Adat, Tradisi, Agama, Budaya Hindu Bali

Minggu, 05 April 2020

YADNYA SESA

MAKALAH
YADNYA SESA


NAMA : I GUSTI GEDE PURNA WIRAWAN
NIM : 191172
PRODI : PENDIDIKAN AGAMA HINDU


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN 
AMLAPURA

BAB I
PENDAHULUAN
Dalam ajaran Agama Hindu, Tuhan di puja sebagai yang ngiyangin. Ngiyangin berarti mengisi berbagai aspek kehidupan, tempat ruang dan waktu. Seperti : Pasar, kebun, sawah, pohon besar, batu besar, kantor, peternakan, perdagangan, kekayaan, kesehatan, kesenian, ilmu pengetahuan, kerajinan. Hampir tidak ada aspek kehidupan yang lepas dari kemahakuasaan Hyang Widhi.
Dalam pemujaan, Tuhan dikehendaki hadir oleh Pemujanya dalam hal ini umat Hindu  sehingga Hyang Widhi yang dipuja adalah Tuhan sebagai personal god, Tuhan yang berpribadi yang menjadi junjungan, dimuliakan penyembahnya. Sang Hyang Widhi dipandang sebagai 'tamu' yang dimohon kehadiran-Nya menyaksikan sembah bhakti umat. Cara menghadirkanNya baik sewaktu-waktu seperti piodalan, hari suci, purnama, tilem disebut naimitika karma. Sementara dalam keseharian disebut nitya karma seperti: tri sandya, doa, yadnya sesa.
Pada kesempatan kali ini penulis akan mencoba membahas nitya karma/ yadnya sesa, dimana penulis ingin mengetahui arti dari yadnya sesa, makna dan tujan dari yadnya sesa, sarana yang digunakan, tempat pelaksanaan yadnya sesa dan doa dalam melaksanakan yadnya sesa, 
Semoga dengan rapungnya makalah/artikel ini bisa memberikan sedikit banyaknya pengetahuan tentang yadnya sesa, penulis juga memohon maaf jika dalam penulisan ada tulisan yang tidak berkenan dan melenceng dari tema, dan penulis mengharapkan kritik dan saran dari bapak dosen dan siapapun yang membaca makalah/artikel ini agar kedepanya menjadi lebih baik lagi.

BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Yadnya Sesa atau Banten Saiban
Yadnya sesa atau banten saiban merupakan salah satu yadnya atau persembahan yang dilakukan setiap hari yang sering disebut dengan Nitya Karma. Yadnya sesa ini dilakukan setelah selesai memasak dan sebelum menikmati makanan yang telah dimasak. Melaksanakan persembahan atau yadnya merupakan kewajiban serta tugas bagi umat Hindu untuk menunaikannya. Dalam menunaikan tugas dan kewajiban tersebut hendaknya dilandasi dengan dharma dan etika yang baik serta ketulusan hati. Sebagaimana diketahui bahwa yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa. Tidak saja kita menghubungkan diri dengan Tuhan, juga dengan manifestasi-Nya dan makhluk ciptaan-Nya termasuk alam beserta dengan isinya.. Yadnya sesa atau mebanten nasi seusai masak juga merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu, yang menuntut umat untuk selalu bersikap tidak mementingkan diri sendiri dan mendahulukan kepentingan di luar diri. Pelaksanaan yadnya sesa juga bermakna bahwa manusia setelah selesai memasak wajib memberikan persembahan berupa makanan, karena makanan merupakan sumber kehidupan di dunia ini.
Makna dan tujuan Yadnya Sesa atau banten Saiban
Yadnya sesa atau mebanten saiban merupakan penerapan dari ajaran kesusilaan Hindu, yang menuntut umat untuk selalu bersikap anersangsya yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan ambeg para mertha yaitu mendahulukan kepentingan di luar diri. Pelaksanaan yadnya sesa juga bermakna bahwa manusia setelah selesai memasak wajib memberikan persembahan berupa makanan, karena makanan merupakan sumber kehidupan di dunia ini.Tujuannya mesaiban yaitu sebagai wujud syukur atas apa yang di berikan Hyang Widhi kepada kita. Sebagaimana diketahui bahwa yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa. Tidak saja kita menghubungkan diri dengan Tuhan, juga dengan manifestasi-Nya dan makhluk ciptaan-Nya termasuk alam beserta dengan isinya.

Sarana Banten Saiban
Banten saiban adalah persembahan yang paling sederhana sehingga sarana-sarananya pun sederhana. Biasanya banten saiban dihaturkan menggunakan daun pisang yang diisi nasi , garam dan lauk pauk yang disajikan sesuai dengan apa yang dimasak hari itu, tidak ada keharusan untuk menghaturkan lauk tertentu.
Yadnya Sesa (Mesaiban) yang sempurna adalah dihaturkan lalu dipercikkan       air bersih dan disertai dupa menyala sebagai saksi dari persembahan itu. Namun yang sederhana bisa dilakukan tanpa memercikkan air dan menyalakan dupa, karena wujud yadnya sesa itu sendiri dibuat sangat sederhana.

Tempat Pelaksanaan Yadnya Sesa atau banten Saiban 
Adapun tempat pelaksanaan yadnya sesa atau banten saiban adalah sebagai berikut :
Sang Hyang Widhi Wasa beserta semua manifestasinya (Sang Hyang   Siwa Raditya atau Sang Hyang Surya) suguhan ditempatkan diatas atap rumah atau di atas tempat tidur pada pelangkiran yang telah disediakan.
Sang Hyang Brahma bertempat di tungku atau tempat memasak.
Sang Hyang Wisnu bertempat di tempat menyimpan air atau bisa juga disumur.
Sang Hyang Amerta atau Dewi Sri bertempat di penyimpanan beras atau nasi.
Sang Hyang Pertiwi bertempat di halaman rumah yang juga ditujukan kehadapan bhuta-bhuti
Kehadapan Penunggun Karang bertempat di Tugu.
Kehadapan Bhatara-Bhatari dan roh suci leluhur bertempat di Merajan dan Sanggar yang lainnya.
Serta pada tempat-tempat yang lainnya yang dipandang perlu dan jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan setempat. 
Doa-doa dalam Yadnya Sesa (Doa Mesaiban)

Yadnya Sesa yang ditujukan kepada Hyang Widhi melalui Istadewata(ditempat air,dapur,beras/tempat nasi dan pelinggih/pelangkiran doanya adalah:
OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA DEWA SUKHA PRADHANA YA NAMAH SWAHA.
Artinya: Om Hyang Widhi, sebagai paramatma daripada atma semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud Dewa.
Yadnya Sesa yang ditujukan kepada simbol-simbol Hyang Widhi yang bersifat bhuta, Yaitu Yadnya Sesa yang ditempatkan pada pertiwi/tanah doanya:
OM ATMA TAT TWATMA SUDHAMAM SWAHA, SWASTI SWASTI SARWA BHUTA,KALA,DURGHA SUKHA PRADANA YA NAMAH SWAHA.
Artinya: Om Sang Hyang Widhi, Engkaulah paramatma daripada atma, semoga berbahagia semua ciptaan-Mu yang berwujud bhuta,kala dan durgha.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Jadi pada kesimpulannya sebuah tradisi Hindu di Bali yaitu mesaiban/mejotan merupakan sebuah tradisi yang menghaturkan atau membersembahkan apa yang dimasak atau disajikan untuk makan dipagi hari kepada Tuhan beserta manifestasi-Nya terlebih dahulu  dan barulah sisanya kita yang memakannya . Semua sebagai wujud syukur kita kepada Tuhan dan menebus dosa atas dosa membunuh hewan dan tumbuhan yang diolah menjadi makanan.


Sumber:
https://phdi.or.id/artikel/yadnya-sesa
https://inputbali.com/budaya-bali/makna-mebanten-saiban-ngejot-dalam-tradisi-hindu-bali
https://manacikapura.wordpress.com/tattwa/yadnya/yajsesa/







EKSISTENSI WARIGA DI ERA 4.0

EKSISTENSI WARIGA DI ERA 4.0


OLEH 
KELOMPOK V
NI KADEK WINDI FITRILIA SUPIARTA (17.1.015)
I MADE DWI LARTIKA (17.1.016)
IDA AYU MADE SASIH ARI PURNAMA (17.1.017)


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
AGAMA HINDU AMLAPURA
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU
SEMESTER VI
2020


Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas asung kerta wara nugraha-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Wariga , yang secara khusus membahas tentang Eksistensi Wariga di era 4.0.
Penulisan makalah  ini merupakan ide-ide dan pemikiran penulis yang didasarkan pada refrensi terpercaya, sehingga tugas ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Melalui penulisan  makalah ini disampaikan ucapan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu, yakni:
Drs. I Wayan Dwija, M.Pd, selaku Ketua STKIP Agama Hindu Amlapura yang telah mendukung baik secara moral dan material,
I Komang Badra, S.Pd,M.H, selaku dosen pengapu mata kuliah Wariga,
Segenap pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Semoga dalam segala keterbatasan makalah ini tetap dapat bermanfaat bagi teman-teman. Namun dalam pembuatan dan penyusunan makalah ini tentu masih banyak terdapat kekurangan, untuk itu saya sebagai penulis mohon kritik dan saran yang bersifat konstruktif sehingga makalah saya menjadi semakin baik.

Amlapura,29 Maret 2020

                  Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Bagi sebagian orang mungkin istilah Wariga merupakan sesuatu yang asing, tetapi sesungguhnya tanpa disadari konsepnya terkadang sudah diterapkan. Wariga pada dasarnya bersumber dari ajaran jyotisa tergolong kelompok Wedangga yang merupakan pelengkap Weda, dan sebagai batang tubuh dari Weda, yang isinya membahas tentang peredaran tata surya, bulan, bintang, dan benda  benda langit lainnya, yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan ini dalam melaksanakan upacara/yadnya.
Wariga adalah pengetahuan yang sangat terkenal dimasyarakat. Para petani mempelajari wariga untuk mencari masa bercocok tanam. Para pedagang mepelajarinya untuk mencari hari baik untuk mulai berdagang. Membuat alat perdagangan dan berbagai bentuk keberuntungan. Para pendeta (brahmana) mempalajari wariga, untuk mennentukan saat-saat berupacara. Oleh karena itu, wariga merupakan pengetahuan yang sangat popular.
Ajaran Wariga sejak dahulu sudah dikenal oleh para leluhur kita, baik di Indonesia maupun di India. Tentang Wariga di India dikenal dengan istilah Jyotisa, sedangkan dewasa ini umumnya dikenal dengan Astronomi/Astrologi. Pertumbuhan ajaran Wariga yang selanjutnya akan kita bahas antara lain tentang pengertian, sumber ajaran Wariga, pertumbuhan/perkembangan Wariga dan susunan tata surya menjadi nama-nama hari.
Dengan memahami  pengertian, sumber, pertumbuhan dan perkembangan dan susunan tata surya sebagai landasan ajaran Wariga, diharapakan kita dapat menghayati dan mengamalkan ajaran Agama Hindu secara baik khusunya dalam hal untuk memulai sesuatu perkejaan maupun melangsungkan upacara/upakara yadnya.
Dengan mempelajari Wariga diharapkan anda dapat memahami hakekat kebenaran Hindu secara utuh dan bulat, dalam arti tidak hanya mengetahui dari satu sisi saja, melalui pemahaman yang lebih luas dan menyeluruh diharapkan tidak terjadi persepsi yang keliru dalam memandang Agama Hindu dengan segala asfeknya.
Rumusan Masalah
Apa pengertian wariga ?
Apa saja dampak dari Wariga?
Bagaimana eksistensi wariga di era 4.0 ? 
Tujuan 
Untuk mengetahui pengertian wariga.
Untuk mengetahui dampak dari Wariga.
Untuk mengetahui eksistensi wariga di era 4.0.


BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Wariga
Wariga dan dewasa adalah dua istilah yang paling umum diperhatikan oleh umat hindu khususnya di bali bila ingin mencapai kesempurnaan dan keberhasilan. Kedua ilmu itu merupakan salah satu cabang ilmu agama yang dihubungkan dengan ilmu astronomi atau Jyotisa Sastra sebagai salah satu wedangga. Walaupun kedua ilmu tersebut sebagai salah satu cabang ilmu weda, namun pendalamannya tidak banyak diketahui kecuali untuk tujuan praktis pegangan oleh para pendeta dalam memberikan petunjuk baik buruknya hari dalam hubungannya untuk melakukan usaha agar supaya berhasil dengan mengingat hari atau waktu dalam sistim sradha hindu yang dipengaruhi oleh unsur kekuatan tertentu dan planet-planet itu.
Dalam lontar yang disebut Keputusan Sunari mengatakan bahwa kata wariga berasal dari dua kata, yaitu wara yang berarti puncak/istimewa dan ga yang berarti terang. Sebagai penjelasan dikemukakan .iki uttamaning pati lawan urip, manemu marga wakasing apadadang, ike tegesing wariga. dari penjelasan ini jelas bahwa yang dimaksud dengan wariga adalah jalan untuk mendapatkan keterangan dalam usaha untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan hidup matinya hari.
Disamping masalah itu, penentuan hari baik berdasarkan perhitungan menurut wariga disebut padewasan (dewasa). Jadi dewasa tidak lepas dari ilmu wariga dimana di dalam wariga, urip hari telah terperinci secara baku. Ini harus dipegang sebagai keyakinan kepercayaan. Dasarnya adalah percaya adan inilah agama.
Kata dewasa terdiri dari kata; de yang berarti dewa guru, wa yang berarti apadang/lapang dan sa yang berarti ayu/baik. Dengan demikian jelas bahwa dewasa adalah satu pegangan yang berhubungan dengan pemilihan hari yang tepat agar semua jalan atau perbuatan itu lapang jalannya, baik akibatnya dan tiada aral rintangan.
Masalah wariga dan dewasa mencakup pengertian pemilihan hari dan saat yang baik, ada perlu diperhatikan beberapa ketentuan yang menyangkut masalah wewaran, wuku, tanggal, sasih dan dauh dimana kedudukan masing-masing waktu itu secara relative mempunyai pengaruh .
didalilkan sebagai berikut:
Wewaran dikalahkan oleh wuku 
Wuku dikalahkan oleh tanggal panglong 
Tanggal panglong dikalahkan oleh sasih 
Sasih dikalahkan oleh dauh 
Dauh dikalahkan oleh de Ning (keheningan hati).
Untuk dapat memahami hubungan kesemuanya itu perlu mempelajari arti wewaran dan hubungannya dengan alam ghaib.
Wewaran
Wewaran berasal dari kata wara yang dapat diartikan sebagai hari, seperti hari senin, selasa dll. Masa perputaran satu siklus tidak sama cara menghimpunnya. Siklus ini dikenal misalnya dalam sistim kalender hindu dengan istilah bilangan, sebagai berikut;
Eka wara; luang (tunggal) 
Dwi wara; menga (terbuka), pepet (tertutup). 
Tri wara; pasah, beteng, kajeng. 
Catur wara; sri (makmur), laba (pemberian), jaya (unggul), menala (sekitar daerah). 
Panca wara; umanis (penggerak), paing (pencipta), pon (penguasa), wage (pemelihara), kliwon (pelebur). 
Sad wara; tungleh (tak kekal), aryang (kurus), urukung (punah), paniron (gemuk), was (kuat), maulu (membiak). 
Sapta wara; redite (minggu), soma (senin), Anggara (selasa), budha (rabu), wrihaspati (kamis), sukra (jumat), saniscara (sabtu). Jejepan; mina (ikan), Taru (kayu), sato (binatang), patra ( tumbuhan menjalar), wong (manusia), paksi (burung). 
Asta wara; sri (makmur), indra (indah), guru (tuntunan), yama (adil), ludra (pelebur), brahma (pencipta), kala (nilai), uma (pemelihara). 
Sanga wara; dangu (antara terang dan gelap), jangur (antara jadi dan batal), gigis (sederhana), nohan (gembira), ogan (bingung), erangan (dendam), urungan (batal), tulus (langsung/lancar), dadi (jadi). 
Dasa wara; pandita (bijaksana), pati (dinamis), suka (periang), duka (jiwa seni/mudah tersinggung), sri (kewanitaan), manuh (taat/menurut), manusa (sosial), eraja (kepemimpinan), dewa (berbudi luhur), raksasa (keras).
Disamping pembagian siklus yang merupakan pembagian masa dengan nama-namanya, lebih jauh tiap wewaran dianggap memiliki nilai yang dipergunakan untuk menentuk ukuran baik buruknya suatu hari. Nilai itu disebut urip atau neptu yang bersifat tetap. Karena itu nilainya harus dihafalkan.
Wuku 
Disamping perhitungan hari berdawarkan wara sistim kalender yang dipergunakan dalam wariga dikenal pula perhitungan atas dasar wuku (buku) dimana satu wuku memilihi umur tujuh hari, dimulai hari minggu (raditya/redite).
1 tahun kalender pawukon = 30 wuku, sehingga 1 tahun wuku = 30 x 7 hari = 210 hari.
Adapun nama-nama wukunya sebagai berikut;
Sita, landep, ukir, kilantir, taulu, gumbreg, wariga, warigadean, julungwangi, sungsang, dunggulan, kuningan, langkir, medangsia, pujut, Pahang, krulut, merakih, tambir, medangkungan, matal, uye, menial, prangbakat, bala, ugu, wayang, klawu, dukut dan watugunung.
Tanggal dan Panglong
Selain perhitungan wuku dan wewaran ada juga disebut dengan Penanggal dan panglong. Masing masing siklusnya adalah 15 hari. Perhitungan penanggal dimulai 1 hari setelah (H+1) hari Tilem (bulan Mati) dan panglong dimulai 1 hari setelah (H+1) hari purnama (bulan penuh).
Sasih
Sasih secara harafiahnya sama diartikan dengan bulan. Sama sepertinya kalender internasional, sasih juga ada sebanyak 12 sasih selama setahun, perhitungannya menggunakan perhitungan Rasi sesuai dengan tahun surya (12 rasi = 365/366 hari) dimulai dari 21 maret. adapun pembagian sasih tersebut adalah;
Kedasa = Mesa = Maret  April.
Jiyestha = Wresaba = April  Mei.
Sadha = Mintuna = Mei  Juni.
Kasa = Rekata = Juni Juli.
Karo = Singa = Juli Agustus.
Ketiga = Kania = Agustus  September.
Kapat = Tula = September  Oktober.
Kelima = Mercika = Oktober  November.
Kenem = Danuh = November  Desember.
Kepitu = Mekara = Desember  Januari.
Kewulu = Kumba = Januari  Februari.
Kesanga = MIna = Februari  Maret.

Dauh/dedauhan
Merupakan pembagian waktu dalam satu hari. Sehingga dedauh ini berlaku 1 hari atau satu hari dan satu malam. Berdasarkan dedauhan maka pergantian hari secara hindu adalah mulai terbitnya matahari (5.30 WIB). Inti dauh ayu adalah saringan dari pertemuan panca dawuh dengan asthadawuh, antara lain;
Redite = Siang; 7.00  7.54 dan 10.18  12.42, malam; 22.18  24.42 dan 3.06 - 4.00 
Coma = Siang; 7.54  10.18, malam; 24.42  3.06 
Anggara = Siang; 10.00  11.30 dan 13.00  15.06, malam; 19.54  22.00 dan 23.30 - 1.00 
Buda = Siang; 7.54  8.30 dan 11.30  12.42, malam; 22.18  23.30 dan 2.30  3.06 
Wraspati = Siang; 5.30  7.54 dan 12.42  14.30, malam; 20.30  22.18 dan 3.06  5.30 
Sukra = Siang; 8.30  10.18 dan 16.00  17.30, malam; 17.30  19.00 dan 24.42  2.30 
Saniscara = Siang; 11.30  12.42, malam; 22.18  23.30.
Dampak Dari Wariga
Agama adalah kebenaran dan kebaikan. Orang-orang yang berpegang teguh padanya akan terimbas oleh kebenaran dan kebaikan agama. Wariga atau Dewasa adalah salah satu cara untuk menjalankan ajaran agama yang berkaitan dengan aktivitas keagamaan, termasuk kegiatan-kegiatan lain yang behubungan dengan kehidupan. Sehingga pengaruh dari pemahaman terhadap padewan berdampak pada prilaku agama yang semakin konsisten serta pengalaman agama yang semakin intensif. Sehingga kekuatan agama terhadap diri manusia terlihat dari berbagai dimensi kehidupan manusia dalam membentuk sikap keagamaan.
Ada beberapa dampak dari pemahaman wariga yang dapat membentuk sikap keagamaan antara lain :
Dampak Moral yaitu salah satu kecendrungan mengembangkan perasaan bersalah ketika manusia berprilaku menyimpang dari hal-hal  yang tertuang dari wariga dewasa.
Dampak Kongnitif yaitu meningkatkan pemahaman dan keyakinan manusia, bahwa segala keberhasilan yang diraih oleh manusia tidak saja berasal dari dalam dirinya (usaha) tetapi ada sesuatu kekuatan yang berasal dari luar dirinya yang bersumber dari Tuhan, yang turut serta memberikan undil dalam keberhasilan tersebut.
Dampak Efektif yaitu pengalaman batin seseorang yang merupakam salah satu faoktor yang ada dalam pengalaman setiap orang beragam. Sebagian orang mungkin menganggap bahwa pelaksanaan upacara-upacara sesuai dengan wariga dewasa sekedar seremonial saja, namun sebagian yang dengan khusuk berlandaskan keyakinan mencurahkan emosinya akan merasakan ketegangan dan kedamaian.
Dampak Psikomotor yaitu adanya kehati-hatian manusia dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Dampak Sosial yaitu dengan adanya pemahaman wariga dewasa manusia selalu membangun hubungan sosial yang harmonis, nukan saja sesama manusia tetapi juga dengan Tuhan dan alam lingkungannya.

Eksistensi Wariga di era 4.0.
Pada era 4.0 eksistensi wariga saat ini masih digunakan untuk menentukan hari baik melaksanakan upacara atau yadnya. Dengan adanya kalender saka bali, baik kalender bali digital maupun yang digunakan sehari  hari, orang bali tidak akan susah untuk menentukan hari baik berdasarkan wariga. 
Kalender Bali Digital merupakan salah satu referensi dari istilah, pengertian dan makna hari raya dan upacara yadnya umat Hindu ini. Dalam rujukan referensi ini, anda dapat menyesuaikan dengan hari, tanggal, wuku. Sebagai tambahan, kalender bali umumnya terdiri atas beberapa bagian penting, diantaranya; 
Bagian kepala; yang berisi Nama Bulan dan Tahun (seperti normalnya kalender internasional)
Badannya; berisikan tanggalan (seperti kalender internasional) dan beberapa tanda, diantaranya; Titik merah artinya Bulan Purnama, Titik Hitam artinya Bulan Tilem/Mati; lingkaran merah artinya hari raya besar agama hindu dan tanggal merah untuk hari libur nasional.
Bagian lengan kanan; berisikan daftar istilah wariga berdasarkan tanggal, yang berisikan juga keterangan hari-hari baik melakukan kegiatan/usaha/yadnya.
Bagian lengan kiri; berisikan nama-nama hari
Bagian kaki; berisikan daftar hari raya agama, daftar piodalan/upacara pura-pura besar di bali serta beberapa hari baik lainya.


Dengan adanya kalender bali tersebut, orang bali tidak akan susah untuk menentukan hari baik berdasarkan wariga dan dewasa ayu. tetapi apabila ingin mempelajari secara manual, tentu ada rumus baku untuk wariga kalender Bali tersebut. 


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Wariga adalah ilmu tentang perhitungan baik buruknya hari dalam rangka memulai suatu pekerjaan maupun melakukan yadnya berdasarkan pertimbangan  pertimbangan yang bijaksana sehingga menimbulkan keharmonisan dengan hasil yang memuaskan.
Dampak wariga tidak selamanya baik dan buruk. Sekarang tergantung penggunaan dan keperluan yang diperlukan. Menyesuaikan dengan keadaan dan kegiatan yang dilakukan.
Eksistensi wariga di era 4.0 semakin berkembang dengan adanya kalendar digital yang memudahkan dalam menentukan hari baik untuk upacara atau yadnya.
Saran 
Sebagai umat Hindu yang percaya ajaran Weda, dan salah satunya ajaran Jyotisa, maka setiap tindakan yang kita lakukan harus selalu bercermin pada ajaran Wariga agar hasil dari setiap tindakan yang kita lakukan menjadi maksimal.














Daftar Pustaka
Anonymous. (2016).Pengertian Wariga. Tersedia pada http://adhasa89.blogspot.com/2016/02/pengertian-wariga.html?m=1. Diakses 29 Maret 2020
Forum diskusi jaringan hindu nusantara. (2011). Kalendar  Bali Digital. Tersedia padahttp://sejarahharirayahindu.blogspot.com/2011/01/kalender-bali-digital.html?m=1. Diakses pada 29 Maret 2020.
Sudirga, Idabagus. 2016.Pendidikan Agana Hindu dan Budi Pekerti.Jakarta.Diakses pada 29 Maret 2020.









Sabtu, 04 April 2020

SIMBOL MISTIK “OM”

SIMBOL MISTIK “OM”

OLEH
I KADEK BUDIARTA
NPM: 19.I.046

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
AGAMA HINDU AMLAPURA
2020

Kata Pengantar

“Om Swastyastu”
Puji syukur kami ucapkan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa, karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Simbol Mistik “OM”.  ini dengan tepat waktu.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar – besarnya.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.
Om santih, santih, santih, Om


Amlapura, Maret 2020
Penulis


BAB I
PENDAHULUAN 

Latar Belakang
Dalam sejarah pemikiran ada dua arti simbol yang sangat berbeda satu sama lainnya, yaitu dalam pengertian agama dan dalam sistem logika atau ilmu pengetahuan. Dalam agama simbol dipandang sebagai ungkapan indrawi atas realitas yang transenden, sementara dalam sistem logika atau ilmu pengetahuan, simbol atau lambang memiliki arti sebagai tanda yang abstrak.
Simbol merupakan contoh terbaik tentang bentuk ekspresi pengalaman keagamaan yang bercorak endeiktik. Endeiktik adalah bentuk pengekspresian pengalaman keagamaan dengan menggunakan isyarat atau bentuk-bentuk terselubung lainnya. Simbol-simbol keagamaan memperlihatkan ciri umum dari segala macam simbol dan merupakan gambaran penting yang berfungsi membantu pikiran dan jiwa orang yang sedang melakukan pemujaan untuk memahami realitas spiritual. (Djam'annuari, 1998)
Pemujaan yang merupakan perwujudan cinta manusia kepada Tuhan ini adalah inti, nilai dan makna kehidupan yang sebenarnya. Adapun cara pemujaannya tergantung pada agama, kepercayaan, kondisi dan situasinya. (Sujarwo, 1999)
Agama Hindu sangat kaya dengan berbagai simbol, penampilannnya sangat indah dan menarik hati setiap orang yang melihatnya. Bagi umat Hindu simbol-simbol tersebut menggetarkan kalbu dan mereka berusaha memahami makna yang terkandung di balik symbol-simbol tersebut. Simbol-simbol tersebut merupakan media bagi umat Hindu untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, mengadakan dialog dengan Yang Maha Kuasa dan memohon perlindungan-Nya. (Titib, 2003)
RUMUSAN MASALAH
Apa pengertian simbol Agama ?
Apa itu simbol sakral Hindu ?
Dari mana asal usul “OM” (AUM) ?
Kenapa “OM” (AUM) disebut Simbol Mistik ?

Tujuan Penulisan 
Untuk mengetahui apa pengertian simbol Agama 
Untuk mengetahui apa itu simbol sakral Hindu 
Untuk mengetahui dari mana asal usul “OM” (AUM) ?
Untuk mengetahui Kenapa “OM” (AUM) disebut simbol mistik 


BAB II
PEMBAHASAN  

Pengertian Simbol Agama
Simbol berasal dari Yunani kata symboion dari syimballo (menarik kesimpulan berarti memberi kesan). Simbol atau lambang sebagai sarana atau mediasi untuk membuat dan menyampaikan suatu pesan, menyusun sistem epistimologi dan keyakinan yang dianut.
Simbol di sisi lain adalah “artifisial”, “penunjuk”, dan termasuk dalam dunia makna manusia. Maka pengetahuan manusia pada dasarnya adalah simbolik. Perbedaan antara agama dan ilmu, menurut Cassirer, adalah jika agama dan mite “menyatukan” simbol dengan yang ditandai (signified), maka ilmu (seperti bahasa sehari-hari dan common sense) membedakan antara keduanya dan dari pembedaan itu dihasilkan “sistem relasi.” (Morris, 2007)
Kata ‘simbol’ (Inggris : symbol) mengandung arti : untuk sesuatu atau juga menggambarkan sesuatu, khususnya untuk menggambarkan sesautu yang immaterial, abstrak, ustu idea, kualitas, tanda-tanda suatu objek, proses dan lain-lain (Coulson, 1978) 
Pendapat lain, kata ‘simbol’ berasal dari bahasa Greek, “sum-ballo” yang mengandung arti “saya bersatu bersamanya”, “:penyatuan bersama”. Apakah yang dapat disatukan bersama dalam simbol itu, di satu pihak adalah bentuk, dan nilai harfiah, di pihak lain kehidupan yang membimbing kita. (Reede, 1989). Sementara itu, Sekhar Gosh menyatakan bahwa kata ‘simbol’ berasal dari kata “symbolon” (dalam bahasa Greek) yang berarti tanda dan dengan tanda itu seseorang mengetahui atau mengambil kesimpulan tentang sesuatu. Di dalam bahasa Sanskerta kata simbol disebut “pratika” yang mengandung arti “yang datang ke depan, yang mendekati”. Dengan demikian kata ini mengandung makna menunjukkan, menampilkan atau menarik kembali sesuatu dengan analogi kualitas kepemilikan atau dengan mengasosiasikan ke dalam fakta atau pikiran. (Sekhar Gosh, 1990) 
Simbol Sakral Hindu
Buddhisme, Jainisme, Sikhisme dan Zoroastrianisme. Hal ini digunakan baik sebagai symbol dan sebagai suara dalam ibadah, ritual nyanyian, kinerja sakramen dan ritual, yoga dan tantra. Dalam agama Hindu itu dihormati sebagai Brahman dalam bentuk word (Askshara) dan suara (sabda).
Samhita Taittirya menjelaskan penggunaannya dan signifikansi dalam ritualVeda dengan cara berikut:
AUM adalah Brahman. AUM adalah semua. AUM, ini sesungguhnya adalah kepatuhan. Pada mengucapkan, “membaca”, mereka membaca. Dengan AUM, mereka menyanyikan nyanyian saman. Dengan Aum, som, mereka melafalkan doa-doa. Dengan Aum imam mengucapkan Advaryu respon. Dengan Aum satu assents dengan penawaran untuk menembak. Withy Aum seorang Brahmana mulai membaca,mungkin saya mendapatkan Brahman, dengan demikian berharap, Brahman, sesungguhnya ia memperoleh.
Asal Usul “OM” (AUM)
Ada banyak teori mengenai asal-usul suku kata OM. Max Mueller mengusulkan bahwa mungkin telah berasal dari kata kuno “Ayam”, yang digunakan pada zaman prasejarah dalam arti Thatto mengacu pada obyek yang jauh. Menurut Swami Sankarananda, kata mungkin telah berasal dari nama seorang dewa Somathe penting yang disebutkan dalam Weda sering dan dengan siapa ritual esoteric banyak terkait. Kata ini juga terkait dengan suara napas dan getaran halus dan potensi tinggi universal yang dapat didengar secara internal dalam pesawat halus sebagai suara yang mendalam (Pranava nada) oleh pakar sepanjang waktu.
Ada kemungkinan bahwa kata mungkin telah diintegrasikan ke dalam agama Veda dari beberapa tradisi pertapa India Kuno. Upanishad Chandogya menceritakan bagaimana Aum suku kata yang dikeluarkan keluar dari Brahma saat ia merenung atas dunia yang ia ciptakan dalam tahap awal penciptaan. Dari merenung yang pertama muncul pengetahuan tiga kali lipat (trayi vidya) dan kemudian Bhur suku kata, Bhuvah dan Suvah. Ketika ia merenung atas mereka (Bhur, Bhuvah dan Suvah), Aum suku dikeluarkan keluar dari mereka. Dengan demikian secara simbolis, Aum mewakili seluruh ciptaan diwujudkan dalam tiga pesawat, yaitu bumi, wilayah pertengahan dan langit.
Simbol Mistik “OM” (AUM)
Didalam Agama Hindu ada banyak simbol yang mencerminkan agama Hindu sendiri. Salah satu simbol yang selalu ada dan terucap setiap mantram yang ada dalam Agama Hindu, yaitu “OM”. Kata “OM” (AUM) merupakan aksara suci yang sering diucapkan setiap melakukan persembahyangan khususnya orang Hindu. Menurut kitab Mandukya Upanisad, “OM” (AUM) berarti realitas di semua Alam. Ini diwakili oleh suku kata yaitu A + U + M.
A artinya Keadaan sadar, fisik / alam semesta di luar
U artinya Keadaan mimpi, mental / alam semesta di dalam
M artinya Keadaan tidur yang mendalam, dimana tidak ada yang dialami. 
Suku kata tunggal “OM” (AUM) merupakan hasil dari kombinasi harmonis dari tiga suara dasar yang dapat dihasilkan oleh organ tubuh manusia. Hal ini dapat dilihat bahwa keseluruhan mekanisme vocal manusia beroperasi optimal apabila ia mengucapkan atau melafalkan suara “OM” sesuai dengan khaidah-khaidah Veda.
Akaara, dihasilkan dari system yang paling dalam, tempat dimana Kundalini berada. Tenggorokan mengambil peran yang sangat pentng dalam mengekspresikan suara ini. Ukaara, tahap kedua, dimana suara mulai di tenggorokan meluncur ke atas ke ujung lidah. Makaara, suara berkonsentrasi pada organ vocal yaitu bibir. (Suamba, 1999)
Jadi dapat dilihat bahwa dalam memproduksi suara “OM”, keseluruhan Pindanda, wujud mikrokosmis dari Brahmanda yang makro, muncul dalam wujudnya yang nyata. Maka dari itu suku kata tunggal ini secara tepat dapat dikatakan menyimpulkan Brahman yang meresapi dan menjiwai segalanya yang ada di alam semesta.
Signifikasi mantra “OM” dapat dilihat pada kitab-kitab Upanishad dan pada sebagian besar kitab-kitab suci Hindu. Untuk menyebut beberapa saja, Taittireeya, Chkandogya dan Mandookya, Upanishad menaruh perhatian yang serius terhadap betapa hebat kekuatan suara “OM” ini. Sebagai contoh, Anuvaka ke delapan dari Siksha Valli pada Taittireeya Upanishad hampir seluruhnya membahas simbol mistik “OM” ini. “Om ini Brahman Om iti idam sarvam. Om iti etada nukriti,” dst. “Om iti samaani gaayanti,” dst.
Menurut Upanishad ,”OM” merupakan titik konsentrasi bagi siswa kerohanian yang lebih intelektual dari pada emosional,bagi orang yang mengambil jalan Jnana Yoga dari pada BHakti Yoga. “OM” merupakan Lingga bagi pemujaan intelektual pada pura yang bersemayam di dalam diri kita. Ketika memusatkan pikiran pada suku kata tunggal “OM”, tiga komponen sebagai bagiannya yaitu A, U, dan M menjadi pusat konsentrasi dengan acuan khusus kepada keadaan Jagrat, Swapna  dan Sushupti, yaitu masing-masing keadaan terjaga atau sadar, mimpi dan tidur pulas. 
Sebagai total perjalanan kita adalah totalitas perjalanan dalam keadaan Jagrat, Swapna  dan Sushupti. “OM” menyimbulkan keselamatan jagat,dunia kosmis atau kesadaran murni. Itulah sebabnya mengapa para yogi agung menyatakan bahwa “OM” adalah segala akhilanda “OM iti Brahma”.
Aksara suci “OM” sebagai Pranawa secara panjang lebar dibahas dalam Narada Parivrajaka Upanishad. Menurut kitab ini aksara “OM” ini dibentuk oleh enam kelas mantra, yaitu: 
 Akaara
Ukaara
Makaara
Ardhamantra
Nada
Bindu
Kala
Kalateeta
Santi
Santyateeta
Unmani
Manonnmani
Puri
Madhyama
Pasyanti
Para
Sementara Dhyanabindu Upanishad menyebutkan 12 mantra-mantra itu menjelaskan keagungan Pranawa (OM) ini serta efek yang ditimbulkan pada tingkatan siddhi, yaitu:
Ghosini menyebabkan tercapainya kepada keadaan kesadaran super.
Vidyunmali meningkatkan yakshaloka yang merupakan tahap berikutnya dalam evaluasi
Patangini menyebabkan sadhaka mampu terbang di udara
Vayuvegini memungkinkan lari secepat angin
Namadheya memberikan jalan masuk ke dalam Pitraloka
Eindri memberikan jalan masuk ke Indraloka
Vaishnavi memberikan jalan masuk ke Vishnuloka
Sankari memberikan jalan masuk ke Vishnuloka
Mahti untuk mempengaruhi makhluk-makhluk atau penghuni-penghuni mahaloka
Dhrithi untuk mempengaruhi penghuni-penghuni mahaloka
Mouni menyebabkan sadhaka mampu mencapai dunia para muni, dan
Brahmi mencapai Brahmaloka.



BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Simbol atau lambang sebagai sarana atau mediasi untuk membuat dan menyampaikan suatu pesan, menyusun sistem epistimologi dan keyakinan yang dianut. Pengertian simbol tidak akan lepas dari ingatan manusia secara tidak langsung manusia pasti mengetahui apa yang di sebut simbol, terkadang simbol diartikan sebagai suatu lambang yang digunakan sebagai penyampai pesan atau keyakinan yang telah dianut dan memiliki makna tertentu, Arti simbol juga sering terbatas pada tanda konvensionalnya, yakni sesuatu yang dibangun oleh masyarakat atau individu dengan arti tertentu yang kurang lebih setandar yang disepakati atau dipakai anggota masyarakat tersebut.
“OM” sebagai aksara suci ternyata memiliki kemujaraban yang luar biasa sebagai pemusatan pikiran kepada satu titik (ekagrata). Pikiran sesuai dengan sifat-sifatnya, sangat sulit untuk didiamkan apalagi dipusatkan. Namun pemusatan kepada satu titik ini dapat dilakukan dengan pikiran ikhlas, Bhakti, tekad yang kuat dan teguh iman agar mampu memperoleh visi Tuhan Yang Maha Tinggi (Iswara).

DAFTAR PUSTAKA

Morris, B. (2007). Antropologi Agama: Kritik Teori-teori Agama Kontemporer. Yogyakarta: AK Group.
Reede, J. D. (1989). Universal Symbolism dalam Symbolism in Hinduism. Bombay: Central Chinmaya Mission Trust.
Sekhar Gosh, A. (1990). Symbolism and Spiritual Wisdom India's LIfe Breath. Bombay: Bharatiya Vidya Bhavan.
Suamba, I. B. (1999). Warta Hindu Dharma, Berdasarkan Satyam Siwam, Sundaram. Denpasar: Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat.
Sujarwo. (1999). Manusia dan Fenomena Budaya: Menuju Perspektif Moralitas Agama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Titib, I. M. (2003). Teologi dan Simbol dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.

Jumat, 03 April 2020

“BUDAYA DALAM AGAMA HINDU”


MAKALAH
“BUDAYA DALAM AGAMA HINDU”

Oleh :
NI MADE AYU FEBRIANTI
NPM. 19.1.049
PRODI : PENDIDIKAN AGAMA HINDU (SMST II)

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA HINDU
STKIP AGAMA HINDU AMLAPURA
TAHUN 2020

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “BUDAYA DALAM AGAMA HINDU” ini dengan lancar. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Study Agama-Agama.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang kami peroleh dari buku panduan dan internet yang berkaitan dengan Budaya dalam Agama Hindu, serta infomasi dari media massa yang berhubungan dengan Budaya, tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada pengajar mata kuliah Study Agama-Agama atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah ini. kami harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai Budaya dalam Agama Hindu. 
Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Amlapura, 27 Maret 2020


Penulis,



LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan, manusia tidak pernah lepas dari budaya dan adat istiadat. Keberadaan budaya amatlah penting, karena berfungsi sebagai identitas dan ciri khas. Budaya merupakan segala hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Segala bentuk cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh suatu masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi adalah hal – hal yang muncul karena budi dan akal manusia. Budaya merupakan pola hidup menyeluruh yang bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Budaya terbentuk dari beberapa unsur yang rumit, diantaranya sistem agama, adat istiadat, karya seni, dan lain sebagainya. Dianggap sebagai unsur yang rumit karena unsur – unsur tersebutlah yang menimbulkan keanekaragaman budaya sehingga budaya di daerah yang satu berbeda dengan budaya yang ada di daerah lain walaupun masih dalam satu Negara. Perbedaan budaya tersebut yang kemudian menjadi sebuah identitas bagi daerah – daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk mengenali dan mengingat ciri khas masing – masing daerah. Indonesia merupakan salah satu Negara yang mempunyai banyak keanekaragaman budaya yang sangat menarik dan unik. Dalam era modernisasi sekarang ini, tidak sedikit penduduk Indonesia yang menganut budaya asing dan melupakan budaya sendiri. Perkembangan teknologi dan masuknya budaya barat ke Indonesia, tanpa disadari secara perlahan telah menghancurkan kebudayaan daerah. Rendahnya 2 pengetahuan menyebabkan akulturasi kebudayaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur yang terkandung didalam kebudayaan daerah. Masuknya kebudayaan barat tanpa disaring oleh masyarakat dan diterima secara mentah/apa adanya, mengakibatkan terjadinya degredasi yang sangat luar biasa terhadap kebudayaan asli. Budaya Indonesia secara perlahan mulai punah, berbagai budaya barat yang menghantarkan kita untuk hidup modern yang meninggalkan segala hal yang tradisional, hal ini memicu orang bersifat antara lain sebagai sikap individualis dan matrealistis. Berkurangnya nilai budaya dalam diri hendaknya perlu perhatian khusus untuk menjaga segala budaya yang kita miliki. Salah satu penyebabnya karena saat ini kebudayaan daerah hanya dikenalkan lewat buku bacaan sehingga kurang menarik minat untuk mempelajarinya. Sedangkan kualitas buku-buku bacaan tentang pengenalan budaya daerah yang baik belum tentu menarik minat untuk membacanya. Salah satu upaya dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya asli kita adalah memberikan pembelajaran budaya Indonesia melalui sistem berbasis multimedia yang terkomputerisasi. Dengan multimedia pengenalan tentang kebudayaan Indonesia akan lebih menarik, interaktif dan praktis.

1.2  RUMUSAN MASALAH
Apakah yang dimaksud dengan Budaya?
Apa Peran Agama dalam Kebudayaan?
Bagaimana Hubungan Antara Agama dan Kebudayan Hindu?
Apa saja  Kebudayaan yang ada dalam Agama Hindu?

TUJUAN MAKALAH
Mahasiswa mampu memahami dan memaknai arti dari Budaya.
Mahasiswa mengetahui apa peran Agama dalam Kebudayaan.
Mahasisiwa dapat mengetahui Hubungan antara Agama dan Kebudayaan Hindu.
Mahasiswa dapat mengetahui apa saja Kebudayaan yang ada dalam Agama Hindu.

BAB II
PEMBAHASAN

BUDAYA
Budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh sekelompok orang, dan diwariskan turun temurun untuk generasi ke generasi. Budaya terdiri dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, bahasa, adat istiadat, bangunan, alat, pakaian, dan karya seni. Bahasa, serta budaya, merupakan bagian integral dari manusia yang banyak orang cenderung menganggap itu diwariskan secara genetik. Ketika seseorang mencoba untuk berkomunikasi dengan orang-orang dari budaya yang berbeda, dan menyesuaikan perbedaan, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah gaya hidup holistik. budaya juga bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya bantuan menentukan perilaku komunikatif. Unsur penyebaran sosial budaya, dan mencakup banyak kegiatan sosial manusia. Berikut ini terdapat beberapa pengertian budaya menurut para ahli, terdiri atas: 
E. B Taylor dalam Soekanto (1996:55)
Memberikan definisi mengenai kebudayaan ialah: “kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan kepercyaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat”.
Selo Soemardjan dan Soelaeman Somardi dalam Soekanto (1996:55)
Merumuskan “kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat.

Koentjaraningrat
Dari asal arti tersebut yaitu “colere”  kemudian “culture”  diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam (Koentjaraningrat dalam Soekanto, 1969: 55).
Linton
Budaya adalah keseluruhan sikap & pola perilaku serta pengetahuan yang merupakan suatu kebiasaan yang diwariskan & dimilik oleh suatu anggota masyarakat tertentu.
KBBI
Budaya adalah sebuah pemikiran, adat istiadat atau akal budi. Secara tata bahasa, arti dari kebudayaan diturunkan dari kata budaya dimana cenderung menunjuk kepada cara pikir manusia.
Effat Al-Syarqawi
Mendefinisikan bahwa pengertian budaya dari pandangan agama islam,  adalah khzanah sejarah sekelompok masyarakat yang tercermin didalam kesaksian & berbagai nilai yang menggariskan bahwa suatu kehidupan harus mempunyai makna dan tujuan rohaniahnya

PERAN AGAMA DALAM KEBUDAYAAN
Masyarakat indonesia sebagian besar adalah masyarakat yang beragama islam. Agama biasanya selalu dikaitkan dengan kebudayaan. Padahal agama dan kebudayaan mempunyai tempatnya sendiri sendiri. Masyarakat selalu keliru bagaimana menempatkan posisi agama dan posisi budaya dalam suatu kehidupan masyarakat. Walaupun agama dan kebudayaan merupakan suatu hal yang saling berkaitan dan tidak bisa berdiri sendiri, dan keduanya saling mempengaruhi satu sama lain.
 Agama sebagai pedoman hidup manusia yang diciptakan oleh Tuhan, dalam menjalani hidupnya. Sedangkan kebudayaan adalah sebagai kebiasaan tata cara hidup manusia yang diciptakan oleh manusia itu sendiri dari hasil daya cipta, rasa dan karsanya yang diberikan oleh Tuhan. Sajak awal perkembangan agama-agama di Indonesia telah menerima akomodasi budaya, contohnya agama islam, dimana islam sebagai agama faktual banyak memberikan norma-norma atau aturan tentang kehidupan dibandingkan dengan agama-agama lain. Masyarakat indonesia sebagian besar adalah masyarakat yang beragama islam. Kiranya cukup jelas bagi kita bahwa ada hubungan yang konkret antara budaya dan agama bagi pelaku yang sama. Sebab baik budaya maupun agama merupakan ekspresi suasana hatinya yang lebih mendalam. Meskipun tampak serupa antara “agama” dan “budaya” dalam perspektif antropologi, kita dapat tetap membedakan keduanya. Amaladoss melihat hubungan antara agama dan budaya dengan mengatakan bahwa agama merupakan unsur terdalam dari budaya, sementara budaya merupakan bentuk ekspresif dari agama tersebut. 


HUBUNGAN ANTARA AGAMA DAN KEBUDAYAN HINDU
Agama merupakan kepercayaan kepada Tuhan serta segala sesuatu yang bersangkut-paut dengan itu. Dengan demikian sembahyang, beryadnya, melakukan kewajiban kepada sesama manusia adalah merupakan hal yang termasuk ke dalam Agama. Walaupun kita tidak cepat percaya kepada sesuatu, tetapi percaya itu merupakan hal yang juga diperlukan di dalam hidup. Orang yang tidak memiliki kepercayaan pada sesuatu, akan selalu dalam keadaan, ragu, tidak aman, curiga dan tidak mempunyai pegangan yang pasti. Percaya merupakan suatu sikap yang perlu ditumbuhkan di dalam diridan kita berharap bahwa apa yang kita percayai itu memang benar seperti apa yang kita duga. Karena agama itu adalah kepercayaan, maka dengan agama kita akan merasa aman dalam hidup ini dan karena memiliki rasa aman, kita akan merasakan ketetapan hati dalam menghadapi sesuatu. Dengan memiliki suatu agama, orang merasa memiliki suatu pegangan iman tertentu yang menambatkan ia pada suatu tempat berpegang yang kokoh. Tempat itu tiada lain dari pada Tuhan itu sendiri. Yang menjadi sumber semua ketenteraman dan semangat hidup ini mengalir. 
KepadaNya lah kita memasrahkan diri, karena tiada tempat lain dari padanya tempat kita kembali. Selanjutnya, manusia sebagai makhluk sosial tidak terlepas dari budayanya sendiri, dalam arti manusia itu harus berperan dalam suatu proses kebudayaan. Kebudayaan tidak lain daripada hasil proses tindakan atau perlakuan akibat hubungan manusia dengan manusia dan alam lingkungannya sehingga dapat beradaptasi secara seimbang dan serasi. Pada suatu sisi, kebudayaan itu tidak bisa dipisahkan dengan kekuatan dan kemampuan berpikir untuk terciptanya kreasi termasuk kemampuan kerja dan mengolah kemampuan untuk mengembangkan dan beradaptasi dengan budaya lain. Menurut para ahli Antropologi, suatu kebudayaan sedikit-dikitnya mempunyai tiga wujud, yaitu: pertama adalah dalam wujud gagasan, pikiran, konsep dan sebagainya yang berbentuk abstrak; kedua dalam bentuk aktifitas yaitu berupa tingkah laku berpola, perilaku, upacara-upacara serta ritus-ritus yang wujudnya lebih konkrit. Dan yang ketiga, yakni dalam bentuk benda yang bisa merupakan hasil tingkah laku dan karya para pemangku kebudayaan yang bersangkutan dan oleh para ahli disebut dengan kebudayaan fisik. Lebih jauh dilihat maka kebudayaan itu setidak-tidaknya mempunyai tujuh unsur yang universal, ketujuh unsur yang universal tersebut terdapat pada semua kebudayaan yang ada di sentra dunia ini, baik yang kecil, terisolasi dan sederhana, maupun yang besar, komplek dan maju. Ketujuh unsur yang dimaksud adalah; bahasa, sistem teknologi, sistem ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi dan kesenian. Ketujuh unsur tersebut juga terdapat pada kebudayaan Indonesia dan kebudayaan daerah yang ada. Agama dan Budaya dalam Hindu.  Agama Hindu merupakan agama yang diyakini oleh masyarakat Hindu, yang bersumber dari Ida Sang Hyang Widi Wasa. Weda merupakan kitab suci agama Hindu yang diwahyukan melalui pendengaran rohani para Maha Rsi. Oleh karena itu Weda juga disebut dengan kitab suci SRUTI. Umat Hindu yakin dan percaya bahwa dunia dan segala isinya diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena Cinta Kasih Beliau. Cinta Kasih Tuhan untuk menciptakan sekalian makhluk sering juga disebut dengan YADNYA. Dalam kitab Yajur Weda XXIII,62 disebutkan: “Ayam yajno Bhuvanasya” yang artinya Yadnya adalah pusat terciptanya alam semesta. Penciptaan adalah karya spiritual dari Yang Maha Esa dan sebagai kridanya memperlihatkan kemulianNya. Weda sebagai kitab suci agama Hindu diyakini kebenarannya dan menjadi pedoman hidup Umat Hindu, sebagai sumber bimbingan dan informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari ataupun untuk waktu-waktui tertentu. Diyakini sebagai kitab suci karena sifat isinya dan yang menurunkannya adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa itu sendiri. Weda mengalir dan memberikan vitalitas terhadap kitab-kitab Hindu pada masa berikutnya. Dari kitab suci Weda lah mengalir nilai-nilai keyakinan itu pada kitab-kitab seperti; Smerti, Itihasa, Puruna, kitab Agama, Tantra, Darsana, dan Tattwa-tattwa yang diwarisi oleh umat Hindu sampai saat ini.
Weda mengandung ajaran yang memberikan keselamatan di dunia dan setelah itu. Weda menuntun tindakan umat manusia sejak ada dalam kandungan sampai selanjutnya. Weda tidak terbatas pada tuntunan hidup individu, masyarakat, kelompok manusia, tetapi ia menuntun seluruh hidup dan kehidupan seluruh makhluk hidup. Budaya dalam Pandangan Agama Hindu
Dalam kenyataan hidup bermasyarakat maka antara adat/budaya dan agama sering kelihatan kabur dan bahkan sering tidak dimengerti dengan baik. Tidak jarang suatu adat-budaya yang dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat dianggap merupakan suatu kegiatan keagamaan, ataupun sebaliknya, suatu kegiatan keagamaan dianggap adalah kegiatan budaya. Sesungguhnya antara budaya dan agama terdapat segi-segi persamaannya tetapi lebih banyak segi-segi perbedaannya. Segi persamaannya dapat dilihat dalam hal bahwa kedua norma tersebut sama-sama mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat agar tercipta suasana ketentraman dan kedamaian. Tetapi disamping adanya segi persamaan, terdapat juga segi-segi perbedaan. Segi perbedaan itu akan tampak jika dilihat dari segi berlakunya, dimana perwujudan adat-budaya tergantung pada tempat, waktu, serta keadaan (desa, kala, dan patra), sedangkan agama bersifat universal. Kalau diperhatikan, maka agama dengan ajarannya itu mengatur rohani manusia agar tercapai kesempurnaan hidup. Sedangkan adat budaya lebih tampak pengaturannya dalam bentuk perbuatan lahiriah yaitu mengatur bagaiman sebaiknya manusia itu bersikap, bertindak atau bertingkah laku dalam hubungannya dengan manusia lainnya serta lingkungannya, agar tercipta suatu suasana yang rukun damai dan sejahtera.
Dalam agama Hindu, antara agama dan adat-budaya terjalin hubungan yang selaras/erat antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi. Karenanya tidak jarang dalam pelaksanaan agama disesuaikan dengan keadaan setempat. Penyesuaian ini dapat dibenarkan dan dapat memperkuat budaya setempat, sehingga menjadikan kesesuaian “adat-agama” ataupun’budaya-agama’, artinya penyelenggaraan agama yang disesuaikan dengan budaya setempat. Demikianlah terdapat didalam agama Hindu, perbedaan pelaksanaan agama Hindu pada suatu daerah tertentu terlihat berbeda dengan daerah yang lainnya. Perbedaan itu bukanlah berarti agamanya yang berbeda. Agama Hindu di India adalah sama dengan agama Hindu yang ada di Indonesia, namun kuliynya yang akan tampak berbeda. Sedangkan budaya agama adalah suatu penghayatan terhadap keberadaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam bentuk kegiatan budaya. Sejak munculnya agama Hindu, usaha memvisualisasikan ajaran agama Hindu kepada umat manusia telah berlangsung dengan baik. Para rohaniawan Hindu, para pandita, orang-orang suci mengapresiasikan ajaran yang terdapat dalam kitab suci Weda kedalam berbagai bentuk simbol budaya. Usaha ini telah terlaksana dari zaman ke zaman. Ajaran yang sangat luhur ini diwujudkan dan disesuaikan dengan desa, kala, dan patra pada waktu itu. Kalau dilihat dari fakta sejarah, wujud budaya agama itu dari zaman ke zaman mengalami perubahan bentuk, namun tetap memiliki konsep yang konsisten. Artinya, prinsip-prinsip ajaran agama itu tidak pernah berubah yakni bertujuan menghayati Ida Sang Hyang Widi Wasa. 

2.4 KEBUDAYAAN YANG ADA DALAM AGAMA HINDU
Mengingat bahwa kebudayaan  merupakan hasil daya cipta , rasa, karsa manusia, maka dalam kehidupan sehari- hari kita akan menjumpai berbagai bentuk dan wujud kebudayaan. Jadi kebudayaan tidak hanya berkisar antara kesenian saja namun juga terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, konsep (ide dan gagasan), adat istiadat, bahasa, cerita, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Dimana semua hal yang termasuk dalam kebudayaan tersebut dijiwai oleh Agama. Kebudayaan Hindu yang bernafaskan agama tertanam sangat kuat dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat di Bali. Setiap bagian dari kebudayaan Hindu merupakan ekspresi dari ajaran Agama Hindu. Dan untuk lebih jelasnya kalau bagian dari kebudayaan Hindu merupakan ekspresi dari ajaran Hindu dapat di aplikasikan dalam berbagai contoh : 
Berbusana ke pura : pakaian di Bali di bagi menjadi dua  yaitu pakaian untuk pria dan pakaian untuk wanita. Pakaian untuk pria yaitu destar, senteng, saput, dan kamen. Dan pakaian wanita yaitu kamen, senteng, dan sabuk lilit, pusung lukluk, pusung tagel, pusung tegeh .
Bangunan : bangunan harus sesuai dengan asta kosala kosali. Asta kosala kosali itu sendiri adalah cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci. penataan Bangunan yang dimana di dasarkan oleh anatomi tubuh yang punya.
Angkul-angkul yaitu entrance yang berfungsi seperti candi bentar pada pura yaitu sebagai gapura jalan masuk.
Aling-aling adalah bagian yang berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga jalan masuk tidak lurus kedalam tetapi menyamping. Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak langsung lurus ke dalam.
Natar atau halaman tengah sebagai ruang luar
Merajan ini adalah tempat upacara yang dipakai untuk keluarga. Dan pada perkampungan tradisional bisaanya setiap keluarga mempunyai pamerajan yang letaknya di Timur Laut pada sembilan petak pola ruang
Umah Meten( Gedong )   yaitu ruang yang bisaanya dipakai tidur kapala keluarga sehingga posisinya harus cukup terhormat
Bale tiang sanga bisaanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu
Bale Sakepat, bale ini bisaanya digunakan untuk tempat tidur anakanak atau anggota keluarga lain yang masih junior.
Bale Dangin bisaanya dipakai untuk duduk-duduk membuat bendabenda seni atau merajut pakaian bagi anak dan suaminya.
Paon(Dapur) yaitu tempat memasak bagi keluarga.
Jineng (Lumbung) sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi dan hasil kebun .

Tari-tarian : Dalam Agama Hindu dikenal istilah Siwa Nata Rajayang merupakan  gelar Dewa Siwa ketika Beliau sedang menari. Tari-tarian di Bali juga tidak pernah terlepas dari agama. Setiap tarian di Bali memiliki fungsi dan tujuan tertentu yang kaitannya sangat erat dengan ajaran  agama. Misalnya dalam pelaksanaan upacara yadnya sering dipersembahkan tari- tarian yang bersifat sakral. Contohnya, Tari Rejang Dewa bisaanya dipersembahkan saat pelaksanaan upacara Dewa Yadya, yang tujuannya adalah sebagai penuntun Ida Betare turun ke dunia.
Karya Seni Banyak sekali contoh karya senii yang bernafaskan agama. Misalnya seni patung. Contoh produknya adalah Patung Dewi Saraswati, dimana Dewi Saraswati merupakan sakti-Nya Dewa Brahma dan dalam ajaran Agama Hindu Beliau merupakan lambang Ilmu pengetahuan. Jadi Patung Dewi saraswati merupakan media untuk mengkoomunikasikan ajaran agama bahwa manusia akan hidup layak dan berbahagia apabila  memiliki ilmu pengetahuan dan seni budaya.
Cerita :  Ajaran Hindu juga ada yang dijabarkan dalam bentuk cerita. Contohnya cerita Lubdaka, yang menceritakan kisah seorang pemburu yang akhirnya masuk surga karena secara tidak sadar ia melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa. Disini cerita digunakan sebagai  ekspresi ajaran agama bahwa umat Hindu harus senantiasa berbakti pada Tuhan YME.
Seni Ogoh- Ogoh : Seperti yang kita ketahui bersama , setiap perayaan  Hari Raya Nyepi  selalu identik dengan pawai ogoh- ogoh. Selain dijadikan sebagai ajang kreativitas remaja setempat, Ogoh- ogoh ini merupakan symbol dari Butha Kala (unsur negative)  untuk itu pada saat nyepi perlu dilakukan penyucian diri dan lingkungan dari pengaruh- pengaruh negative tersebut. Hal inni seuai dengan ajaran agama yaitu selalu mendekatkan diri dengan Sang Maha Pencipta.
Upacara Agama ( Ritual ) : Setiap upacara agama di Bali selalu berdasarkan atas ajaran agama. Misalnya pada upacara Manusa Yadnya yaitu Mapandes /Metatah ( Potong gigi ). Budaya potong gigi ini merupakan suatu keharusan yang dilakukan sebagai symbol pengendalian  sifat- sifat yang merupakan musuh yang ada dalam diri manusia. Hal ini sesuai dengan ajaran agama Hindu yaaitu pengendalian Sad Ripu.
Berikut macam-macam tradisi unik Budaya keagamaan yang ada di beberapa tempat di pulau Bali, serta secara singkat penjelasan sebagai  berikut;
 Pemakaman Desa Trunyan
Pada umumnya orang meninggal di Bali, terutama bagi umat Hindu selain dikubur bisa dibakar atau dikremasi langsung, namun demikian suatu tradisi unik dengan budaya yang berbeda bisa anda temukan di Desa Trunyan Kintamani, kabupaten Bangli, yang juga merupakan salah satu desa Bali Aga. Pada saat orang meninggal, maka tubuh atau jasad orang tersebut hanya diletakkan di bawah pohon Menyan, jasad tersebut diletakkan di atas tanah tanpa dikubur, hanya dipagari oleh bambu (ancak saji) agar tidak dicari oleh binatang atau hewan liar, anehnya tidak sedikitpun dari jasad tersebut berbau busuk, sampai akhirnya tinggal tersisa tulang belulang saja, dan tulang belulang itu nantinya diletakkan pada sebuah tempat di kawasan tersebut, pemakaman di Trunyan ini melengkapi daftar budaya dan tradisi unik bumi Nusantara – Indonesia. Karena keunikan tersebut pemakaman desa tradisional Trunyan menjadi destinasi wisata di pulau Bali yang menjadi tujuan tour wisatawan.
Tradisi Mekare-Kare
Mekare-kare ini dikenal juga dengan perang pandan, tradisi unik di pulau Bali hanya dilakukan di desa tradisional Tenganan, Karangasem yang dikenal juga sebagai desa Bali Aga. Perang dilakukan berhadap-hadapan satu lawan satu dengan masing-masing memegang segepok pandan berduri sebagai senjata. Desa Tenganan juga merupakan salah satu desa Bali Aga, yang mengklaim sebagai penduduk Bali Asli. Mekare-kare atau perang Pandan digelar saat Ngusaba kapat (Sasih Sambah) atau sekitar bulan Juni. Budaya dan tradisi unik tersebut digelar di halaman Bale Agung dilangsungkan selama 2 hari dan dimulai jam 2 sore, ritual atau prosesi tersebut bertujuan untuk menghormati Dewa Perang atau Dewa Indra yang merupakan dewa Tertinggi bagi umat Hindu di Tenganan. Desa ini menjadi salah satu destinasi wisata dan tujuan tour populer di pulau Bali.
Tradisi Omed-Omedan
Budaya dan tradisi unik ini digelar di tengah kota Denpasar, tepatnya di Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar Selatan. Digelar setahun sekali, bertepatan saat hari Ngembak Geni atau sehari setelah hari Raya Nyepi, tradisi unik dimulai sekitar pukul 14.00 selama 2 jam. Prosesi ini hanya diikuti oleh kalangan muda-mudi atau yang belum menikah dengan umur minimal 13 tahun, omed-omedan berarti tarik menarik antar pemuda dan pemudi warga banjar dan terkadang dibarengi dengan adegan ciuman diantara keduanya. Tradisi ini digelar sebagai wujud kegembiraan setelah pelaksanaan Hari Raya Nyepi, ini sebuah warisan budaya leluhur di pulau Bali, memiliki nilai sakral dan dipercaya akan mengalami hal buruk jika tradisi ini tidak dilangsungkan. Tradisi ini menjadi salah satu atraksi wisata yang bisa dinikmati saat tour pada hari Ngembak Geni.
Tradisi Mekotek
Prosesi atau ritual Mekotek ini hanya bisa anda temukan di desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung. Dikenal juga dengan Gerebeg Mekotek, tradisi unik di pulau Bali ini digelar setiap 6 bulan (210 hari) sekali, tepatnya saat perayaan Hari Raya Kuningan (10 hari setelah Galungan). Prosesi ini digelar dengan tujuan tolak Bala untuk melindungi dari serangan penyakit dan juga memohon keselamatan. Pada mulanya tradisi Mekotek, menggunakan tongkat besi, untuk menghindari agar peserta tidak ada yang terluka, maka digunakanlah kayu Pulet sepanjang 2-3.5 meter yang kulitnya sudah dikupas sehingga terlihat halus. Tongkat-tongkat tersebut dipadukan menjadi satu formasi sebuah kerucut, suara “tek,tek” kayu berbenturan tersebut sehingga dikenal dengan Mekotek. Budaya dan tradisi unik di Badung Bali ini masih terjaga lestari sampai sekarang ini.
Tradisi Mesbes Bangke
Sebuah budaya dan tradisi yang benar-benar ekstrim dan unik di pulau Bali. Tradisi ini berlangsung di Banjar Buruan, Tampak Siring, Gianyar ini memang , tradisi Mesbes Bangke atau mencabik-cabik mayat memang terlihat mengerikan dan menyeramkan, apalagi bagi mereka yang baru pertama kali ataupun mengenal tradisi tersebut. Yang mana jasad atau mayat seseorang yang akan dikremasi (ngaben), akan dicabik-cabik oleh warga banjar Buruan sebelum menuju tempat pembakaran mayat, mayat tersebut akan ditunggu oleh warga di luar pekarangan rumah, setelah mayat tersebut keluar dari pintu gerbang rumah, barulah warga mencabik-cabik mayat tersebut, karena bersemangat, bahkan ada sampai naik ke atas mayat yang sedang diusung. Tradisi hanya ini berlaku untuk mereka yang ngaben sendiri (pribadi) tidak berlaku untuk ngaben massal. Budaya dan tradisi unik di Gianyar ini masih berlangsung sampai sekarang ini.
Tradisi Megibung Di Karangasem
Tradisi makan bersama saat ada hajatan upacara adat menjadi budaya masyarakat Karanagsem di Bali Timur, seperti saat ada acara pernikahan, otonan, 3 bulanan ataupun upacara adat lainnya, masih bertahan sampai sekarang ini di Kabupaten Karangasem, walaupun beberapa warga sekarang ini terkadang menyiapkan makan prasmanan (makan jalan) saat ada hajatan, tetapi tradisi megibung ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Bahkan pada waktu Bupati Karangasem I Wayan Geredeg pernah menggelar megibung massal di objek wisata Taman Ujung Karangasem dan memecahkan rekor Muri. Megibung atau makan bersama oleh sekelompok orang yang terdiri dari 5-6 orang dinamakan “sele” duduk mengitari “gibungan” yaitu segepok nasi di atas dulang atau nampan, lengkap dengan sayur dan lauk pauk yang dinamakan “karangan” dan kemudian mereka makan bersama menikmati menikmati gibungan dan karangan.
7. Tradisi Mesuryak
Sebuah tradisi unik di pulau Bali yang merupakan warisan budaya leluhur ini hanya bisa ditemukan di desa Bongan, Kabupaten Tabanan. Budaya dan Tradisi di Tabanan ini digelar bertujuan untuk penghormatan terhadap para leluhur dengan secara suka cita, bersorak beramai-ramai dengan memberikan perbekalan seperti beras dan uang. Tradisi bersorak beramai-ramai ini kemudian dibarengi dengan melempar uang ke udara dan diperebutkan oleh warga dinamakan tradisi Mesuryak. Tradisi ini digelar setiap 6 bulan sekali yaitu pada Hari Raya Kuningan. Rangkaian prosesi ini berkaitan dengan perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan, setelah leluhur hadir di tengah keluarga mulai dari hari Raya Galungan, kemudian pada saat Kuningan diantar kembali ke Nirwana dengan berbagai sesajian dan perbekalan.
Upacara Melasti
Melasti dilakukan setiap tahun sekali dalam rangkaian Hari Raya Nyepi di Bali, namun demikian upacara Melasti juga dilakukan pada hari-hari tertentu saat piodalan pada sebuah pura sesuai dengan hari yang ditentukan. Melasti dikenal dengan mekiis atau melis menuju tempat-tempat sumber air seperti laut, danau ataupun mata air. Namun Melasti atau melis di pulau Bali secara serempak digelar setiap setahun sekali yaitu 3-4 hari sebelum hari raya Nyepi sekitar bulan Maret. Saat Melasti semua pretima, senjata nawa sanga, umbul-umbul dan kober di arak ke sumber air seperti ke laut untuk disucikan dan menghanyutkan segala malaning bumi ataupun kotoran, dimaksudkan juga menghanyutkan segala penderitaan manusia melalui air kehidupan, dan kemudian menyucikan diri dengan angamet (mengambil) tirta amertha, untuk mendapatkan sari-sari kehidupan. Budaya dan tradisi ini menjadi warisan budaya leluhur Bali yang terjaga dengan baik sampai saat ini.
Pawai Ogoh-Ogoh
Tradisi mengarak ogoh-ogoh di Bali ini digelar tepat sehari sebelum hari Raya Nyepi, sekitar jam 6-6.30 sore ogoh-ogoh mulai diarak keliling desa ataupun kota, hampir sebagian besar warga Hindu di pulau Bali ini menggelar pawai ogoh-ogoh, ini mereka lakukan karena berhubungan dengan ritual keagamaan. Ogoh-ogoh adalah sebuah boneka raksasa yang merupakan simbol dari Bhuta Kala, dibuat dengan wujud menyeramkan atau simbol sebuah kejahatan, yang paling dominan berwujud raksasa menyeramkan, binatang atau bahkan wujud seorang penjahat. Prosesi pawai ogoh-ogoh tersebut masih dalam rangkaian pelaksanaan Hari Raya Nyepi, setelah sebelumnya diadakan Tawur Kesanga memberikan upah kepada Bhuta Kala, kemudian petang harinya diusir dan diarak keliling dalam bentuk pawai, agar tidak mengganggu kehidupan manusia lagi, terutama esok harinya saat melaksanakan hari raya Nyepi. Jika anda ada acara tour pada saat tersebut, diusahakan jangan sampai sore, karena jalan banyak yang tutup.
Hari Raya Nyepi
Siapa pula yang tidak kenal dengan perayaan Hari Raya Nyepi di pulau Bali, hari raya ini digelar sekali dalam setahun sebagai penyambutan tahun baru Isaka yang jatuhnya pada bulan mati (Tilem) sasih Kesanga. Sebuah penyambutan tahun baru yang berbeda, yaitu dengan kesunyian, ketenangan, lengang dan sepi, itulah sebabnya semua warga pada saat hari raya Nyepi tersebut tidak boleh bepergian, menghidupkan api, membuat kegaduhan ataupun bersenang-senang. Termasuk fasilitas umum juga tutup kecuali rumah sakit. Tujuan dari perayaan ini untuk bisa introspeksi diri atau mulat sarira dan merenung dalam suasana hening bisa berkonsentrasi lebih maksimal, seharian tinggal di rumah dan bersembahyang melakukan brata dan meditasi, agar nantinya bisa memulai kehidupan yang lebih baik pada bulan berikutnya pada sasih Kedasa, semua kedas, bersih dan suci untuk memulai lagi kehidupan baru. Budaya dan tradisi ini menjadi salah satu hal unik bagi mereka yang liburan ke Bali.
 Upacara Ngaben Di Bali
Mayoritas warga Hindu di pulau Bali melakukan upacara Ngaben saat orang meninggal, walaupun ada beberapa tidak melaksanakan upacara Ngaben seperti pada penduduk Bali Aga contohnya desa Tenganan dan Trunyan. Saat  upacara Ngaben, jasad atau tubuh orang meninggal bisa dikubur terlebih dahulu ataupun dikremasi langsung. Upacara Ngaben digelar adalah wujud bakti manusia dan kewajiban suci kepada leluhurnya atau orang yang telah meninggal. Tujuan upacara Ngaben mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta dari tubuh kasar manusia ke asalnya dan badan halus (atma) yang telah meninggalkan lebih cepat mendapat penyucian dan kembali kesisi-Nya. Tata cara pelaksanaan Ngaben pun tidak selalu sama sesuai dengan situasi, kondisi dan tempat Ngaben tersebut berlangsung, namun yang terpenting esensi atau tujuannya sama, karena Hindu tidak di Bali saja tetapi menyebar di kepulauan Indonesia. Budaya dan tradisi unik ini menjadi salah satu atraksi wisata bagi wisatawan yang sedang liburan di Bali. 
Itulah sedikit tentang Budaya dalam Agama Hindu dan Masih banyak lagi yang belum bisa dijelaskan. 
Budaya dan tradisi yang diwariskan oleh leluhur, jika dilestarikan sampai sekarang ini tentu akan menjadi sebuah tradisi unik, seperti yang kita banyak temukan di wilayah Indonesia termasuk juga Bali, warisan atau peninggalan budaya masa lampau tersebut, yang banyak berasal dari warisan Bali kuno dan menjadi salah salah satu cara hidup sekelompok masyarakat yang masih tradisional dan menjadi sesuatu hal yang sangat menarik untuk diketahui, tidak hanya bagi wisatawan, bahkan juga bagi warga lokal.
Sejumlah tradisi unik yang disuguhkan menjadi sebuah atraksi dan sebagai suguhan bagi wisatawan yang liburan ke pulau Bali. Budaya serta tradisi unik tersebut masih bisa berkembang dan dilestarikan sampai sekarang ini sangat berkaitan dengan keyakinan masyarakat akan ritual atau prosesi yang terbungkus dalam sebuah tradisi. 


BAB III

PENUTUP
KESIMPULAN
Agama, budaya dan masyarakat saling berkaitan dan dibuktikan dengan pengetahuan agama yang meliputi penulisan sejarah dalam mengubah kehidupan sosial. Argumentasi rasional tentang arti dan hakikat kehidupan, tentang Tuhan dan kesadaran akan kematian menimbulkan relegi, dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sampai pada pengalaman agamanya para tasauf. Agama merupakan tempat mencari makna hidup yang final dan ultimate. Dan pada gilirannya agama yang diyakini merupakan sumber motivasi tindakan individu dalam hubungan sosial dan kembali kepada konsep hubungan agama dengan masyarakat, di mana pengalaman keagamaan akan terefleksikan pada tindakan sosial dan individu dengan masyarakat yang seharusnya tidak bersifat antagonis.  Hubungan agama, kebudayaan dan masyarakat serta agama berfungsi sebagai alat pengatur pengontrol dan sekaligus membudayakannya dalam arti mengungkapkan apa yang ia percaya dalam bentuk-bentuk budaya yaitu dalambentuk etis, seni bangunan, struktur masyarakat, adat istiadat dan lain-lain.  Pengaruh timbal balik antara agama dan budaya, dalam arti agama mempengaruhi kebudayaan, kelompok masyarakat, suku bangsa. Kebudayaan cenderung mengubah keaslian agama sehingga meng- hasilkan penafsiran berlainan.  Agama dan Budaya memiliki keter- hubungan yang erat, yakni agama berperan sebagai konsepsi budaya dan sebagai realitas budaya yang terdapat di Indonesia. Budaya merupakan hasil dari interaksi antara manusia dengan segala isi yang ada di alam raya ini. Dengan kemampuan akal pikiran yang dimiliki oleh manusia maka manusia mampu menciptakan suatu kebudayaan. Kebudayaan digunakan untuk memahami agama yang tampil dalam bentuk formal yang menggejala di masyarakat. Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dengan keanekaragaman kebudayaan Indonesia dapat dikatakan memiliki keunggulan dibandingkan dengan negara lain, di mana Indonesia mampu menghasilkan potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. 


KRITIK DAN SARAN
Kritik kami sebagai penulis terhadap Budaya dalam Agama Hindu secara keseluruhan merupakan Perkembangan zaman dan teknologi yang semakin lama semakin canggih serta perdagangan bebas yang telah terjadi di dunia khususnya Indonesia telah meracuni bangsa Indonesia terhadap moral akhlak dan tatakrama pergaulan anak remaja, adat budaya Indonesia yang dulu katanya Indonesia kaya akan budayanya kini terhapus semua oleh yang namanya kemajuan zaman. Kebudayaan merupakan kekayaan suatu bangsa. Semakin banyak macam kebudayaan itu semakin kaya bangsa itu. Untuk itu pemahaman akan kebudayaa harus ditanamkan sejak dini, agar para generasi muda dapat melestarikan dan melindungi kebudayaan bangsa sendiri dari bahaya pihak luar.
Adapun saran yang ingin penyusun sampaikan kepada pembaca adalah agar makalah ini dapat menambah pengetahuan lagi mengenai kebudayaan Indonesia. Selain itu, diharapkan juga agar para pembaca dapat mengenal atau mengetahui kebudayaan yang ada di Indonesia. Sehingga, kita dapat bersama-sama melestarikan budaya Indonesia yang ada. Agar kita tidak lebih banyak lagi kehilangan budaya kita.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.dosenpendidikan.co.id/pengertian-budaya/
Arafah, Burhanuddin. Warisan Budaya, Pelastarian dan Pemanfaatannya, fakultas ilmu budaya, universitas hasanudin (UNHAS)
Geertz, Clifford, 1992, Kebudayaan dan Agama, Kanisius: Yogyakarta
https://www.balitoursclub.net/tradisi-unik-di-bali/




MAKNA SIMBOL NYASA RUPA DALAM AGAMA HINDU

MAKNA SIMBOL NYASA RUPA
DALAM AGAMA HINDU

Oleh 
I Made Sudiantara
NPM : 191122
Mata kuliah : Pendidikan Agama Hindu

PENDAHULUAN 
Manusia sebagai mahluk sosial budaya tidak pernah terlepas dari penggunaan simbol. Makna simbol dalam kehidupan manusia bukan saja berguna untuk menyampaikan ekspresi jiwa atau idenya, tetapi juga diperlukan untuk mengikat tindakan manusia sebagai arah orientasi.
Simbol atau lambang tersebut merupakan sesuatu yang bersifat fungsional bagi kehidupan manusia. Di dalam kehidupan sehari-hari jelas dapat dilihat betapa pentingnya arti serta peranan simbol tersebut, contohnya : setiap ada upacara pemelaspasan bangunan suci maupun bangunan untuk perumahan selalu diisi dengan rerajahan (gambaran huruf) yang sering disebut “ulap-ulap”. Hal ini menunjukkan bahwa bangunan suci maupun perumahan sudah disucikan dan baru boleh menghaturkan persembahan berupa banten atau sesajen maupun sudah bisa ditempati.
Dapat pula diketahui secara pasti,  bahwa bangsa dan agama apapun yang dianutnya, tidak lepas dari penggunaan simbol atau lambang dalam kehidupannya, hanya saja jenis simbol atau lambang yang dipergunakan itu berbeda-beda. Misalnya lukisan burung Garuda yang bertuliskan “Bhinneka Tunggal Ika” adalah lambang negara Indonesia, lambang Swastika sebagai lambang keagamaan dalam agama Hindu, dan banyak lagi yang lainnya.
Dalam upacara keagamaan khususnya agama Hindu, banyak sekali digunakan simbol, misalnya dari segi ritmit diwujudkan dalam bentuk bebanten atau sesaji serta alat-alat upacaranya. Simbol-simbol tersebut merupakan media bagi umat Hindu untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, mengadakan dialog dengan Yang Maha Kuasa dan memohon perlindungan dan wara nugraha-Nya.
Umat Hindu tidak seluruhnya mampu memahami makna dan fungsi di balik simbol-simbol tersebut, banyak pertanyaan yang muncul dan mereka tidak puas dengan penjelasan bila tidak bersumber pada kitab suci Weda atau susastra Hindu lainnya. Tingkat pendidikan umat Hindu pada umumnya, menuntut pula pemahaman terhadap agama Hindu lebih dalam lagi termasuk pemahaman terhadap simbol-simbol tersebut.Simbol-simbol dalam agama Hindu sangat terkait dan tidak dapat dipisahkan dengan ajaran ketuhanan (teologi), karena simbol-simbol tersebut merupakan ekspresi untuk mendekatkan diri manusia kepada-Nya. Simbol-simbol tersebut berupa arca, pratima untuk para dewa, wahana dewata atau kendaraan para dewa, bangunan suci sebagai sthana untuk memuja-Nya. Di samping juga berupa mantra, mudra, yatra, rerajahan, huruf-huruf suci, juga persembahan suci berupa sesajen yang beraneka ragam dan lain-lain (Titib, 2001:1).
Tiap-tiap simbol mempunyai makna dan fungsi tertentu serta dengan pemahaman terhadap makna dan fungsi tersebut, umat Hindu mengembangkan apresiasi terhadap simbol-simbol tersebut, yang pada akhirnya dapat meningkatkan sraddha dan bhakti umat dan akhirnya menuntun tingkah lakunya dalam kehidupan ini.
Dalam ajaran agama Hindu terdapat konsepsi Ista Dewata yaitu bentuk-bentuk tertentu sebagai simbol dari Tuhan Yang Maha Esa atau  Ida Sanghyang Widhi Wasa yang dipilih untuk dipuja dalam melaksanakan persembahyangan meditasi atau semadhi (Santhi, 1983 : 8).
Tuhan yang disimbolkan dalam Ista Dewata itu seperti : padmasana, benda-benda tertentu (Pratima), gambar-gambar dan lainnya. Sesungguhnya bukanlah obyek dari Ista Dewata itu yang disembah atau dipuja melainkan Tuhan Yang Maha Esa atau manifestasi-Nya. Untuk sampai pada tingkat yang lebih tinggi tentang adanya Tuhan, maka seseorang harus berjuang terus dengan penuh kesujudan. Ia hendaknya mulai berusaha melihat Tuhan setidak-tidaknya dalam suatu obyek dengan jalan mengkonsentrasikan objek itu sendiri sebagai Tuhan.
Sesungguhnya, umat Hindu berpikir tentang Tuhan melalui banyak jalan dan menyembah berbagai bentuk. Dalam hal ini, Tuhan diberi nama sendiri-sendiri oleh para Maharsi, untuk membantu umat Hindu dalam memuja-Nya. Ini berarti ketidakterbatasan bentuk dari Tuhan Yang Maha Esa untuk memanifestasikan diri-Nya,  agar dapat  dipuja  menurut  keinginan  dan  kapasitas  serta  kemampuan pemuja-Nya.Agama Hindu menyadari keterbatasan psikologi seseorang. Tidak semua orang dalam suatu tingkat tertentu dapat mengungkapkan Tuhan dalam bentuk abstraknya tanpa wujud nyata, untuk mengarahkan pikiran menuju dan memudahkan konsentrasi. Maka dari itulah diperlukan suatu bentuk tertentu (Pratima), Padmasana ataupun gambar-gambar yang nyata.
Untuk menuju Tuhan berdasarkan ajaran agama Hindu terdapat empat jalan sebagai usaha manusia untuk dapat memahami sifat-sifat dan keadaannya. Keempat jalan itu disebut dengan Catur Marga yaitu : Raja Yoga Marga (jalan melalui renungan batin), Jnana Marga (jalan melalui pengalaman ilmu pengetahuan), Karma Marga (jalan melalui pengorbanan, tingkah laku dan perbuatan), dan Bhakti Marga (jalan melalui sujud bhakti atau penyerahan diri). 
Keempat jalan ini mempunyai cara-cara tersendiri dan tidak semua orang dapat menempuh semua jalan itu. Walaupun demikian, setiap orang boleh memilih jalan yang dianggap tepat dan dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuannya. Untuk mencapai tujuan hidup beragama, dalam agama Hindu banyak menggunakan simbol atau lambang yang disebut dengan Nyasa Rupa. Nyasa Rupa dapat diartikan menggunakan sebagai asalnya, seperti : membuat gambar atau huruf-huruf, bentuk mantra-mantra dan lain sebagainya.
Meskipun umat Hindu telah mengetahui dan melihat langsung bentuk-bentuk Pelinggih Padmasana, bebanten atau sesaji serta upacara, gambar-gambar, Pratima, mantra-mantra dan lain-lainnya, akan tetapi mereka belum mengetahui secara jelas bahwa semua itu merupakan Nyasa Rupa dari  Ida Sanghyang Widhi yang diwujudkan ke dalam bentuk-bentuk tertentu, agar dengan mudah menghubungkan diri kepada Tuhan atau Ida Sanghyang Widhi. Oleh karena itulah, penulis sangat tertarik untuk membuat tulisan dengan judul “Makna Simbol Nyasa Rupa dalam Agama Hindu”.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka tulisan ini membahasa tentang (1) Apakah makna simbol Nyasa Rupa dalam agama Hindu?.

PEMBAHASAN
Makna Simbol Nyasa Rupa Dalam Agama Hindu
Karena banyaknya bentuk Simbol Nyasa Rupa dalam Agama Hindu, maka dalam penelitian ini hanya akan membahas simbol Nyasa Rupa berupa padmasana, swastika dan padma.
Padmasana
Kata padmasana berasal dari kata padma dan asana yang artinya tempat duduk dari bunga Teratai. Umumnya daun bunga Teratai itu selalu berjumlah delapan lembar, sehingga tepat sekali dipergunakan sebagai simbol atau lambang AstaiƧwarya yang menguasai delapan penjuru mata angin. Bunga Padma selalu dikaitkan dengan linggih dewa-dewa ataupun linggih Sanghyang Widhi serta merupakan bunga yang dianggap mempunyai kesucian yang lebih dari yang lain.
Sedangkan Padmasana dalam pengertian umum di masyarakat Bali sekarang tidak lain adalah sebuah bangunan yang puncaknya berbentuk kursi dan dibelakangnya berisi lukisan angsa dan garuda serta dasarnya memakai Badawangnala dililit oleh dua ekor naga.
Meskipun dalam bangunan ini tidak ada melukiskan bunga Teratai, baik di dalam struktur maupun hiasannya. Untuk mengetahui hal ini perlu kiranya dipetik satu bait puja sebelum Ida Padanda Siwa maupun Budha pada waktu ngelinggihang atau mensthanakan Sanghyang Widhi, adapun puja beliau adalah sebagai berikut.

Purwaka Weda Bhuda
Om om kurnahriya namah
Om om Anantasanaya namah
Om om Singasanaya namah
Om om Padmasanaya namah
Om om Dewasanaya namah

Purwaka Weda Siwa

Om om Kurnagriya namah
Om om Anantasanaya namah
Om om Caturiswaryaya namah
Om om Padmasanaya namah
Om om Dewa Pratistaya namah (Putra, 2005;19)

Meskipun di dalam puja Purwaka Weda Budha dan Purwaka Weda Siwa ini ada sedikit perbedaan di mana singhasana dalam Budha diganti dengan caturiswarya dalam Siwa dan Dewasana diganti dengan dewa Prastista, ternyata perbedaan ini tidak mengubah maksud atau hakekatnya karena singasana itu adalah simbol dari segi empat. Untuk lebih jelasnya kiranya perlu dikutip petikan dari “Karanagama” sebagai berikut  
Singhasana catur
Anantanca Trilokanam
Padranca vartulakaran
Satkonan vimalacanam
Yogasanam Casta konan,... dan seterusnya.

Terjemahannya   :

Singhasana adalah segi empat
dan Anantasana adalah segitiga
dan Padmasana adalah bulat
Vimalasana adalah asana yang segi enam
Yogasana adalah asana segi delapan
.................... dan seterusnya  (Putra, 2005; 19)

Dalam uraian di atas dapat diketahui bahwa Ida Pedanda sebelum memuja, beliau membuat Padmasana dalam wujud mantra. Kini perlu diteliti lebih jauh apakah ada hubungannya puja purwaka Ida pedanda dengan bentuk bangunan Padmasana yang lazim  dijumpai di Bali.  
Pertama disebutkan dalam puja adalah Kurmagni yang tidak lain adalah Badawangnala (Badawang api). Adapun di dalam bangunan Padmasana, Badawangnala ini pulalah yang menjadi dasar, dengan demikian sudah sesuai. Pada bait kedua disebutkan Anantasana. Anantasana artinya segitiga. Di dalam bangunan Padmasana, Anantasana dilukiskan dengan naga, yang badannya melilit Badawangnala (bentuk datar) dengan kepala mencuat ke atas dan kalau ditarik garis lurus (┴) akan menjadi segitiga.
Kata Anantasana itu ada hubungannya dengan naga Anantaboga, tetapi di sini lebih cenderung kepada bentuk segitiga yang ada hubungannya dengan sikap ular kobra yang ada di India, dengan kepalanya selalu berdiri dalam sikap waspada.
Segitiga itu juga merupakan simbol dari tiga naga yaitu anantaboga yang berasal dari penjelmaan Bhatara Brahma, naga Basuki yang berasal dari penjelmaan Bhatara Wisnu, dan naga Taksaka yang berasal dari penjelmaan Bhatara Iswara, pada saat Sanghyang Tri Murti ingin menyelamatkan manusia dari penderitaan. Demikianlah  disebutkan di dalam Sri Purwana  Tattwa dan  Siwa  Gama (Putra, 2005 : 20). Selanjutnya pada bait ketiga ada disebutkan Singgasana atau Caturiswarya. Singgasana yang diartikan kursi kebesaran, secara kenyataan bentuknya memang segi empat, memang betul kita jumpai pada bagian atas dari bangunan Padmasana.
Dalam bait keempat disebutkan Padmasana dan bait kelima disebutkan dewa Pratista. Mengenai bait kelima dewa Pratista (dewa berdiri) memang tidak dilukiskan di dalam bangunan karena Beliau baru ada di atas Padmasana kalau sudah ada upacara atau setelah dipujai oleh Ida Pedanda. Mengenai bait keempat yaitu Padmasana dapat dijumpai di dalam puja (Stawa) saja sedangkan bentuk Padma tidak pernah dilukiskan di atas singgasana, lalu di mana bentuk Padma itu terletak, padahal Padma inilah terpenting sehingga bangunan itu bernama Padmasana. Apakah cukup dengan puja-puja saja?. Untuk itu perlu diteliti satu sumber lagi yang merupakan persyaratan isi sebuah bangunan Padmasana. Adapun yang dimaksud adalah “Pedagingan” atau “Pesimpenan”.
Di dalam Lontar Widhisastra ada menyebutkan jenis pedagingan untuk gedong, meru dan Padmasana serta bangunan lainnya yang masing-masing ada perbedaannya. Pedagingan untuk Padmasana terdiri dari banten suci, peras dan sebagainya yang terdiri dari benda logam (Panca Datu) adalah lima logam yaitu : mas (kuning), perak (putih), tembaga (merah), besi (hitam) dan permata (warna campuran). Sebagai akar pesimpenan (pedagingan) adalah uang bolong, logam, mas, perak, tembaga, besi ini diwujudkan dalam bentuk kuwali, perabot pande (perkakas pande) jarum biasanya dibuat dari besi atau baja,. mas, perak, tembaga dibuat bentuk berupa bedawang, naga, kursi, padma dengan ditengah-tengahnya berisi mirah (permata). Selain itu dibuatkan juga “Sampian”, tumpeng, udang, yuyu, nyalian dan sebagainya. Tetapi yang terpenting di antara pesimpen ini adalah bedawang, naga, kursi dan padma (yang berdaun delapan dengan sarinya permata). Bedawang dan naga ditaruh di dasar bangunan padma. Kursi di tengah (madya dari padmasana) dan padma yang bersarikan permata ini disimpan di bagian puncak dari bangunan padmasana.
Disinilah letak rahasia dari bangunan tersebut yang dinamakan Padmasana, karena memang demikianlah bangunan itu bagian puncaknya berisi padma, sehingga antara puja dan bangunan tersebut tidak ada pertentangan. Di dalam bangunan Padmasana banyak memakai hiasan-hiasan yang dipakai sebagai simbol antara lain  :
Bedawangnala
Di dalam Purana dilukiskan bahwa api kemarahan yang lahir dari Bhagawan Breghu berwujud sebagai aurvagni yang di buang ke dasar lautan. Di dalam lontar Kanravasrama disebutkan bahwa dasar dari gunung Mahameru itu adalah Bedawangnala. Di dalam dongeng-dongeng di Bali disebutkan bahwa dasar bumi ini adalah Badawangnala. Agar dunia ini tidak bergerak atau gempa, maka bedawangnala ini diikat oleh naga. Kalau naga ini terlena (lengah) dan bedawangnala bisa sampai bergerak maka terjadilah gempa dan jika demikian, maka manusia cepat-cepat memukul kentongan atau apa saja yang bisa berbunyi gaduh, dengan tujuan agar naga itu bangun dari tidurnya dan melakukan kewajibannya kembali mengikat bedawangnala itu. Ditinjau dari segi arti kata, maka bedawangnala berarti bedawang api. Di dalam upacara membangun sebuah Padmasana selalu sebagai dasar dipergunakan batu merah yang disurati dengan huruf “Ang”. Adapun huruf Ang itu adalah simbol dewa Brahma sebagai penguasa panas atau api. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bedawangnala adalah simbol panas api di dalam bumi.
Naga
Lukisan naga yang melilit bedawangnala itu kadang-kadang dilukiskan satu ekor, dua ekor dan bahkan sering pula pada bagian atas singgasana yang berwujud sebagai kursi, sebagai lengan atau dinding samping kursi digambarkan berupa dua ekor naga bersayap. Di dalam mythologi Siwagama dan Sri Purana Tattwa disebutkan bahwa setelah kami diciptakan oleh Bhatari Uma dan Bhatara Siwa, lengkap dengan manusia serta segala isinya, maka suatu saat terjadi bencana, di mana tumbuh-tumbuhan tidak bisa hidup, air tidak berkasiat, serta udara menimbulkan penyakit, maka belas kasihanlah Sanghyang Tri Murti, sehingga Beliau turun ke dunia untuk membantu manusia. Setelah sampai di dunia Bhatara Brahma masuk ke dalam tanah (perthiwi) dan berwujudlah Beliau sebagai Sanghyang Amartabhoga. Bhatara Wisnu terjun ke air dan menjadilah Beliau sebagai Sanghyang Naga Basuki serta Bhatara Iswara terjun di udara menjelmalah Beliau menjadi Naga Taksaka. Mengambil kisah dari mithologi ini dapat disimpulkan bahwa bedawangnala itu dililit oleh Anantabhoga yaitu kulit bumi, oleh Naga Basuki yaitu samudra dan sungai-sungainya serta oleh Naga Taksaka yaitu udara atau atmosfir. Di atas bumi dan atmosfir ini barulah dewa-dewa bertahta, ada kiblat timur, barat, utara dan selatan. Inilah yang dilukiskan dengan catur lokapala, lukisan segi empat atau singgasana. Puncaknya adalah Ida Sanghyang Widhi. Kesimpulannya Padmasana adalah gambar bumi, oleh karena manusia ingin mendulukan kemakmuran dan kesejahteraan.
Garuda
Burung garuda adalah burung yang menjadi mithos dalam agama Hindu dan sangat populer atau banyak penggunaannya di dalam upacara-upacara di Bali. Misalnya : burung garuda dipergunakan untuk menghias bagian belakang padmasana, bagian belakang dari bale (wadah), di taruh di bale gede, dipakai kober dan di dalam banten pedudusan, nasi yang digambarkan berbentuk garuda yang dinamai nasi garuda dan banyak lagi penggunaan-penggunaan simbol garuda itu. Sekarang timbul pertanyaan mengapa burung garuda yang dipakai dan menempati kedudukan yang istimewa di dalam pandangan agama Hindu ? Hal ini dapat dijelaskan dengan mengambil cerita dari Adi Parwa, bagian yang mengenai “Sang Garuda”. Adapun ringkasan ceritanya sebagai berikut  :
Sang Kadru dan Sang Wirata adalah istri-istri dari Bhagawan Kasyapa. Sang Kadru berputra naga-naga yang ribuan jumlahnya sedangkan Sang Winata berputrakan Sang Arura dan Sang Garuda. Pada suatu saat Sang Kadru dan Sang Winata membicarakan tentang warna kuda Ucchaisrawa yang keluar dari pemutaran Gunung Mandaragiri, Sang Kadru mengatakan  warna kuda itu hitam, sedangkan Winata sebaliknya yaitu putih. Keduanya saling teguh mempertahankan pendapatnya dan akhirnya mereka sepakat untuk bertaruhan mengenai kebenaran warna kuda itu, siapa yang kalah akan menjadi budak dari yang menang.
Setelah  itu Sang Kadru pulang berjumpa dengan putranya para naga itu, serta menceritakan jalannya perbantahan yang berakhir dengan taruhan. Para naga lalu memberitahu pada ibunya bahwa warna kuda Ucchaisrawa itu memang betul-betul putih, oleh sebab itu bersedihlah Sang Kadru dan minta tolong pada Sang Naga bagaimana menghindar dari kekalahan dan perbudakan. Sang Naga mendapat akal dan hari itu pula mereka bersama-sama pergi ke tempat kuda Ucchaisrawa dan beramai-ramai menyemburkan bisanya pada tubuh kuda itu, karena kehebatan bisa naga itu, maka berubahlah warna kuda tersebut dari warnanya yang putih kemudian menjadi hitam.
Besoknya setelah Sang Kadru dan Sang Winata bersama-sama membuktikan rupa kuda itu, ternyata memang hitam, sehingga kalahlah Sang Winata dan selanjutnya menjadi budak. Demikianlah kerja Sang Winata sehari-hari mengembala ular dan sore hari baru pulang. Setelah Sang Garuda lahir, maka bertanyalah Sang Garuda atas kepergian ibunya setiap hari. Sang Winata memberitahu duduk persoalannya. Kemudian Sang Garuda meminta agar dialah yang menggantikan tugas mengembala itu. Permintaan itu disetujui oleh Sang Winata, jadilah Sang Garuda budak dari para naga.
Setelah lama menjadi pengembala, bertanyalah Sang Garuda kepada para naga, bagaimana caranya serta apapun tebusannya yang bisa digunakan agar dia berhenti jadi budak. Sang Naga memberitahu Sang Garuda boleh berhenti jadi budak, kalau bisa memberi tirtha amertha (tirta yang menyebabkan tidak bisa mati-mati kalau dapat meminumnya).
Demikianlah Sang Garuda mencari tirtha amertha itu ke sorga sampai berperang dengan para dewa-dewa dan Bhatara Wisnu. Setelah terjadi perang dimana tidak ada yang kalah, maka Bhatara Wisnu mengusulkan suatu kompromi yaitu Sang Garuda boleh mendapatkan tirtha Amertha yaitu dengan catatan dia harus bersedia menjadi kendaraan Bhatara Wisnu. Tirtha tersebut, kemudian diserahkah kepada para naga dengan catatan sebelum meminumnya, harus bersuci-suci (mandi) terlebih dahulu. Oleh karena semua naga itu, ingin paling dulu meminum maka, semua cepat¬-cepat mandi dan meninggalkan tirtha itu tanpa penjaga di tempat yang terbuka, maka datanglah Bhatara Wisnu mengambil kembali tirtha itu karena ditinggal begitu saja. Oleh sebab itu orang-orang tua sering menasehati jangan menaruh tirtha di tempat terbuka tanpa alas canang karena dianggap tidak ada yang memiliki. Para naga yang sudah habis mandi semua kecewa karena tirtha tersebut tidak ada, lagi dan walaupun demikian berhasil juga menjilati ujung alang-alang pada bekas tirtha itu ditempatkan, maka dari itu lidah ular (naga) itu terbelah karena menjilati alang-alang (ambengan). Oleh sebab itu daun alang-alang dianggap memiliki kekuatan amertha dan dipergunakan sebagai alat untuk memercikkan tirtha serta alat-alat lainnya seperti : karawista banten Dewa-Dewi dan sebagainya. Adapun simbol yang didapat dalam cerita ini yaitu  :
Naga adalah simbol dari bumi (tanah, air dan udara yang tidak lain digambarkan sebagai induknya naga yaitu Anantabhoga, Basuki dan Taksaka).
Naga adalah simbol dari harta benda yang telah dapat menipu manusia agar menjadi budaknya.
Sang Garuda mendapat dosa warisan menggantikan ibunya menjadi budak, dan perbudakan ini bisa ditebus dengan Amertha. Kata Amertha berasal dari kata mrt artinya mati, dan Amertha artinya tidak mati-mati. Ini berarti bahwa manusia sejak lahir sudah perlu makan dan minum, serta udara bersih, sebagai simbol bahwa manusia diperbudak oleh kebutuhan tubuhnya.
Apa yang tidak mati-mati di dunia ini ? Yang tidak mati-mati adalah Ida Sanghyang Widhi. Jadi  Sang Garuda adalah simbol manusia yang sejak lahir diwarisi oleh keterikatan terhadap harta benda duniawi, berupa hasil bumi, air dan udara yang setiap hari lapar dan haus seolah-olah diperbudak oleh kebutuhan terhadap benda itu. Untuk melepaskan diri dari perbudakan dan keterikatan dari benda duniawi, maka ingatlah kepada Tuhan, dengan Amertha ini manusia bisa membebaskan diri dari keterikatan duniawi.
Jadi, patung atau gambaran garuda itu dipakai di dalam berbagai upacara penyucian dan bertujuan agar Sanghyang Atma atau jiwa seseorang bisa menyadari janganlah lagi serakah dan terikat (pamerih) baik semasih hidup maupun setelah meninggal.
Gambar Angsa
Di belakang sebuah Padmasana atau sebuah wadah sering dijumpai ada hiasan berwujud angsa. Dan anehnya angsa yang dilukiskan selalu dengan kedua sayapnya terkembang. Di dalam lontar indik Tetandingan, dapat dijumpai bahwa lukisan angsa dengan sayap terkembang itu adalah simbol dari Ongkara yaitu kedua sayapnya melukiskan ardha candra (bulan sabit), kepalanya yang mendongak ke atas adalah simbol dari nada, serta badannya yang bulat lukisan windu. Jadi angsa dengan sayapnya terkembang adalah simbol Ongkara. Di samping pada Padmasana dan wadah (bale) wujud angsa ini juga dapat dijumpai dalam penjor pemukuran (waktu nyekah) dan mungkin ada pula dalam upacara-upacara lainnya. Sehingga timbul pertanyaan mengapa justru angsa, bukan ayam atau burung yang lainnya dipakai.
Rupanya simbol dalam upacara itu mempunyai arti yang dalam. Sebagaimana diketahui angsa itu adalah satu kendaraan Sanghyang Saraswati, angsa itu adalah simbol ketenangan, warna putihnya menimbulkan kesucian, ketelitian memilih makanan walaupun paruhnya masuk ke lumpur yang busuk, tetapi lumpur itu tidak termakan, hanya makanan yang patut menjadi makanan sajalah yang dimakan.
Angsa adalah simbol dari kebijaksanaan memilih. Di samping itu angsa juga simbol kewaspadaan karena baik siang maupun malam seolah-olah tidak pernah tidur. Maka dari itu angsa  sering dipakai sebagai penjaga rumah, kalau malam-malam ada orang masuk ke dalam rumah, tentu angsa itu akan ribut (Putra, 2005 : 27).
Lambang Swastika
Swastika sebagai lambang keagamaan (religius simbol) adalah alat pembantu pengikat hati dan keyakinan untuk lebih mendekatkan perasaan kepada cita-cita hidup keagamaan. Perputaran alam semesta (Bhuwana Agung) dituangkan ke dalam lambang atau lukisan Swastika yang dapat menimbulkan getaran perasaan sebagai hasil kreasi yang memberikan inspirasi hidup dengan mengakui akan kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa, manusia beserta sekalian makhluk hidup mempunyai keserasian menyesuaikan hidupnya dengan hukum alam (Cakra Menggilingan) atau Cakra Pranawa. Perwujudan keseimbangan dunia dengan romantikanya, dinamikanya dan dialektikanya adalah merupakan Kemahabesaran-Nya, yang menyerasikan siang-malam, hujan-panas, hidup-mati.
Inspirasi yang dihubungkan dengan perputaran dunia (Cakra Manggilingan) tersebut d iatas ditautkan dengan aspirasi kesucian agama menimbulkan keyakinan suci yang memberikan ketenangan, ketentraman, serta kebahagiaan hidup menurut hukum kejiwaan (spiritual Law) (Mantra, 1956 : 15). Penggunaan Lambang Swastika yang bertentangan dengan idiil kesucian dan hukum kejiwaan yang terkandung didalamnya berarti bertentangan dengan arus geraknya Cakra Manggilingan itu akan digilas sendiri oleh kekuatan magisnya. Oleh karena itulah Hitler yang mempergunakan lambang Swastika yang diletakkan miring maka ia digilas hancur karena menyelewengkan serta praktek-praktek yang bertentangan dengan arti Swastika.
Swastika adalah simbol dari keberuntungan atau keselamatan. Lambang Swastika sering ditempelkan atau digambarkan di pintu masuk, di tembok rumah, atau bangunan, bahkan pada binatang ternak. Hal ini dipercaya memberikan perlindungan dari pengaruh negatif, kekuatan jahat atau roh-roh jahat dan kekuatan alam yang dapat menimbulkan kekacauan.
Swastika juga melambangkan ilmu pengetahuan yang transenden., yang digambarkan sebagai melingkar-lingkar, karena seseorang tidak dapat begitu saja mengartikannya secara langsung. Oleh karena hakekat ilmu yang transenden itu di luar logika manusia, maka garis perpotongan yangb sederhana tidak hanya menggambarkan ruang yang direduksi dalam satu kesatuan, tetapi juga lapangan dari manifestasi eksternal yang berasal dari titik pusat “bindu”, simbol ether yang mengembang keempat penjuru dan menjadi empat unsur alam semesta. Hal ini ditunjukkan dengan cabang yang melingkar dari lambang keberuntungan berupa Swastika. Pengetahuan transenden yang merupakan aspek Ketuhanan hanya bisa dicapai secara tidak langsung, melalui jalan kanan atau kiri. Ini dilambangkan dengan dua cabang dari Swastika yang dapat dibengkokkan melingkar. Digunakan di mana saja dalam kaitan memohon keberuntungan, untuk mengingat keagungan Tuhan Yang Maha kuasa, yang tidak dapat dicapai dengan pemahaman logika dan kendali manusia (Titib, 2001; 375).
Di Bali bentuk “Swastika” yang sangat sederhana adalah tapak dara yang disimbolkan seperti tanda tambah (+)  yang juga mengandung arti mengembalikan keseimbangan, mewujudkan stabilitas baik dalam diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa Swastika itu adalah yang terdahulu dari semua lambang-lambang yang ada. Diketemukan sejak jaman prasejarah di antara bangsa Arya penghuni negeri India dan dari sanalah menyebar keseluruhan penjuru dunia melalui musafir-musafir, sehingga sudah dikenal juga jaman perunggu di Eropa Barat sebagai suatu ragam hias meander (Agung Oka, 1968 : 18).
Perkembangan Swastika pada jaman perunggu di Eropa Barat berkisar antara tahun 2000 sampai 1000 sebelum Masehi, dapat dibayangkan betapa lama dan sangat jauh dari sumber aslinya. Kemudian sampai di Tiongkok, yang mengalami perubahan menjadi bentuk menjadi Yin dan Yang yaitu yang mengatur jalannya Tau (Peredaran Alam). Yin atau Im sama dengan Pradana atau Prakerti yaitu negatif. Yang sama dengan Purusa yaitu positif.
Padma (Bunga Teratai)
Padma ialah nama teratai yang berwarna merah, sebagai lambang kesadaran atau ilmu pengetahuan dan filsafat untuk mencapai kesucian, dekat kepada Tuhan. Padma ini dipakai juga untuk perhiasan ukir-ukiran di dalam Pura. Patung-patung atau Arca-arca yang kuna biasanya berdiri di atas padmasana, yang melambangkan tempat kesucian atau lazim di Bali disebut “Pelinggih Sanghyang Widhi”. Juga di dalam upacara-upacara Ngaben (pembakaran mayat) dan lain-lainnya. Lukisan ini selalu digunakan, yang dianggap sebagai pancaran sinar Sanghyang Widhi. Perhiasan Padma ini ditulis di atas sebuah perisai. Dari gambar Padma itu kemudian digambarkan Padma yang berdaun lancip, merupakan lidah api dan untuk sarinya sering diganti dengan huruf gaib “Ongkara”. Lukisan itu sering disebut dengan Padma “Astadala (Teratai delapan daun). Delapan daun itu adalah lambang delapan pancaran sifat agung kemahakuasaan Sanghyang Widhi yang lazim di Bali disebut “Asta IƧwarya” (Ginarsa, 1985 : 40)
Di dalam Wedaparikrama Bagian V diuraikan tentang Pasang Astadala Nyasa. Yang dimaksud dengan Pasang Astadala Nyasa adalah meletakkan daun-daun bunga Teratai pada pinggiran mulut Argha, sehingga melukiskan bentuk Maha Padma (kembang Teratai besar), sebagai lambang Padmecwara. Tiap-tiap daun bunga Teratai melukiskan satu bentuk Nyasa (simbol) yang menggambarkan kekuatan-kekuatan yang ditugaskan menjaga Amertha. Astadala adalah delapan helai daun bunga Teratai melukiskan delapan jenis kekuatan atau dewata menurut kedudukannya  pada  arah  yang masing-masing disebut dalam mantra sebagai berikut .
1. Maha Padma Mantra
Om Brahmi wicet swaha; (Purwa)
Om Maheswari wicet swaha; (Daksina)
Om Kaumari wicet swaha;  (Uttara)
Om Waisnawi wicet swaha;  (Pascima)
Om Warahi wicet swaha;  (Agneya)
Om Indrani wicet swaha;  (Airsanya)
Om Camundi wicet swaha;  (Nairrtya)
Om ganendri wicet swaha;  (Wayawya)

Terjemahannya :

Om Semoga Brahmi menjelma swaha; (Timur)
Om Semoga Mahadewi menjelma swaha; (Selatan)
Om Semoga Kaumari  menjelma swaha; (Utara)
Om Semoga Waisnawi menjelma swaha; (Barat)
Om Semoga Indrani menjelma swaha; (Tenggara)
Om Semoga Camundi menjelma swaha; (Barat daya)
Om Semoga ganendri menjelma swaha; (Barat laut)

2. Kuta Mantra :
  Om hram hrim sah Parama Ƈiwa Adityaya namah swaha.
Terjemahannya

 Om hram hrim sah sujud kepada Ƈiwa Aditya yang utama swaha.
Senada dengan hal di atas, disebutkan pula dalam Catur AiƧwarya Nyasa sebagai berikut  : Pemasangan catur AiƧwarya yaitu empat jenis bentuk saktinya IƧwara pada tiap sudut Anantasana sebagai Singgasana-Nya. Adapun mantranya adalah sebagai berikut  :
Om Rm Dharmaya simha-rupaya sweta warnaya namah
Om Rrm Jnanaya simha-rupaya raktawarnaya namah
Om Lm Waisagyaya simha-rupaya pitawarnaya namah
Om Llm  AiƧwarya  simha-rupaya krsnawarnaya namah

Terjemahannya
Om sujud kepada Rm, Hukum yang abadi, berbentuk singa yang berwarna putih.
Om sujud kepada Rrm, Pengetahuan, berbentuk singa berwarna merah.
Om sujud kepada Lm, tidak berkeinginan, berbentuk singa berwarna kuning
Om sujud kepada Llm, berkuasa berbentuk singa berwarna hitam.

Dari beberapa uraian diatas dapat dijelaskan Mantra astadala di atas menjadikan dewa hadir pada delapan kardinal arah. Dengan kehadirannya itu penjagaan amertha dianggap selesai dan karenanya ditutup dengan kuta mantra, sebagai tanda penghormatan kepada Ƈiwa Aditya yang telah menjadikan para dewa hadir.
AiƧwarya adalah kemahakuasaan Tuhan yang terdiri dari delapan kekuatan yaitu disebut anima, laghima, mahima, prapti, prakamya, waƧitwa, iƧitwa, dan yatrakamawa sayitwa, yang kalau diartikan sebagai berikut  : Anima yaitu sifat kekuasaan Tuhan yang sangat halus, Laghima yaitu sifat kemahakuasaan Tuhan yang sangat ringan, Mahima yaitu sifat kemahakuasaan Tuhan yang luar biasa besarnya dan luasnya sehingga tak terbatas oleh apapun juga, Prapti yaitu sifat kemahakuasaan Tuhan yang dapat mencapai daerah manapun juga, Prakamya yaitu sifat kuasaan Tuhan yang kehendaknya selalu berisidan tercapai, IƧitwa yaitu sifat kemahakuasaan Tuhan  yang melebihi segala-galanya sehingga merajai alam semesta ini, sehingga ia bergelar IƧa (raja), WaƧitwa yaitu sifat kemahakuasaan Tuhan yang sangat kuasa, yatrakamawasayitwa yaitu sifat kemahakuasaan Tuhan yang kehendaknya maupun kodratnya tak ada yang dapat merubahnya. Kedelapan sifat ini bersemayam pada-Nya, yang dilambangkan sebagai singasana, meliputi seluruh alam semesta. Dalam bentuk catur IƧwarya kemahakuasaan itu dihubungkan dengan letaknya pada empat penjuru alam semesta yang disebut kekuatan aktif, yang dilambangkan dengan Dharma, yaitu hukumnya, Jnana yaitu sifat pengetahuannya, Wairagya yaitu sifat sempurnanya, sehingga tidak mempunyai keinginan yang tak terpenuhi, AiƧwarya yaitu sifat kemahakuasaan-Nya yang terdiri dari delapan AiƧwarya itu dengan masing-masing kedudukannya pula. 
Kata singa (simha) dipergunakan sebagai lambang kekuasaan, singa terkenal sebagai raja seluruh binatang buas yang sangat ditakuti. Kata singa juga dihubungkan dengan arah, warna dan mudra yang harus dipergunakan sebagai identitasnya yaitu  :
1. Dharma berkedudukan di Tenggara, warna putih, mudranya Ƈara mudra.
2. Jnana berkedudukan di Barat-daya, warna merah, mudranya Ƈikha mudra.
3. Wairagya berkedudukan di Barat-laut, warna kuning, mudranya kawaca mudra.
4. AiƧwarya berkedudukan di Timur-laut, warna hitam, mudranya parasu mudra.
Dalam mantra di atas terdapat empat bentuk bijaksara yang membentuk bija mantra yaitu : Rm, Rrm, Lm dan Llm yang banyak dipakai dan artinya masing-masing adalah sebagai berikut  :
Rm (Rmkara), (Ia) yang menimbulkan perasaan yang mendalam dan selalu aktif.
Rrm, (Ramkara), (Ia) yang dapat memberikan kepuasan yang datang dari yang bercahaya terang benderang.
Lm (Lamkara), (Ia) yang dapat memberikan kepuasan yang datang dari pada-Nya kepada seluruh isi alam.
Llm (Lamkara), (Ia) yang dapat menimbulkan rasa kagum yang datang daripada-Nya.
Demikianlah beberapa bentuk Simbol Nyasa Rupa yang dapat penulis kemukakan dalam penulisan ini, agar lebih jelas diketahui tentang Simbol Nyasa Rupa tersebut.
PENUTUP
Dari uraian pembahasan sebelumnya, maka dapat penulis simpulkan makna dari simbol Nyasa Rupa dalam agama Hindu adalah bahwa untuk dapat menghadirkan Tuhan yang transenden yang  berbentuk acintya (tidak terpikirkan) dalam pikiran dan diri manusia, maka Beliau diproyeksikan dengan beragam simbol untuk mewakili keberadaan-Nya dalam kehidupan sebagai salah satu perawatan iman umat Hindu.
Sebagai akhir saran yang dapat penulis berikan adalah Nyasa Rupa yang digunakan dalam agama Hindu baik dalam bentuk benda-benda suci, patung-patung, bangunan-bangunan suci, alat-alat upacara, maupun mantra-mantra suci, penggunaannya harus dipergunakan untuk kepentingan kesucian. Begitu pula hendaknya jangan dikomersilkan dan digunakan di sembarang tempat (bukan tempat suci).
DAFTAR PUSTAKA
Adia Wiratmadja, Drs. G.K., 1977, Agama Hindu Sejarah dan Sradha.
Cudamani, 1987, Bagaimana Umat Hindu Menghayati Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), Jakarta : Yayasan Wisma Karma.

Depdiknas, 2002, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka.
Ginarsa, I Ketut, 1985, Gambar Lambang, Jakarta : CV. Kayu Mas.
Gorda, I Gusti Ngurah, 1990, Metodologi Penelitian Ilmu Sosial Ekonomi, Denpasar : Widya Kriya Gemattama.
Hadi, Sutrisno, 1981, Metodelogi Research, Yogyakarta : Yayasan Fakultas Psikologi UGM.
Kajeng, I Nyoman, dkk., 1987, Sarasamuscaya, Jakarta : Dharma Nusantara.
Kodiran, 1991, Konsep Pengembangan Nasional, Yogyakarta : Fakultas Sastra UGM.
Koentjaraningrat, Prof. DR., 1977, Metode-metode Penelitian Masyarakat, Jakarta : PT. Gramedia.
Santhi, I.B., 1983, Simbol Nyasa Rupa (Makna dan Peranannya dalam Agama Hindu), Denpasar : Warta Hindu Dharma.
Tim, 2005, Kamus Istilah Agama Hindu, Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Bali
Titib, I Made, 2001, Teologi dan Simbol-simbol Dalam Agama Hindu, Surabaya : Paramita.