
Secara etimologis, Kanda Pat terdiri dari dua kata, yaitu Kanda dan Pat, dimana Kanda itu berarti teman dan Pat berarti empat. Jika kedua kata tersebut digabung, maka akan memberi arti empat teman yang didefinisikan sebagai empat kekuatan Tuhan yang selalu menyertai roh (atman) manusia sejak manusia dilahirkan sampai meninggal dunia (Sandhi, 2016). Kanda Pat dipercayai sebagai empat saudara kandung manusia yang menemani manusia sejak ia dilahirkan sampai meninggal. Adapun keempat saudara tersebut sudah ada sejak dalam kandungan yang dipercayai sebagai unsur-unsur yang membentuk manusia untuk bisa dilahirkan ke dunia. Unsur-unsur ini meliputi getih (darah), lamas (lemat kulit/tali puser), yeh nyom (ketuban), ari-ari (plasenta) yang disebut Catur Sanakatau Kanda Pat. Dan apabila nanti sudah meninggal, maka unsur ini akan kembali kepada asalnya (Suhardana, 2010). Menurut kitab suci Lontar Tutur Panus Karma, nama-nama Kanda Pat berubah-ubah menurut keadaan atau umur manusia. Setelah meninggal, Kanda Pat akan bersatu kembali kepada Tuhan (Kusuma, 2012).
Kanda Pat dan Manusia
Manusia lahir adalah hasil dari hubungan asmara orang tuanya disertai dengan kelahiran saudara empatnya tersebut atau Kanda Pat. Bentuk Kanda Pat yang dapat dilihat dan diraba secara nyata, yaitu terdiri dari empat macam berupa ari-ari, lamas, getih dan yeh nyom. Setelah mereka dikuburkan saat kelahiran bayi, maka perubahan selanjutnya adalah abstrak (tak berwujud) namun dapat dirasakan oleh manusia yang kekuatan bathinnya terpelihara (Pinatih, 2016). Keempat teman yang abstrak ini terus menyertai manusia sampai meninggal (Kusuma, 2012).
Didalam lontar-lontar di Bali maupun dalam buku medis, diketahui bahwa unsur laki-laki dan wanita memiliki beberapa macam sebutan :
Unsur laki-laki disebut kama petak, sukla, kamajaya, Sang Hyang Semara, sperma, sel mani, air mani.
Unsur wanita disebut kama bang, swanita, kama ratih, Dewi Ratih, ovum, sel telur.
Bayi dalam kandungan dapat terwujud karena pertemuan antara kama petak dan kama bang, atau pertemuan antara cukla yang keluar dari purusa (laki-laki) dan swanita yang keluar dari pradana (wanita). Karma petak adalah air mani laki-laki yang juga disebut cukla, disimbulkan dengan Sang Hyang Semara dan karma bang adalah air mani perempuan yang disebut swanita, yang disimbulkan dengan Dewi Ratih. Kama petak dan kama bangini setelah bersatu disebut cukla-swanita, yang disimbulkan dengan Sang Hyang Semara Ratih yang nantinya akan bertumbuh menjadi bayi di dalam kandungan. Pertemuan ini dibenarkan secara agama, apabila dilakukan oleh suami istri yang sah (Kusuma, 2012).
Ketika bayi dilahirkan, maka dia akan memiliki empat saudara yang disebut dengan Catur Sanak. Keempat saudara si bayi ini merupakan wujud nyata saat seorang ibu melahirkan bayinya ke dunia, akan tetapi dalam wujud abstrak, keempat saudara ini tidak dapat dilihat. Namanya pun berubah-ubah sesuai dengan pertumbuhan si bayi. Adapun yang tergolong saudara empat tersebut atau Kanda Pat Rare antara lain :
Yeh nyom (air ketuban)
Timbul sejak umur kehamilan 3 bulan dan semakin banyak jumlahnya mengikuti umur kehamilan, sampai bulan kesepuluh yang menjadikan seolah-olah terbenam dalam cairan tersebut. Cairan ini disebut yeh nyom atau air ketuban. Janin itu sendiri sangat memerlukan yeh nyom karena berfungsi antara lain: menjaga supaya jangan sampai ada perlekatan antara amnion dengan janin, menjamin janin dapat tumbuh dengan sempurna, menjaga agar tali pusar, tidak mudah tertekan oleh janin, dan perlindungan buat janin jika ibu terbentur atau mendapat pukulan dari luar (Kusuma, 2012). Yeh nyom berperan sebagai pembuka jalan bagi kelahiran seorang bayi.
Getih (darah)
Didalam rahim seorang ibu, ada ruangan-ruangan berisi darah yang berasal dari si ibu. Darah vena berguna untuk mengangkut zat makanan ke dalam tubuh anak (janin) dan darah arteri adalah untuk mengeluarkan ampas pertukaran zat dari tubuh anak (janin). Kedua macam darah itu hanya terpisah oleh ruangan intervillairitu berada pada plasenta dimana didalam plasenta itu terdapat bermacam-macam peredaran darah yang amat banyak yang berfungsi untuk memberikan makanan kepada bayi. Jadi begitu besar peranan getih(darah) untuk kelangsungan hidup bayi ini untuk dapatberkembang sampai ia siap dilahirkan oleh si ibu.
Banah/lamas (lemak pada kulit/vernix caseosa)
Banas atau lemak pada kulit tumbuh sekitar bulan kelima sejak terjadinya pembuahan. Dengan adanya jaringan lemak dibawah kulit ini janin dapat tumbuh dengan cepat, termasuk tulang-tulang dan ototnya sehingga badan janin tampaknya lebih bundar dan gemuk.
Ari-ari (plasenta)
Ari-ari (plasenta) tidak kalah pentingnya dari saudara-saudaranya yang lain yaitu sebagai pusat terbentuknya hormon-hormon, sebagai schok beaker dan sebagai pengatur suhu disekelilingnya agar tetap konstan. Ari-ari juga dianggap sebagai jembatan penghubung dari bayi dengan ibu dimana dia dapat sebagai penyalur sari-sari makanan.
Melihat uraian diatas, Kanda Pat itu besar sekali fungsinya dalam menjaga serta memelihara si bayi selama ada dalam kandungan sampai ia lahir di dunia. Menurut mitologi, si bayi telah berjanji tidak akan melupakan keempat saudaranya itu, kalau sampai lupa maka keempat saudaranya tidak akan menjaganya lagi. Janji itu diberikan dengan harapan pada saat si bayi lahir agar di tolong mencari jalan keluar, yaitu ada yang membukakan pintu (yeh nyom), ada yang memapah dari kiri dan kanan (getihdan lamas) da nada yang mengantar dari belakang (ari-ari). Maka dari itu, tidak salah kalau mereka disebut Catur Sanakatau Kanda Pat Rare, karena merekalah yang yang selalu menemani si bayi. Terkecuali lewat operasi caesar, tidak menjadi ajaran Kanda Pat Rare, yang menginginkan seorang bayi dapatlahir normal.
Menurut buku upacara manusa yadnya, nama-nama Kanda Patsaat janin pertama kali terbentuk bernama Catur Kanuyaitu : Babu Abra, Babu Kakere, Babu Sugian, Babu Lembana. Selanjutnya setelah janin berumur 20 hari, nama Catur Kanu itu berubah menjadi : Anta, Preta, Kala, Dengen. Yang bernama Antaadalah Ari-ari (plasenta), Pretaadalah Banah/Lamas (vernix caseosa),Kalaadalah Getih (darah), Dengen adalah Yeh nyom (air ketuban), sedangkan bayi bernama Ipung.Setelah bayi lahir, maka nama Kanda Patitu berubah lagi yaitu : I Mekair, I Mokair, I Jalair, I Salabir, sedangkansi bayi bernama Sang Hyang Legaprana.
Sedangkan menurut lontar Madu Kama, nama-nama ini diberikan saat kepus pungsed. Setelah anak mulai memanggil ibunya (orang tuanya) maka berubah nama lagi menjadi : Anggapati, Mrajapati, Banaspati, Dan Banaspati raja, sedangkan si anak bernama I Wija. Saat ini Kanda Pat ini dinamakan Kanda Pat Bhuta. Setelah menginjak dewasa, saudara empatnya berubah menjadi Sang Sidasakti, Sang Sidarasa, Sang Mas Kuwide, Sang Aji Putra Putih, sedangkan si anak bernama i lisah dan dinamakan Kanda Pat Sari.
Setelah anak menjadi tuamaka berganti pula nama-nama Kanda Patmenjadi : I Pogdala, I Krodha, I Sari, I Wacrap, dan si anak bernama Maranurasi. Setelah kembali ke alambaka atau meninggal, nama saudara empat tersebut berganti lagi menjadi : Suratmayang tertua (Wayahan), Jogormanikyang kedua (Madenan), Mahakalayang ketiga (Nyoman) dan Dorakalayang keempat (Ketut), sedangkan anak yang meninggal disebut i panji. Saat ini mereka dinamakan Kanda Pat Atma.
Setelah diadakan upacara pitra yadnyaatau ngabendan memukurmaka dinamakan Kanda Pat Dewayang masing-masing saudara empatnya bergantipulanamanya bernama : Ciwa, Sadhasiwa, Pramasiwa, Cunyasiwa, dan orang yang telah diupacarai itu bernama I Ratna Rangkus Kusuma.
Dalam mitologi disebutkan bahwa Dewi Uma telah kembali ke Siwa Loka, maka yang tinggal di dunia adalah perwujudan beliau dengan segala sifatnya. Jasad ini kemudian Dewa Brahma dihidupkan dan menjadi empat tokoh yang disebut Catur Sanak atau Kanda Pat. Anggapati menghuni badan manusia, ia berwenang mengganggu manusia yang keadaannya sedang lemah atau dimasuki nafsu angkara murka. Mrajapati sebagai penghuni kuburan dan perempatan agung, berhak mengganggu orang yang memberikan dewasa yang bertentangan dengan ketentuan upacara. Banaspati menghuni sungai, batu besar, berwenang menggangu atau memakan orang yang berjalan ataupun tidur pada waktu-waktu yang dilarang oleh kala, misalnya tengai tepet atau sandikala (Wijaksana, 2016).
Jika manusia lupa dengan Kanda Pat ini, atau bahkan tidak ada hubungan sama sekali (tusing pati rungu) maka perlindungan Kanda Pat-pun berkurang atau tidak ada. Orang-orang kebathinan mulai dengan menguatkan Kanda Pat ini dengan cara selalu ingat dan membagi suka/duka dengannya. Jika sudah dekat, Kanda Pat dapat jadi guru dan penuntun karena pada hakekatnya ia adalah manifestasi Tuhan (Pinatih, 2016). Kanda Pat sebagai manifestasi Tuhan ini akan selalu ada dan selalu sama pada penjelmaan setiap orang. Dengan Kanda Pat ini manusia mendapatkan kesehatan, keselamatan selama menjalani hidup di Dunia (Sudharta, 2013). Ada beberapa contoh cara mendekatkan diri dengan Kanda Pat, antara lain :
Membuat pelangkiran dari kayu di atas tempat tidur, sebagai stana Kanda Pat, sedangkan Kanda Pat diwujudkan dalam bentuk daksina lingga, yakni sebuah daksina yang dibungkus dengan kain putih/kuning, kemudian dihaturkan banten tegteg-daksina-peras-ajuman(pejati) dan setiap bulan purnama diganti.
Setiap hari dihaturkan banten saiban/jotan.
Setiap mau meninggalkan rumah pamitan ke Kanda Pat dan pulangnya membawa oleh-oleh makanan/kue, dan lain-lain sekedarnya saja, tanda ingat kepada mereka.
Setiap mau tidur sembahyang seraya memohon mereka agar menjaga kita selama tidur.
Adapun dampak negative yang disebabkan oleh Kanda Pat jika kita lupa dengan mereka yaitu :
Kanda Pat tidak menghiraukan diri kita dan tidak mau membantu dalam segala hal jika kita tidak ingat kepada mereka
Kanda Pat dapat membantu akan penyebaran penyakit yang akan menimpa diri kita
Jika ada musuh yang membahayakan, Kanda Pat akan dapat memihak musuh tersebut.
Membuat diri sendiri bingung, tidak tenang, gelisah, pemarah, kedewa-dewaan.
Merasa kehidupan hampa, putus asa atau kecewa, sandang pangan menjauh, serasa kehidupan seperti penyiksaan6.Kesusahan semakin bertambah, selalu gagal, dan musuh semakin banyak.
Seolah-olah merasa diserang dan dimusuhi sesuai dengan kenyataan pikiran, padahal sebenarnya tidak.
Sering berkeinginan melakukan perbuatan yang melawan kebenaran, keluarga sering terjadi pertengkaran, usia pendek dan pelecehan (Sumantra, 2016).

Kesimpulan
Istilah Kanda Patadalah istilah yang umum bagi masyarakat Hindu di Bali. Banyak orang-orang dari luar negeri berdatangan untuk belajar budaya bali, khususnya Kanda pat ini. Filosofi ini diyakini akan mempengaruhi kehidupanseseorang mulai saat kelahiran sebagai manusia, selama menjalani hidup di duniadan sampai meninggal akanselalu mendampingi.
Secara epistemiologi Kanda Pat berarti empat saudara kita yang menyertai dan melindungi kita sejak lahir sampai meninggal yang merupakan manifestasi dari Tuhan (Hyang Widhi). Karena saudara kita ini selalu menjaga dan melindungi maka hendaknya mereka selalu diingat, jangan sampai dilupakan agar mereka tidak hilang dan mengundang bahaya bagi manusia itu sendiri.
Nama Kanda Pat berubah menurut umur manusia tetapi keberadaan mereka tetap. Walaupun namanya berubah-ubah, namun maknanya tetap sama, yaitu sebagai saudara empat manusia yang terus mendampingi sampai meninggal. Tidak ada upacara khusus pada Kanda Patini, yang penting mereka hanya perlu diingat setiap hari dan diyakini maka mereka akan selalu menjaga manusia untuk dapat terhindar dari penyakit.






Daftar Pustaka
Kusuma, W. 2012. Resep membuat Anak Laki-Perempuan menurut Hindu. Pustaka Bali Post. Denpasar.
Nantra, K., 2011. Tuntunan Meditasi Kanda Pat Sari. Paramita. Surabaya. Hal 1-16
Pinatih, A.S. 2016, Pendekatan Sistem Kanda Pat. Availabel at: www. https://agungswastika.wordpress.com/budaya/pendekatan-sistem-kanda-pat/(diakses pada tanggal 26 Maret 2020).
Yendra, W & Pekandelan, A. Mitologi Kanda Pat di Bali. Available at http://ngurahgautama. blogspot.co.id/2014/10 /mitologi-kanda-pat -di-bali.html (diakses pada tanggal 26 maret 2020).
Sandhi, D.W.N. Kanda Pat, Perkembangan dan pengaruhnya terhadap manusia. Available at : http://www.babadbali.com/pustaka/ibgwdwidja/kandapat.htm(diakses pada tanggal 26 maret 2020).
Sudharta, T.R. 2013. Manusia Hindu Dari Kandungan Sampai Perkawinan. Pustaka Bali Post. Denpasar.
Suhardana, K. 2010. Moksa Brahman Atman Aikyam. Paramita. Surabaya.
Sumantra, M. yoga Healing Bali. Catur Sanak (Kanda Pat). Available at www.https://yogahealingbali.wordpress.com/markandeya-healing/catur-sanak-kanda-pat/(diakses pada tanggal 26 maret 2020).

TRADISI PERANG API WARGA DUDA

Oleh:
DEDE PARAMITA DEVI

PENDAHULUAN 
Budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, sikap, nilai, agama, makna, waktu hubungan, ruang, konsep alam semesta, dan objek-objek tertentu. Salah satu unsur budaya adalah tradisi, yang telah diwarisi  oleh warga masyarakat secara turun-temurun. Hubungan antara tradisi dengan masyarakat pendukung kebudayaan, mempunyai hubungan timbal balik, di mana keduanya sangat tergantung satu sama lain. Tradisi tanpa masyarakat pendukungnya, tradisi tidak akan pernah dapat dihadirkan apalagi diteruskan, sebaliknya tanpa tradisi, masyarakat pemiliknya akan kehilangan identitas kemanusiaannya dan kehilangan banyak hal penting, khususnya pengetahuan tradisional, kearifan lokal dan nilai-nilai yang pernah menghidupi komunitas tersebut (Jnana Budaya, 2014).
Pengertian tradisi menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, menjelaskan bahwa tradisi adalah segala sesuatu (seperti adat, kepercayaan, kebiasaan ajaran) yang turun-temurun dari nenek moyang. Tradisi mengandung pengertian hampir sama dengan kata tradisional. Kata tradisional dapat diartikan :1) Bersifat turun-temurun (tentang pandangan hidup, kepercayaan, kesenian, tarian, upacara, dsb); 2) Menurut adat; upacara; upacara (menurut) adat (Poerwadarminta, 2007).
    Sehubungan dengan konsep budaya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, khusus budaya yang dinyatakan sebagai budaya tradisional, merupakan budaya bangsa yang telah diwariskan secara turun-temurun, tentang pandangan hidup, kepercayaan, kesenian, tarian, upacara dsb. Kebudayaan tersebut bagi masyarakat pendukungnya dapat difungsikan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi di masa yang lalu. Mengingat fungsi yang dimilikinya, maka perlu dilakukan pelestarian terhadap kebudayaan yang sifatnya berkelanjutan.
Mengingat tradisi yang ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya, dan Bali pada khususnya cukup banyak, maka pada kesempatan ini hanya akan dipaparkan salah satu di antara sekian banyak yang ada, yaitu tradisi perang api. Tradisi ini dilakukan di beberapa daerah di Bali,  termasuk salah satunya  di Desa Duda , Kabupaten Karangasem, Bali.
PEMBAHASAN

Krama Desa Pakraman Duda, Kecamatan Selat, Karangasem melaksanakan tradisi ritual Siat Api pas Tilem Kawulu (bulan mati ke-8 sistem penanggalan Bali). Sebetulnya, ritual ini sudah sempat teraksana tahun 1963, namun sempat lama terhenti, sampai kemudian dihidupkan kembali pada 2017.
Krama adat dari dua desa bertetangga, yakni Desa Duda dan Desa Duda Timur ini, berperang menggunakan senjata prakpak (obor dari daun kelapa kering), sebagai simobolik menyomiakan unsur bhuta kala dan memerangi musuh dalam diri.
Ritual Siat Api berlangsung di atas Jembatan Tukad Sangsang, yang berada di perbatasan Desa Duda dan Desa Duda Timur. Ritual digelar mulai pukul 18.00 Wita. Perserta Siat Api berjumlah 52 orang yang semuanya lelaki. Mereka semua tanpa baju, mengenakan kamben dan saput poleng, serta udeng poleng, dengan senjata prakpak di tangan. Mereka diambil dari 27 banjar adat yang ada di Desa Pakraman Duda.
Peserta Siat Api terbagi dalam dua kelompok, yakni Kelompok Desa Duda dan Desa Duda Timur. Pasukan perang dari Desa Duda dipimpin langsung Perbekel Duda, I Gusti Agung Ngurah Putra. Sedanglan pasukan perang dari Desa Duda Timur dipimpin langsung Perbekel Duda Timur, I Gede Pawana---yang juga Ketua Pasebaya Gunung Agung Karangasem.
Sebelum memulai perang, seluruh peserta lebih dulu menggelar upacara matur piuning di Pura Dalem, Desa Pakraman Duda. Tujuannya, agar dikaruniai keselamatan dan terbebas dari luka bakar saat terlibat Siat Api di atas Jembatan Tukad Sangsang.
Usai muspa di Pura Dalem, seluruh peserta langsung menuju lokasi Siat Api di atas Jembatan Tukad Sangsang. Masing-masing kelompok pasukan diiringi tabuh baleganjur. Sebelum perang dimulai, Bendesa Pakraman Duda I Komang Sujana masuk ke tengah-tengah arena sebagai penegah. Tujuannya, agar tidak terjadi hal-hal  tak diinginkan. Bendesa Komang Sujana jadi penengah, selama ritual Siat Api berlangsung.

Siat Api langsung dimulai setelah prakpak menyala dan dipegang masing-masing peserta. Pasukan perang dari kedua kelompok menerobos masuk ke tengah arena seraya saling pukul menggunakan prakpak. Setiap kali api prakpak mati usai dipukulkan ke lawan, selalu siulut kembali, dan begitu seterusnya hingga prakpak benar-benar habis.
Ritual Siat Api malam itu berlangsung selama 20 menit hingga pukul 18.20 Wita. Ajaibnya, tidak ada satu pun peserta Siat Api yang mengalami luka bakar, meskipun mereka saling pukul menggunakan prakpak menyala. Hanya bagian punggung mereka yang meninggalkan abu hitam.
Tujuan ritual Siat Api digelar untuk memuliakan semesta, dengan menyomiakan kekuatan bhuta kala. "Unsur bhuta kala itu kan telah diusir dari rumah-rumah penduduk melalui ritual ngulah (mengusir) kala. Selanjutnya, unsur bhuta kala dibangunkan kembali melalui tabuh baleganjur dan kemudian disomyakan lewat Siat Api,” (NusaBali, Kamis).
Agar kehidupan di Desa Pakraman Duda jadi harmonis, sehingga Panca Mahabhuta dan Panca Tanmatra, masing-masing lima unsur pembentuk alam jadi seimbang. Keseimbangan ini diperlukan menjelang upacara Usaba Dalem atau Usaba Dodol di Desa Pakraman Duda, yang puncaknya jatuh Anggara Wage Pahang.
Selain untuk menyomiakan unsur bhuta kala, tradisi ritual Siat Api ini juga bermakna simbolis memerangi musuh-musuh dalam diri. Musuh dalam diri yang mesti dikendalikan melalui ritual Siat Api, masing-masing Tri Mala (tiga kotoran jiwa), Catur Ma (empat kemabukan), Panca Wisaya (lima jenis racun), Panca Ma, Sad Ripu (enam musuh dalam diri), Sad Atatayi (enam pembunuh), Sapta Timira (tujuh kegelapan), dan Asta Duta (delapan pembunuh).
Sementara itu, Perbekel Duda Timur Gede Pawana mengatakan, menyomiakan unsur bhuta kala itu, puncaknya saat menggunakan api. “Api secara fisik yang digunakan perang dan api secara bathin di dalam diri. Sehingga, musuh-musuh dalam diri yang selama ini dipengaruhi bhuta kala bisa harmoni,” jelas Gede Pawana yang juga anggota Kerta Desa Pakraman Duda (Nusabali, 2020).



KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan, bahwa tradisi perang api yang dilaksanakan oleh masyarakat Duda, desa Duda, kabupaten  Karangasem, merupakan tradisi yang telah diwarisinya  secara turun temurun. Tradisi ini dilaksanakan pada Tilem Kawulu Kawulu (bulan mati ke-8 sistem penanggalan Bali).
Tradisi perang api yang dilaksanakan pada Tilem Kawulu, merupakan hari yang dipandang sangat baik oleh umat Hindu di Bali, untuk melaksanakan berbagai kegiatan, khususnya yang berhubungan dengan  pelaksanaan upacara. Pelaksanaan tradisi perang api mengandung makna bagi kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat pendukungnya. Pelaksanaan tradisi perang api, bertujuan untuk memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, semoga Beliau menganugrahkan kerahayuan (keselamatan) kepada umatnya. Adapun makna pelaksanaan  tradisi perang api yang dilakukan masyarakat Duda, antara lain : makna kesejahteraan, makna sosial, dan makna budaya. Makna budaya yang dapat dipetik melalui pelaksanaan tradisi perang api,yakni: nilai historis dan nilai persatuan.
Sedangkan nilai persatuan nampak saat berakhirnya pelaksanaan tradisi perang api. Meski sebelumnya mereka saling serang, saat pelaksanaan tradisi perang api, namun mereka bersatu kembali seperti sebelumnya. Sehubungan dengan uraian di atas, mengingat banyaknya manfaat dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pelaksanaan upacara dan tradisi perang api, maka perlu mendapat perhatian yang lebih serius, untuk tetap dijaga dan dipertahankan keberadaannya. Demikian pula, perlu adanya dukungan dan partisipasi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk tetap menjaga warisan budaya bangsa, termasuk salah satunya tradisi perang api, yang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia.
Daftar Pustaka
Jnana Budaya. (2014). Jnana Budaya Volume 19. Bali: Balai Pelestarian Nilai Budaya.
Nusabali. (2020). Nusa Bali. Bali: Bali.
Poerwadarminta. (2007). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.


NAMA :DEDE PARAMITA DEVI
MPM : 19.1.094
PRODI : AGAMA HINDU
SEMESTER : II

Kosmologi Tri Hita Karana

Oleh:
I Gede Payu Yasa

PENDAHULUAN
Konsep kosmologi Tri Hita Karana merupakan falsafah hidup tangguh. Falsafah tersebut memiliki konsep yang dapat melestarikan keaneka ragaman budaya dan lingkungan di tengah hantaman globalisasi dan homogenisasi. Pada dasarnya hakikat ajaran tri hita karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan ke Tuhan yang saling terkait satu sama lain. Setiap hubungan memiliki pedoman hidup menghargai sesama aspek sekelilingnya. Prinsip pelaksanaannya harus seimbang, selaras antara satu dan lainnya. Apabila keseimbangan tercapai, manusia akan hidup dengan menghindari daripada segala tindakan buruk. Hidupnya akan seimbang, tenteram, dan damai.
Peruabahan waktu telah membawa kita pada jaman yang semakin berbeda, pola pikir yang berkembang pesat , telah menjadikan ketidak mungkinan menjadi sangat mungkin, tentu dengan adanya teknologi-teknologi canggih yang kian semakin mempermudah pekerjaan manusia. Aktivitas manusia tak lagi berbicara kekuatan otot namun seberapa kecanggihan otak manusia menciptakan teknologi-teknologi canggih seperti bermain trik magic.
Namun bagiamana pemahaman manusia mengenai alam? Dapatkah secanggih pemahamannya dalam memperbaharui teknologi yang sederhana menjadi teknologi yang luar biasa? Bencana alam semakin hari semakin naik daun, tanah longsor, banjir, kekeringan semakin sering mengisi berita harian yang tak kunjung usai. Dari masa kemasa alasannya nyaris sama, yaitu penebangan hutan secara liar, pembuangan sampah sembarangan sehinga menyumbat saluran kali, serta penambangan.  Lantas dimana kesadaran manusia akan pelestarian alam?
Alam adalah tempat dimana kita berdiri dan menghirup udara, tempat dimana kita tinggal dan bergerak secara leluasa, bisa kita bayangkan bagaiamana ketika alam tak lagi bersahabat, menampakkan kemurkaanya, tentu seperti halnya bencana-bencana yang kita rasakan saat ini. Oleh sebab itu kita harus menumbuhkan kesadaran diri betapa pentingnya menjaga kelestarian alam.
Umat Hindu mengajarkan kepada kita mengenai konsep Tri Hita Karana yang artinya tiga penyebab kesejahteraan  yaitu Parhyangan, Pawongan, Palemahan. Parhyangan artinya manusia hendaknya menjaga keharmonisan dengan Tuhan dapat diimplementasikan melalui upacara-upacara keagamaan, sembahyang, beryajna, dan lain-lain. Pawongan artinya manusia hendaknya menjaga keharmonisan antar sesama manusia, seperti yang kita ketahui bahwa manusia merupakan mahluk sosial yang membutuhkan satu sama lain melalui interaksi saling toleransi dan komunikasi yang baik dalam masyarakat. Palemahan artinya bahwa manusia hendaknya menjaga keharmonisan kepada alam atau lingkungan hidup misalnya menjaga kelestarian alam agar tetap terjaga keasriannya.
Umat Hindu percaya ketika kita memberi pelayanan kepada alam semesta, maka alam semesta akan memberi pelayanan terbaiknya kepada kita. Contoh nyata saja yang dapat kita lihat pada saat ini bencana-bencana alam yang terjadi akibat ulah manusia sendiri, penebangan hutan secara liar yang menyebabkan tanah longsor, banjir, menipisnya lapisan ozon sehingga kian hari udara panas terasa menyengat kulit, polusi udara kian menjadi ancaman persebaran virus. Namun begitu sebaliknya, ketika kita menjaga lingkungan alam seperti melakukan penghijauan terhadap lingkungan tentu pohon-pohon yang kita tanam akan memberikan oksigen yang kita butuhkan serta membantu kita menyaring polusi-polusi udara yang kita hirup.
Diperjelas lagi dalam konsep ajaran agama hindu tentang Tat Twam Asi, yang artinya aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Artinya baik kita, tumbuhan, hewan serta seluruh isi alam semesta ini adalah satu kesatuan yang tunggal yaitu Brahman. Dapat kita bayangkan ketika salah satu bagian organ tubuh kita  terluka tentu semua organ akan merasakan sakit luka tersebut, begitu juga kehidupan ini. Artinya sangat penting untuk kita menjaga keseimbangan agar terciptanya keharmonisan dan kesejahteraan.





PENJELASAN
Sejarah Tri Hita Karana
Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 Nopember 1966, pada waktu diselenggarakan Konferensi Daerah l Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar. Konferensi tersebut diadakan berlandaskan kesadaran umat Hindu akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian istilah Tri Hita Karana ini berkembang, meluas, dan memasyarakat.

Pengertian Tri Hita Karana
Secara leksikal Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan. (Tri = tiga, Hita = sejahtera, Karana = penyebab). Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan.

Pembagian Tri Hita Karana
Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kebahagiaan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara 3 hal yaitu:
Parhyangan (Manusia dengan Tuhan)
Palemahan (Manusia dengan alam lingkungan)
Pawongan (Manusia dengan sesama)

Unsur- unsur Tri Hita Karana ini meliputi:
1. Sanghyang Jagatkarana.
2. Bhuana.
3. Manusia
Unsur- unsur Tri Hita Karana itu terdapat dalam kitab suci Bagawad Gita (III.10), berbunyi:
Sahayajnah prajah sristwa pura waca prajapatih anena prasawisya dhiwan esa wo'stiwistah kamadhuk
yang artinya, Pada zaman dahulu Prajapati menciptakan manusiadengan yadnya dan bersabda: dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu.
Dalam sloka Bhagavad-Gita tersebut ada tampak unsur penting:
Prajapati = Tuhan Yang Maha Esa
Praja = Manusia
Penerapan Tri Hita Karana

1. Parhyangan (Manusia dengan Tuhan)
Parhyangan merupakan hubungan Manusia dengan Tuhan, yang menegaskan bahwa kita harus selalu sujud bakti kepada Tuhan, Sang Pencipta Alam Semesta beserta isinya. Didalam ajaran Agama Hindu dapat diwujudkan dengan Dewa Yadnya (upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para dewa-dewa). Menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan tentu kita pun harus selalu berada didalam jalan-Nya,menjauhi larangan-Nya dan  selalu rajin sembahyang dengan tujuan mengucap syukur atas segala berkah maupun kesulitan yang sedang kita hadapi agar diberikan petunjuk dan Tuhan menjadikan kita pribadi yang semakin baik kedepannya.

2. Palemahan (Manusia dengan Lingkungan)
Palemahan merupakan hubungan manusia dengan lingkungan /alam. Lingkungan/alam ini mencangkup tumbuh-tumbuhan, binatang dan hal-hal yang bersifat sekala niskala. Didalam ajaran agama Hindu dapat diwujudkan dengan Bhuta Yadnya  (upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan unsur-unsur alam). Contoh yang biasa diterapkan yaitu adanya  Tawur Agung, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian antara jagat raya ini dengan diri kita yaitu keseimbangan antara makrokosmos dengan mikrokosmos. Selain itu adanya perayaan Nyepi, yang tentunya sehari tanpa polusi sangat memberikan cukup banyak oksigen untuk bumi ini dapat bernafas. Akan tetapi dari sudut pandang penulis terkadang masih ada yang terlupakan, yaitu masih kurangnya kesadaran umat akan kebersihan lingkungan. Contohnya saja upacara melasti, setelah upacara melasti yang secara umum dilakukan di pantai. Pantai itupun menjadi kotor karena sehabis sembahyang sarana-sarana untuk sembahyang hanya ditinggal begitu saja tanpa ada niatan untuk membuangnya ditempat yang semestinya. Selain itu bekas-bekas tempat makanan pun masih banyak yang buang begitu saja. Ketika sebuah upacara selesai pasti kita akan menjumpai sampah berserakan. Apakah ini yang disebut Palemahan? tentu saja tidak. Meski akan ada yang akan membersihkan itu, tentu baiknya kita pupuk dalam diri kita tentang makna Palemahan itu. Kita yang memakai,kita yang menggunakan dan kitalah yang membersihkannya. Apalagi adanya Reklamasi Benoa yang bisa dikatakan itu sudah keluar dari konsep ajaran Tri Hita Karana.

3. Pawongan (Manusia dengan Sesama)
Pawongan merupakan hubungan manusia dengan sesamanya. Dalam artian bisa dikatakan pawongan mempunyai makna kita harus bisa menjaga keharmonisan hubungan dengan keluarga, teman dan masyarakat. Dalam menjaga keharmonisan tentunya jauhkanlah sikap saling membeda-bedakan berdasarkan derajat, agama ataupun suku. Ingatlah kita semua sama. Sama-sama mahluk ciptaan Tuhan. Sangat miris jika melihat orang-orang sudah mulai SARA. Menganggap apa yang diyakini benar dan apa yang diyakini orang lain yang tidak sama adalah salah. Menurut pendapat kami, Tuhan menciptakan perbedaan didunia ini bukan karena membeda-bedakan ciptaannya. Tapi agar kita dapat belajar menghargai akan arti perbedaan itu. Begitu pun dengan Agama kenapa didunia ini ada agama lebih dari satu. Tentu semua itu adalah hal yang sudah direncanakan Tuhan. Cara menyebutnya berbeda,cara memujanya pun berbeda. Tapi itulah keindahan yang Tuhan ciptakan. Seperti pelangi yang tidak akan terlihat indah jika hanya ada satu warna.









KESIMPULAN
Kesimpulannya, marilah kita tanamkan konsep ajaran Tri Hita Karana dalam diri kita. Dimulai dengan selalu sujud bakti kepada Tuhan, menghargai lingkungan dan bersahabat dengan alam, serta selalu menjaga keharmonisan dengan sesama. Jauhkan diri kita dari tindakan SARA. Jalani apa yang kita yakini benar, dan hargai apa yang orang yakini juga benar. Karena sejatinya tujuan akhirnya ialah sama, yaitu dekat dengan Tuhan, Sang Pencipta.

Semoga tidak ada lagi tindakan anarkis yang mengatas namakan Tuhan, tidak ada lagi kericuhan dengan alasan membela Tuhan hanya karena apa yang diyakini itu dilecehkan. Ingatlah Tuhan tidak perlu dibela umatnya. Tuhan itu Maha Besar. Beliau adalah Sang Pencipta alam semesta ini. dan kita hanya seperti butiran debu yang begitu kecil di alam semesta ini. Cukup selalu meyakini apa yang kita yakini benar dan Tuhan akan senantiasa mengiri langkah kita dalam lindungannya.























SUBER ARTIKEL
https://inputbali.com/budaya-bali/sejarah-dan-penerapan-tri-hita-karana-yang-tidak-boleh-dilupakan
https://www-kompasiana-com.cdn.ampproject.org/v/s/www.kompasiana.com/amp/dupamarch/5ca5988a95760e5b54659332/implementasi-ajaran-tri-hita-karana-terhadap-keseimbangan-alam?amp_js_v=a3&amp_gsa=1&usqp=mq331AQFKAGwASA%3D#aoh=15852148547650&amp_ct=1585215283085&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2Fwww.kompasiana.com%2Fdupamarch%2F5ca5988a95760e5b54659332%2Fimplementasi-ajaran-tri-hita-karana-terhadap-keseimbangan-alam
http://www.babadbali.com/canangsari/trihitakarana.htm

YADNYA SESA

OLEH:
I GUSTI AYU EVI ARSUCIARI

PENDAHULUAN
Dalam ajaran Hindu, Tuhan di puja sebagai yang ngiyangin 'mengisi' berbagai aspek kehidupan, tempat ruang dan waktu. Seperti Pasar, kebun, sawah, pohon besar, batu besar, kantor, peternakan, perdagangan, kekayaan, kesehatan, kesenian, ilmu pengetahuan, kerajinan untuk menyebut beberapa contoh. Hampir tidak ada aspek kehidupan yang lepas dari kemahakuasaan Hyang Widhi.
Dalam pemujaan, Tuhan dikehendaki hadir, dihadirkan, dinginkan oleh umat Hindu (ista) dimohon, diundang hadir pemujanya sehingga Hyang Widhi yang dipuja adalah Tuhan sebagai personal god, Tuhan yang berpribadi yang menjadi junjungan, dimuliakan penyembahnya. Ista Dewata dipandang sebagai 'tamu' yang dimohon kehadiran-Nya menyaksikan sembah bhakti umat. Cara menghadirkanNya baik sewaktu-waktu seperti piodalan, hari suci, purnama, tilem disebut naimitika karma. Sementara dalam keseharian disebut nitya karma seperti: tri sandya, doa, yadnya sesa.
Sebagai Umat Hindu Kita meyakinai bahwa: adanya makhluk hidup karena makanan, adanya makanan karena hujan, adanya hujan karena Yadnya, adanya Yadnya karena karma. Ini mengandung makna yang sangat mulia bagi manusia. Hidup ini senantiasa memerlukan kebutuhan-kebutuhan yang seimbang antara jasmani dengan rohani. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia harus berusaha dengan karmanya guna membuahkan hasil atau pahala.
Demikian juga bahwa manusia untuk tetap menunaikan kewajibannya untuk melaksanakan Yadnya,, baik Yadnya yang dilakukan setiap hari atau nitya karma maupun Yadnya yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.
Yadnya sesa, persembahan kecil dan sederhana disebut saiban. Disejajarkan dengan rayunan, sodaan, ajuman yang artinya persembahan berupa makanan. Umat Hindu meyakini bahwa apa yang diterimanya bersumber dari Hyang Widhi oleh karenanya kita punya kewajiban mensyukuri kembali dengan menghaturkannya. Bhagawadgita menyebutkan Tuhan menciptakan semesta berkat Yadnya oleh karenanya sudah menjadi kewajiban kita untuk beryadnya.
PENJELASAN
Pengertian Yadnya Sesa
Yadnya sesa atau banten saiban merupakan salah satu yadnya atau persembahan yang dilakukan setiap hari yang sering disebut dengan Nitya Karma. Yadnya sesa ini dilakukan setelah selesai memasak dan sebelum menikmati makanan yang telah dimasak. Melaksanakan persembahan atau yadnya merupakan kewajiban serta tugas bagi umat Hindu untuk menunaikannya. Dalam menunaikan tugas dan kewajiban tersebut hendaknya dilandasi dengan dharma dan etika yang baik serta ketulusan hati. Sebagaimana diketahui bahwa yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa. Tidak saja kita menghubungkan diri dengan Tuhan, juga dengan manifestasi-Nya dan makhluk ciptaan-Nya termasuk alam beserta dengan isinya. Dengan demikian yadnya merupakan persembahan dan pengabdian yang tulus iklas tanpa adanya harapan untuk medapatkan imbalan-imbalan.
Yadnya sesa atau mebanten nasi seusai masak juga merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu, yang menuntut umat untuk selalu bersikap anersangsya yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan ambeg para mertha yaitu mendahulukan kepentingan di luar diri. Pelaksanaan yadnya sesa juga bermakna bahwa manusia setelah selesai memasak wajib memberikan persembahan berupa makanan, karena makanan merupakan sumber kehidupan di dunia ini.
Dari penjelasan tadi tentu umat harus menyadari untuk memberikan persembahan dengan beryadnya, seperti halnya mempersembahkan makanan atau yadnya sesa. Makanan merupakan sumber kehidupan dan karena adanya makanan, maka semua makhluk di jagat raya ini dapat hidup. Persembahan makanan dalam bentuk yadnya sesa walaupun wujudnya sangat sederhana dan nampaknya kecil, namun hakikat yadnya sesa itu sangatlah mulia dan luhur, yang mengandung makna spiritual untuk menenteramkan kehidupan makhluk yang lainnya. Makanan yang dinikmati manusia bukan semata-mata merupakan hasil usahanya sendiri saja, tetapi manusia memperolehnya secara bersama-sama antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lainnya. Serta diperlukan pula bantuan dari unsur kekuatan alam yang disebut dengan “Panca Maha Butha” yakni adanya kekuatan tanah (pertiwi), air (apah), panas (api atau teja), angin (bayu), ether (akasa). Adanya nasi atau makanan ini juga berkat kekuatan atau kemahakuasaan Hyang Widhi melalui maifestasinya yang disebut dengan Tri Murti yakni tiga macam kekuatan Tuhan dalam melindungi dan menganugerahi umatnya. Beras dapat dimasak atau dimatangkan menjadi nasi berkat adanya tiga kekuatan tadi yakni Dewa Brahma dengan kekuatan panasnya, Dewa Wisnu dengan kekuatan airnya, dan Dewa Siwa dengan kekuatan penyupatannya. Dari ketiga kekuatan tersebut menyatu secara bersama-sama sehingga bermula dari beras hingga menjadi matang dan diperolehlah nasi itu.
Proses inilah yang merupakan suatu kerjasama manusia baik secara Sekala maupun Niskala sehingga dapat menikmati makanan. Oleh karena manusia menikmati makanan ini atas dasar kebersamaan dan merupakan pemberian, maka patutlah makanan itu di persembahkan kembali pada kekuatan alam lainnya melalui yadnya sesa atau banten saiban itu sendiri. Dengan demikian dapatlah di artikan bahwa yadnya sesa merupakan persembahan umat Hindu dengan mempersembahkan sebagian kecil dari makananya yang berupa nasi, lauk-pauk, sayur-sayuran dan garam yang dialasi dengan taledan yang terbuat dari daun pisang, yang secara rutin dilaksanakan setiap hari sehabis makanan itu dimasak dan setelah itu baru dinikmatiya. Persembahan yadnya sesa ini di sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing terutama pada tempat-tempat yang dianggap penting. Kita sebagai umat Hindu dan sebagai umat manusia yang diciptakan dengan yadnya, maka sudah sepatutnyalah kita melaksanakan yadnya ; baik untuk menyucikan diri, mendekatkan diri pada Tuhan maupun sebagai ucapan terima kasih kita pada apa yang telah kita peroleh di dunia ini. Pelaksanaan Yadnya Sesa atau Ngejot ini ditujukan kehadapan :
Sang Hyang Widhi Wasa beserta semua manifestasinya (Sang Hyang Siwa Raditya atau Sang Hyang Surya) suguhan ditempatkan diatas atap rumah atau di atas tempat tidur pada pelangkiran yang telah disediakan.
Sang Hyang Brahma bertempat di tungku atau tempat memasak.
Sang Hyang Wisnu bertempat di tempat menyimpan air atau bisa juga disumur.
Sang Hyang Amerta atau Dewi Sri bertempat di penyimpanan beras atau nasi.
Sang Hyang Pertiwi bertempat di halaman rumah yang juga ditujukan kehadapan bhuta-bhuti.
Kehadapan Penunggun Karang bertempat di Tugu.
Kehadapan Bhatara-Bhatari dan roh suci leluhur bertempat di Merajan dan Sanggar yang lainnya.
Serta pada tempat-tempat yang lainnya yang dipandang perlu dan jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan setempat.
Hakikat pelaksanaan Yadnya Sesa tersebut di atas dapat bermakna bahwa Hindu dimanapun berada senantiasa membiasakan diri untuk mendahulukan kepentingan umum atau para dharma dari pada kepentingan pribadi atau swadharma. Juga berarti untuk mendahulukan dharma bakti dan kewajiban daripada pamrih atau kehendak menurut hak untuk diri sendiri.
Jadi Yadnya Sesa sebaiknya memang dilakukan sehabis memasak karena pada saat itu makanan bisa dibilang masih suci (sukla). Jadi persembahkanlah dahulu makanan yang kita masak untuk kepada para dewa sebelum kita hidangkan untuk diri sendiri.
Tata Cara Mempersembahkan Yadnya Sesa
Ketika menghaturkan yadnya sesa hendaknya menggunakan pakaian yang sopan sesuai dengan budaya / etika setempat ketika menghadap orang yang dihormati.
Nampan atau ingka dibawa dengan sikap hormat sesuai dengan etika dan etiket setempat, diletakkan di atas telapak tangan kanan yang posisinya tengadah setinggi bahu.
Sewaktu akan meletakkan banten saiban, nampan dipindahkan ke tangan kiri dengan sikap telapak tangan tengadah setinggi bahu.
Sikap tubuh tatkala menghaturkan banten yaitu : padasana (berdiri), setengah jongkok (tungkai kanan ditekuk ke depan, tungkai kiri ditekuk di belakannya).
Letakkan setiap jotan dengan tangan kanan (sikap hormat) di tempat yang layak dan sesuai tujuan
Bila dilengkapi api dupa diletakkan di sebelah kanan
Takir berisi air tirta diletakan di sebelah kiri banten
Setelah saiban diletakkan, kemudian disirati dengan tirta panglukatan sebanyak 3 kali
Ucapan terima kasih (dengan bahasa yang dihayati) kepada sang hyang widhi atas karunia-Nya melalui sang hyang panca maha bhuta sehingga kita bisa menikmati anugerah-Nya dan dapat bertahan hidup untuk berkarma / beryadnya (dharma)
Sambil berdoa, tangan kanan dengan telapaknya menghadap ke banten dikibaskan sebanyak 3 kali (ayab) dari dada ke arah depan.

Sarana Untuk Membuat Persembahan
Alas dari daun yang dibentuk segi empat (makna simbolik segi empat adalah Sthiti),
Jumlahnya minimal 5 – 1.800 (jumlah 1.800 muncul dalam lontar sundari siksa yang menyebutkan bahwa di alam raya terdapat 1800 Bhuta kala dan di perumahan 54 bhuta kala), atau sesuai dengan jumlah yang ingin diberikan haturan sebagai tanda ucapan terima kasih.
Satu jumput Nasi dan lauk pauk diletakan dengan tangan kanan yang dimasak pada pagi hari itu.
Dapat pula ditambah dengan api dupa + air tirtha dalam takir
Semua banten diletakkan di atas sebuah nampan, ingka atau tempat lainnya.



KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan yaitu :
Yadnya sesa atau mebanten saiban merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu, yang menuntut umat untuk selalu bersikap anersangsya yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan ambeg para mertha yaitu mendahulukan kepentingan di luar diri.
Pelaksanaan Yadnya sesa merupakan jenis Yadnya yang dilaksanakan oleh umat Hindu sehari-hari atau Nitya Karma. Yajña sesa adalah persembahan yang tulus ikhlas dengan mempersembahkan makanan berupa nasi, lauk-pauk, sayur-sayuran, garam, dan air, yang dilaksanakan setelah selesai memasak yang dipersembahkan pada tempat-tempat tertentu.
Pelaksanaan Yadnya Sesa bermakna bahwa Hindu dimanapun berada senantiasa membiasakan diri untuk mendahulukan kepentingan umum atau para dharma dari pada kepentingan pribadi atau swadharma

SUMBER ARTIKEL
https://phdi.or.id/artikel/yadnya-sesa
https://manacikapura.wordpress.com/tattwa/yadnya/yajsesa/
https://wisdanarananda.blogspot.com/2014/12/makna-dan-etika-dalam-yadnya-sesa.html
https://hindubali.blogspot.com/2010/06/pelaksanaan-yadnya-sesa.html
https://admiralcandra.wordpress.com/yadnya-sesa-mebanten-nasi/


TRI HITA KARANA

Oleh: 
I GUSTI AYU DWI KRISNA MAHAYANI (19.1.134)

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Kata Tri Hita Karana berasal dari bahasa Sanskerta, dimana kata Tri artinya tiga, Hita artinya sejahtra atau bahagia dan Karana artinya sebab atau penyebab. Jadi Tri Hita Karana artinya tiga hubungan yang harmonis yang menyebabkan kebahagiaan bagi umat manusia. Untuk itu ketiha hal tersebut harus dijaga dan dilestarikan agar dapat mencapai hubungan yang harmonis. Sebagaimana dimuat dalam ajaran Agama Hindu bahwa ” kebahagiaan dan kesejahtraan ” adalah tujuan yang ingin dicapai dalam hidup manusia, baik kebahagiaan atau kesejahtraan pisik atau lahir yang disebut ” Jagadhita ” maupun kebahagiaan rohani dan batiniah yang disebut ”Moksa ” Untuk bisa mencapai kebahagiaan yang dimaksud, kita sebagai umat manusia perlu mengusahakan hubungan yang harmonis ( saling menguntungkan ) dengan ketiga hal tersebut diatas. Karena melalui hubungan yang harmonis terhadap ketiga hal tersebut diatas, akan tercipta kebahagiaan dalam hidup setiap umat manussia. Oleh sebab itu dapat dikatakan hubungan harmonis dengan ketiga hal tersebut diatas adalah suatu yang harus dijalin dalamhidup setiap umat manusia. Jika tidak, manusia akan semakin jauh dari tujuan yang dicita-citakan atau sebaliknya ia akan menemukan kesengsaraan. Bagian-bagian Tri Hita Karana Hubungan manusia dengan Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ) Hubungan manusia dengan sesama manusia. Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 Nopember 1966, pada waktu diselenggarakan Konferensi Daerah l Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar. Konferensi Atersebut diadakan berlandaskan kesadaran umat Hindu akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian istilah Tri Hita Karana ini berkembang, meluas, dan memasyarakat. Secara leksikal Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan. (Tri = tiga, Hita = sejahtera, Karana = penyebab). Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara: Manusia dengan Tuhannya. Manusia dengan alam lingkungannya. Manusia dengan sesamanya. 1.2  Permasalahan Ø  Pegertian  Tri Hita Karana Ø  Konsp dasar tri hita karana dalam hubungan manusia dengan manusia Ø  Manusia dengan lingkungan(alam semesta) adalah satu Ø  Hubunga  Tri Hita Karana dengan karmapala 1.3 Tujuan dan manfaat A). Tujuan Ø  Menambah wawasan tentang Tri Hita Karana Ø  Cara menerapkan Tri Hita Karana dalm kehidupan sehari-hari Ø  Dapat Mengetahui sebab akibat hubunga dari Tri Hita Karana Ø  Membangun rasa ingin tahu lebih mendalam Tri Hita Karana B). Manfaat Ø  Dapat mengapresiasi Tri Hita Karana dalam kehidupan Ø  Dapat menjaga kelestarian Tri Hita Karana Ø  Dapat membangun  hubungan harmoni dengan konsep Tri Hita Karana BAB II PEMBAHASAN 2.1 PENGERTIAN TRI HITA KARANA Secara leksikal Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan. (Tri = tiga, Hita = sejahtera, Karana = penyebab). Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara: Manusia dengan Tuhannya, Manusia dengan alam lingkungannya, Manusia dengan sesamanya. Kata Tri Hita Karana berasal dari bahasa Sanskerta, dimana kata Tri artinya tiga, Hita artinya sejahtra atau bahagia dan Karana artinya sebab atau penyebab. Jadi Tri Hita Karana artinya tiga hubungan yang harmonis yang menyebabkan kebahagiaan bagi umat manusia. Untuk itu ketiga hal tersebut harus dijaga dan dilestarikan agar dapat mencapai hubungan yang harmonis. Sebagaimana dimuat dalam ajaran Agama Hindu bahwa ” kebahagiaan dan kesejahtraan ” adalah tujuan yang ingin dicapai dalam hidup manusia, baik kebahagiaan atau kesejahtraan pisik atau lahir yang disebut ” Jagadhita ” maupun kebahagiaan rohani dan batiniah yang disebut ”Moksa ” Untuk bisa mencapai kebahagiaan yang dimaksud, kita sebagai umat manusia perlu mengusahakan hubungan yang harmonis ( saling menguntungkan ) dengan ketiga hal tersebut diatas. Karena melalui hubungan yang harmonis terhadap ketiga hal tersebut diatas, akan tercipta kebahagiaan dalam hidup setiap umat manussia. Oleh sebab itu dapat dikatakan hubungan harmonis dengan ketiga hal tersebut diatas adalah suatu yang harus dijalin dalamhidup setiap umat manusia. Jika tidak, manusia akan semakin jauh dari tujuan yang dicita-citakan atau sebaliknya ia akan menemukan kesengsaraan. 2.2 Konsp Dasar Tri Hita Karana Dalam Hubungan Manusia Denga Manusia Disinilah peran tri hita karana dalam kosepnya yaitu hubungan manusia denga manusia Ketika manusia satu dan yang lainnya dalam keadaan tidak menyatu atau berbeda beda seperti ada perbedaan ,dari kaya dan miskin, baik dan buruk ,dan hal-hal yang membuat kita tidak sependapat. Seperti adanya catur warna .  Didalam catur warna seolah –olah kita umat hindu memiliki perbedaan –perbedaan yang bisa memisahkan hubungan antara sesameaMenyadari hal demikian kita mesti selalu menjalin hubungan dengan sesama manusia, hubungan yang dimaksud dalam hal ini adalah hubungan yang baik atau saling menghormati dan saling membantu, simbiosis mutualisme, sebab hanya hubungan yang demikian dapat memberi arti kepada hidup manusia. Jadi untuk dapat memetik hikmah dari kehidupan bersama tersebut seseorang mesti tetap berpegangan kepada ajaran dharma, yang pada intinya mengharapkan agar dalam kehidupan di muka bumi ini seseorang mesti selalu mengukur dari diri sendiri. Setiap akan melangkah, seseorang diharapkan bertanya pada dirinya sendiri, apakah yang dia lakukan tersebut jika ditujukan kepada dirinya sendiri akan menyebabkan atau memberi akibat baik atau buruk. Itulah rahasia sederhana yang diajarkan dalam menempuh hidup bersama untuk memperoleh kesuksesan. Apabila semua itu direalisasika dalamkehidupan sehari-hari, maka tentunya tidak akan ada kesulitan dalam hidup manusia untuk mewujudkan tujuannya 2.3      Manusia dengan lingkungan(alam semesta) adalah satu (konsep tri hita karana) seperti kita ketahui bersama bahwa lingkungan merupakan sumber penghidupan manusia..Hubungan umat manusia dengan alam semesta ( lingkungan.) Dalam kontek ini umat manusia sangat erat sekali hubungannya dengan alam semesta, seperti yang kita ketahui semua kebutuhan hidup yang diperlukan oleh umat manusia bersumber dari alam semesta dan kita sama-sama merupakan ciptan Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ). Dalam ajaran Tatt Twam Asi dijelaskan ” kamu adalah aku ” yang artinya adalah kita semua yang ada dialam semesta ini sama-sama merupakan ciptaan-Nya. Perlu kita sadari umat manuisa tidak bisa hidup tanpa alam semesta ( lingkungan ), dalam kitab suci Weda dijelaskan segala kebuthan hidup umat manusia hampir semuanya berasal dari alam semesta. Sekali lagi,manusia tidak bisa hidup tanpa alam semesta ( lingkungan ). Seperti yang kita ketahui dari hasil hutan banyak sekali tumbuh-tumbuhan, baik yang bisa kita olah menjadi makanan, obat-obatan, bahan kecantikan, atau untuk bahan bangunan, peralatan mebel dan masih banyaklagi yang lainnya. 2.4  Hubungan Tri Hita Karana dengan karmapahala tri hita karana dengan karmapahala sangat erat kaitannya  contohnya:seorang tukang kayu yang sembarangan mengambil kayu dihutan sehingga lama kelamaan hutan itu menjadi gundul pohon-pohon besar telah habis di tebang, ketika musim hujan otomatis  air hujan akan langsung turun ke rumah-rumah pemukiman warga karena tidak ada lagi yang menampung kadar airyang begitu tinggi. Sehingga menyebabkan  banjir dan bisa merusak aktifitas atau kegiatan- manusia itu sendiri. Dari contoh diatas tentu sudah sangat jelas bahwa hubungan tri hita karana dan kharma phala sangat erat. Ketika manusia tidak lagi menghiraukan lingkungannya maka lingkungan pula tidak akan pernah bersahabat dengan kita. begitu pula ketika manusia dan sesamanya tidak memiliki hubungan yang harmonis maka akan terjadilah gesekan-gesekan yang menyebabkan hal-hal yangtidak kita inginkan bersama apalagi ketika manusia dan ciptaannya tidak terjadi hubungan yang harmonis tentu akan berdampak sangan buruk bagi manusia. Karan BAB III PENUTUP 3.1 simpulan             Jadi dapat disimpulkan Secara leksikal Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan. (Tri = tiga, Hita = sejahtera, Karana = penyebab). Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara: Manusia dengan Tuhannya, Manusia dengan alam lingkungannya, Manusia dengan sesamanya Ketika manusia tidak lagi menghiraukan lingkungannya maka lingkungan pula tidak akan pernah bersahabat dengan kita. begitu pula ketika manusia dan sesamanya tidak memiliki hubungan yang harmonis maka akan terjadilah gesekan-gesekan yang menyebabkan hal-hal yangtidak kita inginkan bersama apalagi ketika manusia dan ciptaannya tidak terjadi hubungan yang harmonis tentu akan berdampak sangan buruk bagi manusia. 3.2 SARAN Saya berharap kepada seluruh umat hindu yang ada khususnya maha siswa agar menjaga hubungan harmonis dengan ide shangyang widhi karena dari situlah kita mampu mengimbangi kesadaran kita sebagai umat manusia sadar akan kepentingan kita ,dengan sesama dan lingkungan kita. beliau mengajarkan pada umatnya agar mengindahkan ciptaannya agar terjadi keselarasan hidup yang ingin dicapai DAFTAR PUSTAKA Didik, I Kadek Kardiasa,2011: makalah”Konsep Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu”, Printing. Bali,Denpasar http://didik-kardiasa.blogspot.co.id/2012/01/makalah.html http://goesokaa.blogspot.co.id/2012/12/tri-hita-karana-di-bali.html http://pendidikangurumudabali.blogspot.co.id/2011/10/tri-hita-karana-dalam-agama-hindu.html https://artayahonest.wordpress.com/2012/09/22/tri-hita-karana-makalah-lingkungan/